Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Integrasi Platform Media Sosial Instagram dalam Pertunjukan dan Pembelajaran Musik Gamad di Sendratasik FBS UNP Hakim, Uswatul; Dilfa, Alrizka Hairi; Trinanda, Riri; Hidayat, Hengki Armez
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i2.13783

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis integrasi pertunjukan musik Gamad ke dalam platform media sosial dan dampaknya terhadap pembelajaran musik Gamad di Jurusan Pendidikan Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP). Penelitian ini berfokus pada bagaimana Instagram, sebuah platform digital populer, dimanfaatkan untuk mengajarkan dan menampilkan musik Gamad, mengeksplorasi perannya dalam mentransformasikan pedagogi musik tradisional. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini mengkaji strategi yang digunakan oleh para pendidik untuk memasukkan fitur-fitur Instagram—seperti postingan video, reel, dan siaran langsung—ke dalam proses pembelajaran. Temuan ini menyoroti bahwa Instagram memfasilitasi keterlibatan mahasiswa yang lebih besar, menawarkan ruang yang dinamis dan interaktif untuk latihan dan pertunjukan. Selain itu, media digital membantu memperluas audiens musik Gamad, menghubungkan karya mahasiswa ke platform global. Studi ini menyimpulkan bahwa mengintegrasikan media sosial ke dalam pendidikan musik tidak hanya meningkatkan pengalaman belajar tetapi juga mendukung pelestarian dan penyebaran tradisi musik lokal dalam konteks modern.Kata Kunci: Musik Gamad, Pembelajaran, Pewarisan, dan Transmisi Musik Tradisional, Media SosialThis study aims to describe and analyze the integration of Gamad music performances into social media platforms and their impact on Gamad music learning at the Department of Drama, Dance, and Music Education (Sendratasik), Faculty of Languages and Arts (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP). The research focuses on how Instagram, a popular digital platform, is utilized to teach and showcase Gamad music, exploring its role in transforming traditional music pedagogy. Using a qualitative case study approach, the study examines the strategies employed by educators to incorporate Instagram features—such as video posts, reels, and live broadcasts—into the learning process. The findings highlight that Instagram facilitates greater student engagement, offering a dynamic and interactive space for both practice and performance. Additionally, the digital medium helps to broaden the audience for Gamad music, connecting students' work to a global platform. The study concludes that integrating social media into music education not only enhances the learning experience but also supports the preservation and dissemination of local musical traditions in a modern context.Keywords: Gamad Music, Learning, Inheritance, and Transmission of Traditional Music, Social Media.
Sound Design in Popular Music: Gen Z Perspective and Perception Ferdian, Robby; Hidayat, Hengki Armez; Sari, Ayuthia Mayang; Putra, Irdhan Epria Darma; Fitria, Ressy; Fauzi, Fakhri; Lailiyah, Malikhatul
Tekno - Pedagogi : Jurnal Teknologi Pendidikan Vol. 15 No. 1 (2025): Tekno-Pedagogi
Publisher : Program Magister Teknologi Pendidikan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/teknopedagogi.v15i1.42323

Abstract

This study explores Generation Z's understanding and perception of sound design in popular music, focusing on how this concept influences their music-listening experiences and emotional responses. Sound design, encompassing audio production quality, sound effects, and waveform processing, is critical in shaping diverse auditory experiences. However, the depth of understanding of sound design among Generation Z varies widely, presenting an opportunity to bridge knowledge gaps in music education. Using a quantitative descriptive approach, a survey was conducted among students with music education backgrounds to assess their familiarity with sound design concepts. The findings reveal diverse levels of comprehension, with some respondents recognizing the term "sound design" but lacking a clear understanding, while others demonstrated a deeper knowledge of its components and significance. Participants identified key elements of sound design, such as the importance of production quality, creative use of sound effects, and manipulating audio waveforms, as pivotal in enhancing the listening experience. A novel aspect of this study is examining how sound design impacts emotional engagement with music. Most respondents reported that sound design enhances the emotional depth of songs and makes the music more immersive and enjoyable. Interestingly, while many felt that sound design influenced their music preferences, a subset of respondents remained unaffected. This research highlights a strong interest among Generation Z in learning more about sound design, suggesting the need for educational initiatives that integrate sound design into music curricula.
Integration of Electronic Music Looping in Orchestra as an Innovative Teaching Resource Sari, Ayuthia Mayang; Ferdian, Robby; Hidayat, Hengki Armez; Putra, Irdhan Epria Darma; Achour, Zyed; Avila, Flor Amara
Tekno - Pedagogi : Jurnal Teknologi Pendidikan Vol. 15 No. 1 (2025): Tekno-Pedagogi
Publisher : Program Magister Teknologi Pendidikan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/teknopedagogi.v15i1.42325

