Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Hubungan Efikasi Diri terhadap Self Directed Learning Readiness Mahasiswa Tingkat Pertama Fahrezi Fathilla; Merry Indah Sari; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self Directed Learning Readiness (SDLR) atau yang sering disebut kesiapan belajar mandiri merupakan suatu cara individu dalam mengatur aktivitas belajarnya secara mandiri sesuai dengan pemikiran yang dianggap mampu untuk dilakukan. Tingkat self directed learning individu dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efikasi diri terhadap self directed learning readiness mahasiswa tingkat pertama Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik kategorik tidak berpasangan dengan pendekatan cross sectional. Pada penelitian ini hanya 214 responden yang masuk dalam kriteria inklusi. Nilai efikasi diri diukur dengan kuesioner GSE sedangkan nilai self directed learning readiness mahasiswa diukur dengan menggunakan kuesioner Self Directed Learning Readiness Scale (SDLRS). Data dianalisis dengan uji Chi square. Efikasi diri mahasiswa yang dominan yakni pada kategori sedang 159 orang (74,3%) diikuti kategori tinggi 33 orang (15,4%). Nilai self directed learning readiness mahasiswa paling banyak terdapat pada kategori tinggi sejumlah 123 orang (57,5%). Berdasarkan uji statsistik chi square didapatkan adanya hubungan yang bermakna (p=0,023) antara efikasi diri terhadap self directed learning readiness. Efikasi diri berpengaruh positif terhadap self directed learning readiness mahasiswa tingkat pertama Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.Kata kunci: efikasi diri, problem based learning, self directed learning readiness.
Hubungan Postur Kerja dan Repetisi terhadap Kejadian Keluhan Muskuloskeletal pada Petani Aldo Fatejarum; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara agraris, yaitu negara yang sebagian besar penduduknya bekerja di bidang agrikultular yaitu sebagai petani. Bekerja sebagai petani dapat menimbulkan berbagai macam resiko kesehatan. Resiko kesehatan yang dapat muncul adalah penyakit pernafasan dan penyakit kulit yang disebabkan oleh terpaparnya agen infeksi seperti tanaman, serangga, pestisida dan agen infeksi lainnya. Risiko kesehatan lainnya yang dapat muncul adalah keluhan muskuloskeletal yang diakibatkan oleh kesalahan posisi kerja (ergonomi). Keluhan muskuloskeletal adalah masalah kesehatan yang melibatkan sendi, otot, tendon, kerangka, tulang rawan, ligamen dan saraf. Keluhan muskuloskeletal adalahkeluhan berupa rasa nyeri yang paling sering dialami oleh petani. Keluhan muskuloskeletal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain faktor individu, faktor lingkungan dan faktor pekerjaan. Faktor pekerjaan merupakan faktoryang paling berpengaruh terhadap keluhan muskuloskeletal, yang termasuk faktor pekerjaan, antara lain postur kerja dan repetisi atau pengulangan. Pengukuran postur kerja dapat menggunakan metode pengukuran Rapid Entire Body Assassement (REBA). Pengukuran ini dilakukan agar mengetahui apakah terdapat kesalahan postur kerja sehingga dapat diperbaiki dengan ilmu ergonomi. Postur kerja yang salah dan dilakukan secara berulang dalam jangka waktu yang lamaakan menyebabkan terjadinya keluhan muskuloskeletal. Gejala yang sering muncul saat seseorang menderita keluhan musculoskeletal,antara lain nyeri dan bengkak pada persendian atau ruas tubuh, nyeri otot dan pergerakan sendi yang terbatas. Untuk mengukur keluhan muskuloskeletal salah satunya dapat digunakan pengukuran Nordic Body Map.Kata kunci: ergonomic, keluhan muskuloskeletal, postur kerja, repetisi
Pengaruh Pemberian Epidermal Growth Factor pada Ulkus Diabetikum Arninda Rahman; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia dan pankreas tidak menghasilkan insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin. Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013, menunjukan prevalensi DM di Indonesia membesar sampai 57%. Tingginya prevalensi Diabetes Melitus tipe 2 disebabkan oleh faktor risiko misalnya jenis kelamin, umur, faktor genetik, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, konsumsi alkohol, indeks masa tubuh, lingkar pinggang dan umur. Komplikasi penderita DM yang sudah parah akan menjalani amputasi anggota tubuh karena terjadi pembusukan (ulkus diabetikum). Ulkus diabetikum adalah suatu luka terbuka pada lapisan kulit sampai ke dalam dermis, yang biasanya terjadi di telapak kaki. Menurut The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease, diperkirakan 16 juta orang Amerika Serikat diketahui menderita diabetes, dan jutaan diantaranya beresiko untuk menderita ulkus diabetikum. Dari keseluruhan penderita diabetes, 15% menderita ulkus di kaki, dan 12-14% dari yang menderita ulkus di kaki memerlukan amputasi. Ulkus diabetikum disebabkan adanya tiga faktor yang sering disebut trias, yaitu: iskemik, neuropati dan infeksi. Epidermal growth factor (EGF) adalah polipeptida 53-aminoacid diisolasi dari kelenjar submaksilaris tikus dewasa yang memanfaatkan aktivitas mitogenik yang kuat melalui pengikatan reseptor membran sel tertentu. EGF mengaktifkan sel mesenkim dan epitel untuk proliferasi dan merangsang perbaikan epidermal setelah cedera. EGF mengaktifkan pembelahan sel epidermal, stroma dan migrasi, merangsang angiogenesis, dan berpotensi mitogen pada keratinosit sehingga dapat memperbaiki jaringan yang rusak pada ulkus diabetikum.Kata Kunci:diabetes mellitus,faktor pertumbuhan epidermal, ulkus diabetikum
Seroprevalensi Toxoplasma gondii pada Hewan Ternak Kambing di Kota Bandar Lampung Audya Pratiwi Putri Riyanda; Jhons Fatriyadi Suwandi; Handayani Dwi Utami; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toksoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi Toxoplasma gondii. Penularan toksoplasmosis kepada manusia dapat terjadi salah satunya melalui tertelan kista jaringan atau takizoit dalam daging mentah atau yang dimasak kurang sempurna. Angka prevalensi toksoplasmosis di Indonesia pada kambing dapat terbilang tinggi (11-61%). Konsumsi daging kambing di Provinsi Lampung sendiri cukup tinggi. Daging kambing yang dimasak kurang matang danmengandung kista Toxoplasma gondii merupakan salah satu sumber penularan toksoplasmosis pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi Toxoplasma gondii pada hewan ternak kambing di Kota Bandar Lampung. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional yang bersifat deskriptif dengan pendekatan laboratorik. Sampel penelitian diperoleh dari 3 tempat pemotongan kambing dengan teknik sampel konsekutif. Sampel diambil secara berurutan sampaimemenuhi 70 sampel selama periode penelitian. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode To-MAT. Pada sampel ditemukan adanya hasil seropositif Toxoplasma gondii pada fase akut maupun kronis. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa seroprevalensi Toxoplasma gondii pada hewan ternak kambing di Kota Bandar Lampung adalah sebesar 60% (42 sampel) dengan seroprevalensi infeksi akut sebesar 37,14% (26 sampel).Kata Kunci: kambing, Toxoplasma gondii, seroprevalensi, zoonosis
Efek Protektif Thymoquinone Terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Spraque dawley yang Diinduksi Rifampisin Rika Oktaria; Susianti Susianti; Ratna Dewi Puspita Sari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rifampisin merupakan salah satu terapi lini pertama dari tuberkulosis. Peningkatan kasus tuberkulosis setiap tahun menyebabkan penggunaan rifampisin juga sangat tinggi. Penggunaan rifampisin yang berlebihan menyebabkan efek samping berupa kerusakan ginjal. Kerusakan pada ginjal tersebut dapat diatasi dengan senyawa antioksidan. Salah satu antioksidan yang dapat digunakan adalah thymoquinone. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah thymoquinone dapat memberikan efek protektif terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus novergicus) galur Sprague dawley yang diinduksi rifampisin. Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental menggunakan 25 ekor tikus putih galur Sprague dawley yang dibagi ke dalam 5 kelompok, yaitu kontrol 1 (K1) tikus yang tidak diberikan perlakuan, kontrol 2 (K2) diberikan rifampisin dosis 100 mg/100gBB serta P1, P2 dan P3 diberikan rifampisin 100 mg/100gBB dan thymoquinone dengan dosis berbeda yaitu 5 mg/kgBB, 10 mg/kgBB dan 20 mg/kgBB dalam waktu 14 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata skor kerusakan ginjal pada K1: 1,28, K2: 3,16, P1: 2,08, P2: 2,12, P3: 2,88. Data yang diperoleh, diuji dengan u j i Kruskal-Wallis, didapatkan perbedaan bermakna p= 0,02 (p<0,05). Terdapat efek protektif thymoquinone terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus novergicus) galur Sprague dawley yang diinduksi rifampisin.Kata kunci: histopatologi ginjal, rifampisin, thymoquinone.
