Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PERKEMBANGAN OLAHRAGA TERKINI (Kajian Para Pakar) Margono Margono
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 2 (2005): Cakrawala Pendidikan, Juni 2005, Th. XXIV, No.2
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.281 KB) | DOI: 10.21831/cp.v0i2.375

Abstract

Oleh: Prof. Dr. H. Harsuki, MA., dan Dra. Soewatini Elias, M.Si. (Editor)Tebal halaman : 449 (+ xi)Ukuran buku : 15,5 x 24 cmTahun terbit : Cetakan I, Juni 2003Penerbit : PT Rajagrafindo PersadaKota : JakartaISBN : 979-421-969-XPeresensi : MargonoFIK Universitas NegeriYogyakarta
OLAHRAGA LARI: SEBAGAI ALTERNATIF MENCAPAI TINGKAT KESEGARAN JASMANI YANG MEMADAI Margono Margono
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 2,1987,TH.VI
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.63 KB) | DOI: 10.21831/cp.v2i2.7449

Abstract

"Hypokinetik disease" merupakan gangguan 'atau penyakit akibat kemajuan teknologi modern, yang memang menjanjikan hidup 'enak' dengan sedikit kerja fisik. Kegiatan mental seharusnya diimbangi dengan kegiatan fisik, karena keduanya memiliki hubungan timbal-balik. Semua orang memerlukan tingkat kesegaran jasmani tertentu sesuai dengan fungsinya dalam proses kehidupan, untuk mengembangkan kesanggupan dan kemampuannya. Olahraga lari sebagai suatu latihan (merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani) dapat dilaksanakan untuk tujuan meningkatkan kesegaran jasmani. Tulisan ini berusaha untuk mengemukakan syarat-syarat/ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam melaksanakan olahraga lari, agar tujuannya tercapai.
ALTERNATIF PENGGUNAAN STRATEGI DAN METODE MENGAJAR PADA PERKULIAHAN SEJARAH OLAHRAGA Margono Margono
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 3,1994,TH.XIV
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v3i3.9149

Abstract

Keberhasilan suatu Proses Belajat" ,Mengajar dipenga:uhibanyak faktor yang seca-ra um"um dibedakan menjadi faktorenclogen dan eksogen. Apabila" kedua faktor tersebut yangdapat dideskdpsikan menjadi lebih banyak lagi. saling mendukung.maka tujuan untuk mengadakan perubahan perilakupada peserta didik (bersilat kognitiI, afektif. maupun psikomotor)sesuai dengan yang dikehendaki dapat tercapai.Dosen sebagai salah satu kornponen penting dalamproses pembelajaran. tepat apabila senantiasa berupayameningkatkan kualitas perkuliahannya. Banyak cara dapatdilakukan. Salah" satu c~ra yang dapat ditempuh adalahdengan menerapkan strategi dan rnetode mengajar yangtepat. .Dengan memahami pengertian. peranan serta macamstrategi dan metode mengajar. juga pengelompokan rna terikuliah Sejarah 01aht"aga; tentunya pemilihan strqtegi danmetode mengajar dapat dilakukan dengan tepat. Model gat"is.besar kronologis. tematis, garis perkembangan khu5us danregresif; merupakan strategi yang lazim digunakail dalamrnengajar sejarah. Sedangkan metode yang sering dig-unakandalam mengajar sejarah adalah metode reseptif." diskusi,discovery/inquiry. dan pengajaran di luar kelas.
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI PERGURUAN TINGGI A. Rosyid Al Atok; Suparlan Al Hakim; Sri Untari; Margono Margono
Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 28, No 1 (2015): Pebruari 2015
Publisher : Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.002 KB) | DOI: 10.17977/jppkn.v28i1.5467

