Claim Missing Document
Check
Articles

Derivation of Newton's law of cooling and heating: Heating the water then cooling it down naturally to the room temperature Edy Wibowo; Naily Ulya; Mohammad Rakha Farizi; Nurwulan Fitriyanti
Momentum: Physics Education Journal Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/mpej.v7i1.6889

Abstract

A simple experiment has been conducted to study Newton's law of cooling and heating by observing the nature of the increasing and decreasing water temperature by utilizing a data logger, a thermocouple, a pan, a hot plate, and water. The uncovered pan contained water which was subsequently heated on a hot plate. The water was heated at ambient temperature and normal atmospheric pressure to see that the temperature rose exponentially. Conversely, the temperature of hot water decreased exponentially when the heat source was switched off. The model for increasing and decreasing water temperature is following the Newton's law of cooling and heating. It was proven that the experimental data highly fit theoretical models. The temperature increment constant (ka) and the temperature decrement constant (kd) determined the rate of temperature changes. Low values of ka and kd led to the slow change in the temperature, either the increase or the decrease in the water temperature and vice versa. The ka > kd was observed for all given conditions so that the increasing rate in the water temperature was faster than its decrease. The result of this study can be applied as an example of contextual learning of physics for university students.
Pengaruh Penyisipan Tembaga Cu Menggunakan Metode Pulse Plating Pada Sel Surya TiO2 Ramadan Gumilar; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 1, No 1 (2014): Desember, 2014
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada penelitian ini dipelajari pengaruh penyisipan logam tembaga pada sel surya organik. Penyisipan logam Cu pada lapisan TiO2 dilakukan dengan metode pulse plating pada variasi tegangan dan duty cycle. Material TiO2 yang dicampurkan dengan aquades lalu dideposisikan pada FTO menggunakan metode spray. Lapisan TiO2 disisipi logam tembaga Cu dengan metode pulse plating sehingga membentuk lapisan kontak logam yang menjadi lintasan bagi elektron untuk mengalir lebih cepat menuju elektroda (FTO). Polimer elektrolit digunakan sebagai transport hole yang tersusun atas campuran LiOH dan PVA. Struktur sel surya yang telah dibuat dikarakterisasi dengan menggunakan I-V meter Keithley 617 untuk mengetahui performansi sel surya. Karakteristik I-V menunjukan terjadi peningkatan efisiensi sel surya TiO2 disisipi logam Cu dengan pulse plating sebesar 0,147% dibandingkan dengan sel surya TiO2 disisipi logam Cu dengan elektroplating sebesar 0,04%. Kata kunci: TiO2 , pulse plating, pulse reverse elekrodeposisi, metode spray
Analisa Pengaruh Temperatur, Kelembaban, Intensitas Cahaya, Lama Penyinaran Dan Konsentrasi Larutan Terhadap Penguapan Air Garam Dalam Distilator Hadani Rabby; Suwandi Suwandi; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan utama yang dihadapi penduduk pantai adalah kesulitan memperoleh air bersih. Teknologi untuk mengolah air payau atau air laut menjadi air tawar layak konsumsi (desalinasi) merupakan salah satu solusi yang dapat dijadikan pilihan. Teknologi yang dikembangkan tentunya perlu disesuaikan dengan keadaan penduduk yang serba terbatas maupun potensi yang ada di daerah., sehingga teknologi pengolahan air yang potensial untuk dikembangkan adalah teknologi distilasi. Distilasi merupakan proses pemisahan antara zat cair terhadap campurannya melalui perbedaan titik didih atau berdasarkan kemampuan benda menguap. Sistem distilasi yang digunakan pada umumnya menggunakan basin dengan bentuk plat datar yang dicat hitam sebagai penyerap panas serta memiliki lubang pada dinding bagian atas sebagai saluran keluaran air tawar yang dihasilkan. Pada penelitian ini dilakukan inovasi pada desain distilator untuk meningkatkan efisiensi produksi. Inovasi dilakukan dengan memodifikasi bentuk distilator dan penggunaan cermin pada bagian dinding distilator. Hasil dari modifikasi tersebut, basin miring yang menggunakan bahan karton hitam pada bagian alasnya menghasilkan kenaikan suhu ± 64°C, menghasilkan nilai kelembaban 82%, dan menghasilkan air mineral 235 ml selama pemanasan 5 jam. Larutan garam yang dibuat dari 100 g garam dilarutkan dalam 4 liter air memiliki suhu dalam distilator dan suhu air maksimum 64,2°C dan 65,8°C. Jarak lampu 15 cm dengan intensitas cahaya 70.200 lux memiliki nilai suhu dalam dan suhu air maksimum yaitu 60,6°C dan 65°C serta menghasilkan air mineral yang paling banyak yaitu 45 ml. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa temperatur, kelembaban, intensitas cahaya, lama penyinaran, konsentrasi garam dapat mempengaruhi laju penguapan air garam. Kata Kunci : Air garam, Basin, Desalinasi, Distilasi, Distilator, Laju Penguapan.
