Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

DALI NI HORBO DALAM PROGRAM OVOP SEBAGAI PENDUKUNG PARIWISATA DI DESA HUTA TINGGI Nainggolan, Erlin; Ekomila, Sulian
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 1 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i1.2024.184-191

Abstract

Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan hal-hal yang menjadi latar belakang masyarakat desa Huta Tinggi memilih dali ni horbo sebagai produk OVOP dalam mendukung pariwisata, serta menganalisis strategi masyarakat desa Huta Tinggi dalam upaya mengoptimalkan dali ni horbo sebagai produk OVOP untuk mendukung pariwisata. Metode penelitian yaitu menggunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan desa wisata telah lama memiliki pengetahuan lokal yang menjadi habitus dalam pengelolaan dali ni horbo dan mengajukannya dalam program OVOP dengan menerapkan beberapa strategi dalam upaya mengoptimalkan dali ni horbo sebagai produk OVOP untuk mendukung pariwisata, yaitu seperti: (1) Kerbau tetap eksis menjadi hewan ternak masyarakat Desa Huta Tinggi; (2) Masyarakat melestarikan pembuatan dali ni horbo; (3) Masyarakat mengikuti kegiatan Kampanye Sadar Wisata; dan (4) Masyarakat turut serta menjadikan dali ni horbo menjadi produk olahan lainnya dan memperkenalkannya melalui media digital.
NIHOPINGAN SEBAGAI MAKANAN PERSEMBAHAN KEPADA LELUHUR DI DESA RIANIATE KABUPATEN SAMOSIR Wati Manik, Tiarmaida; Pasaribu, Payerli; Ekomila, Sulian
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 10 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i10.2024.4271-4274

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi proses pemberian Nihopingan kepada leluhur, alasan Nihopingan sebagai makanan persembahan serta makna yang terkandung dalam Nihopingan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menggunakan teori W. Robertson Smith tentang upacara bersaji dan teori Interpretasi Simbolik Geerzt. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu melalui observasi partisipasi yang dimana penulis ikut serta dalam pembuatan dan acara ritual. Selain itu juga melakukan wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Adapun hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Nihopingan selain menjadi makanan tradisional tetapi juga menjadi makanan sakral yang digunakan sebagai persembahan kepada leluhur oleh masyarakat di Desa Rianiate. Proses pemberian Nihopingan diadakan di dua tempat yaitu di dalam rumah yang disajikan di Sibuaton dan diluar yaitu dibawah Pohon Hariara. Masyarakat di Desa Rianiate menyajikan Nihopingan kepada leluhur karena sudah menjadi tradisi turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya, selain itu Nihopingan menjadi perantara doa masyarakat di Desa Rianiate kepada leluhurnya. Masyarakat memberikan Nihopingan kepada leluhur sebagai harapan akan kesehatan, terhindar dari hal-hal buruk, kelancaran pekerjaan, rencana ketika masyarakat ingin membangun rumah ataupun tugu. Masyarakat memiliki keyakinan dan filosofil dalam terlihat dengan unsur Nihopingan seperti beras yang melambangkan kekuatan roh, kunyit melambangkan kekayaan dan kelimpahan, pisang melambangkan kelembutan, daun sirih sebagai lambang kesopanan, Jeruk purut lambang kebersihan dan itak gur-gur sebagai lambang pengharapan dan keikhlasan.
FENOMENA COSPLAY ANIME JEPANG DI KALANGAN GENERASI Z DI KOTA MEDAN Linx Naomi Badia Purba, Rachel; Iqbal, Muhammad; Ekomila, Sulian
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 1 (2025): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i1.2025.316-324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena cosplay anime Jepang di kalangan generasi Z muncul dan berkembang, Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan dampak yang ditimbulkan oleh fenomena cosplay anime Jepang bagi generasi Z di kota Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menggambarkan, bahwa latarbelakang terjadinya fenomena cosplay anime Jepang di kota Medan karena mulai banyak anak muda khususnya generasi Z yang mengenal anime. Pada saat covid 19 mulai banyak generasi Z yang menonton anime. Sementara itu, dari fenomena cosplay anime Jepang terjadi pada tahun 2022 saat event Bunkasai di USU. Ketertarikan untuk bercosplay di generasi Z pun mulai banyak di coba, karena memiliki manfaat positif bagi generasi Z seperti, memperluas relasi, kreatif, dan jadi peluang usaha. Selain itu, ada juga dampak negatif dari fenomena cosplay anime Jepang yaitu, pemborosan dan pengaruh oleh lingkungan yang buruk.
EKSPLORASI KUE BIKA TUTUNG SEBAGAI WARISAN PANGAN TRADISIONAL ETNIS MANDAILING DI KABUPATEN MANDAILING NATAL Afif Lubis, Najwa; Ekomila, Sulian
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 11 (2025): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i11.2025.4306-4312

