Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Evaluasi Suplementasi Indigofera zollingeriana Sebagai Sumber Green Protein concentrate Terhadap Produksi Gas Metan, Amonia dan Sintesis Protein Mikroba Rumen Afzalani Afzalani; R.A Muthalib; Rahmi Dianita; Fachroerrozi Hoesni; Raguati Raguati; Endri Musnandar
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 21, No 3 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v21i3.1736

Abstract

The use of protein with low-cost, high quality, low methane, and ammonia emissions are a prerequisite as a protein source in ruminant. However, the European Commission has prohibited protein derived from fish meals for ruminant feeds. So encouraging efforts to explore the other protein sources to be most important. Most of the high protein legumes grow in tropical areas such as Indonesia and have the potential as an alternative protein source in ruminant feed, including Indigofera zollingeriana (25-27% protein content). But many browse legumes with high protein are a heterogeneous group of plants, with variable secondary metabolic content and rumen degradable protein. The aim of this experiment was to evaluate the characteristics fermentation of IZ as green protein supplement on in vitro methane, ammonia and microbial protein production. The experiment was a completely randomized design with four different level supplementation of Indigofera zollengeriana (IZ) as green protein concentrate and five replications. The treatment diets were R0; basal diet (60% forage + 40% concentrate) + 0% IZ, R1; R0 + 10% IZ, R2; R0 + 20% IZ, and R3; R0 + 30% IZ. The experiment result showed that supplemenatation of IZ was significant effects (P<0.05) to increase total gas, ammonia (N-NH3), total volatile fatty acid (TVFA), and metabolizable energy (ME) and significant effect (P<0.05) to decrease of methane and methane percentage. Supplementation IZ at a level of 10% was significantly higher for dry matter digestibility (DMD), organic matter digestibility (OMD), and microbial protein production (PPM) than diets treatment of R0, R2, and R3. The experiment concluded that Supplementation of I. zollingeriana (IZ) was able to reduce the methane gas production. Protein characteristics of IZ have easily degradable by rumen microbe showed the ammonia production was linearly increasing by 45.66% for each increasing level of IZ supplementation. Microbial protein production was higher (184.33 mg/ml) obtained of IZ supplementation up to 10% (R1). The experiment suggests doing protected protein of IZ when be used as a protein source in ruminant diets.
Pengaruh Lama Ensilase dan Aras Bioaktivator EM4 terhadap Kualitas Fisik dan Kandungan HCN Silase Kulit Ubi Kayu (Manihot utilissima Pohl) Raguati Raguati; Darlis Darlis; Afzalani Afzalani; Zulia Ningsi; Fachroerrozi Hoesni; Endri Musnandar
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 22, No 1 (2022): Februari
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v22i1.2152

Abstract

This study was aims to determine the effect of ensilage duration and EM4 bioactivator arasto produce good physical quality and the lowest HCN content in cassava peel silage. The design used was a completely randomized design with a factorial pattern (4×3) with 3 replications. The first factor (A) ensilage duration (A0 = no ensilage, A1 = 7 days, A2 = 14 days and A3 = 21 days) and the second factor (B) EM4 levels (B0 = 0%, B1 = 2% and B2 = 4 %). The observed variables included physical quality in the form of color, texture, odor, pH, percentage of shrinkage, and HCN content of cassava peel silage. The data obtained were analyzed with SAS version 9.1 for parametric data.. Meanwhile, non-parametric data was processed using the Kruskal-Wallis test, if it had a significant effect, it was continued with the Wilcoxon test. The results showed that the ensilage duration had a significant effect (P<0.05) on color, odor, texture, pH, percentage of shrinkage and HCN content. The EM4 arashad a significant effect (P<0.05) on the color, odor, texture and HCN content but no significant effect (P>0.05) on the pH and the percentage of shrinkage. The interaction between ensilage time and EM4 arashad a significant effect (P<0.05) on texture, pH and HCN content, however there are not significant effect (P>0.05) on color, odor and percentage of shrinkage. The study was concluded that ensilage process up to 21 days and inclusion EM4 at 4% arasresulted in good physical quality and lowest HCN content of cassava peel silage.
Penerapan Pembejaran Berbasis Case Based Learning (CBL) dalam Meningkatkan Kemampuan Analisis dan Memecahkan Masalah : Application of Case Based Learning (CBL) to Improve Analytical and Problem-Solving Skills Adriani, Adriani; Musnandar, Endri; Elymaizar, Zulfa; Raguati, Raguati
Edu-Sains: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol. 13 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jmpmipa.v13i2.28879