Abstract

Abstract: This research aims to develop a learning model character education with a multicultural approach used in Civic Education. The resulting learning model is poured in the form of modules and visualized in the form of instructional videos. Framework of a prototype model of learning by taking into account the competence of the subjects that must be owned by the students, faculty compe-tence in multicultural approach, the cultural background of students, and the characteristics of learning the nuances of multicultural material. Strategies that can be used, among others: strategies and learning activities are combined with the concept attainment strategy, the strategy value analy-sis, and strategies of social analysis. Drafting of the learning can be done through five main stages, namely content analysis, the analysis of cultural background, mapping materials, organizing materi-als, and then poured in Civic Education learning format. In the implementation of character education learning model with a multicultural approach can be done through the following phases: Exploration Studies, Presentations, Peer Group Analysis, Expert Opinion, and Reflections and Recommenda-tions.Keywords: character education, multicultural, and civic education
AKTOR NON-NEGARA DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL Margono Margono
Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 28, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.993 KB) | DOI: 10.17977/jppkn.v28i2.5450

Abstract

Abstract: This report aims to describe the role of non-state actors in international relations. Al-though classically international relations in the information era is still dominated by the relationship between countries, actors non-states increasingly play an important role, even capable of challeng-ing the state with super powers like the United States. Thus, the critical paradigm in the discussion of international relations needs to be done.Keywords: non-governmental actors, international relations, critical.
AKTIVITAS SEKSUAL LANSIA Desy Purnamasari; Margono Margono; Nanik Setiyawati
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 2, No 2: Agustus 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/jik.v2i2.56

Abstract

Latar belakang: Menurut Penelitian UNFPA dan BKKBN di Yogyakarta tahun 1999, ditemukan bahwa responden wanita berusia 57 tahun dari latar belakang yang berbeda menyatakan, sudah tidak mau lagi melayani kebutuhan biologis suaminya, dan secara sukarela memperbolehkan suaminya untuk berselingkuh.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas seksual lansia di Dusun Saragan, Pandowoharjo, Sleman.Metodologi: Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Lokasi penelitian di Dusun Saragan, Pandowoharjo, Sleman. Waktu penelitian bulan Mei s.d. Juni 2014. Subyek penelitian adalah lansia yang berusia lebih dari 60 tahun. Informan dalam penelitian ini sejumlah 7 orang, 4 orang lansia perempuan dan 3 lansia laki-laki. Peneliti meneliti perilaku, sikap, norma subjektif dan niat lansia tentang aktivitas seksual. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam.Hasil: Didapatkan hasil bahwa seluruh informan perempuan masih melakukan aktifitas ciuman, berpelukan, dan hubungan seks dengan pasangannya. Sedangkan seluruh informan laki-laki menyatakan sudah tidak melakukan aktifitas seksual apapun. Separuh informan perempuan memiliki sikap positif terhadap aktivitas seksual sedangkan seluruh informan laki-laki memiliki sikap negatif terhadap aktivitas seksual. Informan menyatakan tentang aktivitas seksual mereka dipengaruhi oleh peran pasangan, peran keluarga, mitos tentang timbulnya tumor pada lansia, dan penyuluhan. Seluruh informan perempuan memiliki niat untuk melakukan aktivitas seksual sedangkan seluruh informan laki-laki tidak memiliki niat untuk melakukan aktivitas seksual.Simpulan: Seluruh informan perempuan masih melakukan aktivitas seksual seperti berciuman, berpelukan, danhubungan seks,sedangkan informan laki-laki sudah tidak melakukan aktivitas seksual apapun.ABSTRACTBackground: According to UNFPA research and BKKBN in Yogyakarta in 1999, it discovered that woman respon- dent in the range of age 59 years old with different background, said that they won’t make sex with their husband and let them to have affair.Objective: This research was taken to describe the sexual activity for the overage in Saragan, Pandowoharjo, Sle- man.Methode: It used qualitative method with the kind of research was descriptive research. It took place in Saragan, Pandowoharjo Sleman on May until June 2014. The research subject was the old people of the range of age was up to 60 years old. The informan in this research are 7 old people, 4 women and 3 men. The researcher took research based on behavior, attitude, subjevtive norm and the intention of the old people about sexual activity. The data was collected by using in-depth interview.Result: The result of the research showed that the woman respondent were still doing kiss, hug, and have sex. And all the man respondent hadn’t done sex anymore. Half of the woman respondents had positive attitude about sexual activity but all of the man respondents have negative attitude to activity sexual. All of the respondent point of view were influenced by their couple, family, myth about the tumors, and workshop. All of women respondent had the intention of making sex and the man respondent hadn’t it.Conclusion: All the woman respondents were still doing kiss, hug, and have sex. And the man respondent hadn’t done sexual activity anymore.
USIA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) DENGAN GANGGUAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS BAYI Sylvi Wafda Nur Amelia; Suherni Suherni; Margono Margono
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 1, No 1: Maret 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/jik.v1i1.29

