Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Neutrophil-To-Lymphocyte Ratio (NLR) pada Pasien Kanker Paru dengan Riwayat Merokok dan Tidak Merokok Nurul Husna, Annisa; Anang Marhana, Isnin
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 2 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v2i2.338

Abstract

Latar Belakang: Kanker paru-paru merupakan salah satu kanker yang paling banyak terjadi, telah menyebabkan 1/3 kematian akibat kanker pada pria. Merokok sebagai salah satu faktor risiko dapat menyebabkan respon inflamasi yang kemudian meningkatkan nilai neutrofil-limfosit rasio (NLR). Namun, tidak semua pasien memiliki riwayat perokok. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perbedaan nilai NLR pada pasien dengan riwayat perokok dan bukan perokok. Metode: Penelitian ini menggunakan Uji Mann Whitney untuk mendapatkan hasil nilai NLR secara statistik setelah dilakukan pengumpulan data sekunder berupa neutrofil dan limfosit sebagai data sekunder dari rekam medis. Hasil: Terdapat 33 pasien dengan riwayat perokok dan bukan perokok. 15 pasien (22,73%), berasal dari kelompok usia 56-60 tahun. Ada 38 pasien laki-laki dan 28 pasien perempuan. Adenokarsinoma memiliki angka kejadian tertinggi (83,33%) dan semua pasien berada pada stadium IV selama pengambilan data. Sebagian besar pasien (45,45%) mengeluh mengalami nyeri dada. Nilai NLR untuk pasien dengan riwayat perokok adalah 4,94 dan 3,76 untuk bukan perokok dengan p=0,13. Kesimpulan: Terdapat perbedaan nilai NLR pada pasien kanker paru dengan riwayat perokok walaupun perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik.
Pengaruh Tradisi Perkawinan Adat Suku Lamaholot dan Dukungan Suami terhadap Kunjungan Antenatal Pertama Pada Ibu Hamil di Wilayah Puskesmas Waipukang Kabupaten Lembata – NTT Ernila, Febe; Marhana, Isnin Anang; Hardianto, Gatut
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i4.13611

Abstract

ABSTRAK Standar pelayanan antenatal terpadu dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia adalah kunjungan pertama antenatal pada usia kehamilan <12 minggu untuk skrining dan menangani faktor risiko kehamilan. Pencapaian kunjungan pertama antenatal pada ibu hamil di Puskesmas Waipukang terdapat kesenjangan yang cukup tinggi yaitu 52,6% dari target yang seharusnya dan merupakan cakupan terendah dikabupaten Lembata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kunjungan pertama antenatal pada ibu hamil di Puskesmas Waipukang Kabupaten Lembata – NTT diantaranya adalah tradisi pernikahan adat suku Lamaholot dan dukungan suami. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional  dan metode kuantitatif. Sampelnya adalah 70 ibu hamil yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Waipukang yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Kunjungan pertama antenatal sebagai variabel terikat sedangkan variabel bebasnya adalah  tradisi dan dukungan suami. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik berganda. Penelitian ini menemukan dari 70 responden 74,3% melakukan kunjungan pertama antenatal pada trimester I. Hasil analisis data didapatkan ada hubungan faktor tradisi dan dukungan suami dengan kunjungan pertama antenatal dimana nilai p<0,05. Ada pengaruh tradisi dan dukungan suami terhadap kunjungan pertama antenatal pada ibu hamil di Puskesmas Waipukang Kabupaten Lembata – NTT sehingga layak untuk diperhatikan lebih mendalam dari lintas sektor terhadap tradisi yang berdampak negatife terhadap kunjungan pertama antenatal. Kata Kunci: Dukungan Suami, Tradisi, Suku Lamaholot, Kunjungan Pertama Antental  ABSTRACT The standard for integrated antenatal care from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia is the first antenatal visit at <12 weeks' gestation for screening and treating pregnancy risk factors. There is a fairly high gap in the achievement of the first antenatal visit for pregnant women at the Waipukang Community Health Center, namely 52.6% of the target which should be and is the lowest coverage in Lembata Regency. This study aims to analyze factors related to the first antenatal visit for pregnant women at the Waipukang Community Health Center, Lembata Regency - NTT, including the traditional marriage traditions of the Lamaholot tribe and husband's support. This type of observational analytical research with a cross sectional design and quantitative methods. The sample was 70 pregnant women in the working area of the Waipukang Community Health Center, taken using consecutive sampling technique. The first antenatal visit is the dependent variable while the independent variables are tradition and husband's support. The research instrument used a questionnaire. Data analysis used the chi square test and multiple logistic regression test. This research found that of the 70 respondents, 74.3% had their first antenatal visit in the first trimester. The results of data analysis showed that there was a relationship between traditional factors and husband's support and the first antenatal visit, where the p value was <0.05. There is an influence of tradition and husband's support on the first antenatal visit for pregnant women at the Waipukang Community Health Center, Lembata Regency - NTT so it is worth paying more in-depth attention from across sectors to traditions that have a negative impact on the first antenatal visit. Keywords: Husband's Support, Tradition, Lamaholot Tribe, First Antenatal Visit