Modifikasi Distilator Surya Dengan Penambahan Phase Change Materials Sebagai Material Penyimpan Panas Pada Alas Basin Anjas Aji Budiatma; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada distilasi surya, tidak adanya sumber panas menyebabkan distilator tidak dapat menghasilkan air. Oleh karena itu, distilator perlu dimodifikasi agar panas tetap terjaga sehingga distilator tetap menghasilkan air. Pada penelitian ini, distilator dengan atap dua sisi miring telah dimodifikasi dengan menambahkan material penyimpan panas atau Phase Change Material (PCM) berupa parafin pada bagian alasnya. Pada prinsipnya, adanya parafin akan menjadi sumber panas ketika matahari tenggelam. Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan pada skala laboratorium menggunakan dua bohlam yang pancaran energinya dianggap konstan. Air yang dipakai adalah sampel air garam 33 ppt yang dibuat dengan mencampurkan air minum kemasan dengan sejumlah garam. Pengujian dilakukan dengan membandingkan produksi air distilator tanpa parafin dan distilator dengan parafin. Penggunan parafin membuat produksi air distilator meningkat 19,03 %. Pada penelitian ini juga telah dilakukan pemberian massa parafin yang berbeda untuk mengamati pengaruhnya terhadap produksi air. Penambahan massa parafin cenderung menurunkan produksi air pada pengujian dengan volume air garam yang sama. Selain itu, penelitian ini juga telah diamati bahwa parafin dapat digunakan beberapa kali pada distilator walaupun produksi air yang cenderung menurun. Kata kunci : Desalinasi surya, material penyimpan panas, Phase Change Material, PCM, parafin, skala laboratorium, lampu bohlam, sampel air garam Abstract In solar distillation, the absence of heat source causes the distillator not to produce water. Therefore, distillator need to be modified in order to mantain the heat so that the distilator still produces water. In this study, double slope distillator has been modified by adding a heat storage material or Phase Change Material (PCM) in the form of paraffin at the base. In principle, the presence of paraffins will be a source of heat when the sun sets. Distillator has been tested on a laboratory scale using two bulbs whose energy emission was considered constant. The water used is a 33 ppt brine sample which is made by mixing bottled water with some salt. The test has been done by comparing the water production of distillator without paraffin and distillator with paraffin. The addition of paraffin increases water production of distillator by 19.03%. The distillator has also been given different paraffin masses to observe its effect on its productivity. The addition of paraffin mass tends to decrease water production in tests with the same volume of brine. This study has also been observed that paraffin can be used several times in distillators even though water production tends to decrease. Keyword : Solar desalination, heat storage material, Phase Change Material, PCM, paraffin, laboratorium scale, bulb, brine sample
Penjernihan Air Hujan Yang Telah Berlumut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Media Sorben Erpanda Surya Alam; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air hujan umumnya ditampung agar dapat digunakan kembali, akan tetapi air hujan yang ditampung cukup lama menyebabkan air menjadi keruh dan timbulnya lumut . Oleh karena itu, air hujan harus diolah terlebih dahulu hingga jernih kembali dan tidak berlumut agar dapat digunakan. Pada penelitian ini, air hujan didaerah Ciganitri ditampng selama 3 bulan untuk dijernihkan menggunakan material sorben berupa zeolit dan PAC. Zeolit yang digunakan dicuci terlebih dahulu kemudian dijemur hingga kering. PAC yang digunakan dalam bentuk serbuk dan larutan dengan komposisi 500 gram PAC dan 550 ml aquades. Penggunaan PAC larutan dapat menjernihkan air lebih baik dibandingkan PAC serbuk dengan nilai resistansi 2.2182. Penggunaan zeolit tidak lebih baik dalam menjernihkan air hujan dibandingkan menggunaan PAC dengan nilai resistaansi 2,418. Akan tetapi, PAC mempunyai kekurangan yaitu nilai salinitas tinggi dan adanya koagulasi pada sampel berbentuk endapan. Semetara dengan penggunaan zeolit nilai salinitas tidak berubah (tetap nol) dan tidak adanya endapan. Maka dari itu tujuan dari penilitian ini adalah untuk melihat apakah zeolit mampu menggantikan PAC dalam menjernihkan air hujan. Kata kunci : Zeolit, Teknik pemamanenan air hujan, adsorbsi Abstract Rainwater is generally contained so that it can be reused, but rain water impounded long enough to cause the water to become cloudy and the incidence of lichen. Therefore, the rain water must be prepared in advance to clear back and not mossy to be used. In this study, rainwater in Ciganitri ditampng for 3 months to be cleared up using material sorben form zeolite and PAC. Zeolite used washed first then dried until dry. The PAC is used in form of powder and aqueous solutions with composition of 500 grams of PAC and 550 ml of aquades. The use of a PAC solution can purify water better than PAC powder with the value of the resistance 2.2182. Use of zeolite is not better in the clear water of rain compared to employ the PAC with the value resistaansi 2.418. However, the PAC has a shortage that is high salinity values and the presence of coagulation on a sample shape deposition. Semetara with the use of zeolite salinity value is not changed (fixed zero) and the absence of sediment. Thus the goal of penilitian is to see if zeolite is able to replace the PAC in the purify rain water. Keyword : Zeolite, Adsorbsi, Rainwater harvesting
