Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

NILAI GIZI, DAYA CERNA PROTEIN DAN DAYA TERIMA PATILO SEBAGAI MAKANAN JAJANAN YANG DIPERKAYA DENGAN HIDROLISAT PROTEIN IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) Haslina, Haslina; Muis, Siti Fatimah; Suyatno, Suyatno
Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) Volume 1. Nomor 2. Juni 2006
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.52 KB) | DOI: 10.14710/jgi.1.2.

Abstract

ABSTRACT Introduction: Patilo is one of traditional various snacks from Gunung Kidul that is made of fermented cassava waste and cassava starch. Fermentation is intended to reduce or eliminate the HCN content of cassava and to establish special flavour. The protein content of patilo is very low, therefore it can be enriched with animal protein from fresh water fish in form of fish flour or fish protein hydrolysate (FPH). Enrichment with fish protein hydrolysate has an advantage since it will be easier to digest by human because FPH better functional properties and higher solubility.Method: The study consisted of four activities that were 1) making/producing mujair FPH, 2) producing and enriched patilo with mujair FPH, 3) analyzed the nutritive values and protein digestibility of enriched and unenriched patilo and 4) analyzed the consumers acceptability of the products. The experiments were carried out in the 1) Food Engineering and Chemistry Laboratorium of Faculty of Agriculture Technology Semarang University, 2) Pilot Plan PAU and GMSK Laboratory of Bogor Institute of Agriculture, 3) Sidoardjo Village, Tepus Gunung Kidul. Variables being studied were nutritive value and protein digestibility of unenriched and enriched patilo with mujair FPH in several consumer acceptability in terms of flavour, taste, colour and texture. The study design was a complete random design of one factor in which the FPH was added in 5%, 10% and 15% concentration, each treatment repeated 3 times. Statistical analyses used for nutritive value and protein digestibility were Anova followed by Least Significant Difference test with 0,05 level of significancy Friedman and Wilcoxon Sign Rank test were used to test the organoleptic values both in the laboratory and in the field. Result:1) The nutritive value changes of raw enriched patilo were : a) significant decrease in water and carbohydrate content, b) significant increase in ash, fat and protein content compared to the unenriched patilo, 2) The nutritive value change of fried enriched patilo were : a) significant decrease in water and carbohydrate content, b) significant increase in fat, protein and energy content compared to the unenriched patilo, 3) The protein digestibility in raw and fried enriched patilo was significant higher than that without enrichement, 4) Patilo enriched with 10% mujair FPH was mostly liked by consumer either in the laboratory or in the field in term of taste, flavour and texture as for colour, all consumers prefered the unenriched patilo, 5) The changes of the nutritive values and protein digestibility were statistically significant in the enriched patilo, however from the nutrition point of view, only the increased of protein content (six folds increase) was meaningful. Conclusion: Patilo enriched with 10% mujair FPH is the most/well accepted by laboratory panelists and field consumers, and there was six folds increase in the protein content.   Key Word: Patilo, enrichment and fish protein hydrolysate.   