Articles
THEORY OF CONSTRAINT ATAS LAYANAN PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK
Larasati Larasati;
Ali Tafriji Biswan
JURNAL PAJAK INDONESIA Vol 2 No 2 (2018): Optimalisasi Penerimaan Negara IV
Publisher : Politeknik Keuangan Negara STAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31092/jpi.v2i2.273
Taxpayer Identification Number (NPWP) service is one of the primary service target and performance measurement indicators of Pratama Tax Office (KPP) in Directorate General of Taxation. Of all NPWP related services, the removal process is the most complex to be met in terms of quantity, timeliness, and service quality. The optimization of resource management of NPWP removal services can be done by applying the concept of Theory of Constraint (TOC). The application of TOC to KPP Pratama Ketapang Kanwil DJP West Kalimantan is overcoming obstacles and gives results in the form of performance improvement, achievement of performance targets, and encourage wider application to other offices within the Directorate General of Taxation.Pelayanan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) merupakan salah satu sasaran layanan prima dan indikator pengukuran kinerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Dari seluruh layanan terkait NPWP, proses penghapusan adalah yang paling kompleks dipenuhi dari sisi kuantitas, ketepatan waktu, dan kualitas layanan. Optimalisasi pengelolaan sumber daya layanan penghapusan NPWP tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Theory of Constraint (TOC). Penerapan TOC pada KPP Pratama Ketapang Kanwil DJP Kalimantan Barat ini mengatasi kendala dan memberikan hasil berupa peningkatan performa, pencapaian sasaran kinerja, dan mendorong penerapan lebih luas pada kantor lain di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.
Analisis Varians Anggaran Belanja untuk Pengukuran Kinerja
Fitri Irka Wahyu Niansyah;
Ali Tafriji Biswan
Indonesian Treasury Review: Jurnal Perbendaharaan, Keuangan Negara dan Kebijakan Publik Vol 3 No 4 (2018): Indonesian Treasury Review: Jurnal Perbendaharaan, Keuangan Negara, dan Kebijakan
Publisher : Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (535.942 KB)
|
DOI: 10.33105/itrev.v3i4.79
The quality of budgeting is an instrument to assess the performance of the entity. Analysis of budget execution can be engaged by comparing budget realization in LRA and budget in DIPA. The budgetary variances arise due to differences, but unfortunately the government has not been intensively using variance analysis as an evaluation of budgeting. The qualitative research with this case study approach aimed to analyze the variance of the budget and relate it to the performance assessment of Foreign Corporate and Individual Tax Service Office. The results showed the absorption rate of 94,42% with variance (difference) of IDR974.697.831 or equivalent to 5,58% for expenditure activities. The absorption of the budget encourages the achievement of output targets and Key Performance Indicators (IKU) that impact on the Performance Value Organization (NKO) at a good level of 93,57%. The study recommends the importance of reviewing the accuracy of the expenditure allocation and budgeting must also meet the criteria of Architecture and Performance Information (ADIK). ABSTRAK Kualitas penganggaran belanja merupakan instrumen untuk menilai kinerja satuan kerja. Analisis pelaksanaan anggaran dapat dilakukan dengan membandingkan realisasi anggaran pada Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan anggaran pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Varians anggaran belanja timbul akibat perbedaan, namun sayangnya pemerintah belum intensif menggunakan analisis varians sebagai evaluasi penganggaran. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini bertujuan menganalisis varians anggaran belanja dan mengaitkannya dengan penilaian kinerja KPP Badan dan Orang Asing. Hasil penelitian menunjukkan tingkat penyerapan anggaran 94,42% dengan varians (selisih) sebesar Rp974.697.831,00 atau setara dengan 5,58% untuk kegiatan belanja. Penyerapan anggaran tersebut mendorong tercapainya target keluaran dan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang berdampak pada Nilai Kinerja Organisasi (NKO) pada level baik yakni 93,57%. Studi merekomendasikan agar ditinjau kembali apakah alokasi belanja telah didistribusikan pada pos-pos yang tepat sehingga realisasi lebih baik lagi. Penyusunan anggaran juga harus memenuhi kriteria Arsitektur dan Informasi Kinerja (ADIK) mengingat kompleksitas revisi jenis belanja.