Abstract

Tujuan penelitian untuk meningkatkan kemampuan analisis dan memecahkan masalah  mahasiswa  dengan  sistem case based learning (CBL).   Sistem CBL bisa memotivasi mahasiswa meningkatkan kreativitas dan berinovasi dalam belajar mandiri. Sehingga mahasiswa memiliki kemampuan analisis yang baik dalam pemecahan skenario kasus. Penelitian dilakukan pada  kuliah Manajemen ternak perah untuk 1 kelas mahasiswa (39 orang). Pengamatan dilakukan  2 kali  yaitu pada  skenario kasus 1 dan 4. Dengan pengamatan terhadap inisiatif berpendapat, penguasaan materi,  lama waktu  berpendapat, kemampuan berkomunikasi, pemahaman kasus dan kemampuan pemecahan kasus. Data dianalisis dengan rataan, penjumlahan dan persentase. Hasil  penelitian menunjukan  bahwa  penerapan  pembelajaran CBL  pada  skenario kasus pertama  didapatkan hasil sebanyak 33,3% mahasiswa  belum berinisiatif dalam mengemukakan pendapat, penguasan materi hanya 43,6%, aktivitas interakasi 1-3 menit, kekampuan berkomunikasi 48,7%, kemampuan menganalisis skenario kasus 56,4% dari jumlah mahasiswa. Semenatra  untuk pemecahan skenario kasus ke 4 terjadi peningkatan kemampuan mahasiswa  terutama  inisiatif menjadi 100%, penguasaan materi 95,9%,  aktivitas  interaksi diatas 3 menit, kemampuan berkomunikasi  94,4%, kemampuan menjawab 97,4% dan analisis skenario  100%. Kesimpulan dari penerapan pembejaran berbasis case  based  learning  (CBL) pada manajemen ternak perah ini  terjadi peningkatkan kemampuan mahasiswa dalam  berdiskusi, mengemukakan pendapat dan menyelesaikan kasus dengan peningkatan kemampuan berkomunikasi dan pemahaman yang  lebih  baik.
Silkworm (Tubifer sp) Business Development Through a Combination Model of Flowing Water Circulation and Vegetables Rayandra, Asyar; Musnandar, Endri; Tani, Sri Arnita Abu
Journal of Saintech Transfer Vol. 5 No. 2 (2022): Journal of Saintech Transfer
Publisher : Talenta Publisher Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jst.v5i2.10374

Abstract

Single Parent women in Pudak Village high, namely around 200 people.Being a Single Parent Woman is of course required to be independent so that they can make their children successful and have a better life. One solution that can be done is to empower single parent women to become strong women so they can prosper in their families, through cultivation activities for the development of silkworm (Tubifer sp) cultivation as freshwater fish seed feed, because currently there are quite large marketing opportunities, and there are still unable to meet market demand. To achieve the objective of the activity, technology transfer was carried out, through the implementation of the silkworm cultivation model using a running water system with vegetable feed ingredients such as carrots, mustard greens, tomatoes, and carrots which are market waste that is no longer utilized. The form of technology transfer that is applied through the Learning by doing model. The results obtained show that single-parent women can cultivate silkwormsand understand the use of market waste in the form of waste vegetables (mustard), and fruits (tomatoes, papayas, oranges, banana peels).
Puerperium dan Skor Kondisi Tubuh Sapi Peranakan Simmental pada Ketinggian Tempat yang Berbeda: Puerperium and Body Condition Score of Simmental Crossbred Cattle in Different Altitude Musnandar, Endri; Rosadi, Bayu
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 5 No. 1 (2022): February
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.196 KB) | DOI: 10.32530/jlah.v5i1.507

