Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Pharmascience

Uji Aktivitas Infusa Akar Tawas Ut (Ampelocissus rubiginosa L.) Sebagai Hepatoprotektor Terhadap Mencit Putih Jantan Balb/C Yang Diinduksi Karbon Tetraklorida (CCl4) Karunita Ika Astuti; Khoerul Anwar; Agung Biworo
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i2.5739

Abstract

Hepatoprotektor adalah senyawa atau zat yang berkhasiat melindungi sel hati terhadap pengaruh zat toksik yang dapat merusak hati. Tumbuhan Tawas ut (Ampelocissus rubiginosa L.) merupakan tanaman yang secara empiris digunakan oleh masyarakat Kalimantan Tengah sebagai hepatoprotektor. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan bukti, mengetahui dosis efektif, dan gambaran kerusakan hati mencit sebagai efek hepatoprotektor ekstrak infusa akar tawas ut pada mencit jantan Balb/C. Penelitian dilakukan dengan pemberian infusa akar tawas ut pada dosis 30%, 40%, dan 50% selama 7 hari pada mencit putih jantan yang kemudian diinduksi karbon tetraklorida (CCl4). Penelitian untuk melihat nilai SGPT dan SGOT pada serum darah serta histopatologi hati. Metode menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan dibagi menjadi 6 kelompok dengan 5 kali pengulangan. Kontrol positif menggunakan Hepa-Q dan kontrol negatif menggunakan CCl4. Hasil paling efektif dari semua kelompok terdapat pada dosis 30% dengan nilai SGPT dan SGOT sebesar 97,80 ± 18,40 U/L dan 157,00 ± 16,914 U/L, sedangkan untuk kontrol negatif memiliki nilai 375,80 ± 96,693 U/L pada SGPT dan 435,60 ± 96,432 U/L pada SGOT. Gambaran kerusakan hati secara histopatologi menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok positif dengan kelompok dosis 30% yang juga pada kelompok normal, sehingga menunjukkan adanya daya hepatoprotektor infusa tawas ut pada dosis 30%. Kata Kunci : infusa, akar tawas ut, Ampelocissus rubiginosa L., hepatoprotektor.
Uji Aktivitas Fraksi Petroleum Eter Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) Sebagai Larvasida terhadap Nyamuk Aedes aegypti Desyana Nufus Sholeha; Muhamat Muhamat; Khoerul Anwar
Jurnal Pharmascience Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i2.5790

Abstract

ABSTRAK Pemberantasan nyamuk Aedes aegypti merupakan solusi dalam mencegah penyakit demam berdarah (DBD). Penggunaan insektisida sintetik berdampak negatif terhadap lingkungan hidup. Masyarakat Marabahan Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan memanfaatkan beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) sebagai insektisida alami. Tujuan penelitian ini menjelaskan golongan senyawa yang ada pada fraksi petroleum eter daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.), menghitung LC 50 dan LC (Lethal Concentration) serta membuktikan aktivitas larvasida pada fraksi petroleum eter daun beluntas (Pluchea indica (L.)Less.) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti. Proses fraksinasi dengan pelarut petroleum eter melarutkan senyawa-senyawa yang bersifat kurang polar pada selubung sel dan dinding sel pada daun beluntas. Saponin dan tanin terdekteksi pada pengujian kualitatif kimia daun beluntas. Uji aktivitas larvasida dengan deretan konsentrasi 1500, 2000, dan 2500 ppm menggunakan larva Aedes aegypti instar III. LC50 fraksi petroleum eter daun beluntas sebesar 1907,83 ppm dan LC90 sebesar 2377,57 ppm. Fraksi petroleum eter daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) hanya dapat membunuh larva Aedes aegypti pada konsentrasi besar yang berarti tidak memiliki daya toksisitas sebagai larvasida. Kata kunci : Beluntas, Pluchea indica (L.) Less., petroleum eter, larvasida ABSTRACT Eradication of the mosquitoes Aedes aegypti is one of the solution to prevent dengue fever (DHF). The synthetic insecticides had a negative impact in the environment. Citizen of South Borneo, Barito Kuala, Marabahan applied beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) as a bioinsecticide. The aim of the research had to know the compounds in beluntas leaves petroleum ether fraction, calculate the LC50 and LC90 and authenticate the larvicidal activity of beluntas leaves petroleum ether fraction. The process of fractionation by petroleum ether dissolved the less polar compounds in the sheath cells and cell walls in leaves ofbeluntas. Saponins and tannins had detected in leaves at qualitative assay compounds. Larvicidal activity assay at III instar larvae of Aedes aegypti had gave the varians concentration 1500, 2000, and 2500 ppm. Beluntas leavespetroleum ether fraction had LC50 1907,83 ppm and LC90 2377,57 ppm. Petroleum ether fraction of leaves beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) againts the larvae of Aedes aegypti in a large concentration means no toxicity as larvicide. Keyword : Beluntas, Pluchea indica (L.) Less., petroleum ether, larvicidal
Daya Reduksi Ekstrak Etanol Biji Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, dan Aquilaria beccariana Terhadap Ion Ferri (Fe3+) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) Liling Triyasmono; Beny Rahmanto; Wawan Halwany; Fajar Lestari; Muhammad Ikhwan Rizki; Khoerul Anwar
Jurnal Pharmascience Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i1.5764

