Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan Biskuit dari Daun Kedondong Hutan (Spondias pinnata (Linn. F.) Kurz) Sebagai Cemilan Antidiabetes pada Masyarakat Desa Kasumewuho Musdalipah Musdalipah; Murtafia Murtafia; Eny Nurhikma; Nur Saadah Daud; Nirwati Rusli; Agung Wibawa Mahatva Yodha; Reymon Reymon; Randa Wulaisfan; Syamsu Alam
Jurnal Abdi dan Dedikasi kepada Masyarakat Indonesia Vol 1 No 2 (2023): NADIKAMI: Juli 2023
Publisher : POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun kedondong hutan merupakan salah satu tanaman herbal untuk mengobati penyakit diare, rematik, demam dan diabetes. Secara empiris daun kedondong hutan digunakan masyarakat Desa Kasumewuho sebagai bahan tambahan untuk menambah cita rasa pada masakan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat LPPM Politeknik Bina Husada bertujuan dalam rangka pemanfaatan daun kedondong hutan untuk dijadikan cemilan antidiabetes di desa Kasumewuho. Potensi pengembangan biskuit kedondong hutan sebagai makanan alternatif memiliki peluang untuk dijadikan cemilan yang sangat baik untuk kesehatan yang bisa dikonsumsi oleh semua kalangan usia. Metode kegiatan dilakukan dengan sosialisasi pembuatan biskuit daun kedondong hutan pada masyarakat desa Kasumewuho sebanyak 22 orang. Kegiatan dilakukan dimulai dari pemanenan, sortasi basah, sortasi kering, pengeringan, pemotongan dan penyerbukan daun kedondong hutan. Daun kedondong hutan dibuat dengan 3 (tiga) konsentrasi yaitu A (1 g), B (3 g), dan C (5 g) dan selanjutnya dilakukan pengujian organoleptik meliputi warna, bau, rasa dan bentuk sediaan. Hasil kegiatan menunjukkan masyarakat Desa Kasumewuho memiliki antusias yang tinggi mengikuti kegiatan ini. Hasil pengujian organoleptik menunjukkan biskuit A berwarna kuning, B (kuning kehijauan), C (coklat kehijauan). Dari segi rasa biskuit A, B, C memiliki bau khas susu. Uji kesukaan menunjukkan biskuit A(33%), B(70%), C(17%). Pada uji kerenyahan menunjukkan rasa renyah 100% pada biskuit A, B, C. Pada uji kekerasan menunjukkan biskuit A, B, C memiliki tekstur yang keras (0%) dan lembut dikonsumsi (100%) pada biskuit A, B, C. Biskuit daun kedondong hutan dapat diformulasikan dalam bentuk biskuit sebagai cemilan antidiabetes serta mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif.
Profil Kadar Ureum Pada Penderita Human Immunodeficiency Virus dengan Terapi Antiretroviral di Kota Kendari Muhammad Ilyas Y.; Firdayanti; Elma Winarti; Angriani Fusvita; Apriyanto; Nirwati Rusli; Asriullah Jabbar; Fadhliyah Malik; Halik; Mubarak; Nurhikma
Lansau: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol. 1 No. 2 (2023): Lansau: Edisi Oktober 2023
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lansau.v1i2.13

Abstract

Penyakit Human Immunodeviciency Virus (HIV) masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan tingkat prevalensi yang masih tinggi, termasuk di Sulawesi Tenggara, sehingga diperlukan penanganan tepat untuk mencegah penularan dan berbagai gangguan komplikasi pada penderita. Penggunaan obat antiretroviral (ARV) jangka panjang bahkan seumur hidup pada penderita HIV menimbulkan masalah kesehatan yaitu gangguan fungsi ginjal dengan peningkatan kadar ureum, dan sekaligus sebagai faktor pemicu infeksi neoplasma sekunder, gangguan neurologis serta fungsi fisiologis tubuh lainnya yang lebih serius, sehingga mengetahui profil kadar ureum untuk memantau fungsi ginjal selama terapi obat ARV penting dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui profil kadar ureum pada penderita HIV dengan lama terapi obat ARV di Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan melakukan pemeriksaan kadar ureum darah penderita HIV menggunakan metode urease-GLD, dan data dianalisis statistik menggunakan uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan 80% penderita HIV umur 20-30 tahun, jenis kelamin terbanyak 80% laki-laki, lama pengobatan 55% kurang dari 1 tahun, dengan hasil pemeriksaan kadar ureum 90% kategori normal dan 10% kategori tidak normal, dan hasil analisis statistik regresi linear sederhana menunjukkan tidak ada hubungan lama terapi obat ARV dengan kadar ureum pada penderita HIV di kota Kendari (p>0.05).  Kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan kadar ureum pada penderita HIV di Kota Kendari tidak dipengaruhi oleh lama terapi antiretroviral.
FORMULASI SEDIAAN GEL LENDIR IKAN LELE (Clarias Gariepinus L) SEBAGAI PENYEMBUH LUKA DENGAN VARIASI BASIS KARBOPOL 934 Nirwati Rusli; Niluh Yeniati
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v3i2.57