Abstract

This study introduces an innovative approach to orchestral education by blending classical music principles with popular music elements and electronic looping technology. In a landscape where classical music often struggles to captivate students drawn to contemporary genres, this approach aims to maintain classical music's discipline while delivering a dynamic and engaging learning experience. The research evaluates student responses to the use of looping technology, examining its impact on learning outcomes and identifying associated benefits and challenges. A mixed-methods approach was employed, involving 37 students from an orchestral course at Universitas Negeri Padang. Data were collected through questionnaires, semi-structured interviews, and observations over one semester. The results reveal that electronic looping technology significantly enhances student interest and engagement, offering a fresh perspective on orchestral practice. The technology not only bridges classical and modern musical expressions but also facilitates individualized learning, enabling students to explore creativity within structured compositions. Most participants demonstrated a higher interest in repertoires incorporating looping technology than in traditional classical pieces. Furthermore, the integration of partiture-based learning with digital tools improved students' technical skills, rhythmic accuracy, and ensemble cohesion. However, challenges related to synchronization and technical setup highlight the need for targeted instructional strategies and technological support. The novelty of this study lies in its exploration of how digital tools like looping technology can revitalize classical music education, making it more relevant to today's students. These findings offer practical insights for music educators seeking to innovate teaching methods and adapt to the evolving digital landscape in education.
Program Musik Islami: Solusi untuk Tantangan Psikososial Siswa MTsN 1 Lima Puluh Kota Hakim, Uswatul; Hadi, Harisnal; Armez Hidayat, Hengki
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 13 No. 2 (2024): Grenek: Jurnal Seni Musik
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v13i2.63665

Abstract

Remaja dan pelajar merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah psikologis dan sosial, termasuk kesehatan mental, kenakalan remaja, serta pengaruh media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan psikososial yang dihadapi pelajar di MTsN 1 Lima Puluh Kota serta mengevaluasi intervensi preventif dan kuratif melalui program musik Islami, sebagai bagian dari Program Kemitraan Masyarakat oleh Universitas Negeri Padang. Pendekatan kualitatif deskriptif dan partisipatoris digunakan untuk menggali tantangan seperti kecemasan akibat tekanan akademik, isolasi sosial, dan dampak negatif media sosial. Intervensi musik Islami terbukti efektif dalam mengurangi perilaku kenakalan, meningkatkan interaksi sosial, serta menyediakan sarana ekspresi diri yang positif. Guru dan kepala sekolah berperan penting dalam mendukung program ini, yang juga meningkatkan dinamika sosial di sekolah. Triangulasi data dari wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi memperkuat temuan bahwa musik Islami memiliki dampak signifikan dalam mendukung perkembangan remaja. Rekomendasi mencakup ekspansi program ke sekolah lain, pelatihan bagi guru, serta kolaborasi yang lebih erat antara sekolah dan perguruan tinggi.
Pewarisan Musik Tradisi Sampelong Bentuk Ensambel kepada Siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota Hakim, Uswatul; Hadi, Harisnal; Armez Hidayat, Hengki
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i1.14228

