Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JPIG

Pengukuran Topografi Untuk Pembangunan Penampungan Air Bersih (Studi Kasus: Daerah Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat) Mochammad Rizky Miftah Fauzan; Jupri Jupri; Riki Ridwana
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 6 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.68 KB) | DOI: 10.21067/jpig.v6i1.5141

Abstract

Abstrak: Peta merupakan gambaran kecil atau miniatur kenampakan dari suatu permukaan bumi yang direpresentasikan dalam bidang datar yang meliputi kenampakan alamiah maupun buatan manusia dan memiliki ukuran yang disebut skala. Saat ini perkembangan pembangunan semakin pesat, kebutuhan peta semakin meningkat. Peta sangat penting untuk perencanaan suatu pembangunan. Belum terpetakanya sumber mata air di Rajamandala membuat pengelolaan sumber mata air di kawasan tersebut tidak efektif. Agar pengelolaanya efektif dan efisien dibutuhkan peta topografi di kawasan sumber mata air untuk digunakan sebagai rencana pembangunan penampungan sumber mata air. Peta topografi merupakan peta yang menampilkan gambaran permukaan bumi baik alamiah maupun buatan manusia dan unsur relief disajikan dalam bentuk garis kontur. Pengambilan data dalam pengukuran topografi ini menggunakan metode pengukuran terestris yang dilakukan langsung dilapangan dengan alat seperti ETS, meteran, GPS, prisma, statif, dan jalon. Pengukuran BM dilakukan dengan menggunakan GPS Handheld Trimble. Terdapat dua BM yang menjadi titik referensi pemetaan. Hasil dari pengukuran ini yaitu peta topografi skala 1: 500 yang pemanfaatnya digunakan untuk rencana pembangunan penampungan sumber mata air di Rajamandala. Kata kunci: Peta Topografi, Pengukuran Topografi, Sumber Mata Air Abstract: Map is a small picture or miniature of the appearance of a surface of the earth that is represented in a flat area that includes both natural and man-made, and has a measure called scale. Nowadays, current development of developmental is growing rapidly, the needs for map used are increased. Maps are a crucial things for planning a development. With the uncharted springs in Rajamandala making the management of the springs in the area ineffective. In order to be effective and efficient management, a topographic map in the spring area is needed to be used as a plan for the establishment of a spring source. Topographic map is a map that displays a picture of the earth's surface both natural and man-made and relief elements are presented in the form of contour lines. Data collection in this topographic measurement is using terrestrial measurement methods carried out directly in the field with tools such as ETS, meter, GPS, prism, stative, and jalon.BM measurements are carried out using Trimble GPS Handhelds. There are two BMs that become the reference point for mapping. The results of this measurement are a 1: 500 scale topographic map, the use of which is used for the construction of a spring water reservoir in Rajamandala. Keywords: topographical map, topographical measurement, water source (springs
Analisis Perubahan Land Surface Temperature Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Kota Pekanbaru Riau Tahun 2000 dan 2020 Abyan Hilmy; Ayi Susandi; Bella Melania Damanik; Leo Widdyusuf; Riki Ridwana; Shafira Himayah
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 6 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.012 KB) | DOI: 10.21067/jpig.v6i1.5197