ABSTRAK   Latar Belakang: Patilo adalah salah satu makanan jajanan tradisional Gunung Kidul yang diolah dari ampas singkong yang difermentasi dan dicampur dengan pati singkong. Kandungan protein dalam patilo sangat rendah, untuk itu perlu diperkaya antara lain dengan sumber protein hewani dari ikan air tawar baik dalam bentuk tepung ikan atau hidrolisat protein ikan (HPI). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk 1). menganalisis nilai gizi patilo 2). menganalisis daya cerna protein patilo 3). menganalisis daya terima patilo goreng tanpa dan dengan penambahan HPI mujair Metode: Penelitian ini terdiri dari empat kegiatan yaitu: 1). pembuatan HPI mujair, 2). pembuatan dan pengkayaan patilo dengan HPI mujair, 3). pengujian nilai gizi dan daya cerna protein patilo tanpa dan dengan penambahan HPI mujair dan 4). uji penerimaan patilo baik di laboratorium maupun di lapangan. Variabel yang diamati adalah kandungan gizi patilo dan daya cerna protein patilo. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 1 faktor yaitu HPI0=tanpa penambahan HPI, HPI1= penambahan HPI 5% dari berat ampas (b/b), HPI2=penambahan HPI 10 % dari berat ampas (b/b) dan HPI3=penambahan HPI 15% dari berat ampas (b/b), masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Analisis kandungan gizi dan daya cerna patilo dengan Anova, uji dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD) pada taraf dan 5%. Untuk analisis uji organoleptik baik di laboratorium maupun di lapangan dengan uji Friedman. Perbedaan hasil akan dilanjutkan dengan uji lanjut Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil: 1) Nilai gizi patilo mentah dengan penambahan HPI mujair dibandingkan tanpa penambahan HPI mujair adalah : a) terjadi penurunan kadar air dan kadar karbohidrat secara signifikan (ρ<0,05) dan b) terjadi peningkatan kadar abu, kadar lemak dan kadar protein secara signifikan (ρ<0,05), 2) Nilai gizi patilo goreng dengan penambahan HPI mujair dibandingkan tanpa penambahan HPI mujair adalah : a). terjadi penurunan kadar air dan kadar karbohidrat secara signifikan (ρ<0,05) dan b).terjadi peningkatan kadar lemak, kadar protein dan energi secara signifikan (ρ<0,05) 3). Daya cerna protein patilo mentah dan goreng dengan penambahan HPI mujair meningkat secara signifikan (ρ=0,000) dibandingkan tanpa penambahan HPI mujair pada semua konsentrasi, 4). Patilo dengan penambahan HPI mujair 10% paling disukai oleh panelis agak terlatih dan panelis konsumen anak sekolah berdasarkan skor rasa, bau dan tekstur. Untuk warna, panelis agak terlatih dan panelis konsumen anak sekolah memilih patilo tanpa penambahan HPI mujair dan 5). Secara statistik perubahan nilai gizi dan daya cerna protein bermakna kecuali untuk kadar abu patilo goreng, namun dari sudut gizi perubahan yang berarti hanya pada kadar protein yang mencapai 6 kali lipat. Simpulan: Patilo yang diperkaya dengan HPI mujair 10% paling disukai oleh panelis agak terlatih maupun panelis konsumen anak sekolah dan terjadi kenaikan secara signifikan pada kadar protein yang mencapai 6 kali lipat. Kata Kunci : Patilo, pengkayaan dan hidrolisat protein ikan    Permalink : http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jgi/article/view/3243  
PENGARUH WAKTU HIDROLISIS PADA PEMBUATAN HIDROLISAT PROTEIN IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) TERHADAP pH, KEKENTALAN, DAYA BUIH DAN PEMBENTUKAN GEL Haslina Haslina
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 4 No 1 (2006): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v4i1.92