Pengambilan Keputusan Manajerial: Opsi sewa atau beli dalam pengadaan kendaraan dinas
Zanuar Arifin;
Ali Tafriji Biswan
Indonesian Treasury Review: Jurnal Perbendaharaan, Keuangan Negara dan Kebijakan Publik Vol 5 No 1 (2020): Indonesian Treasury Review: Jurnal Perbendaharaan, Keuangan Negara Dan Kebijakan
Publisher : Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (372.257 KB)
|
DOI: 10.33105/itrev.v5i1.169
This study discusses managerial decision making regarding buying or rental (leasing) options in the procurement of official vehicles. This study aims to analyze the most appropriate options between buying or rental (leasing) for the procurement of official vehicles so that they can be input in making decisions regarding procurement of official vehicles. There are differences of opinion regarding the most efficient method of buying or (leasing) rental options in several government agencies so a study is needed to choose the most appropriate method. Differences in decision making related to procurement of official vehicles can have an impact on budget efficiency. This research is a qualitative research with a case study approach. Case studies were conducted at the Secretariat General of the Ministry of Finance. The data used in this study include primary data in the form of interviews with research resource person and secondary data in the form of regulations and reports related to official vehicles. The method of analyzing data from interviews uses the Miles and Huberman method which consists of 3 stages, namely data reduction, data display, and conclusion drawing. Secondary data were analyzed by calculating the net present value of the total cost of ownership. The results of this study indicate that under normal conditions, buying options are relatively more efficient compared to (leasing) rental options in the procurement of official vehicles. However, (leasing) rental options can be applied under certain conditions.
PRAKTIK BALANCED SCORECARD SEKTOR PUBLIK: SISTEM PENGUKURAN KINERJA UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA ORGANISASI
Ali Tafriji Biswan;
Syahirul Alim
Jurnal Bina Manajemen Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Bina Manajemen Vol 9 No.2 Maret 2021
Publisher : STIE Wiyatamandala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52859/jbm.v9i2.159
This study aims to explore performance based on the Balanced Scorecard in the public sector, namely the Center for Information Systems and Financial Technology. Although initially the BSC measurement system was designed for the private sector from the perspective of customer, financial, internal business processes, and learning & growth, public organizations have also adopted it, of course, with modifications to suit organizational needs. The Ministry of Finance began implementing the Balanced Scorecard in 2007, and until now it has covered all levels of the organization, including the Center for Information Systems and Financial Technology. The study results show a summary of the perspectives into three perspectives of stakeholders (customers), internal business processes, and learning & growth; The target achievement of the Key Performance Indicators (KPI) based on the BSC can be achieved, thus encouraging improvements and improvements in future performance.
Memaknai Kembali Penganggaran Berbasis Kinerja Berdasarkan Studi Implementasi Penganggaran Sektor Publik
Ali Tafriji Biswan;
Iklima Devi Grafitanti
Jurnal Manajemen Perbendaharaan Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Manajemen Perbendaharaan
Publisher : Direktorat Sistem Perbendaharaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (784.161 KB)
|
DOI: 10.33105/jmp.v2i1.368
Abstract Budgeting practices that tend to add administrative work, are less flexible, and less accommodating are still challenges for the public sector. This study aims to review the meaning of performance-based budgeting in public sector based on a study of budgeting implementation at the Palangkaraya State Assets and Auction Services Office (KPKNL). The study was conducted qualitatively using an exploratory approach which was sharpened through observation, interviews, and theoretical analysis. The study results dismiss the old mindset that budgeting must increase from year to year, the deified behavior of the budget that there is no budget means a dead faint and the budget cannot be changed, and the assumption that the output of activities must be administrative and must exist beforehand. The study also supports that performance-based budgeting promotes better budget absorption and accountability. Abstrak Praktik penganggaran yang cenderung menambah pekerjaan administratif, kurang fleksibel, kurang akomodatif masih menjadi tantangan bagi sektor publik. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kembali makna penganggaran berbasis kinerja pada organisasi sektor publik berdasarkan studi implementasi penganggaran pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Palangkaraya. Studi ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan eksploratif yang dipertajam melalui proses pengamatan, wawancara, dan telaah teoretis. Hasil studi menepis pola pikir lawas bahwa penganggaran harus bertambah dari tahun ke tahun, perilaku mendewakan anggaran bahwa tidak ada anggaran berarti kegiatan menjadi mati suri atau terhenti, anggaran yang tidak bisa diubah, serta anggapan bahwa hasil atau keluaran kegiatan harus bersifat administratif dan harus ada sebelumnya. Studi ini juga mendukung bahwa penganggaran berbasis kinerja mendorong kinerja penyerapan anggaran instansi pemerintah dan akuntabilitas anggaran yang lebih baik. Keywords: akuntabilitas, penganggaran berbasis kinerja, sektor publik
Aset Biologis: Kebijakan dan Praktik Akuntansinya pada Sektor Agrikultur
Ali Tafriji Biswan;
Ilham Hermanda
Jurnal Ilmiah Publika Vol 10, No 2 (2022): JURNAL ILMIAH PUBLIKA
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Jati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33603/publika.v10i2.7613
Aset biologis berwujud tanaman hidup atau hewan. Aset biologis memiliki karakteristik yang unik dibandingkan aset yang lainnya. Karakteristik unik yang dimiliki aset biologis adalah adanya tranformasi biologis atas aset tersebut. Tranformasi biologis terdiri dari proses pertumbuhan, degenerasi, produksi, dan prokreasi yang menyebabkan terjadi perubahan aset biologis. Transformasi biologis dapat menghasilkan aset biologis baru dan juga dapat menghasilkan produk agrikultur. Pada tahun 2015, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) mengesahkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 69 tentang Agrikultur. PSAK 69 mengatur tentang perlakuan akuntansi yang mencakup pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan pada aset biologis. Agar lebih jelas implementasi akuntansinya, studi mengambil objek PT Palma Serasih Tbk yang bergerak di sektor agrikultur dan telah terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian kualitatif ini bertujuan mengetahui bagaimana penerapan akuntansi aset biologis pada perusahaan dan melakukan tinjauan kesesuaiannya dengan PSAK 69. Studi menunjukkan bahwa PT Palma Serasih Tbk telah menerapkan kebijakan dan praktik akuntansi aset biologis sesuai dengan PSAK 69 tentang agrikultur dalam menyusun laporan keuangan. Namun, dalam hal pengungkapan perusahaan seyogyanya memberikan informasi hasil panen produk agrikultur lebih lengkap sehingga lebih informatif bagi pengguna laporan keuangan.
Pengambilan Keputusan Manajerial Sektor Publik Menyewa Membeli atau Membangun Sendiri
Ali Tafriji Biswan
SUBSTANSI Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Politeknik Keuangan Negara STAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (240.419 KB)
|
DOI: 10.35837/subs.v2i1.265
Pengambilan keputusan merupakan hal penting bagi organisasi, tidak terkecuali instansi pemerintah, dengan memperhitungkan aspek kuantitatif dan kualitatif sehingga dapat dihasilkan keputusan terbaik. Pengeluaran pemerintah diharapkan dapat menimbulkan efek berganda dan berkelanjutan. Salah satunya yaitu pengadaan gedung kantor untuk meningkatkan layanan pemerintahan. Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Kota Pinang merupakan unit pelaksana pelayanan, penyuluhan, dan konsultasi perpajakan untuk daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh KPP Pratama Rantauprapat. Untuk operasional, KP2KP Kota Pinang menyewa tiga bangunan ruko sebagai gedung kantor. Studi ini mendeskripsikan penerapan pengambilan keputusan antara alternatif menyewa, membeli, atau membangun sendiri kantor pajak. Hasil studi menyimpulkan membeli gedung merupakan pilihan efisien didukung pertimbangan kualitatif.Decision-making is an important thing for an organization including in the government agencies. The decision-making models can be used among the various alternatives, not only quantity aspects but also quality aspects. Government expenditure are intended for generate large and sustainable multiplier effect. One of them is procurement of office unit’s building increasing government services. Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Kota Pinang is the unit implementing services, extension, and taxation consultation for remote areas that are not reached by KPP Pratama Rantauprapat. In its operation, KP2KP Kota Pinang leased three store houses as office buildings. This study analyzes the application of managerial decision making related to government spending between leasing, buying or building office with case studies KP2KP Kota Pinang. The study results concluded that buying another office building is an efficient option supported by qualitative factors.
PENERAPAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU KANTOR AKUNTAN PUBLIK PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK ASHARI, CPA
Ali Tafriji Biswan
SUBSTANSI Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Politeknik Keuangan Negara STAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (201.112 KB)
|
DOI: 10.35837/subs.v2i1.266
Tinjauan ini memiliki tujuan untuk meninjau kesesuaian penerapan sistem pengendalian mutu di Kantor Akuntan Publik Ashari, CPA dengan sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik yang terdapat dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang secara khusus diatur dalam Standar Pengendalian Mutu (SPM) No. 1 Tahun 2013. Metode yang digunakan yaitu melalui metode studi kepustakaan, studi dokumen, dan wawancara. Hasil tinjauan yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa secara umum KAP Ashari, CPA telah menetapkan sistem pengendalian mutu sesuai dengan SPM.This review aims to review the appropriateness of quality control system implementation at Public Accounting Firm Ashari, CPA with quality control system of public accountant office which is specified in Standard of Public Accountant called SPAP especially regulated in Standar Pengendalian Mutu (SPM) No. 1 Tahun 2013. The method used is through literature study method, document studies, and interviews. The results of the reviews that have been conducted show that in general Public Accounting Firm Ashari, CPA has established quality control system in accordance with SPM.
STUDI TERAPAN THEORY OF CONSTRAINTS LAYANAN PEMBERITAHUAN SURAT PAKSA PADA KPP PRATAMA NATAR
Ali Tafriji Biswan
SUBSTANSI Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Keuangan Negara STAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1028.624 KB)
|
DOI: 10.35837/subs.v2i2.313
ABSTRACTThis study aims to identify issues in notification of forced which will be done within for law enforcement after the tax amnesty period granted by the government pursuant to Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 on Tax Amnesty. If the taxpayer still has tax obligations, then the tax collection action is part of a series of law enforcement. Notice of forced is the first step before any other repressive action, such as blocking, seizure, prevention, and even hostage taking. However, in practice, the processing of notification letters stagnates so that there is a queue (bottleneck). The qualitative study with Theory of Constraint tool shows that after the binding problem (binding constraint) overcome, the bottleneck in the process of notification of forced papers can be parsed so as to facilitate the process of law enforcement in KPP Pratama Natar in the next period.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi isu-isu pemberitahuan surat paksa yang akan dilakukan dalam rangka penegakan hukum setelah masa tax amnesty yang diberikan oleh pemerintah berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Jika wajib pajak masih memiliki kewajiban pajak, maka tindakan penagihan pajak adalah bagian dari serangkaian penegakan hukum. Pemberitahuan surat paksa adalah langkah pertama sebelum tindakan represif lainnya, seperti pemblokiran, penyitaan, pencegahan, dan bahkan penyanderaan. Namun, dalam praktiknya, pengolahan pemberitahuan surat paksa terkendala sehingga terjadi antrean (bottleneck). Penelitian kualitatif dengan alat analisis Theory of Constraint menunjukkan bahwa setelah masalah pengikatan (binding constraint) diatasi, hambatan dalam proses pemberitahuan kertas paksa dapat diurai sehingga memudahkan proses penegakan hukum di KPP Pratama Natar pada periode berikutnya.
AKUNTANSI BARANG TEGAHAN: PENGAKUAN, PENGUKURAN, DAN PELAPORANNYA
Ali Tafriji Biswan;
Retno Dwi Larasati
SUBSTANSI Vol 5 No 1 (2021): JURNAL SUBSTANSI
Publisher : Politeknik Keuangan Negara STAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (264.419 KB)
|
DOI: 10.35837/subs.v5i1.983
Customs and excise standing goods are unique items in the management of BMN, their designation and valuation must be determined so that the BMN accounting process can be carried out. This study aims to analyze the accounting practices of State-Owned Goods (BMN) originating from customs clearance and based on government accounting standards related to inventory (PSAP) No. 5). PSAP does not regulate specific goods related to the stand. This qualitative study uses a field case study model at the Directorate General of Customs and Excise (DJBC). The results of the study show that in general, the accounting practices of reclaimed goods meet government accounting standards, but it is necessary to classify earlier the status of all BMNs that have been reclaimed so that they can be included in the SIMAK BMN application, affirmation of the BMN designation by all DGCE work units, and the measurement and presentation of the entire BMN. It is necessary to have a policy regarding uniformity in the allocation of BMN for bulk goods in each work unit and synergies with other units in terms of these assets.