Abstract

Sampelong adalah alat musik tiup tradisional Minangkabau yang berasal dari Nagari Talang Maua, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sampelong terbuat dari bambu berjenis talang dimainkan bersama lirik sastra lisan yang sarat akan pesan. Sebagai alat musik tua di Minangkabau dengan ditandai pengaruh Hindu-Budha pada intervalnya, harusnya sampelong lebih dihargai oleh generasi penerus sebagai bukti kemajuan kebudayaan masyarakat Lima Puluh Kota. Tukang sampelong dan pendendangnya tidak lagi menggunakan sampelong sebagai suatu kegiatan ritual magis, melainkan sebagai kesenian yang berorientasi artistik, musikal, dan pertunjukan. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan pengembangan kesenian tradisional sampelong dengan objek generasi muda. Generasi muda yang diberi sistem pewarisan dan pelatihan adalah siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota. Metode yang digunakan adalah pelatihan kepada 30 orang yang terdiri dari guru dan siswa dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan luaran kekaryaan. Metode pelatihan meliputi ceramah, demonstrasi, tanya jawab, dan evaluasi yang komprehensif. Hasil kegiatan pengabdian ini meningkatkan pemahaman pengetahuan dan siswa diberikan bentuk inovasi berupa komposisi ensambel sampelong sebagai sebuah seni pertunjukan. Hasil pengabdian menunjukkan antusias peserta kerja sama berbagai pihak. Sampelong is a traditional Minangkabau wind instrument originating from Nagari Talang Maua in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra. Made from bamboo, the sampelong is typically performed alongside oral literature rich in cultural messages. As one of Minangkabau’s oldest musical instruments—its tonal intervals bearing influences from Hindu-Buddhist traditions—it deserves greater appreciation from younger generations as a symbol of the region’s cultural advancement. Today, sampelong makers and performers no longer treat the instrument as part of mystical rituals, but rather as an art form focused on aesthetics, music, and performance. This Community Partnership Program (PKM) was designed as a community engagement initiative to revitalize sampelong through targeted training for youth. The beneficiaries were students and teachers from SMA Negeri 1 Payakumbuh in Lima Puluh Kota Regency. The training involved 30 participants and followed a structured process of planning, implementation, evaluation, and artistic output. Methods used included lectures, demonstrations, discussions, and comprehensive evaluations. The program successfully enhanced participants’ knowledge and introduced a new innovation: the creation of a sampelong ensemble composition as a form of performing art. The initiative also received enthusiastic collaboration and support from various stakeholders.
Pewarisan Musik Tradisi Sampelong Bentuk Ensambel kepada Siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota Hakim, Uswatul; Hadi, Harisnal; Armez Hidayat, Hengki
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i1.14228

Abstract

Sampelong adalah alat musik tiup tradisional Minangkabau yang berasal dari Nagari Talang Maua, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sampelong terbuat dari bambu berjenis talang dimainkan bersama lirik sastra lisan yang sarat akan pesan. Sebagai alat musik tua di Minangkabau dengan ditandai pengaruh Hindu-Budha pada intervalnya, harusnya sampelong lebih dihargai oleh generasi penerus sebagai bukti kemajuan kebudayaan masyarakat Lima Puluh Kota. Tukang sampelong dan pendendangnya tidak lagi menggunakan sampelong sebagai suatu kegiatan ritual magis, melainkan sebagai kesenian yang berorientasi artistik, musikal, dan pertunjukan. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan pengembangan kesenian tradisional sampelong dengan objek generasi muda. Generasi muda yang diberi sistem pewarisan dan pelatihan adalah siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota. Metode yang digunakan adalah pelatihan kepada 30 orang yang terdiri dari guru dan siswa dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan luaran kekaryaan. Metode pelatihan meliputi ceramah, demonstrasi, tanya jawab, dan evaluasi yang komprehensif. Hasil kegiatan pengabdian ini meningkatkan pemahaman pengetahuan dan siswa diberikan bentuk inovasi berupa komposisi ensambel sampelong sebagai sebuah seni pertunjukan. Hasil pengabdian menunjukkan antusias peserta kerja sama berbagai pihak. Sampelong is a traditional Minangkabau wind instrument originating from Nagari Talang Maua in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra. Made from bamboo, the sampelong is typically performed alongside oral literature rich in cultural messages. As one of Minangkabau’s oldest musical instruments—its tonal intervals bearing influences from Hindu-Buddhist traditions—it deserves greater appreciation from younger generations as a symbol of the region’s cultural advancement. Today, sampelong makers and performers no longer treat the instrument as part of mystical rituals, but rather as an art form focused on aesthetics, music, and performance. This Community Partnership Program (PKM) was designed as a community engagement initiative to revitalize sampelong through targeted training for youth. The beneficiaries were students and teachers from SMA Negeri 1 Payakumbuh in Lima Puluh Kota Regency. The training involved 30 participants and followed a structured process of planning, implementation, evaluation, and artistic output. Methods used included lectures, demonstrations, discussions, and comprehensive evaluations. The program successfully enhanced participants’ knowledge and introduced a new innovation: the creation of a sampelong ensemble composition as a form of performing art. The initiative also received enthusiastic collaboration and support from various stakeholders.
Indang Tagak Dance as a Medium For Proselytizing Islam in South Solok Mayang Sari, Ayuthia; Desfiarni, Desfiarni; Armez Hidayat, Hengki; Astuti, Fuji; Abdullah, Arohiyah
Journal of Urban Society's Arts Vol 12, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v12i1.11343

