Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Penguatan Kearifan Lokal (Local Wisdom) dan Watak Kewarganegaraan (Civic Disposition) Melalui Sabtu Budaya di SMP Negeri Se-Kota Mataram Sawaludin Sawaludin; Muh. Zubair; I Nengah Agus Tripayana; Basariah Basariah; Fitriah Artina; Sirrul Auvia; Khairil Khanim
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4 (2025): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4.4099

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Sabtu Budaya dalam memperkuat kearifan lokal (local wisdom) dan membentuk watak kewarganegaraan (civic disposition) siswa SMP Negeri di Kota Mataram. Urgensi penelitian ini berangkat dari kebutuhan pendidikan di Indonesia untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, holistik, dan berakar pada nilai budaya lokal, sekaligus memperkuat karakter kebangsaan di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus (case study design). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru, siswa, dan kepala sekolah, serta dokumentasi kegiatan Sabtu Budaya di beberapa sekolah negeri di Kota Mataram. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles & Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sabtu Budaya berfungsi sebagai media pembelajaran kontekstual dan berbasis pengalaman (experiential learning) yang efektif dalam mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Sasambo ke dalam pendidikan karakter dan kewarganegaraan. Kegiatan seperti begibung, pertunjukan seni, dan permainan tradisional menumbuhkan rasa kebanggaan budaya, kedisiplinan, tanggung jawab sosial, gotong royong, serta toleransi di kalangan siswa. Lebih jauh, praktik ini memperkuat civic disposition melalui keterlibatan aktif dan refleksi sosial budaya yang menumbuhkan sikap partisipatif, empati, dan kesadaran demokratis. Implementasi Sabtu Budaya juga memperlihatkan keterpaduan antara nilai lokal dan visi Global Citizenship Education, di mana siswa belajar menjadi warga global tanpa kehilangan akar budaya lokalnya. Meskipun dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dan variasi dukungan kebijakan, kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan komunitas budaya mampu menjaga keberlanjutan program. Dengan demikian, Sabtu Budaya menjadi model pembelajaran transformatif yang tidak hanya melestarikan tradisi Sasambo, tetapi juga membentuk generasi muda yang kritis, kreatif, toleran, dan berkarakter Pancasila.
Local Wisdom Masyarakat Adat Sebagai Upaya Pengembangan Pendidikan Civic Tolerance (Studi Pada Masyarakat Adat Desa Lingsar Lombok Barat) Muhammad Zubair; Rispawati Rispawati; Bagdawansyah Alqadri; Basariah Basariah
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4 (2025): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4.4124

Abstract

Local wisdom atau yang dikenal dengan kearifan lokal merupakan sekumpulan pandangan dan pengetahuan hidup masyarakat lokal yang mengandung nilai kebijaksanaan dan diwariskan secara turun temurun. Local wisdom yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sangat beragaman hal ini tentunya dipengaruhi oleh beragamnya agama, ras, suku, budaya dan adat istiadat masyarakat Indonesia. Kearifan lokal ini akan menjadi pemersatu bangsa apabila dapat dijadikan sebagai upaya dalam mengembangkan pendidikan civic tolerance salah satunya bagi masyarakat adat Desa Lingsar Lombok Barat. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif desktiptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi serta dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa civic tolerance pada masyarakat Desa Lingsar terimplentasikan pada berbagai kearifan lokal yang terdiri dari Pura Lingsar, Upacara Perang Topat, Nilai Gotong Royong, Harmoni Sosial, serta Pendidikan dan Pemahaman Toleransi. Kearifan lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber belajar dalam pendidikan civic tolerance dalam beberapa langkah yaitu 1) pengembangan kurikulum pendidikan civic tolerance berbasis kearifan lokal, 2) penentuan kompetensi dasar dan capaian pembelajaran, 3) identifikasi materi pembelajaran, 4) menentukan sumber belajar, dan 5) menentukan jenis penilaian.
Student Activity Learning sebagai Model Pembelajaran Berbasis Aktivitas untuk Penguatan Literasi Kewarganegaraan Mohammad Ismail; Basariah Basariah; Nurlatifa Nurlatifa
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.4400

Abstract

Literasi kewarganegaraan merupakan kompetensi penting yang perlu diperkuat melalui pembelajaran berbasis aktivitas siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas model Student Activity Learning (SAL) sebagai model pembelajaran berbasis aktivitas dalam penguatan literasi kewarganegaraan siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian kuasi-eksperimen melalui desain pretest–posttest pada dua kelas eksperimen yang masing-masing berjumlah 42 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes literasi kewarganegaraan yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Uji validitas data meliputi uji validitas isi dan uji reliabilitas instrumen, sedangkan uji prasyarat analisis dilakukan melalui uji normalitas dan uji homogenitas. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji paired samples t-test, dan uji independent samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor literasi kewarganegaraan siswa pada kelas eksperimen 1 meningkat dari 70,3 menjadi 83,2 dan pada kelas eksperimen 2 meningkat dari 69,9 menjadi 82,5. Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek keterampilan kewarganegaraan dengan selisih skor masing-masing sebesar 16,3 dan 15,8 poin, diikuti aspek pengetahuan sebesar 14,3 dan 14,1 poin, serta aspek sikap sebesar 8,2 dan 7,8 poin. Hasil uji paired samples t-test menunjukkan peningkatan yang signifikan pada seluruh aspek (p < 0,05), sedangkan uji independent samples t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelas eksperimen pada skor posttest (p > 0,05), yang mengindikasikan bahwa model SAL memberikan pengaruh yang konsisten dalam penguatan literasi kewarganegaraan siswa.
Hubungan Keharmonisan Keluarga terhadap Sikap Disiplin Belajar (Studi Korelasi pada Peserta Didik Kelas XII SMAN 1 Gunungsari) Ni Putu Meindri Luna Widari; Basariah Basariah; M. Ismail
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4917

Abstract

Sikap disiplin belajar peserta didik dapat dipengaruhi oleh berbagai hal salah satu faktor yang memiliki andil besar terhadap sikap disiplin belajar peserta didik adalah keharmonisan keluarga. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara keharmonisan keluarga dengan sikap disiplin belajar pada peserta didik kelas XII di SMAN 1 Gunungsari. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasi bivariat positif (hubungan searah). Sampel penelitian berjumlah 197 peserta didik yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dari total populasi 387 orang. Data dikumpulkan melalui angket kuesioner yang disusun berdasarkan indikator keharmonisan keluarga dari Kavinkodala dan indikator disiplin belajar dari Wibowo. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan uji hipotesis menggunakan Rank Spearman, diperoleh hubungan yang signifikan antara keharmonisan keluarga dan sikap disiplin belajar dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,371, yang termasuk dalam kategori tingkat hubungan yang cukup. Temuan ini memperkuat teori ekologi sistem bahwa keluarga sebagai mikrosistem memiliki andil besar dalam membentuk perilaku disiplin anak di sekolah. Sehingga memang benar terdapat hubungan antara keharmonisan keluarga terhadap sikap disiplin belajar peserta didik.