Deddy Erdiono
Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT

Published : 43 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

NEO PESANTREN DI MANADO. Heterotopia - Disorder dalam Order ., Zahra; ., Sangkertadi; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20827

Abstract

Kota Manado yang merupakan ibukota sekaligus kota terbesar di provinsi Sulawesi Utara, meskipun mayoritas penduduknya adalah non muslim tetapi merupakan kota dengan jumlah penduduk muslim tertinggi dibandingkan dengan kota/kabupaten lain di provinsi ini. Berdasarkan hal tersebut, pastinya diperlukan pewadahan untuk berbagai kegiatan dan aktivitas penduduk muslim di Kota Manado yang memadai dan sesuai kebutuhan masyarakat muslim. Pesantren adalah lembaga pendidikan agama islam yang berperan penting dalam pendidikan agama islam. Di Kota Manado sudah ada beberapa pendidikan berformat pesantren, hanya saja minat penduduk terhadap pendidikan pesantren masih rendah. Hal ini karena system dan pelayanan pesantren yang masih belum sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat, dalam hal ini masyarakat perkotaan. Neo pesantren adalah pembaruan terhadap konsep pesantren guna merencanakan dan merancang konsep pesantren yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern, dalam hal ini tanpa menghilangkan inti dari pesantren yaitu agama islam. Tema rancangan yaitu Heterotopia dianggap sesuai dengan konsep perancangan Neo Pesantren. Dimana konsep Disorder (penyimpangan) pada tema adalah untuk menciptakan pembaruan pada perancangan, serta konsep Order (keteraturan) adalah untuk mengontrol pembaruan pembaruan yang akan di rencanakan yaitu sesuai dengan pendidikan agama Islam.Kata kunci : Kota Manado, Neo Pesantren, Heterotopia, Order, Disorder
MUSEUM SENI MODERN DAN KONTEMPORER DI MANADO. Underground Architecture Sadewi, Yohan C.; Erdiono, Deddy; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20835

Abstract

Manado menuju kota yang berorientasi pada bidang komersil dan secara otomatis mempengaruhi berkurangnya interest sebagian besar masyarakat Manado terhadap aspek seni. Hal ini dapat kita lihat dalam pembangunan fisik kota yang lebih pada nilai komersil, seperti menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan modern pada akhir dekade ini. Dengan tidak adanya wadah untuk menampung karya-karya seni, perkembangan seni di Manado semakin minim, untuk itu Manado membutuhkan sebuah wadah. Museum dianggap sebagai wadah yang tepat untuk menampung berbagai karya seni, di mana museum sendiri memiliki 3 fungsi fundamental yaitu apresiasi, edukasi, dan rekreasi. Museum Seni Modern dan Kontemporer di manado didesain menggunakan pendekatan underground architecture yang mengusung konsep ramah lingkungan yang berlandaskan dengan keselarasan manusia, alam, dan seni. Museum Seni bertema underground architecture akan menghadirkan bentuk yang unik dari lingkungan sekitar, sebagai wujud sebuah bangunan museum seni untuk penanda bertujuan agar dapat mendorong visual masyarakat manado untuk datang berkunjung ke museum seni dan membuat masyarakat manado  lebih tertarik terhadap aspek seni.Kata kunci : Museum Seni Modern dan Kontemporer, Underground
INTERMODA BANDAR UDARA KASIGUNCU DI POSO SULAWESI TENGAH. Hypersurface Architecture Mamuaja, Shintya G.; Erdiono, Deddy; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21302

Abstract

Bandara Kasiguncu untuk 20 tahun ke depan dapat melayani 6 rute penerbangan seperti Makassar, Gorontalo, Manado, Samarinda, Kendari dan Balikpapan, dengan total pengguna Terminal Bandara yaitu, 912,17 orang/hari. Adapun Stasiun Kereta Api yang direncanakan akan dibuat di Kab. Poso yang berlokasi di desa Ratolene, untuk jumlah pengunjung Stasiun Ratolene pada 20 tahun ke depan yaitu 2.308,75 orang/hari dengan skala pelayanan adalah kota Manado, Gorontalo, Palu, Poso, Kendari, Mamuju dan Makassar. Pengintegritasian moda transportasi udara dan darat dilakukan pada Bandara Kasiguncu dan Stasiun Kereta Api Ratolene, untuk memberikan kemudahan bagi pengguna dalam melakukan perpindahan moda transportasi dari udara ke darat dan dari darat ke udara, hal ini disebut dengan Intermoda. Dalam perancangan Intermoda Bandar Udara Kasiguncu ini menerapkan tema Hypersurface Architecture karena penulis meyakini bahwa ke depannya Bandara Kasiguncu dapat menjadi Bandara Internasional. Oleh sebab itu, teori Hypersurface Architecture sangat mendukung perancangan tersebut karena dengan bentukan geometri yang dinamis. Teori Hypersurface Architecture merupakan sebuah teori yang mengutamakan tipologi bangunan sebagai dasar bentuknya, sifat lengkung juga tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teori tersebut dan didukung dengan bantuan digital dapat mempermudah perancangan nantinya. Kata kunci : Intermoda, Bandar Udara, Kereta Api, Hypersurface Arcitecture.