Abstract

This research will explain about Indang Tagak Dance which has a function as a medium for da’wah in South Solok Regency, West Sumatra. This can be seen from the costumes used in the performance, the venue, the poems sung in the dance to the floor patterns displayed by the Indang Tagak dancers. This research uses two types of research combined by researchers, namely observation and descriptive analysis. The observation method is a direct action taken by the researcher to witness the Indang Tagak dance performance directly. The purpose of this method is to obtain data directly to know the history of the dance from the source. The descriptive analysis method is a method used by researchers to explain and analyze the data that has been obtained, so that it can describe in detail the existence of Indang Tagak dance as a medium of preaching in Islamic teachings. The results showed that Indang Tagak dance is a dance that also functions as a preaching medium for Islamic teachings in South Solok. This can be seen from several aspects of the dance which also explain the existence of religious elements in the form of clothing, dancer movements, place and time of performance as well as music and poetry in the Indang Tagak Traditional Dance. Tari Tradisional Indang Tagak sebagai Media Dakwah Agama Islam di Solok Selatan. Penelitian ini menjelaskan Tari Indang Tagak yang memiliki fungsi sebagai media dakwah di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Hal tersebut terlihat dari kostum yang digunakan dalam pertunjukan, tempat pertunjukan, syair yang dinyanyikan dalam tarian tersebut, hingga pola lantai yang ditampilkan oleh para penari Indang Tagak. Penelitian ini menggunakan dua jenis penelitian yang digabungkan oleh peneliti, yaitu observasi dan deskriptif analisis. Metode observasi merupakan tindakan langsung yang dilakukan oleh peneliti untuk menyaksikan langsung pertunjukan Tari Indang Tagak. Tujuan dari metode ini adalah untuk memperoleh data secara langsung hingga mengetahui sejarah tari tersebut dari narasumber. Sementara itu, metode deskriptif analisis merupakan metode yang digunakan oleh peneliti untuk menjelaskan dan menganalisis data yang sudah didapatkan, sehingga dapat menguraikan secara terperinci dalam melihat keberadaan tari Indang Tagak sebagai media dakwah dalam ajaran agama Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Indang Tagak merupakan tari yang juga berfungsi sebagai media dakwah untuk ajaran agama Islam di Solok Selatan. Hal tersebut terlihat dari beberapa aspek dalam tari yang juga menjelaskan adanya unsur religi yang ada berupa busana, gerakan penari, tempat dan waktu pertunjukan, serta musik dan syair yang ada di dalam Tari Tradisional Indang Tagak.
Program Musik Islami: Solusi untuk Tantangan Psikososial Siswa MTsN 1 Lima Puluh Kota Hakim, Uswatul; Hadi, Harisnal; Armez Hidayat, Hengki
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 13 No. 2 (2024): Grenek: Jurnal Seni Musik (December)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v13i2.63665