Abstract

Latar Belakang: Ditemukan lebih dari 200 juta anak di bawah 5 tahun tidak berkembang sesuai umur. Kebanyakan ditemukan di daerah Asia selatan dan Afrika bagian Sahara, yang dikarenakan oleh kemiskinan, nutrisi yangkurang, krisis kesehatan dan lingkungan yang tidak memadai. Deteksi dini tumbuh kembang di Kabupaten Bantulpada tahun 2008 belum mencapai 100%. Cakupan bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di PuskesmasImogiri I sebesar 45,75% dan Puskesmas Imogiri II sebesar 19,59%, dan ditemukan keterlambatan perkembangantidak sesuai umur pada perkembangan motorik halusnya sebesar 3,8%.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dengan gangguan perkembangan motorik halus padabayi di Wilayah Kerja Puskesmas Imogiri I, Bantul, Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah bayi usia0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Imogiri I sebanyak 413 bayi dengan sampel 133 bayi menggunakan teknikquota sampling. Instrumen penelitian ini adalah checklist dan lembar DDST II. Analisis data yang menggunakan ujistatistik multivariat yaitu chi square dengan signifcancy level 0,05.Hasil: Proporsi bayi yang diberi MP-ASI sebelum usia 6 bulan adalah 26,3% , bayi yang mengalami perkembangan motorik halus bayi sesuai dengan usianya sebanyak 73,3%. Besarnya risiko bayi yang mengalami gangguanperkembangan motorik halus pada bayi yang diberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan sebanyak 31, 4% dan besarnya risiko bayi yang mengalami gangguan perkembangan motorik halus pada bayi yang diberikan MP-ASI mulaisejak usia 6 bulan sebesar 6,1%.Simpulan: Hasil uji chi square didapatkan nilai χ2 sebesar 14,815 pada df 1 dengan taraf signifkansi (p) 0,000bahwa ada hubungan antara pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan dengan kejadian gangguanperkembangan motorik halus bayi. Dan hasil perhitungan RR didapatkan bahwa pemberian MP-ASI sebelum usia6 bulan merupakan faktor risiko dari kejadian gangguan perkembangan motorik halus pada bayi (5,133). ABSTRACTBackground: Discovered over 200 million children below fve years is not developing according to age. Bantul district in the year 2008 there is still early detection of growth that have not reached 100%, based on data from at thePHC Imogiri I 78,88%, PHC Imogiri II82,06%. While the number of babies who are given exclusive breast feedingat the PHC Imogiri I 45,75% and PHC Imogiri II19,59%. In the area of PHC Imogiri I, found delays in the development of age-appropriate or not is in the village of Wukirsari 6 of 284 infants, in the village of Girirejo 2 of 50 infants,in the village of Karangtalun 3 of 7 infants, and in the village of Imogiri 1 of 42 such infants and there 5 infants whoexperience age-appropriate development was not on fne motor development.Objective: To determine the correlation grant of age complementary feeding with interference trend growth fnemotor in the area of work Public Health Center Imogiri I, Bantul, Yogyakarta.Method: The study was an analytical survey with cross sectional approach. The subjects were 0-12 month-old babyat the PHC Imogiri I sample as many as 413 infants with 133 infants using a quota sampling technique. This is achecklist of research instruments and sheet DDST II. Analysis of data using multivariate statistical test that is chisquare with signifcancy 0,05 level.Results: The proportion of infants who were given complementary feeding before the age of 6 months was 26,3%,infants who experienced fne motor development according to age as much as 73,3%. The magnitude of risk infantsexperiencing fne motor developmental delay infants who were given complementary feeding before the age of 6months was 31,4% and the risk of infants experiencing fne motor developmental delay infants given complementary feeding 6 months starting from the age of 6,1%.Conclusion: The administration of the complementary feeding before the age of 6 months are risk factors of theoccurrence of fne motor development disorders in infants.
Calcium intake and hypertension in pregnancy Rachmi Nurhidayati; Hesty Widyasih; Margono Margono
Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak Vol. 12 No. 1 (2018): July
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/kia.v12i1.93