Abstract

Puerperium adalah periode mulai melahirkan sampai organ-organ reproduksi kembali ke kondisi fisiologis dan histologis yang normal dalam keadaan tidak bunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status puerperium dan skor kondisi tubuh pada sapi Peranakan Simmental (PS) yang dipelihara pada ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survey di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tebo (dataran rendah-sedang) dan Kabupaten Kerinci (dataran tinggi). Sampel dipilih secara purposive sampling dengan kriteria induk sapi PS pasca melahirkan, induk yang dipilih diperkirakan minimal mempunyai 75% darah Simmental berdasarkan penampilan eksteriornya. Setiap daerah dengan tinggi yang berbeda masing-masing diambil 20 ekor sampel. Induk yang memiliki masa puerperum lebih dari 60 hari dikategorikan mengalami gangguan reproduksi (gangrep). Untuk menilai kondisi kesehatan secara keseluruhan dilakukan pemeriksaan Skor Kondisi Tubuh (SKT). Data SKT disajikan dalam bentuk rataan ± standar deviasi. Perbedaan lama puerperium dan SKT dianalisis dengan uji-t, sedangkan proporsi induk yang mengalami gangguan reproduksi dilakukan uji khi- kuadrat. Semua perhitungan statistik menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dataran rendah-sedang gangrep terjadi pada 70% induk lebih banyak dibandingkan dataran tinggi yaitu 25% (P kecil dari 0,05). Masa puerperium sapi PS di daerah dataran rendah-sedang rata-rata 116,4 ± 19,2 hari lebih lama dibandingkan daerah dataran tinggi (71,6 ± 11,7 hari; P kecil dari 0,05). Nilai SKT induk sapi PS yang mengalami gangrep lebih rendah dari nilai SKT induk sapi PS yang normal (P kecil dari 0,05). Di dataran rendah-sedang pada induk yang normal SKT 3,10 ±0,32 dan SKT gangrep 2,17± 0,29, sedangkan di dataran tinggi nilai  SKT yang normal 3,07 ± 0,26 dan SKT gangrep 2,30 ±0,4.
PEMANFAATAN MINERAL Zn-Cu ORGANIK UNTUK MEMACU PERTUMBUHAN SAPI BALI PENGGEMUKAN PADA KELOMPOK TANI DI DESA TANGKIT Musnandar, Endri; Syafwan, Syafwan; Muthalib, Muthalib; Gushairiyanto, Gushairiyanto
Jurnal Karya Abdi Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2017): Jurnal Karya Abdi Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.132 KB) | DOI: 10.22437/jkam.v1i1.3728

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan sapi Bali yang dipelihara oleh peternak di desa Tangkit Kecamatan Sungai Gelam. Di desa ini terdapat kelompok tani yang memelihara sapi Bali untuk tujuan penggemukan akan tetapi kinerja pertumbuhannya masih sangat rendah yaitu berkisar 0,23 kg/ekor/hari. Kondisi ini disebabkan pemberian pakan yang hanya seadanya yaitu berupa hijauan saja tanpa diberikan pakan tambahan. Sementara itu, hasil penelitian Afzalani, dkk. (2012) mengemukakan bahwa pemberian pakan tambahan berupa suplementasi ampas tahu dan mineral Cu-organik dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan sapi Bali yang diberikan pakan berbasis rumput rawa. Dikemukakan juga bahwa salah satu penyebab rendahnya produksi sapi di Indonesia bukan hanya kekurangan energi dan mineral tetapi yang lebih penting lagi adalah kekurangan mineral. Ampas tahu dan mineral Cu-organik akan menutupi kekurangan nutrisi pakan pada sapi yang diberi pakan berbasis rumput rawa. Ampas tahu adalah berupa sisa hasil pembuatan tahu, ketersediaannya cukup banyak disekitar desa Tangkit karena terdapat beberapa perusahaan tahu di sekitar desa, begitu pula Cu mudah diperoleh di toko kimia di sekitar perbatasan desa. Kondisi ini tentu kurang ideal dimana sapi kekurangan nutrisi tambahan sementara bahan baku pakan tambahan banyak tersedia. Oleh karena itu, teknologi suplementasi ampas tahu dan mineral Cu-organik untuk pakan sapi merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Sasaran kegiatan adalah petani yang mengusahakan penggemukan sapi Bali yaitu petani anggota kelompok tani “Sumber Makmur”. Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah gabungan atau perpaduan antara metode penyuluhan dan praktek pembuatan mineral Cu-organik. Diharapkan dari kegiatan ini akan dihasilkan mineral Cu-organik berbasis ampas tahu dan dicapai kinerja pertumbuhan sapi Bali yang lebih optimum di KelompokTani Rukun Makmur, Desa Tangkit.
Kualitas Fisik Silase Jerami Jagung (Zea mays) dengan Campuran Indigofera zollingeriana Dianita, Rahmi; Andriani, Shilvi; Devitriano, Dodi; Musnandar, Endri; Darlis, Darlis; Syafwan, Syafwan
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 24, No 3 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v24i3.5624