Abstract

Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu permasalahan serius yang sampai saat ini masih belum dapat penanganan yang baik. Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau dengan kejadian bencana kebakaran hutan yang sering terjadi, salah satunya di Provinsi Riau. Kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Riau menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan. Kondisi ini juga berdampak pada peningkatan suhu permukaan di wilayah perkotaan Kota Pekanbaru. Kenaikan suhu permukaan akan menyebabkan peningkatan suhu udara yang dapat berdampak pada tidak nyamannya aktivitas di Kota Pekanbaru. Penggunaan teknik Penginderaan Jauh dapat digunakan untuk memantau (monitoring) pada daerah yang luas. Melalui pemanfaatan data penginderaan jauh yang ada, maka dapat diketahui perubahan suhu yang terjadi pada suatu wilayah. Beberapa contoh data penginderaan jauh yang dapat digunakan untuk mengestimasi suhu permukaan tanah (Land Surface Temperature) adalah citra satelit Landsat 7 dan Landsat 8. Pengolahan data citra dilakukan menggunakan software ArcGIS. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan sebaran temperatur permukaan di Kota Pekanbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, suhu permukaan tanah Kota Pekanbaru tahun 2000 – 2020 meningkat pada beberapa titik, seperti pada bagian barat laut kota ini. Namun pada wilayah lain tidak terdapat perubahan yang cukup signifikan. Abstract : Forest and land fires are one of the serious problems that have yet to be handled properly. Sumatra Island is one of the islands with frequent forest fire disasters, one of which is in Riau Province. Forest fires that occurred in Riau Province caused environmental changes. This condition also has an impact on increasing surface temperature in the urban area of ​​Pekanbaru City. The increase in surface temperature will cause an increase in air temperature which can have an impact on uncomfortable activities in Pekanbaru City. The use of remote sensing techniques can be used to monitor (monitoring) in a large area. Through the use of existing remote sensing data, it can be seen the temperature changes that occur in an area. Some examples of remote sensing data that can be used to estimate the land surface temperature are Landsat 7 and Landsat 8 satellite imagery. Image data processing is performed using ArcGIS software. This research was conducted to produce the distribution of surface temperature in Pekanbaru City. The results showed that the land surface temperature of Pekanbaru City from 2000 to 2020 increased at several points, such as in the northwestern part of the city. However, in other areas there are no significant changes.
Pemanfaatan Citra Satelit Landsat 8 Dan Sentinel 2A Dalam Identifikasi Lahan Kritis Mangrove Di Wilayah Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi Adi Firmansyah; Efri Triana Nur Arifin; Ilham Nurfalah; Riki Ridwana; Shafira Himayah
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 6 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.69 KB) | DOI: 10.21067/jpig.v6i1.5198

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir tropis atau sub-tropis yang sangat dinamis serta mempunyai produktivitas dan nilai ekologis yang tinggi. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang mengalami dampak perubahan akibat terjadinya perubahan iklim dan aktivitas manusia. Kecamatan Ciemas adalah wilayah yang menjadi tempat konservasi dan sentra wisata mangrove di provinsi Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan lahan kritis ekosistem mangrove di wilayah Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi. Metode yang digunakan adalah skoring dan pembobotan dengan memanfaatkan teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis. Parameter yang digunakan diantaranya adalah penggunaan lahan, kerapatan vegetasi, kerapatan tajuk mangrove, dan jenis tanah atau kepekaannya terhadap abrasi atau erosi. Hasil yang diperoleh adalah pada citra Landsat 8 sebaran lahan kritis mangrove kategori rusak berat tersebar di dekat daerah pesisir. lalu untuk kategori rusak berada menyebar di daerah pesisir dan di pinggiran sungai. Sedangkan untuk hasil dari citra Sentinel 2A, sebaran lahan kritis mangrove dengan kategori rusak berat hanya berada pada titik tertentu dan mempunyai luasan paling kecil, dan untuk sebaran lahan kritis mangrove dengan kategori rusak mempunyai luasan paling besar. Kata Kunci : Lahan Kritis, Mangrove, Sistem Informasi Geografis, Kabupaten Sukabumi Abstract : Mangrove forest is one of the tropical or sub-tropical coastal ecosystems which is very dynamic and has high productivity and ecological value. The mangrove ecosystem is one of the coastal ecosystems that is experiencing the impact of change due to climate change and human activities. Ciemas sub-district is an area that is a conservation area and a tourist center for mangroves in West Java province. The purpose of this study was to identify the level of vulnerability of critical mangrove ecosystems in the Ciemas District, Sukabumi Regency. The method used is scoring and weighting using Remote Sensing technology and Geographic Information Systems. The parameters used include land use, vegetation density, mangrove canopy density, and soil type or its sensitivity to abrasion or erosion. The results obtained are in the Landsat 8 image, the distribution of critical mangrove lands in the severely damaged category is scattered near the coastal areas. then the damaged category is spread out in coastal areas and along river banks. Whereas for the results of the Sentinel 2A image, the distribution of critical mangrove land with the severely damaged category is only at a certain point and has the smallest area, and for the distribution of critical mangrove land with the damaged category has the largest area. Keywords : Critical Land, Mangroves, Geographic Information System, Sukabumi Regency
Komparasi Algoritma Spectral Angle Mapper dan Algoritma Spectral Information Divergence untuk Pemetaan Penutup Lahan pada Citra Pansharped Naufal Azmi; Shafira Himayah; Lili Somantri; Riki Ridwana
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 6 No. 2 (2021): September
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1638.65 KB) | DOI: 10.21067/jpig.v6i2.5886