Reduksi Kandungan Besi (fe) Dan Mangan (mn) Pada Air Tanah Menggunakan Arang Kayu Zahara Ramadhayanti Karyuni; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air tanah yang terdapat di daerah sekitar Telkom University mengandung Fe dan Mn yang melebihi kadar standar yangtelah ditentukan. Oleh karena itu, perlu diolah lagi agar aman digunakan untuk keperluan sehari-hari. Pada penelitian ini, air tanah diolah dengan metode adsorbsi menggunakan arang kayu yang dapat menyerap Fe dan Mn. Diamati pengaruh aktivasi arang terhadap daya adsorbsinya dan pengaruh kejernihan pada air. Aktivasi dilakukan dengan metode kimia-fisika dengan merendam arang terlebih dahulu ke dalam larutan 5% Na2CO3 selama 24 jam lalu dipanaskan pada tanur bertemperatur 400°C selama 30 menit. Bentuk arang juga dibedakan menjadi dua macam, yaitu serbuk dan ukuran 1 cm. Penjerapan arang kayu yang diaktivasi lebih baik dibandingkan dengan arang kayu tanpa perlakuan. Hasil analisis menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) dalam penggunaan arang kayu serbuk yang diaktivasi dapat mengurangi ion logam besi dan manga masingmasing sebesar 95,52 % dan 99,64 %. Sedangkan untuk persentase daya penjernihan terbaik yang diukur menggunakan Fotometer, ditunjukkan oleh arang kayu yang telah diaktivasi dan berbentuk serbuk dapat mereduksi warna air sebesar 50,368%. Kata Kunci: arang kayu, logam besi, logam mangan, metode adsorpsi, aktivasi kimia-fisika, efisiesi. Abstract Groundwater available in the area around Telkom University contains Fe and Mn that exceed the specified standard levels. Therefore, water needs to be processed again for safe use for everyday purposes. In this study, groundwater was treated by adsorption method using charcoal wood which can absorb Fe and Mn. In addition, this study also observed the effect of charcoal activation on its adsorption power and the clarity effect on water. Activation is carried out by chemical-physical method by immersing the charcoal first into a 5% Na2Co3 solution for 24 hours and then heated to a 400oC temperature furnace for 30 minutes. Charcoal shape is also divided into two kinds, namely powder and size 1 cm. The absorption of activated charcoal is better than charcoal without treatment. The results of the analysis efficiency using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) in the use of activated wood powder charcoal can reduce iron metal and manga ions respectively by 95.52% and 99.64%. Whereas for the best percentage of purification power measured using Photometer, indicated by the activated charcoal and powder form can reduce water color by 50,368%. Keyword: wood charcoal, ferrous metal, manganese metal, adsorption method, chemical-physics activation, efisiensi
Degradasi Kandungan Metilen Blue Pada Air Menggunakan Sekam Padi Iqbal Dwi Cahyo; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Limbah air pada pabrik tekstil umumnya masih banyak mengandung Metilen Blue (MB). Oleh Karena itu, air limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu agar aman dibuang dan tidak mencemari lingkungan. Pada penelitian ini, sekam padi ditambahkan pada limbah air Metilen blue untuk mereduksi konsentrasinya. Air limbah Metilen blue yang digunakan adalah sampel yang dibuat dari campuran Aquadest dengan Metilen blue. Pengujian dilakukan dengan membandingkan sampel air yang telah diberi sekam padi kering (telah dijemur selama 8 jam) dan sekam padi yang direbus (selama 15 menit). Penjerapan pada sekam padi yang direbus lebih baik dibanding sekam padi yang dijemur. Penggunaan sekam padi yang direbus dapat mengurangi kadar Metilen blue sebesar 89 %. Selain itu pada penelitian ini juga diamati pengaruh masa sekam padi terhadap penjerapan metilen blue. Penggunaan sekam padi yang dijemur dengan massa 5 gram lebih baik dibanding penggunaan sekam padi dengan massa 2,5 gram. Sekam padi dengan massa 5 gram dapat mengurangi kandungan metilen blue sebesar 84% sedangkan sekam padi dengan massa 2,5 gram dapat mengurangi kandungan metilen blue sebesar 73%. Kata kunci: Limbah air Metilen blue, Sekam padi, adsorpsi. Abstract Waste water in textile factories generally still contains a lot of methylene blue. Therefore, the water must be processed first so that the waste water is safely removed and does not pollute the environment. In this study, the husk was immersed in Methylene blue water waste