Abstract

Corn straw has the potential as a ruminant feed, but is constrained by low crude protein so it must be combined with Indigofera zollingeriana legumes which have high crude protein. The addition of Indigofera zollingeriana at different levels is expected to increase the crude protein of corn straw silage (Zea mays) and is expected to produce good silage quality. This study aims to determine the physical quality of corn straw silage (Zea mays) and Indigofera zollingeriana in different proportions. The variables observed in this study were the percentage of shrinkage, pH value, percentage of moldy silage, fleigh value, and physical quality (color, aroma, and texture). This experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with 3 treatments and each treatment was repeated 6 times, so there were 18 experimental units, namely P1 = 80% Corn straw + 15% Indigofera zollingeriana + 4% bran + 1% mineral mixture; P2 = 70% Corn straw + 25% Indigofera zollingeriana + 4% bran + 1% mineral mixture; P3 = 60% Corn straw + 35% Indigofera zollingeriana + 4% bran + 1% mineral mixture. The results of the analysis of variance test showed that corn straw silage (Zea mays) with a mixture of Indigofera zollingeriana had no significant effect (P>0.05) on the percentage of moldy silage, fleigh value, and physical quality (color, aroma, texture) but had a significant effect (P<0.05) on the percentage of shrinkage and pH of silage. Based on this study, it can be concluded that the best silage proportion was obtained in the P2 treatment with 70% corn straw + 25% Indigofera zollingeriana + 4% fine bran + 1% mineral mixture, resulting in good quality silage.
Pengaruh Dosis Inokulum Marasmius sp. dan Lama Inkubasi terhadap Kandungan Komponen Serat dan Protein Murni pada Sabut Kelapa Sawit untuk Bahan Pakan Ternak Musnandar, Endri
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 9 No 2 (2006): November 2006
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.29 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v0i0.569

Abstract

The  objective  of  the  experiment  was  to  find  out  the  best  inoculum  dosage  and incubation  time  for  fiber  component  percentage  and  true  protein  percentage.  The experiment was arranged by a Completely Randomized Design with factorial pattern 4x4, which  the  first  factor  was  inoculum  dosage  (D2,5=2,5%;  D5=5%;  D7,5=7,5%;  and D10=10%) and the second factor was incubation time (W1=1 week, W2= 2 week, W3 = 3 week,  and  W4=  4  week),  the  treatment  combination  were  replicated  3  times  which component  fiber  percentage  and  true  protein  percentage  as  parameters.    All  data  were analyzed by analysis of variance followed DMRT.  The results of experiment showed that there was significant interaction between inoculum dosage and incubation time on fiber component and true protein percentage.  The lowest of fiber component especialy lignin and highest true protein percentage were found  at D3W3 combination treatment, which the fiber componen percentage was NDF (67.63%), ADF (60.50%), selulosa (45.27%), lignin (9.93%), and True protein (8.957%).  
Efek Suplementasi Ampas Tahu dan Mineral Zn-Cu Organik terhadap Pertambahan Bobot Badan pada Penggemukan Sapi Bali yang Diberi (Pakan Rumput Rawa (Hyampeacne amplexicaules Rudge Ness)): (Effect of Supplementation of Tofu Waste and organic mineral of Zn-Cu on Weight Gain in Bali Cattle fed with Hyampeacne amplexicaules Rudge Ness) Afzalani, Afzalani; Musnandar, Endri; Raguati, Raguati
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 20 No 2 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.44 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v20i2.5137