Abstract

Hypertension in pregnancy is still one of the causes of maternal death in Indonesia. In 2016, the maternal mortality rate in Special Region of Yogyakarta had increased. The most cases of maternal mortality in Bantul Regency which is caused by complication of hypertension in pregnancy by 33%. Meanwhile, the majority of pregnant women in Indonesia have an average calcium intake that is classified as less, which is 649.9 mg/day. The aim of this study was to the correlation of calcium intake with hypertension in pregnancy in Bantul Community Health Center in 2018, the type of analytical survey research with cross-sectional design was conducted. The population of this study was pregnant women in the third trimester in Bantul Regency Community Health Center in 2018 with a sample size of 95. The sampling technique used was consecutive sampling. The data analysis used chi-square test. Calcium intake in pregnant women in Bantul Regency Community Health Center in 2018 is classified as inadequate at 90.5%. Pregnant women with less calcium intake who experienced hypertension in pregnancy were as much as 5.8%, while pregnant women with adequate calcium intake who experienced hypertension in pregnancy were as much as 11.1%. Based on the chi-square test known p-value = 0.639. There was no significant correlation between calcium intake with hypertension in pregnancy at Bantul Regency Community Health Center in 2018.
EFEKTIFITAS TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP PENINGKATAN ADAPTASI REGULATOR TUBUH UNTUK MENURUNKAN NYERI PASIEN POST OPERASI FRAKTUR DI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SOEHARSO SURAKARTA Margono Margono
Journal Of Health Science (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol 1 No 1 (2014): JOURNAL OF HEALTH SCIENCE (JURNAL ILMU KESEHATAN)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.007 KB)

Abstract

Penatalaksanaan fraktur dengan pembedahan akan menimbulkan kerusakan pada jaringan sehingga akan melepaskan zat-zat yang mengaktifkan reseptor nyeri (histamine, serotonin, plasmakinin, bradikinin, dan prostaglandin). Setiap individu akan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Adaptasi merupakan mekanisme koping untuk menjelaskan proses kontrol dari individu.Teknik relaksasi akan memenuhi kebutuhan metabolisme regulator dalam tubuh. Tujuan penelitian yaitu mengetahui efektivitas terapi relaksasi nafas dalam terhadap meningkatnya adaptasi regulator tubuh untuk menurunkan nyeri pada pasien post operasi fraktur di RSO Soeharso Surakarta. Jenis penelitian ini eksperiment kuasi dengan desain pretest-postest control design. Populasi penelitian seluruh pasien post operasi fraktur di RS Soeharso Surakarta dengan sampel pasien yang memenuhi kreteria inklusi dengan jumlah sampel yaitu 32 pasien yang terbagi dalam 2 kelompok (perlakuan dan kontrol). Teknik pengambilan sampel dengan cara accidental sampling, sebelum analisis stataistik peneliti melakukan uji normalitas dengan uji Shapiro-Wilk, dan selanjutnya dilakukan uji paired sampel t-test dan independent t-test untuk data distribusi normal sedangkan uji wilcoxon dan mann-whitney untuk data tidak distribusi normal. Hasil analisis uji Paired samples t-tes kelompok sebelum dan sesudah pada parameter kadar bradikinin,skala nyeri, tekanan darah, pernafasan dan suhu 0,00 (<0,05), uji Wilcoxon test kelompok sebelum dan sesudah pada parameter nadi 0,00 (<0,05) uji Independent samples t-tes kelompok perlakuan dan kontrol kadar bradikinin, skala nyeri, tekanan darah, pernafasan dan suhu <0,05, pada perbedaan nadi digunakan uji mann- whitney kelompok perlakuan dan kontrol p=0,001 (<0,05). Teknik relaksasi nafas dalam efektif untuk meningkatkan adaptasi regulator tubuh pada pasien post operasi fraktur di RSO Soeharso Surakarta.Kata Kunci: relaksasi nafas dalam, adaptasi, regulator, nyeri fraktur
USIA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) DENGAN GANGGUAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS BAYI Sylvi Wafda Nur Amelia; Suherni Suherni; Margono Margono
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 1, No 1: Maret 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.186 KB) | DOI: 10.36307/jik.v1i1.29

