Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

ELEKTABILITAS CALON PRESIDEN: REALITAS ATAU PENGGIRINGAN OPINI? ELEKTABILITAS CALON PRESIDEN: REALITAS ATAU PENGGIRINGAN OPINI? Setiaman, Agus; Girsang, Sarah Amarissa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i2.148

Abstract

Presiden adalah seseorang yang terpilih untuk memimpin sebuah negara. Di Indonesia, seorang pemimpin negara disebut presiden karena menganut sistem pemerintahan yang demokrasi. Pemilihan calon presiden disebut dengan Pemilu (Pemilihan Umum) dan diadakan setiap lima tahun sekali. Pemilu bertujuan untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat yang akan mewakili kepentingan masyarakat dalam mengambil keputusan politik dan mengelola pemerintahan. Pemilu adalah salah satu prinsip dasar demokrasi, di mana kekuasaan politik diberikan kepada rakyat melalui hak pilih mereka. Dalam sebuah pemilu, warga negara yang memenuhi syarat memiliki hak untuk memilih calon yang mereka anggap paling layak untuk menjabat. Pentingnya elektabilitas calon presiden di Indonesia dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, elektabilitas mencerminkan kepercayaan dan dukungan publik terhadap seorang calon. Calon presiden yang memiliki elektabilitas tinggi menunjukkan bahwa mereka berhasil membangun citra yang kuat dan meraih kepercayaan dari sebagian besar pemilih. Kedua, elektabilitas juga memiliki implikasi langsung terhadap strategi kampanye dan pemilihan. Calon dengan elektabilitas tinggi cenderung memiliki lebih banyak sumber daya dan dukungan politik untuk mengorganisir kampanye yang efektif. Namun, pentingnya elektabilitas juga menimbulkan tantangan dan perhatian. Proses pengukuran elektabilitas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti metode survei, bias media, dan persepsi publik yang terkadang dapat mempengaruhi hasilnya. Oleh karena itu, penting bagi pemilih dan masyarakat untuk secara kritis menganalisis informasi elektabilitas calon presiden yang disampaikan dan mengambil keputusan yang berdasarkan pemahaman yang baik. Meskipun hasil elektabilitas dapat mempengaruhi pemilihan, pemilih harus berhati-hati agar tidak hanya mengandalkan elektabilitas tanpa memahami visi dan program calon. Masyarakat perlu berhati-hati terhadap agenda politik yang dapat memanipulasi opini. Disarankan agar melakukan riset mandiri, memperoleh informasi yang lebih rinci, dan mengembangkan literasi politik untuk membuat keputusan yang berdasarkan pemikiran yang matang.
MEWUJUDKAN CITARUM HARUM MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR BANTARAN SUNGAI: MEWUJUDKAN CITARUM HARUM MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR BANTARAN SUNGAI Setiaman, Agus
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.174