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki performa pertumbuhan ternak sapi Bali yang dipeliharaan oleh peternak melalui suplementasi limbah tahu dan mineral Zn-Cu organik. Ternak yang digunakan sebanyak 12 ekor sapi Bali jantan muda umur 1.5 tahun dengan kisaran berat badan 120 - 130 kg. Pakan yang diberikan yaitu berupa hijauan rumput rawa yang diberikan secara tidak terbatas sesuai dengan kebiasaan peternak. Sedangkan ampas tahu diberikan sebanyak 1% dari berat badan. Mineral organik berupa Zn dan Cu diberikan sebanyak 1% atau 2% dari BK ampas tahu yang diberikan. Percobaan in vivo dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari : R0 = Rumput rawa + 0% Ampas Tahu (AT) + 0% Zn-Cu Organik; R1 = Rumpu Rawa + 1% AT/kg BB Sapi + 0% Zn-Cu Organik R2 = Rumput rawa + 1% AT/kg BB sapi + 1% Zn-Cu Organik/kg BK AT; R2 = Rumput rawa + 1% AT/kg BB sapi + 2% Zn-Cu Organik/kg BK AT. Peubah yang diamati yaitu konsumsi bahan kering rnasum, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum. Analisis ragam dilakukan untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati, dilanjtkan denganuji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi AT dan Zn-Cu organik pada taraf 2% (R3) cenderung menghasilkan pertambahan bobot badan harian tertinggi (0,51 kg), konsumsi bahan kering (6,99 kg) dan efisiensi penggunaan pakan (7.92%). Kata kunci : Ampas tahu, mineral organik, sapi Bali dan rumput rawa
Penggunaan probiotik dari kulit nenas sebagai sumber pakan tambahan untuk Ternak Ruminansia: The Used of Probiotics From Pineapple Peels (Ananas Comosus) As A Source of Feed Supplements For Ruminants Raguati, R; Afzalani, A; Musnandar, Endri
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 21 No 2 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jiiip.v21i2.6775

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi probiotik asal dari kulit nanas yang ditambahkan ke dalam mineral blok sebagai suplementasi dalam ransum. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap: Tahap pertama isolasi bakteri asal kulit nanas.Tahap kedua adalah pembuatan mineral blok yang berisikan probiotik disusunlah 4 macam komposisi minerail blok plus probiotik lalu di analisa secara invitro dan uji daya tahan penyimpanan mineral blok-plus. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Analisis data dikerjakan menurut program SAS. Peubah yang diamati adalah total produksi gas, KCBK, KCBO sampel secara invitro. Hasil isolasi yang diperoleh dalam penelitian ini adalah pada kulit nanas terdapat bakteri positif dengan jumlah koloni bakterinya sebanyak = 2, 92 x 10 10 . Jumlah koloni bakteri dalam I gram mineral blok adalah 1,72 x 10 6 , ketahanan bakteri dalam mineral blok pada penyimpanan seminggu 1,97 x 10 10 (pengenceran sepuluh) dan penyimpanan 1 bulan dengan jumlah koloni sebanyak 1,52 x 1010 pada pengenceran tujuh serta ketahanan bakteri dalam mineral blok hingga 1,5 bulan pada pengenceran lima adalah 1, 45 x 10 9 cfu sampai 107. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan mineral blok-plus tidak nyata (P>0.05) berpengaruh terhadap nilai KcBK, KcBO dan Total Produksi gas. Total produksi gas yang dihasilkan berkisar(109,00 – 152,83 ml), KcBK mineral blok-plus berkisar 63.58 – 66.33% dan KcBO berkisar 71.02 –72.79%. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Penggunaan probiotik sebesar 0,5% dalam mineral blok sebagai suplemen pakan ternak ruminansia sudah dapat memberikan hasil yang baik