Abstract

Fish protein hydrolisatc (FPH) is expected to give more benefit in increasing added value of fish, because FPH has many advantages such as easier to digest by human, better functional properties and higher solubility.This research is aimed to find out the influences of time for enzymatic hydrolysis to pH, viscocity, foaming capacity andgel forming on hydrolysed mujair (Oreochromismossambicus) fish protein processing. A completely randomized design with 3 treatments and 4 rep I icates was used. The treatments used time hydrolysis 60, 80 and l 00 minutes. The parameters analyzed were pH, viscocity, foaming capacity and gel foaming. Result showed that the treatment significant (p<0,05)aftected pH, viscocity and foaming capacity. pH 5,42, viscocity 6,94 N/m2 and gel foaming 7, 17% was obtained in 60 minutes time hydrolysis treatment. However, fish protein hydrolysate did not perform any gel.
PENGARUH pH, LAMA PEMANASAN, SUHU PEMANASAN, KADAR GARAM DAN KADAR GULA TERHADAP STABILITAS EKSTRAK BUNGA BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L) Haslina Haslina; Sri Budi Wahjuningsih
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 12 No 2 (2014): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v12i2.350

Abstract

The aim of this research was to know on flower to ethanol ratio influence and the extraction time on starfruit flower extract. The research was also aimed to know pH, heating and temperature duration, salt and sugar levels effect at stability of starfruit flower extract. This research was conducted in two factorial randomized block design. The first factor was flower to ethanol ratio (1:1 b/v), (1:3 b/v) and (1:5 b/v) and the second factor was time extraction 40, 50 and 60 minute. Each treatment combination was conducted in triplication.The result of this research was analyzed using Anova, followed by 5 %. If it had interaction, it would be continued by DMRT 5% test. The result showed that on flower to ethanol ratio and time extraction influence significantly (p<0,05) on yield, pH, anthocyanin, colour intensity and vitamine C. Extract with on flower to ethanol ratio and time extraction as follows: yield of 26 %, pH of 3,91, anthocyanin content of 4,72 ppm and colour intensity of 22,35. Starfruit flower extract stable at 1-4, heating duration 70-80°C, temperature duration 0-90 minute, salt levels2-10% and sugar levels 10-50 %.
ORGANOLEPTIK CEREAL DARI TEPUNG BERAS MERAH (Oryza nivara Linn.) DAN TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris Linn.) Sri Budi Wahjuningsih; Annisa Rizka Septiani; Haslina
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 16 No 2 (2018): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan analisis kimia, fisik dan organoleptik dari sereal dengan bahan baku tepung beras merah dan tepung kacang merah. Penelitian ini menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap satu faktor yaitu perbandingan tepung beras merah dan tepung kacang merah sebanyak 4 formula yaitu A=295 : 5, B= 290 : 10, C= 285 : 15, dan D=280 : 20. Penelitian menggunakan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan formulasi terbaik sereal tepung beras merah dan tepung kacang merah secara kimia, fisik dan organoleptik adalah formula D yaitu sebanyak 280g tepung beras merah dan 20g tepung kacang merah, dengan kadar serat larut 0,86% dan serat tidak larut 0,54%, kadar protein 11,64%, dan aktivitas antioksidan 15,76%. Komposisi kimia yang lain yaitu kadar air 3,49%, kadar lemak 3,03%,dan kadar pati 10,26%. Produk ini memiliki waktu rehidrasi selama 830 detik saat mulai terbasahi media susu dan 1192 detik saat semua bagian terendam dalam media. Daya serap air produk adalah 2,9%. Parameter organoleptik secara keseluruhan menunjukkan skor 4,64 (sangat suka).
Pengaruh Formulasi Tepung Rambut Jagung Dan Tepung Beras Terhadap Kandungan Gizi Dan Sensori Keripik Bayam (Amaranthus Sp). Dionisius Rizky; Haslina Haslina; Ika Fitriana
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 15, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v15i2.2663

Abstract

Rambut jagung merupakan limbah jagung yang selama ini belum termanfaatkan, sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Pangan, Laboratorium Kimia dan Bio Pangan, Laboratorium Uji Indrawi Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Semarang. Waktu dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2020. . Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan sehingga diperoleh 20 unit perecobaan. Formulasi tepung rambut jagung dan tepung beras berpengaruh terhadap nyata (p<0,05) terhadap kandungan gizi dan sensori keripik bayam. Dari 536gr rambut jagung didapatkan 157gr tepung rambut jagung. Berdasarkan analisis ragam formula tepung rambut jagung dan tepung beras berpengaruh terhadap kandungan gizi  (kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar serat kasar, kadar karbohidrat), kecuali kadar abu dan sensori. Formula tepung rambut jagung dan tepung beras yang disukai oleh panelis pada perlakuan T2 (5g:95g). dengan skor warna 2,48 (agak coklat), skor rasa 4,28 (netral), skor tekstur 6,14 (renyah), kadar air 3,25%, kadar abu 2,00%, kadar protein 8,98%, kadar lemak 23,00%, kadar serat kasar 0,80%, kadar karbohidrat 59,97%.
PENGARUH WAKTU EKSTRAKSI DENGAN METODE ULTRASONIK TERHADAP KANDUNGAN VITAMIN C,PROTEIN, DAN FITOKIMIA EKSTRAK RAMBUT JAGUNG (Zea mays L.) Muhammad Edi Setyantoro; Haslina Haslina; Sri Budi Wahjuningsih
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 14, No 2 (2019): September
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.632 KB) | DOI: 10.26623/jtphp.v14i2.2445