Abstract

Latar Belakang: Ditemukan lebih dari 200 juta anak di bawah 5 tahun tidak berkembang sesuai umur. Kebanyakan ditemukan di daerah Asia selatan dan Afrika bagian Sahara, yang dikarenakan oleh kemiskinan, nutrisi yangkurang, krisis kesehatan dan lingkungan yang tidak memadai. Deteksi dini tumbuh kembang di Kabupaten Bantulpada tahun 2008 belum mencapai 100%. Cakupan bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di PuskesmasImogiri I sebesar 45,75% dan Puskesmas Imogiri II sebesar 19,59%, dan ditemukan keterlambatan perkembangantidak sesuai umur pada perkembangan motorik halusnya sebesar 3,8%.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dengan gangguan perkembangan motorik halus padabayi di Wilayah Kerja Puskesmas Imogiri I, Bantul, Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah bayi usia0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Imogiri I sebanyak 413 bayi dengan sampel 133 bayi menggunakan teknikquota sampling. Instrumen penelitian ini adalah checklist dan lembar DDST II. Analisis data yang menggunakan ujistatistik multivariat yaitu chi square dengan signifcancy level 0,05.Hasil: Proporsi bayi yang diberi MP-ASI sebelum usia 6 bulan adalah 26,3% , bayi yang mengalami perkembangan motorik halus bayi sesuai dengan usianya sebanyak 73,3%. Besarnya risiko bayi yang mengalami gangguanperkembangan motorik halus pada bayi yang diberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan sebanyak 31, 4% dan besarnya risiko bayi yang mengalami gangguan perkembangan motorik halus pada bayi yang diberikan MP-ASI mulaisejak usia 6 bulan sebesar 6,1%.Simpulan: Hasil uji chi square didapatkan nilai χ2 sebesar 14,815 pada df 1 dengan taraf signifkansi (p) 0,000bahwa ada hubungan antara pemberian MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan dengan kejadian gangguanperkembangan motorik halus bayi. Dan hasil perhitungan RR didapatkan bahwa pemberian MP-ASI sebelum usia6 bulan merupakan faktor risiko dari kejadian gangguan perkembangan motorik halus pada bayi (5,133). ABSTRACTBackground: Discovered over 200 million children below fve years is not developing according to age. Bantul district in the year 2008 there is still early detection of growth that have not reached 100%, based on data from at thePHC Imogiri I 78,88%, PHC Imogiri II82,06%. While the number of babies who are given exclusive breast feedingat the PHC Imogiri I 45,75% and PHC Imogiri II19,59%. In the area of PHC Imogiri I, found delays in the development of age-appropriate or not is in the village of Wukirsari 6 of 284 infants, in the village of Girirejo 2 of 50 infants,in the village of Karangtalun 3 of 7 infants, and in the village of Imogiri 1 of 42 such infants and there 5 infants whoexperience age-appropriate development was not on fne motor development.Objective: To determine the correlation grant of age complementary feeding with interference trend growth fnemotor in the area of work Public Health Center Imogiri I, Bantul, Yogyakarta.Method: The study was an analytical survey with cross sectional approach. The subjects were 0-12 month-old babyat the PHC Imogiri I sample as many as 413 infants with 133 infants using a quota sampling technique. This is achecklist of research instruments and sheet DDST II. Analysis of data using multivariate statistical test that is chisquare with signifcancy 0,05 level.Results: The proportion of infants who were given complementary feeding before the age of 6 months was 26,3%,infants who experienced fne motor development according to age as much as 73,3%. The magnitude of risk infantsexperiencing fne motor developmental delay infants who were given complementary feeding before the age of 6months was 31,4% and the risk of infants experiencing fne motor developmental delay infants given complementary feeding 6 months starting from the age of 6,1%.Conclusion: The administration of the complementary feeding before the age of 6 months are risk factors of theoccurrence of fne motor development disorders in infants.