Abstract

Ikan lele mengandung banyak protein yaitu 17,7%. Berdasarkan penelitian Nigeria tahun 2013 lendir ikan lele telah menunjukan aktivitas dalam biomedis sebagai penyembuh luka, oleh karena itu lendir ikan lele memudahkan penggunaannya dalam bentuk gel menggunakan basis carbopol 934. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah lendir ikan lele dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan gel dengan menggunakan variasi basis carbopol 934 yang memenuhi syarat uji evaluasi fisik sediaan gel. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan memformulasikan sediaan gel lendir ikan lele dengan variasi konsentrasi carbopol 934 0,5%, 1 %, 1,5% kemudian dilakukan evaluasi fisik sediaan, dengan parameter pengujian yaitu uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, dan uji stabilitas fisik menggunakan metode cycling test. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa formula gel lendir ikan lele dengan variasi konsentrasi basis carbopol 934 0,5%, 1%, 1,5% dapat dibuat menjadi gel, hasil evalusi fisik dari ketiga formula gel lendir ikan lele tidak memenuhi syarat secara organoleptik, homogenitas, ph, dan cycling test, dan hasil uji daya sebar sediaan gel lendir ikan lele masuk dalam range daya sebar yaitu 5-7 cm.
FORMULASI SEDIAAN SABUN CAIR EKSTRAK KULIT BUAH TERONG (Solanum melongena L) Nirwati Rusli
Jurnal Analis Kesehatan Kendari Vol. 3 No. 2 (2021): Jurnal Analis Kesehatan Kendari (JAKK) : Vol. 3 (2) Juni 2021)
Publisher : Program Study of Medical Laboratory Technology , Politeknik Bina Husada Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46356/jakk.v3i2.176

Abstract

ABSTRAK Kulit buah terong merupakan tanaman dari famili Solanaceae yang memiliki kandungan senyawa aktif sebagai antioksidan yang menangkal radikal bebas. Biasanya masyarakat setempat menggunakan tanaman ini sebagai warna alami pada makanan, mengurangi resiko kanker, dan menyehatkan kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kulit buah terong dapat diformulasikan menjadi sediaan sabun cair yang memenuhi persyaratan evaluasi fisik sabun cair. Jenis penelitian yaitu eksperimen, Ekstraksi kulit buah terong dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, dilakukan pada ketiga konsentrasi yaitu 3%, 6, dan 9% uji evaluasi fisik, uji organoleptik, pH, tinggi busa, homogenitas, dan cycling test Ketiga formulasi dengan konsentrasi yang berbeda menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah terong pada sediaan berwarna coklat,coklat tua, beraroma khas kulit buah terong dan bentuk kental sabun cair, homogen dan terjadi perubahan setelah cycling test. Hasil uji tidak mempengaruhi evaluasi sedian pada pengujian organoleptik yaitu aroma, homogenitas, pH sediaan, dan uji tinggi busa. Namun berpengaruh pada bentuk sediaan, dan uji cycling tes. Kata Kunci : Kulit terong, ekstrak, sabun cair ABSTRACT Eggplant skin is a plant from the family Solanaceae which contains active compounds as antioxidants that ward off free radicals. Usually local people use this plant as a natural color in food, reduce the risk of cancer, and nourish the skin. The purpose of this study is to find out if the skin of eggplant fruit can be formulated into liquid soap preparations that meet the physical evaluation requirements of liquid soap. Type of research is experiments, eggplant skin extraction is done by maceration method using methanol solvent,conducted at three concentrations namely 3%, 6, and 9% physical evaluation test, organoleptic test, pH, high foam, homogeneity, and cycling test. The three formulations with different concentrations show that eggplant skin extract on the preparation is brown, dark brown, flavorful typical eggplant fruit skin and viscous form of liquid soap, homogeneous and changes occur after cycling test. The test results did not affect the evaluation of the preparation in organoleptic testing i.e. aroma, homogeneity, pH preparations, and high foam test. But it affects dosage forms, and test cycling tests. Keywords : Eggplant skin, extracts, liquid soap
FORMULASI LOTION EKSTRAK DAUN Meistera chinensis SEBAGAI TABIR SURYA Meistera chinensis LEAF EXTRACT LOTION FORMULATION AS SUNSCREEN Nirwati rusli; yulianti fauziah; Elviyanti Yusdin
Jurnal Analis Kesehatan Kendari Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Analis Kesehatan Kendari (JAKK : Vol. 4 (2) Juni 2022)
Publisher : Program Study of Medical Laboratory Technology , Politeknik Bina Husada Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46356/jakk.v4i2.189

Abstract

Excessive sunlight can have a negative impact on skin health, but the bad effects of sunlight can be overcome by using sunscreen preparations. One of the natural ingredients that can be used in the manufacture of lotion sunscreenisleaf Meistera chinensis. Meistera chinensis is a plant that belongs to the Zingiberaceae family. Previous research has stated that Zingiberaceae species such as Etlingera elatior (torch ginger) have one of the functions as antioxidants. This study aims to formulateleaves Meistera chinensis as sunscreen and determine the SPF value obtained. Leaf extract was Meistera chinensis extracted using maceration method using methanol as solvent. Physical evaluation tests, stability tests, and sunscreen activity were carried out at three concentrations, namely 1% (F1), 3% (F2) and 5% (F3) concentrations. The three formulations are pale green, green, and dark green in color, have a melon flavor and have a liquid and semi-solid texture, are homogeneous with an oil-in-water (W/A) emulsion type and meet the pH requirements of 6 and 7. The stability test results show that the three formulas do not stable because it is not homogeneous and there is a change in aroma after the cycling test. The SPF value increased along with the increase in extract concentration, namely 7.46 (extra protection), 14.12 (maximum protection), and 19.06 (ultra protection). Keywords: Extract, Leaf Meistera chinensis, Lotion, Sunscreen, SPF