Abstract

Rambut jagung yang dikenal sebagai limbah pangan kini mulai banyak diteliti karena kandungan antioksidan yang tinggi. Rambut jagung memiliki kandungan berupa alkaloid, steroid, sitosterol dan stigmasterol, tanin, flavonoid, protein, karbohidrat, vitamin, minyak atsiri, dan garam mineral seperti: Na, K, Mg, Ca.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode ultrasonik terhadap kandungan fitokimia, vitamin c, dan protein dalam pengekstrakan rambut jagung dengan berbagai waktu ekstraksi.Penelitian ini menggunakan metode ultrasonik dengan pelarut methanol 70%. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan berbagai macam waktu ekstraksi. Dengan 5 perlakuan dan diulang sebanyak 4 kali, dimana setiap perlakuan dengan konsentrasi ekstrak (bahan:pelarut) 1:10, : P1 : 60oC selama 20 menit, P2 : 60oC selama 30 menit, P3 : 60oC selama 40 menit, P4 : 60oC selama 50 menit, dan P5 : 60oC selama 60 menit. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan ANOVA dan apabila ada perbedaan yang nyata maka akan dilanjut dengan menggunakan uji DMRT taraf 5%. Adapun variable yang diamati yaitu uji aktivitas antioksidan, uji kandungan flavonoid, uji total fenol, vitamin C, dan protein.Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai macam waktu menggunakan metode ultrasonik terhadap ekstrak rambut jagung berpengaruh nyata (p < 0,05) terhadap uji aktivitas antioksidan, uji kandungan flavonoid, uji total fenolik, kadar vitamin C, dan kadar protein. Dengan hasil terbaik adalah pada waktu 60 menit terhadap fitokimia memberi  hasil  uji  aktivitas  antioksidan  sebesar  70,55%,  uji  kandungan  flavonoid sebesar 2,45   mg.QE/g dan uji total fenol sebesar 1,78 mg.GAE/g, vitamin c sebesar 53,98 Mg100/ml, dan kadar protein sebesar 0,58%.
Extract Corn Silk with Variation of Solvents on Yield, Total Phenolics, Total Flavonoids and Antioxidant Activity Haslina Haslina; Murtiari Eva
Indonesian Food and Nutrition Progress Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Association of Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ifnp.24280

Abstract

Corn silk is a by product or waste that is commonly used as a traditional medicine that contain bioactive compounds such as volatile oils, steroids, alkaloids, tannins, flavonoids, chlorogenic acid and phenolic compounds, containing protein, carbohydrates, minerals (Ca, Mg, Cu , Zn, Fe and Mn), higher crude fiber, vitamin B, vitamin C, vitamin K, steroids such as sitosterol and stigmasterol, alkaloids, saponins, tannins, flavonoids, anthocyanins, protokatekin, vanilic acid, derivatives hasperidin and quersetin, phenols, terpenoids and glycosides, maysin, β-carotene, beta-sitosterol, geraniol, hordenin, limonene, menthol and viteskin also a good source of poliphenol as antioksidan. Solvent used for the extraction of flavonoid compounds are methanol, ethanol, acetone and ethyl acetate. Basic separation by solvent extraction is the difference in the solubility of each composition in compaction with solvent. Solubility is influenced temperature, stirring speed, the extraction time, comprehensive tangent plane solids by solvent extraction and frequency.This study aims to extract corn silk by using a variation of solvent type in terms of yield, total phenols, flavonoids and antioxidant activity.The experimental design used in this study is completely randomized design (CRD) 1 factor with 5 replications. Solvent: methanol: water (85:15) (v/v) ethanol: water (85:15) (v/ v), ethyl acetate: water (85:15) (v/v), acetone: water (85 : 15) (v/v). Furthermore, the data obtained were analyzed variants and if there is a difference between treatments continued by Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5% level.Variations in the type of solvent significant (p <0.05) to the yield, total phenol, total flavonoids and antioxidant activity. Variations in the type of solvent with the highest yield at a ratio (methanol: water), and the ratio (ethanol: water), then the ratio (acetone: water) and the lowest ratio of (ethyl acetate: water). At ratio (methanol: water) obtained yield is 65.8%, total phenol ie 45350.27 mg / kg GAE, total flavonoids 291.28 mg QE / kg and activities of antioxidant that is 92.1%.
Optimization of temperature and extraction time for the nutritional and phytochemical contents of corn bran with ultrasonic-method Haslina Haslina; Dewi Larasati; Ery Pratiwi; Novizar Nazir; Ika Fitriana
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 5 No. 3 (2021)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.538 KB) | DOI: 10.29165/ajarcde.v5i3.77