Abstract

Pola pembangunan yang berorientasi pada masyarakat maka titik tekan ada pada pemberdayaan dimana pengalaman nyata masyarakat dalam melakasanakan pembangunan merupakan modal pembangunan itu sendiri. Dengan daya inisiatif, dan daya kreasi serta daya imajinasinya warga masyarakat menempatkan diri sebagai sumber daya pembangunan, pembangunan materi bukan pusat dari semua pembangunan yang dilaksanakan akan tetapi pembangunan spiritual juga menjadi pusat perhatian dalam membangun masyarakat, dengan demikian pembangunan menghendaki keseimbangan antara pembangunan material dan pembangunan spiritual.Kekuatan-kekuatan potensial yang dimiliki individu dan organisasi atau kelompok-kelompok sosial yang hidup dalam masyarakat diharapkan dapat mendukung penyebaran kegiatan pembangunan yang dilakukan, antara lain dalam penyebaran difusi dan inovasi. Hal yang harus diperhatikan dalam hal ini pencapain tujuan pembangunan tidak akan berhasil secara optimal manakala suatu sistem pembangunan tidak di dukung oleh partispasi masyarakat sebagai subjek pembangunan itu sendiri.Komunikasi pemberdayaan merupakan proses komunikasi yang tujuannya adalah terjadinya tumbuh kembang motivasi dan kesempatan warga masyarakat memiliki saluran komunikasi sehingga warga masyarakat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kajian komunikasi pemberdayaan masyarakat berfokus pada komunikasi pembangunan yang mendorong dan memotivasi kegiatan pembangunan dengan pelibatan warga masyarakat sebanyak-banyaknya. Dengan demikian seluruh proses komunikasi dalam konteks pemberdayaan masyarakat memfokuskan pada komunikasi yang bersifat dialogis, interaktif dan bersifat dua arah. Dalam pemberdayaan masyarakat, berbagai kegiatan atau proyek pembangunan lebih menempatkan masyarakat sebagai subyek yang memiliki berbagai sisi kemanusiaannya, baik berupa keinginan, cita-cita, daya, nilai-nilai, budaya dan peradaban, dan sebagainya.
MASYARAKAT MEDIA DAN MEDIA MASYARAKAT: MASYARAKAT MEDIA DAN MEDIA MASYARAKAT Setiaman, Agus; Mulyana, Slamet
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i1.217

Abstract

Media massa media baru/media sosial adalah produsen pesan dimana khalayak mengkonsumsi pesan yang disampaikan media massa juga media baru, tentu saja tidak semua pesan yang diproduksi media layak dan baik untuk dikonsumsi dan karena itu, maka upaya menyikapi pengaruh buruk dan hegemoni media, saat ini berkembang pemikiran tentang media literasi. Kemampuan melek media diharapkan dapat mengendalikan kepentingan dan pengaruh media massa dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat serta membantu kita merancang tindakan dalam menangani pengaruh tersebut. Seorang pengguna media yang mempunyai literasi media akan berupaya memberi reaksi dan menil ai sesuatu pesan media dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Kajian literasi media menyediakan pengetahuan, informasi dan statistik tentang media dan budaya, serta memberi pengguna media dengan satu set peralatan untuk berpikir dengan kritis terhadap idea, produk atau citra yang disampaikan dan dijual oleh media massa sehingga khalayak memiliki posisi tawar mana yang layak dan tidak untuk dikonsumsi.
PERSPEKTIF MEDIA SOSIAL TENTANG KEBAHAGIAAN: PERSPEKTIF MEDIA SOSIAL TENTANG KEBAHAGIAAN Setiaman, Agus; Zasa, Nabila Putri; Karimah, Kismiyati El
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.231

Abstract

Pada era sekarang adalah era dimana teknologi canggih sudah bisa didapatkan dalam genggaman dan berbagai informasi dapat diakses dalam satu waktu dari berbagai macam sumber. Informasi apapun dengan mudah bisa diakases juga dalam satu waktu, Kesedihan, kegembiraan, kelucuan, ketololan juga bisa dengan cepat ditemukan dalam kurun waktu yang sangat cepat. Apa yang ditampilkan di sosial media bisa berubah-ubah dari satu peristiwa ke peristiwa dari kesedihan ke kegembiraan, dari kesenangan menjadi kegetiran bahkan dari kengeriaan menjadi kelucuaan yang luar biasa. Perubahan-perubahan yang cepat dan mendadak itu merupakanbagian gaya hidup zaman sekarang. Media sosial sudah menjadi gaya hidup untuk menunjukan eksistensinya di dunia maya. Apa yang ditampilkan di media sosial, entah itu kegembiraan, kesedihan, kesenangan, merupakan ekspresi yang bersifat semu, yang mungkin ditampilkan dalam waktu sesaat, yang bersifat instan dan hanya ekspresi yang mungkin hanya semu.
PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DALAM KAMPANYE CITARUM HARUM: SEBUAH STRATEGI: PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DALAM KAMPANYE CITARUM HARUM: SEBUAH STRATEGI Khalda, Fairuz Gatra; Setiaman, Agus
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.196