Abstract

Kota Bandung memiliki luas wilayah 16.731 hektar dan senantiasa berkembang dari tahun ke tahun termasuk dalam hal perubahan penutup lahan. Penelitian ini membandingan algoritma Spectral Angle Mapper dan Spectral Information Divergence untuk pemetaan penutup lahan di Kota Bandung menggunakan citra SPOT 7 PMS ORT tahun 2019. Pengolahan data citra dimulai dengan koreksi geometrik, koreksi radiometrik, pemotongan area kajian, dan pengambilan training area. Proses selanjutnya adalah klasifikasi citra masing-masing algoritma yang kemudian dibuat peta penutup lahan, validasi data, dan uji keakuratan. Hasil klasifikasi citra mengklasifikasikan 11 kelas penutup lahan, yaitu bangunan industri, bangunan permukiman, hutan kota, hutan lahan rendah, hutan lahan tinggi, jaringan jalan, kebun campuran, ladang, lahan terbuka, sawah, dan sungai. Algoritma SAM memperoleh luasan terbesar pada kelas penutup lahan bangunan permukiman seluas 7.551,37 hektar (45,20%) dan luasan terkecil pada kelas penutup lahan hutan lahan rendah seluas 349,24 hektar (2,09%). Lalu algoritma SID memperoleh luasan terbesar pada kelas penutup lahan bangunan permukiman seluas 4.837,70 hektar (23,37%) dan luasan terkecil pada kelas penutup lahan sawah seluas 287,53 hektar (1,72%). Nilaii uji akurasi keseluruhan agoritma SAM sebesar 90% lebih teliti 4% dibandingkan nilai uji akurasi keseluruhan algoritma SID sebesar 86%.
Perbandingan Klasifikasi Penutup Lahan di Kota Bandung Menggunakan Metode Klasifikasi Berbasis Piksel dan Klasifikasi Berbasis Objek Pada Citra SPOT 7 Eka Wahyu Ningsih; Dede Sugandi; Lili Somantri; Riki Ridwana
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 7 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.408 KB) | DOI: 10.21067/jpig.v7i1.6500