Abstract

Remaja dan pelajar merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah psikologis dan sosial, termasuk kesehatan mental, kenakalan remaja, serta pengaruh media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan psikososial yang dihadapi pelajar di MTsN 1 Lima Puluh Kota serta mengevaluasi intervensi preventif dan kuratif melalui program musik Islami, sebagai bagian dari Program Kemitraan Masyarakat oleh Universitas Negeri Padang. Pendekatan kualitatif deskriptif dan partisipatoris digunakan untuk menggali tantangan seperti kecemasan akibat tekanan akademik, isolasi sosial, dan dampak negatif media sosial. Intervensi musik Islami terbukti efektif dalam mengurangi perilaku kenakalan, meningkatkan interaksi sosial, serta menyediakan sarana ekspresi diri yang positif. Guru dan kepala sekolah berperan penting dalam mendukung program ini, yang juga meningkatkan dinamika sosial di sekolah. Triangulasi data dari wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi memperkuat temuan bahwa musik Islami memiliki dampak signifikan dalam mendukung perkembangan remaja. Rekomendasi mencakup ekspansi program ke sekolah lain, pelatihan bagi guru, serta kolaborasi yang lebih erat antara sekolah dan perguruan tinggi.
The Function of Dampeang in Luambek Performances in Sintuk Toboh Gadang Oktavina, Lucia; Armez Hidayat, Hengki; Fauzan Yusman, Ahmad
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 26, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/komposisi.v26i1.132973

Abstract

This study aims to reveal and describe the function of Dampeang in the Luambek performance in Sintuk Toboh Gadang. This study is qualitative research, using descriptive methods and conducting an analytical approach to Dampeang in the Luambek performance and the relationship between the two. The main instrument of the study is the researcher himself, assisted by stationery and a mobile phone. Data collection techniques are carried out through literature studies, direct observation, interviews, and documentation. The analysis of research data carried out is reducing data, presenting data, and verifying conclusions. The results of this study include; 1) the origin of Dampeang; 2) the description of the Dampeang text; and 3) the form of presentation of Dampeang in the Luambek performance. Then an analysis of the function of Dampeang in the Luambek performance was carried out until it was found; a) the function of emotional expression; b) the function of entertainment; c) the function of communication; d) the function of physical response; e) the function in carrying out the conformity of social norms, f) the function of ratifying social and religious institutions; and g) the function of contributing to the preservation and stability of culture. And, h) The function of Dampeang in Luambek performances from an educational value perspective.
The Influence of Local Cultural Values in the Traditional Music Learning Process in the Sendratasik Department Armez Hidayat, Hengki; Syeilendra, Syeilendra; Marzam, Marzam; Hakim, Uswatul; Dhari, Belirda Wulan; Silahudin, Syafa’atussara
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 8 No. 1 (2024): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNE 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v8i1.55509

Abstract

Traditional music as an integral part of a society's cultural wealth has aesthetic value and plays a role in deepening cultural identity. However, in the era of globalization and modernization, traditional music is often threatened by changes in values and lifestyles that dominate from outside the culture. This article explores the influence of local cultural values on the traditional music education process in the Sendratasik Department. The main challenge is maintaining the existence of traditional music amidst the ever-changing interests of the younger generation. The research is a type of qualitative research with a case study approach. Through in-depth interviews, document analysis, and direct observation, this research aims to understand the extent to which local cultural values influence students' attitudes, interests, and participation in learning traditional music. The research results show that curriculum implementation through face-to-face lectures, online learning, lecturer collaboration, and integration of educational technology are effective strategies for maintaining the existence of traditional music. Analysis of the impact of globalization shows that traditional music needs to adapt to contemporary trends to remain relevant. Traditional music education also plays a role in developing student character, such as creativity, communication skills, empathy, pedagogical skills, discipline, collaboration, understanding of cultural diversity, understanding of technology, self-development, spirit of inclusivity, as well as creation and performance. This research is expected to contribute to the development of learning strategies and curricula that focus on maintaining and developing traditional music as an inseparable part of cultural heritage that is alive and relevant in today's society.