Abstract

ABSTRAK Daya reduksi merupakan salah satu indikator potensi aktivitas suatu senyawa sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya reduksi ekstrak etanol biji Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, dan Aquilaria beccariana terhadap Ion Ferri (Fe3+). Serbuk kering biji A. microcarpa, A. malaccensis, dan A. beccariana dimaserasi menggunakan etanol 70%. Daya reduksi ditentukan dengan metode FRAP (ferric reducing antioxidant power) yang didasarkan atas kemampuan senyawa dalam mereduksi senyawa besi(III)-tripiridil-triazin menjadi besi(II)-tripiridil triazin pada pH 3,6. Absorbansi diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 598 nm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol biji A. microcarpa, A. malaccensis, dan A. beccariana mempunyai daya reduksi berturut-turut sebesar 6,39±1,58; 119,95±28,04; dan 62,12±6,57 µM ekivalen troloks/g ekstrak. Kata kunci: biji, Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, Aquilaria beccariana, FRAP ABSTRACT Reducing power is one indicator of potential antioxidant activity of a compound. This study aims to determine the reduction power of the ethanol extract of the seeds of Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, and Aquilaria beccariana against Ferric ion (Fe3+). Dry powder of A. microcarpa, A. malaccensis, and A. beccariana seeds was macerated using 70% ethanol. Reducing power determined using FRAP (ferric reducing antioxidant power) that is based on the ability of the compounds in reducing iron compounds (III) -tripiridil-triazine to iron (II) -tripiridil triazine at pH 3.6. The absorbance was measured using a UV-Vis spectrophotometer at a wavelength of 598 nm. The results showed ethanol extract of seeds of A. microcarpa, A. malaccensis, and A. beccariana have reducing power of 6.39 ± 1.58; 119.95 ± 28.04; and 62.12 ± 6.57 µM troloks equivalents / g extract respectively. Key words: seeds, Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, Aquilaria beccariana, FRAP
Perbandingan Aktivitas Analgetik Infusa dan Ekstrak Etanol Umbi Akar Tawas Ut (Ampelocissus rubiginosa Lauterb.) Khoerul Anwar; Muhammad Riswandi; Nurlely Nurlely
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i2.7349