Abstract

Pembangunan akan terus terjadi di suatu wilayah tertentu, sehingga mengakibatkan adanya perubahan penampakan fisik. Fokus utama dalam penelitian ini adalah membandingkan dua metode klasifikasi antara metode klasifikasi berbasis piksel, dan metode klasifikasi berbasis objek dengan menggunakan citra SPOT 7 sebagai data sekunder yang digunakan untuk proses klasifikasi, yang berlokasi di wilayah Kota Bandung. Klasifikasi citra menghasilkan 10 kelas penutup lahan diantaranya, bangunan industri, ladang/tegalan, lahan terbuka, perkebunan, permukaan diperkeras, permukiman, ruang terbuka hijau, sarana olahraga, sawah, dan semak belukar. Hasil klasifikasi dengan kedua metode tersebut akan diuji akurasinya berdasarkan data validasi lapangan, serta dihitung luas penutup lahan dari kedua metode dan nilai akurasi keseluruhannya menggunakan matriks konfusi, yang menghasilkan akurasi klasifikasi citra berbasis piksel sebesar 80% dan akurasi klasifikasi citra berbasis objek sebesar 87%. Berdasarkan hasil akurasi keseluruhan dapat dikatakan bahwa metode berbasis objek lebih baik digunakan untuk klasifikasi penutup lahan di Kota Bandung dibandingkan menggunakan metode klasifikasi berbasis piksel.
Co-Authors A Sediyo Adi Nugraha Abyan Hilmy Adhil Nur Muhammad Adi Firmansyah Adi Syahrul Mubarik Adifa, Safitri Fara Adilla Musyafa Aditya Candra Taruna Agil Akbar Fahrezi Agung Dwi Rahmawan Agung Mi'raj Fajar Ahmad Lugina, Izma Maulana ahmad yani Ahmad Yani Ahmad Yani Al Kautsar, Azhari Aliyan, Silmi Afina Alvian Aji Purboyo Alvien Hanif Ramadhan Alya Sekar Hapsari Andara Aulia Andien - Rahmalia Anisa Dalilah Anisa Dalilah Anita Widia Sari ANNISA JOVIANI ASTARI Annisa Nurjanah Ar'rafi Malika Ardy Arcita Rizara Arif Ismail Arrasyid, Riko Arry Sakti Al Faridzi Permana Asep Mulyadi Assem Abdelmonem Ahmed Mohamed Astri Indriyani Athiyyah Al Habibah Atikah, Siti Ayi Sopandi Ayi Susandi Ayu Innadya Azhari Al Kautsar Bagja Waluya bagja waluya, bagja Bella Melania Damanik Budhi L.S, Chandra Dalilah, Anisa Dede Rohmat Dede Sugandi Dini Adha Pawestri Dwi Yanti Dwi Yanti Efri Triana Nur Arifin Eka Wahyu Ningsih El Syifa Putri Elva Ni’matal Ummah Enok Maryani Erika Octyana Dewi Ervika Putri Wulandari Eva Safitri Fahmi Subhan Fauzan Fakhra Annaba Piawai Fakhriyah, Rafifah Adinda Fauzan Fajarrahman Zulfikri Fauzia, Alda Febriansyah Dharma Fahreza Ferryandy, Muhamad Ghina Yusriyyah Salma Habibah, Athiyyah Al Habibie Daud Syafaat Pasha Hakiki, Fikri Nurwan Hangga Aria Rahmawan Tisna Harum Khusnul Khotimah Hilman Tampubolon Himayah, Shafira Ihsan, Ashlah Afdlalul Ilham Maulana Ilham Nurfalah Indri Megantara Ismail, Jalu Rafli Iwan Setiawan Izma Maulana Ahmad Lugina Jalu Rafli Ismail Jupri Jupri Jupri Jupri Kamaluddin, Muhammad Rinaldi Karim, Rizal Aldian Keylila Hanan Zhafrani Khansa, Tasya Alifah Leo Widdyusuf Lili Somantri Lu’lu’ Izzatul Fawziah M Yusup M. Dede Sugandi M. Farizi Fernanda Mega Nurzihan, Yanti Melina Rosyana miftah Kurnia Hayu Mochammad Fauzan Mutawally Mochammad Rizky Miftah Fauzan Muh Fiqri Abdi Rabbi Muhaimin F. Rohman Muhamad Aditya Nugraha Muhamad Akbar Muhamad Ferryandy Muhammad Arrafi Muhammad Arrafi Muhammad Ihsan Nandi Nandi, Nandi Naufal Azmi Nisvi Nur’adqiah Nulhakim, Diki Lukman Paramita, Qorry Pradnya Pasha, Habibie Daud Syafaat Pawestri, Dini Adha Putri, El Syifa Putri, Indri Megantara Qorry Pradnya Paramita Rabbi, Muh Fiqri Abdi Rafifah Adinda Fakhriyah Rahma, Isma Yullia Rahmat Al Fauzi Rahmawan, Agung Dwi Raihan Cahara Winaya Adiwiria Ramadhan, Zidan Reza Pahlawan Ridwan Saidi Rinzani, Alayka Rizal Aldian Karim Roihan Muhammad Derajat Ruhby Ilham Sabila Meiwanda Sakti, Anjar Dimara Salma, Ghina Yusriyyah Sari, Anita Widia Sephana, Rafi'i Diva Setio Galih Mariyono Shafira Fairuz Siti Atikah Sri Sumiati Sudrajat, Daffa Rizal Fauzan Sugito, Nanin Trianawati Supriadi, Apip Syahnie Pratama Syahrial Fahmi Syahrial Fahmi Syauqi Izzul Syifa Aprilianti Tampubolon, Hilman Tia Ardiani, Gusti Udin Wahrudin Ummah, Elva Ni'matal Vina Aulia Nafisyah Wahrudin, Udin Wijaya, Muhamad Akbar Wina R. Dewi Yakub Malik, Yakub Yanti Yohana Sinambela Yesi Sopariah Yusifa Muzri