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya kue bika tutung sebagai warisan pangan tradisional yang meliputi eksplorasi sejarah singkat, peran bika tutung dalam tradisi atau pun acara adat, serta bahan dan proses teknik pembuatan pembuatan kue bika tutung di Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Mandailing Natal tepatnya berada di Kelurahan Pasar Maga. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara mandalam, dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kue Bika Tutung memiliki nilai budaya yang beragam, antara lain sebagai nilai filosofis Etnis Mandailing, pewarisan tradisi, media kebersamaan, kearifan lokal dalam pemanfaatan bahan alam, serta kebanggaan masyarakat. Kue bika tutung bukan hanya sekadar pangan tradisional, melainkan juga warisan budaya yang memiliki nilai sosial, ekonomi, dan identitas etnis Mandailing.
Cake Rasida As Representation Identity Malay Ethnic Culture At Wedding Ceremonies In Langkat Regency Shahrani, Nadya; Ekomila, Sulian
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/pssa.v10i2.2561

Abstract

The tradition of eating rice face-to-face during Langkat Malay wedding ceremonies is a form of cultural expression rich in symbolism and social values. A crucial element of this tradition is the rasida cake, which serves not only as a dish but also holds profound symbolic meaning. This research aims to reveal the meaning of rasida cake in terms of ingredients, manufacturing process and form of presentation in the context of the tradition of eating rice face to face as well as changes in its meaning from time to time. The research method used is qualitative with an ethnographic approach. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, documentation, and field notes with informants consisting of the bride and groom's families, traditional leaders, the Malay community, invited guests, and the younger generation in Tanjung Pura District, Langkat Regency. The research results show that rasida cake was originally a sacred dish in the palace environment which functioned as a symbol of honor and unity for the king and the nobles. However, as time goes by, the meaning has shifted to become a symbol of honor and acceptance towards the groom's family and invited guests, as well as a form of cultural preservation in the midst of modern society. The materials, manufacturing process, and presentation forms also undergo transformation without eliminating the symbolic values contained within them. Therefore, Rasida cake is a representation of the cultural identity of the Langkat Malays which reflects dignity, politeness, and the values of togetherness in the social life of the community.
Berdagang di Ruang Krisis: Dinamika Dan Tantangan Adaptasi Pedagang Pasar Horas Pasca Kebakaran Lidiasari, Fany; Ekomila, Sulian; Ama, Bakhrul Khair; Yusepa, Irda
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jipsi.v5i1.1496

Abstract

Penelitian  ini bertujuan mengeksplorasi dan menganalisis dinamika dan tantangan yang dihadapi pedagang di Pasar Horas Kota Pematangsiantar selama berada pada ruang krisis pasca-kebakaran pasar, yang menyebabkan aktivitas penjualan direlolkasi ke tepi Jalan Merdeka. Teori solidaritas sosial Emile Durkheim membantu pendekatan deskriptif kualitatif dalam memahami perubahan kondisi sosial pedagang dalam kondisi darurat. Informan yang berkontribusi dalam memberikan informasi dan data sejumlah 13 orang, meliputi: pedagang pasar, pengelola pasar, dan pembeli yang dipilih secara purposive berdasarkan kriteria yang relevan. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dan informasi meliputi: observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Selanjutnya, proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan adalah proses yang dilalui untuk menganalisis data. Adapun hasil analisis memperlihatkan bahwa pasca-kebakaran Pasar Horas, perubahan lingkungan fisik dan sosial di tempat berdagang membentuk ruang krisis. Kondisi ini menimbulkan perubahan dalam aktivitas ekonomi dan cara pedagang berinteraksi satu sama lain. Ini juga menyebabkan berbagai masalah adaptasi, seperti keterbatasan ruang berjualan, kurangnya keamanan dan kenyamanan, ketidakstabilan pendapatan, dan peningkatan persaingan antar pedagang karena kepadatan ruang. Perubahan ini memengaruhi bagaimana pedagang menyesuaikan diri dan mempertahankan bisnis mereka dalam situasi pascarelokasi. Hasil menunjukkan bahwa relokasi yang disebabkan oleh bencana membawa perubahan sosial dan material dalam kehidupan pedagang pasar.