Abstract

ABSTRAK Umbi akar tawas ut (Ampelocissus rubiginosa Lauterb.) secara empiris digunakan untuk mengurangi nyeri. Masyarakat menggunakannya dengan cara meminum air seduhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas analgetik dari infusa dan ekstrak etanol umbi akar A. Rubiginosa. Uji analgetik dilakukan menggunakan metode geliat (Writhing test) dengan pembanding parasetamol. Tiga puluh ekor mencit dibagi 6 kelompok masing-masing 5 ekor per kelompok. Kelompok I kontrol positif (parasetamol 65,25 mg/kgBB), kelompok II kontrol negatif (Na-CMC), kelompok III infusa A. rubiginosa 25 ml/kgBB, dan kelompok IV ekstrak etanol A. rubuginosa 500 mg/kgBB. Sesudah diberi perlakuan secara per oral sesuai kelompoknya, 30 menit kemudian diinduksi dengan asam asetat secara intraperitoneal. Jumlah geliat dihitung setiap 5 menit setelah pemberian larutan asam asetat 1% dengan selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan persen proteksi pemberian parasetamol 65,25 mg/kgBB, infusa A. rubiginosa 65,25 mg/kgBB dan ekstrak etanol A. rubiginosa 500 mg/kgBB secara berurutan adalah 76,04; 87,41 dan 63,77%. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa infusa umbi akar A. rubiginosa memiliki aktivitas analgetik yang kuat. Kata kunci: Ampelocissus rubiginosa Lauterb., analgetik, infusa, ekstrak etanol  ABSTRACT Tuberous root of tawas ut (Ampelocissus rubiginosa Lauterb.) empirically used to reduce pain. People use it by drinking boiled water of A. rubiginosa coarse powder. This study aims to determine the comparison of analgesic activity of infusion and ethanol extract of A. rubiginosa tuberous root. Analgesic test was performed using a stretching method (Writhing test) with paracetamol as comparison. Thirty mice were divided into 6 groups of 5 individuals per group. Group I was positive control (paracetamol 65.25 mg / kgBW), negative control group II (Na-CMC), group III A. rubiginosa infusion 25 ml / kgBW, and group IV ethanol extract A. rubiginosa 500 mg / kgBW. After being treated orally according to the group, 30 minutes later induced with acetate acid intraperitoneally. The amount of stretching was calculated every 5 minutes after giving 1% acetic acid solution for 1 hour. The results showed percent protection of paracetamol 65.25 mg / kgBB, A. rubiginosa infusion 65.25 mg / kgBB and ethanol extract A. rubiginosa 500 mg / kgBB was 76.04; 87.41 and 63.77% respectively. From the research it can be concluded that A. rubiginosa root tuber infusion has a strong analgesic activity. Keyword: Ampelocissus rubiginosa Lauterb., analgetic, infusa, ethanol extract
Penambatan Molekul Kandungan Eurycoma longifolia Jack. (Pasak bumi) terhadap Human Phosphodiesterase 5 Samsul Hadi; Khoerul Anwar; Amalia Khairunnisa; Noer Komari
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8731

Abstract

Pasak bumi sebagai obat tradisional pria telah digunakan oleh masyarakat melayu, khususnya orang Sumatra dan kalimantan, akan tetapi mekanisme secara molekuler belum dikatahui dengan jelas. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui mekanisme pasak bumi sebagai obat tradisional yang bermanfaat mengatasi disfungsi ereksi adalah penambatan molekul. Penambatan melekul dilakukan dengan cara melihat interaksi ligand dengan reseptor. Ligand yang berasal dari pasak bumi adalah 5-methoxycanthin-6-one, 9-methoxycanthin-6-one, eurycomalactone, eurycomalide A, eurycomanone, eurycomaoside, laurycolactone A, longilactone, niloticin, picrasidine O. Sehingga kesepuluh ligand ini didocking menggunakan salah satu aplikasi docking yaitu PLANTS 1.1 untuk melihat ikatan dengan PDE5. Sebelum dilakukan docking terhadap ligand pasak bumi, terlebih dahulu dilakukan docking terhadap ligand Sildenafil untuk melhat nilai RMSD. RMSD ini diperlukan sebagai alat validasi metode, berdasarkan percobaan, nilai RMSD dari Sildenafil adalah 1,2517 A0. Hasil terbaik dari penambatan molekul pasak bumi adalah niloticin dengan skor doking -97,8802, sehingga nilai interaksinya terhadap reseptor sebesar 93,71% dari Sildenafil.Pasak bumi as traditional male medicine has been used by Malay people, especially Sumatra and Borneo people, but the molecular mechanism is not yet known clearly. One approach that can be used to determine the mechanism of the Pasak Bumi as a traditional medicine that is useful to overcome erectile dysfunction is docking molecules. Molecular docking is done by looking at the interaction of ligands with receptors. Ligands originating from the Pasak Bumi are 5-methoxycanthin-6-one, 9-methoxycanthin-6-one, eurycomalactone, eurycomalide A, eurycomanone, eurycomaoside, laurycolactone A, longilactone, niloticin, picrasidine O. docking application namely PLANTS 1.1 to see the bond with PDE5. Before docking Pasak Bumi ligand, it is first docking Sildenafil ligand to see the RMSD value. The RMSD is needed as a method validation method, based on experiments, the RMSD value of Sildenafil is 1.2517 A0. The best results from docking of the Pasak bumi molecule is niloticin with a doctor score of -97.8802, so interaction skor to the receptor is 93.71% of Sildenafil.Keywords: Pasak Bumi, PDE5, PLANTS
Perbandingan Efek Ekstrak Etanol, Fraksi N-Butanol, dan Fraksi Petroleum Eter Daun Kembang Bulan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Mencit Jantan Yang Diinduksi Aloksan Khoerul Anwar; Ria Eka Putri Hariadi; Nadia Kamalia; Heri Budi Santoso; Ade Putri Leluni Ngindra
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i2.5742