Pengaruh Induksi Gelombang Elektromagnetik Ponsel Terhadap Sel Spermatosit Primer pada Tikus Putih Galur Spraque dawley Tara Aulianova; Soraya Rahmanisa; Fitria Saftarina; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengguna ponsel laki-laki biasanya menyimpan ponsel di saku celana. Sedangkan banyak penelitian epidemiologi menyimpulkan penggunaan ponsel berperan menyebabkan infertilitas pria. Radiasi gelombang elektromagnetik ponsel dapat menimbulkan stres oksidatif yang mempunyai pengaruh terhadap fungsi dan struktur testis, berupa berkurangnya jumlah sel spermatogenik. Penelitian ini terdapat 25 sampel terbagi menjadi 5 kelompok. Kelompok kontrol positif (K+) hanya diberi pakan dan minum, kelompok kontrol negatif (K-) diberi pakan dan minum serta diberi induksi paparan ponsel (SAR 1,56 W/kg),perlakuan 1 (P1) diberikan dosis tomat 1,85 g dan zink 0,54 mg dan diinduksi paparan ponsel (SAR 1,56 W/kg), perlakuan 2 (P2) diberikan dosis tomat 3,4 g dan zink 0,27 mg dan diinduksi paparan ponsel (SAR 1,56 W/kg), perlakuan 3 (P3) diberikan dosis tomat 7,4 g dan zink 0,135 mg dan diinduksi paparan ponsel (SAR 1,56 W/kg). Perlakuan diberikan selama 35 hari. Diperoleh pada P1, P2 dan P3 sel spermatosit primer berpengaruh nyata dengan α=0,05.Kata kunci: sel spermatosit primer, tomat, zink.
Hubungan Kesiapan Belajar Mahasiswa Tahun Kedua terhadap Nilai Ujian Praktikum Patologi Anatomi (PA) di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Rachel Junita Sitepu; Rika Lisiswanti; Susianti Susianti; Oktafany Oktafany
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self-Directed Learning Readiness (SDLR) merupakan kesiapan belajar mahasiswa terhadap lingkungan belajarnya dan kemandirian yang menuntut mahasiswa untuk belajar. Praktikum adalah bagian dari pengajaran yang bertujuan agar mahasiswa mendapat kesempatan untuk menguji dan melaksanakan teori yang telah diterima. Metode praktikum dapat dilakukan di laboratorium sehingga efektif untuk mencapaitiga keterampilan yaitu kognitif, efektif dan psikomotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kesiapan belajar mandiri mahasiswa tahun kedua terhadap nilai ujian praktikum Patologi Anatomi(PA) di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Terdapat sebanyak 177 responden dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner Self-Directed Learning Readiness (SDLR) yang diadopsi dari Zulharman. Berdasarkan hasil analisis univariat skor SDLR yang paling banyak dimiliki oleh responden yaitu skor tinggi sebanyak 67,2% dan skor sedang sebanyak 32,8%. Tingkat kelulusan pada ujian praktikum PA sebanyak 53,4% dan tidak lulus sebanyak 46,6%. Berdasarkan analisis bivariat dengan uji Chi-square didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara self-directed learning readiness dengan nilai ujian praktikum PA dengan nilai p= 0,192 (p>0,05).Kata kunci: laboratorium, praktikum, self-directed learning readiness (SDLR).