Abstract

Media sosial juga merupakan salah satu sarana yang dipakai untuk melakukan kampanye di era digitalisasi ini dikarenakan luas untuk melakukan penyebaran informasi dan juga cepat untuk melakukan promosi mengenai kampanye itu sendiri menjadi lebih efektif. Citarum Harum merupakan program kampanye yang disusun berdasarkan perintah dari Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 mengenai Percepatan pada Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (PPK DAS) Citarum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tahapan strategi kampanye tersebut mulai dari mengidentifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan Model Kampanye Ostergaard sebagai konsep dasar. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan media sosial dapat memberikan dampak positif pada aspek penyadaran di kalangan anak muda terhadap pentingnya kebersihan bantaran sungai di sekitara kawasan sungai Citarum
ANOMI: KRISIS MASYARAKAT DAMPAK SEBUAH PERUBAHAN SOSIAL: ANOMI: KRISIS MASYARAKAT DAMPAK SEBUAH PERUBAHAN SOSIAL Setiaman, Agus; El Karimah, Kismiyati
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.250

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara yang pernah mengalami krisis ekonomi yang kemudian berlanjut menjadi krisis kepercayaan, krisis kepemimpinan hingga krisis kebudayaan yang pada akhirnya semua krisi itu menjadi krisis multi demensional. Dan semua itu sebetulnya bermuara pada perubahan setiap masyarakat kapan pun dan dimana pun akan mengalami perubahan baik dalam skala besar maupun kecil. Secara sosiologis perubahan yang terjadi akan berdampak pada masyarakat, ada sebagian masyarakat yang kurang atau tidak bisa mengikuti perubahan yang sedang terjadi. Masyarakat dibuat bingung dengan perubahan yang berlangsung sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan, masyarakat tidak tahu bagaimana mengantisipasi dampak perubahan, jangankan menikmati hasil perubahan, atau mengisi pada perubahan yang sedang berlangsung. Konsep situasi dan kondisi masyarakat yang sedang mengalami perubahan dalam sosiologi disebut Anomi dimana masyarakat berada dalam kebimbangan dan ketidaktahuan mesti apa yang dilakukan. Masyarakat menyaksikan bagaimana norma, aturan yang ada seolah tidak lagi di hiraukan, norma dan aturan tidak lagi bisa dijadikan sebagai panduan dan pedoman dalam bertindak dan berprilaku.
STRATEGI MEDIA SOSIAL KANG DEDI MULYADI (KDM): CITRA DAN RESPON MASYARAKAT JAWA BARAT Setiaman, Agus; Ananda, Naufal Rifqi
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.378

Abstract

The content displayed by Dedi Mulyadi through his social media channels is not only formal or just an elitist image. However, he also shows real action and deep social empathy. Furthermore, his political communication style shows his direction towards establishing a pro-people leadership image. This is reflected in Dedi Mulyadi's political actions, which do not limit himself to the official table or political ceremonies alone, but also act directly in the field, greeting the people with his appearance and simple language. Through this narrative, he succeeded in creating the image of a leader who is not only good at talking but also has real actions. The phenomenon of the presence of the figure of Dedi Mulyadi is interesting because his appearance comes amidst a widespread crisis of public trust in politicians who tend to distance themselves from the people. At a time when many politicians focus on image through campaign advertisements that are stiff and do not touch people's emotional side, such as through campaign boards or posters with images of faces that are bigger than their words. Dedi Mulyadi is actually present by utilizing direct communication and building emotional relationships either through face-to-face or published digital content. Through this communication style, it strengthens the perception that he is a leader who is worthy of being trusted and used as a role model, especially in a society that desires leaders who are honest, caring, and not distant.