Abstract

Secara empiris daun kembang bulan digunakan oleh masyarakat daerah Loksado, Kalimantan Selatan untuk pengobatan diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas ekstrak etanol, fraksi n-butanol, dan fraksi petroleum eter daun kembang bulan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada mencit jantan diabetes dengan penginduksi aloksan. Serbuk kering daun kembang bulan diekstraksi menggunakan etanol dengan metode maserasi, kemudian ekstrak etanol difraksinasi menggunakan n-butanol dan petroleum eter. Ekstrak etanol, fraksi n-butanol dan fraksi petroleum eter yang didapat diuapkan sampai menjadi ekstrak kering dan akan digunakan sebagai sampel uji. Dua puluh lima ekor mencit diinduksi dengan aloksan dosis 150 mg/kgBB secara intraperitonial pada hari ke-2 dan ke-4. Mencit hiperglikemik dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu K1, K2, K3, K4, dan K5. Sampel uji diberikan selama 7 hari berturut-turut setelah induksi aloksan pada hari ke-4. Kelompok K1 sebagai kontrol negatif diberi Na-CMC 0,5%. Kelompok K2 kontrol positif diberi glibenklamid 0,6525 mg/kgBB. Kelompok K3, K4, dan K5 berturut-turut diberikan ekstrak etanol, fraksi n-butanol dan fraksi petroleum eter daun kembang bulan dengan dosis 100 mg/kgBB. Kadar glukosa darah puasa diukur dengan menggunakan GlucoDr® sebelum hewan uji diinduksi aloksan (hari ke-0), hari ke-2, 4, 8, dan 11. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol, fraksi n-butanol dan fraksi petroleum eter daun kembang bulan mampu menurunkan kadar glukosa darah yang berbeda bermakna dibandingkan kontrol negatif (p
Uji Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Herba Lampasau (Diplazium esculentum Swartz) Terhadap Mencit Jantan Yang Diinduksi Karagenin-Λ Muhammad Zaini; Agung Biworo; Khoerul Anwar
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i2.5747

Abstract

Herba lampasau secara empiris digunakan oleh masyarakat Kalimantan Tengah sebagai obat antiinflamasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efek antiinflamasi ekstrak etanol herba lampasau yang diujikan dan mengetahui dosis yang dapat menunjukkan potensi sebagai antiinflamasi. Penelitian ini dilakukan dengan 25 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor mencit jantan. Kelompok I diberikan suspensi Voltaren® (natrium diklofenak) 6,525 mg/kgBB sebagai kontrol positif. Kelompok II diberikan suspensi CMC-Na 0,5 % dosis 25 mL/kgBB sebagai kontrol negatif. Kelompok III, IV, dan V diberikan ekstrak etanol herba lampasau dosis 125, 250, dan 500 mg/kgBB. Perlakuan terhadap mencit diberikan secara peroral, kemudian setelah 1 jam diberikan perlakuan penyuntikan kaki kiri mencit secara subplantar dengan karagenin-λ 1 % (b/v) sebanyak 0,1 mL. Data yang dievaluasi berupa perubahan volume udem kaki mencit yang kemudian dihitung persen radang (% R) dan persen inhibisi radang (% IR) selama 360 menit pengamatan. Hasil statistik dengan tingkat kepercayaan 95 % menunjukkan persen radang (% R) tiap kelompok perlakuan tidak homogen dan tidak normal (p
Karakteristik Fisika Sediaan Suspensi Ekstrak Etanol Daun Gaharu (Aquilaria microcarpa Baill.) dengan Variasi Carboxymethyl Cellulose Sodium (CMC-Na) Mia Fitriana; Wawan Halwany; Khoerul Anwar; Liling Triyasmono; Beny Rahmanto; Susy Andriani; Nur Ainah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8087