Efek Protektif Thymoquinone Terhadap Gambaran Histopatologi Hepar pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Spraque dawley yang Diinduksi Rifampisin Victoria Hawarima; Susianti Susianti; Syazili Mustofa
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepar merupakan organ terbesar pada tubuh, menyumbang sekitar 2% berat tubuh total. Kerusakan pada hepar dapat disebabkan oleh obat-obatan, salah satunya adalah rifampisin. Rifampisin merupakan salah satu obat utama untuk tuberkulosis (TB). Oleh karena itu, penggunaan obat ini tidak dapat dihindari dan digunakan dalam jangka panjang.Rifampisin memiliki efek hepatotoksik, efek toksiknya terkait stres oksidatif dan sitokin proinflamasi. Bahan aktif dari jintan hitam, yaitu thymoquinone memiliki efek hepatoprotektif, melalui mekanisme sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efek protektif thymoquinone, terhadap gambaran histopatologi hepar tikus yang diinduksi rifampisin dan untuk mengetahui adanya pengaruh peningkatan dosis thymoquinone pada efek protektif, terhadap gambaran histopatologi hepar tikus yang diinduksi rifampisin. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang dibagi ke dalam 5 kelompok dan diberi perlakuan selama 14 hari, yaitu K1 (kontrol negatif yang hanya diberi akuades), K2 (kontrol positif yang hanya diberi rifampisin 1 g/kgBB), P1 (perlakuan 1, yang diberi rifampisin 1 g/kgBB dan thymoquinone 5 mg/kgBB), P2 (perlakuan 2, yang diberi rifampisin 1 g/kgBB dan thymoquinone 10 mg/kgBB), dan P3 (perlakuan 3 yang diberi rifampisin 1 g/kgBB dan thymoquinone 20 mg/kgBB). Berdasarkan hasil penelitian, terdapat efek protektif thymoquinone yang dilihat dari derajat degenerasi bengkak keruh sel hepar. Selain itu, terdapat peningkatan efek hepatoprotektif dengan peningkatan dosis 5 mg/kgBB dan 10 mg/kgBB, namun tidak pada dosis 20 mg/kgBB.Kata kunci: hepar, rifampicin, thymoquinone
Manfaat Kunyit (Curcuma domestica Val) Sebagai Hepatoprotektor Pada Hepatitis: Tinjauan Pustaka Sulthan Alam Yasyfa; Susianti Susianti; Andi Nafisah Tendri Adjeng
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepatitis merupakan salah satu dari penyakit yang menjadi ancaman kesehatan utama dunia, namun hepatitis sering diabaikan sebagai prioritas kesehatan. Hepatitis virus diperkirakan menyebabkan 1,4 juta kematian per tahun di dunia. Sekitar 47% disebabkan virus hepatitis B, 48% virus hepatitis C dan sisanya virus hepatitis A dan E. Indonesia merupakan negara dengan endemisitas tinggi hepatitis B, menduduki kedua terbesar di negara Asia Tenggara setelah Myanmar. Vaksin hepatitis merupakan cara pencegahan yang efektif untuk menekan angka kejadian hepatitis. Selain dengan pengobatan medis, bisa dilakukan melalui pengobatan tradisional. Kunyit merupakan tanaman obat yang mengandung komponen aktif kurkumin sebagai antioksidan yang dapat melindungi hati dari kerusakan (hepatoprotektor).Kata Kunci: Kunyit, Hepatoprotektor, Hepatitis.
Uji Toksisitas Akut Dosis Tunggal Ekstrak Etanol Daun Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium Walp.) Terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley Menggunakan Guideline Uji OECD NO. 423 Syafira Alifia Audiani; Waluyo Rudiyanto; Ety Apriliana; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak daun pucuk merah memiliki aktivitas farmakologi diantaranya antioksidan, antibakteri, antijamur dan antivirus. Pengujian toksisitas dilakukan untuk mengukur derajat kerusakan akibat suatu senyawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis toksik dan pengaruh dosis toksik ekstrak etanol daun pucuk merah (Syzygium myrtifolium Walp.) terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) menggunakan guideline uji OECD No. 423. Ekstrak daun pucuk merah diberikan secara oral sebanyak satu kali dengan dosis yang telah ditentukan (fixed dose) berdasarkan guideline OECD No.423 yaitu 5, 50, 300, dan 2000 mg/kgBB secara bertahap dengan dosis awal 2000 mg/KgBB. Setelah pemberian dosis, hewan coba diamati selama 24 jam untuk melihat adanya kematian. Jika terdapat 2-3 kematian, dosis selanjutnya diturunkan menjadi 300 mg/KgBB. Namun, apabila pada dosis 2000 mg/KgBB hanya terdapat 0-1 kematian maka dosis akan dinaikkan ke 5000 mg/KgBB. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan histopatologi ginjal pada kelompok kontrol, 2000mg/kgBB, dan 5000mg/kgBB. Dosis toksik ekstrak daun pucuk merah sebesar 5000mg/kgBB yang termasuk dalam zat hampir tidak toksik. Darihasil pengamatan mikroskopik didapatkan adanya kerusakan berupa pelebaran ruang bowman dan lumen tubulus, akumulasi sel debris, vakuolisasi, kariomegali dan perdarahan. Terdapat pengaruh dosis toksik pemberian ekstrak daun pucuk merah terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih berdasarkan guideline uji OECD no.423Kata kunci: Ekstrak Daun Pucuk Merah, Histopatologi Ginjal, OECD No. 423, Uji Toksisitas Akut