to determine its adsorbs power. Methylene blue waste water used is a sampel made from aquadest mixture with Methylene blue. The test was carried out by comparing the yield of water from rice husk which had been dried for 8 hours and rice husk which was boiled for 15 minutes. Absorption of boiled rice husk is better than dried rice husk. The use of boiled rice husk can reduce the amount of Metilen blue by 89%. In addition, this study also looked at the effect of rice husk on absorption. The use of rice husks which are dried at 5 grams is better than the use of rice husks with a mass of 2.5 grams. Rice husk with a mass of 5 grams can reduce the content of methylene blue by 84% while rice husk with a mass of 2.5 grams can reduce the content of methylene blue by 73% Keywords: Waste water,Methylene blue, Rice husk, adsorption.
Analisis Pengaruh Kemiringan Sudut Atap Kaca Dan Penambahan Cermin Pada Alas Basin Terhadap Laju Penguapan Air Garam Dalam Distilator Tenaga Surya Eriz Aprizki; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Desain destilator adalah salah satu faktor yang mempengaruhi laju penguapan pada destilator. Oleh karena itu destilator perlu di disain sebaik mungkin agar produksi air yang didapat maksimal. Pada penelitian ini telah dilakukan variasi kemiringan atap destilator. Selain itu alas basin destilator juga dimodifikasi dengan menambahkan reflector cermin. Dalam penelitian ini pengujian destilator dilakukan pada sekala laboratorium menggunakan dua lampu bohlam yang pancaran energinya dianggap konstan. Adapun sempel air garam 33 ppt yang dibuat dengan mencampurkan air minum kemasan dengan sejumlah garam. Penggunaan reflector menyebabkan produksi air meningkat sebasa 36,5%. Selain itu penggunaan atap dengan sudut 35o menghasilkan air lebih banyak dibandingkan dengan atap 30o dan 40o yaitu 320 ml. Kata Kunci: Alumina, nanopartikel, viskositas, konduktivitas termal, konsentrasi, dan koefisien kinerja. Abstract The destilator design is one of the factors affecting the evaporation rate of the distillator. Therefore, the destilator needs to be designed in the best possible way for maximum water production. In this research has been done variation of roof tilt destilator. The base of the destilator basin is also modified by adding a mirror reflector. In this research, the destilator testing is done at the laboratory using two bulb lamps whose energy emission is considered constant. The 33 ppt brine sempel is made by mixing the bottled drinking water with some salt. The use of reflector causes water production to increase as 36.5%. In addition, the use of the roof with 35o angle to produce more water compared with the roof of 30o and 40o is 320 ml. Keywords: Alumina, nanoparticles, viscosity, thermal conductivity, concentration, and coefficient of performance
Pembuatan Sel Surya Berbahan Tio2 Dengan Penyisipan Partikel Emas Menggunakan Metode Elektroplating Faris Hanif Rahman; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada Penelitian ini dipelajari pengaruh penyisipan partikel logam emas pada Sel Surya TiO2. Penyisipan partikel logam emas pada lapisan TiO2 dilakukan dengan menggunakan metode elektroplating. Material TiO2 yang dicampurkan dengan aquades lalu dideposisikan pada FTO menggunakan metode doctor blade. Lapisan TiO2 disisipi partikel logam emas dengan metode elektroplating sehingga membentuk lapisan kontak logam yang menjadi lintasan bagi elektron untuk mengalir lebih cepat menuju elektroda (FTO). Polimer elektrolit digunakan sebagai transport hole yang tersusun atas campuran LiOH dan PVA. Struktur sel surya yang telah dibuat dikarakterisasi dengan menggunakan I-V meter Keithley 617 untuk mengetahui performansi sel surya. Karakteristik I-V menunjukkan terjadi peningkatan efisiensi sel surya TiO2 setelah disisipi partikel logam emas menggunakan metode elektroplating. Pemberian tegangan 2 Volt dan waktu 5 detik saat elektroplating merupakan tegangan dan waktu optimal yang menghasilkan efisiensi terbaik pada Sel Surya TiO2/Au, yaitu sebesar 0,08%. Kata kunci: Sel Surya, TiO2, Elektroplating, Emas (Au) Abstract This research studied the effect of gold paticle inserted in TiO2 solar cells. Insertion of gold particle in TiO2 layer using electroplating method. TiO2 material is mixed with distilled water and then deposited on FTO using doctor blade method. TiO2 layer inserted gold particle with electroplating method to form a metal contact layer electrons to flow faster to the electrode (FTO). Polymer electrolyte was dedicated as a hole transport is composed of a mixture of LiOH and PVA. Structure of solar cell has been characterization by using a Keithley 617 meter to determine the performance of solar cell. I-V characteristic showed an increase in the efficienncy of solar cell with TiO2 inserted gold particlce using electroplating method at 0,08%.compared with solar cell TiO2 without inserted gold particlce at 0,002%. Keywords: Solar cell, TiO2, Electroplating, Gold.