Abstract

ABSTRAK Gaharu (Aquilaria microcarpa Baill.) merupakan salah satu hasil hutan yang memiliki aktivitas antioksidan. Ekstrak etanol daun A. microcarpa terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong sangat aktif. Ekstrak etanol daun A. microcarpa kemudian dibuat menjadi sediaan suspensi dengan variasi CMC-Na sebagai agen pengsuspensi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi CMC-Na terhadap karakteristik fisik suspensi ekstrak etanol daun A.microcarpa. Suspensi dibuat dengan variasi CMC-Na pada F1 (0,5% CMC-Na), F2 (1% CMC-Na) dan F3 (1,5% CMC-Na). Evaluasi sediaan suspensi meliputi organoleptis, uji viskositas, uji pH, uji homogenitas serta uji berat jenis suspensi. Nilai evaluasi suspensi dianalisis secara statistik dengan software SPSS 21. Hasil evaluasi fisik menunjukkan bahwa penambahan  konsentrasi CMC-Na akan meningkatkan nilai viskositas dan berat jenis sediaan. Kesimpulan dari pengujian ini adalah variasi konsentrasi CMC-Na mempengaruhi hasil viskositas, serta berat jenis suspensi (p<0,05) dan tidak mempengaruhi hasil organoleptis, homogenitas dan pH suspensi.  Kata kunci: Gaharu, suspensi, CMC-Na  ABSTRACT Gaharu (Aquilaria microcarpa Baill.) is one of the Borneo’s forest products that has antioxidant activity. Ethanol extract of A. microcarpa folium has been shown to have antioxidant activity that is classified as very active. The ethanol extract of A. microcarpa folium was then made into a suspension preparation with variations of sodium CMC as a suspending agent. This study aimed to determine the effect of sodium CMC concentration on the physical characteristics of the ethanol extract of A.microcarpa folium. Suspension was made with variations of sodium CMC in F1 (0.5% sodium CMC), F2 (1% sodium CMC) and F3 (1.5% sodium CMC). Evaluation of suspension preparations included organoleptic, viscosity test, pH test, homogeneity test and suspension specific gravity test. The suspension evaluation data were analyzed statistically with SPSS 21 Software.  The physical evaluation results showed that the addition of sodium CMC concentration would increase the viscosity and specific gravity of the preparation. The conclusion of this test was that variations in the concentration of sodium CMC affected the results of viscosity and suspension specific gravity (p <0.05) and did not affect the organoleptic yield, homogeneity and pH of the suspension. Keywords: Gaharu, suspension, 
Optimasi Suhu dan Waktu Ekstraksi Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia jack.) Menggunakan Metode RSM (response surface methodology) dengan Pelarut Etanol 70% Khoerul Anwar; Farida Istiqamah; Samsul Hadi
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9085