Abstract

One of the natural antioxidants sources that have the potential to be utilized as raw material for functional food is corn bran. Corn bran is a by-product of the milling process of corn that is gaining attention as a functional food is increasing in recent years. This study aimed to optimize temperature and extraction time for the nutritional and phytochemical contents of corn bran with ultrasonic-method. Optimized Custom Design was applied to investigate the effect of experimental factors on the nutritional and phytochemical contents. This study used Randomized Block Design (RBD) arranged in-factorial with 3 treatments, namely temperature and time of extraction. Temperature: A1=500C, A2=550C, A3=600C, and A4=650C, and time: B1=10 minutes, B2=15 minutes, B3=20 minutes, and B4=25 minutes. The data obtained were analyzed statistically using ANOVA with a significance level of 95% and then processed with Software DX13.0 ® program. The results of the research show the formula of the experiment which is optimal at a temperature of 500C and 10 minutes. In this condition, the result is the yield at 38.34%, nutritional contents (water at 9.17%; ash at 0.33%; fat at 1.33%, protein at 4.40%, carbohydrates at 85.47%; and crude fiber at 1.88%. produce yield 38.34%, and phytochemical contents (total phenols at 1778.07 µg GAE/g. flavonoids at 92.11 µg GAE/g, vitamin C at 5.84 mg, antioxidant activity at 43.33%, and tannins at 0.11%). This study implies that there is an increase in added value from the conversion of corn bran into nutrient-rich products and has a promising phytochemical content.
PELATIHAN PEMBUATAN JELLY DRINK RAMBUT JAGUNG BAGI KELOMPOK TANI MELATI, KARANGAYU, KECAMATAN CEPIRING, KABUPATEN KENDAL Haslina Haslina; Rohadi Rohadi; Ika Fitriana; Zulhaq Dahri Siqhny
TEMATIK Vol 1, No 1: July 2019
Publisher : TEMATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/tmt.v1i1.1591

Abstract

Kegiatan pengabdian di Kelompok Tani Melati, tim pengabdian berasal dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian memberikan pengetahuan sesuai bidang keilmuan yakni aplikasi dari pangan fungsional. Kegiatan ini memberikan tambahan pengetahuan bagi Kelompok Tani Melati agar dapat membuat olahan dari rambut jagung, yakni jelly drink.Adapun tahapan persiapan yang berupa pra survey dengan mengidentifikasi masalah kebutuhan dan persetujuan penyelenggaraan acara pengabdian dari Kelompok Tani Melati. Pada tahap pelaksanaan, tim pengabdi menyiapkan materi pelatihan berupa leaflet dan bahan-bahan pelatihan. Bahan pelatihan berupa, pelatihan teori rambut jagung sebagai oangan fungsional yang bermanfaat untuk kesehatan dan yang terakhir berupa pemberian pelatihan pembuatan jelly drink rambut jagung.Setelah mengikuti pelatihan, lebih dari 50% anggota kelompok tani jadi mengerti potensi rambut jagung sebagai antioksidan alami yang bermanfaat untuk kesehatan dan dapat diolah menjadi jelly drink. Selain itu, respon berupa pertanyaan dan kesungguhan kelompok tani dalam menerima semua materi yang diberikan dan mengikuti praktek sampai selesai. Evaluasi secara umum menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Karangayu, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, direspon dengan baik (Gambar 5). Hal ini terlihat dari minat kelompok tani yang cukup memuaskan dan ada keinginan untuk mencoba praktek dan memasarkan jelly drink.
Study Spasial Kejadian Stunting di Kelurahan Banggae Kec. Banggae Kabupaten Majene Tahun 2024 Nurlian, Sri; Haslina, Haslina; Nurbayani, Nurbayani
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 3 No. 1 (2025): Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v3i1.323

Abstract

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis, yang dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif. Di Kabupaten Majene, prevalensi stunting mencapai 35%. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran kejadian stunting di Kelurahan Banggae, Kecamatan Banggae, berdasarkan berbagai faktor. Metode penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan deskriptif menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.8. Responden terdiri dari 91 bayi dan balita yang mengalami stunting, dengan pengumpulan data sekunder dan primer terkait riwayat kehamilan, berat lahir, pemberian makanan pendamping ASI, dan usia ibu saat menikah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 64,8% balita stunting berusia >23 bulan. Sebanyak 53,8% ibu menikah pada usia cukup, dan 24,2% balita stunting memiliki berat badan lahir rendah. Selain itu, 29,7% balita berasal dari ibu yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK), dan hanya 60,4% balita menerima ASI eksklusif. Angka kejadian stunting di Kelurahan Banggae cukup tinggi, dipengaruhi oleh usia ibu saat menikah, berat lahir, dan status gizi ibu. Penelitian ini menunjukkan perlunya intervensi gizi yang lebih baik serta peningkatan kesadaran tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif untuk mencegah stunting.