Pembuatan Sel Surya Berbahan Titanium Dioksida Dengan Pendeposisian Partikel Perak Menggunakan Metode Elektroplating Wahyu Kurniawan; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sel surya merupakan pembangkit listrik ramah lingkungan yang memanfaatkan cahaya matahari. Pada perkembangannya, sel surya telah sampai pada generasi ketiga. Penyerapan foton pada sel surya generasi ketiga biasanya menggunakan bahan TiO2 (Titanium Dioksida) atau ZnO (Seng Oksida). Bahan TiO2 digunakan dalam penelitian ini karena memiliki kemampuan penyerapan cahaya yang baik dalam kondisi sedikit cahaya dan pada kondisi teduh. Beberapa penelitian menyatakan untuk fotokatalis dan pembuatan sel surya terbaik menggunakan kristalin anatase. Namun, TiO2 anatase memiliki energi gap yang besar (3,2 ev) sehingga dibutuhkan pendeposisian logam tertentu dengan tujuan agar efisiensi dapat meningkat. Pada penelitian digunakan pendeposisian partikel Ag karena nilai konduktifitas Ag lebih besar dari Cu dan Au sehingga diharapkan efisiensinya menjadi lebih baik. Pendeposisian TiO2 pada FTO menggunakan metode doctor blade dan pendeposisian partikel Ag pada FTO/TiO2 menggunakan metode elektroplating. Pendeposisian partikel Ag diharapkan dapat mengurangi laju rekombinasi pada sel surya TiO2. Massa partikel Ag yang terdeposisi pada FTO/TiO2 sebanyak 0,001566 gram saat diberikan tegangan sebesar 1,5 volt selama 7 detik. Nilai efisiensi yang didapatkan sel surya TiO2 adalah 0,00176%, sedangkan nilai efisiensi TiO2/Ag yang didapatkan adalah sebesar 0,09938% yang menunjukkan kenaikan 56,46 kali lebih baik saat dideposisi partikel Ag. Kata Kunci: Sel surya TiO2, AgNO3, LiOH, doctor blade dan elektroplating. Abstract Solar cells are environmentally friendly power plants that utilize by sunlight. In its development, solar cells have arrived at the third generation. Photon absorption in third generation of solar cells usually used TiO2 (Titanium Dioxide) or ZnO (Zinc Oxide) materials. TiO2 material is used in this study because it has good light absorption capability in light conditions and under shaded conditions. Several studies have stated that photocatalysts and the manufacture of the best solar cells use crystalline anatase. However, anatase TiO2 has a large energy gap (3,2 ev) so that the deposition of certain metals is needed in order to increase efficiency. In this study Cu was replaced with Ag particles because the conductivity value of Ag material is greater than Cu and Au, so it is expected that efficiency can be increased. The deposition of TiO2 in the FTO using the doctor blade method and the deposition of Ag particles using the electroplating method. The depositing of Ag particle is expected to reduce the recombination in TiO2 solar cells. The particle mass of Ag which is deposited on FTO/TiO2 is 0,001566 grams when given a voltage of 1,5 volts for 7 seconds. The efficiency value obtained by TiO2 solar cells is 0,00176%, while the efficiency value of TiO2/Ag obtained is 0,09938% which shows an increase of 56,46 times better when deposited by Ag. Keywords: TiO2 solar cells, AgNO3, LiOH, doctor blade method and electroplatin.