Abstract

Akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Indonesia sebagai aprodisiaka. Ekstraksi akar tumbuhan ini dilakukan dengan berbagai pelarut yang salah satunya menggunakan etanol 70%.  Pemilihan pelarut ini dilakukan untuk memperoleh kandungan zat berkhasiat semaksimal mungkin yang ditandai dengan rendemen yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan waktu ekstraksi optimum pada proses ekstraksi akar E. longifolia dengan pelarut etanol 70%. Metode OFAT (One Factor at The Time) digunakan pada uji pendahuluan dan metode RSM (Response Surface Methodology) digunakan pada desain eksperimen dengan bantuan software MINITAB 17. Penelitian dilakukan menggunakan 13 titik perlakuan dengan kombinasi suhu dan waktu yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik optimum rendemen ekstraksi akar E.longifolia sebesar 4,07% diperoleh pada suhu 51,8oC dan waktu 12,13 jam dengan nilai D (desirability) sebesar 0,92. Uji validasi model RSM menunjukkan keakuratan sebesar 97,76%. Model persamaan regresi yang menggambarkan pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap rendemen akar E. longifolia adalah Y = - 70,1 + 2,536X1 + 1,387X2 – 0,02389X12 – 0,0464X22 – 0,00500X1X2. Kata Kunci: Eurycoma longifolia Jack., Suhu dan Waktu Ekstraksi, Metode RSM, Etanol 70%The root of the pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) has long been used as a traditional medicine by the Indonesian people as an aphrodisiac. Extraction of plant roots is carried out with various solvents, one of which uses ethanol 70%. The selection of this solvent was carried out to obtain the maximum possible active metabolite content which is characterized by high yield. This study aims to determine the optimum extraction temperature and time in the root extraction process of E. longifolia with 70% ethanol as solvent. The OFAT (One Factor at The Time) method was used in the preliminary test and the RSM (Response Surface Methodology) method was used in the experimental design with the help of MINITAB 17 software. The study was conducted using 13 treatment points with different combinations of temperature and time. The results showed that the optimum yield point of E. longifolia root extraction was 4.07% at a temperature of 51.8°C and extraction time of 12.13 hours with D (desirability) value of 0.92. The validation test of the RSM model shows an accuracy of 97.76%. The regression equation model that describes the effect of temperature and extraction time on the root yield of E. longifolia is Y = - 70.1 + 2.536X1 + 1.387X2 – 0.02389X12 – 0.0464X22 – 0.00500X1X2.
Kandungan Total Fenolik, Total Flavonoid, dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Khoerul Anwar; Liling Triyasmono
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i1.5838

Abstract

ABSTRAK  Buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) merupakan salah satu tanaman mempunyai khasiat meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah, menurunkan glukosa darah, dan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan total fenolik, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah mengkudu. Serbuk kering buah mengkudu dimaserasi menggunakan etanol 70%.  Analisis kualitatif fenolik dan flavonoid dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Penetapan kadar total fenolik menggunakan pereaksi Folin-ciocalteau dengan pembanding pirogalol. Kadar total flavonoid ditetapkan dengan pembanding rutin menggunakan pereaksi FeCl3. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan uji penangkapan radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Hasil analisis kualitatif menunjukkan adanya kandungan senyawa fenolik dan flavonoid. Kadar total fenolik pada ekstrak etanol buah mengkudu sebesar 14,44+0,82 mg ekivalen  pirogalol  (PE)/g  ekstrak, sedangkan kadar total flavonoid sebesar 5,69+0,21  mg ekivalen rutin (RE)/g ekstrak. Hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan IC50 ekstrak etanol buah mengkudu sebesar 104,73+4,56  µg/mL. Kata kunci: Morinda citrifolia, total fenolik, total flavonoid, antioksidan  ABSTRACT Noni (Morinda citrifolia L.) is one of the plants have properties to increase endurance, lower blood pressure, lowering blood glucose, and as an antibacterial. The aim of this study is to determine the total phenolic content, total flavonoids and antioxidant activity of ethanol extract of noni. Dry powder of noni fruit macerated using 70% ethanol. Qualitative analysis of total phenolic and total flavonoid was done by thin layer chromatography (TLC). Total phenolic assay used Folin-ciocalteau reagent by pyrogallol as comparison. Levels of total flavonoids determined by comparison to the rutin use of FeCl3 reagent. The antioxidant activity was determined by 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). The results of the qualitative analysis showed that it contains phenolic compounds and flavonoids. Total phenolic content of the ethanol extract of noni at 14.44+0.82 mg pyrogallol equivalent (PE) / g extract, while the total flavonoid content of 5.69+0.21 mg equivalent routine (RE) / g extract. The test results of antioxidant activity with DPPH method showed IC50 ethanol extract of noni of 104.73+4.56 µg / mL.Key words: Morinda citrifolia, total phenolic, total flavonoids, antioxidant