Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PERANCANGAN DAN APLIKASI ALAT PIROLISIS UNTUK PEMBUATAN ASAP CAIR Nuryati Nuryati; Jaka Darma Jaya; Meldayanoor Meldayanoor
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.377 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v2i1.20

Abstract

Petani karet di Kabupaten Tanah Laut pada umumnya untuk proses penggumpalan (koagulasi) lateks masih banyak menggunakan bahan yang tidak dianjurkan seperti tawas, pupuk TSP, dan lain-lain. Mengingat sifatnya yang berbahaya, maka perlu dicari bahan pengganti yang aman bagi lingkungan. Salah satu bahan penggumpal lateks yang aman dan murah salah satunya adalah asap cair. Untuk memproduksi asap cair yang efektif dan efisien diperlukan suatu alat yang disebut reaktor pirolisis. Pirolisis merupakan proses pemanasan suatu zat tanpa adanya oksigen sehingga terjadi penguraian komponen-komponen penyusun kayu keras. Istilah lain dari pirolisis adalah penguraian yang tidak teratur dari bahan-bahan yang disebabkan oleh adanya pemanasan tanpa berhubungan dengan udara luar. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendesain alat pirolisis pembuatan asap cair berbahan baku tempurung kelapa yang akan diaplikasikan sebagai pengental lateks. Alat ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu ruang pirolisis, pendingin asap cair, dan ruang control panel. Asap cair dibuat dengan memvariasikan temperatur pirolisis yaitu 150oC, 175oC dan 200oC dengan lama waktu pirolisis 1 jam dan 2 jam, kemudian asap cair yang dihasilkan dianalisis rendemen dan pH. Aplikasi asap cair yang dihasilkan digunakan untuk koagulan lateks. Analisis terhadap karet yang dihasilkan dilakukan dengan menghitung kadar karet kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu beku lateks paling cepat dan rendemen tertinggi ditunjukkan oleh asap cair yang dibuat pada kondisi temperatur 175oC dan waktu pirolisis 2 jam dengan rendemen 27,34%. Kadar karet kering tertinggi juga terjadi pada penggunaan asap cair kondisi temperature 175oC dan waktu pirolisis 2 jam sebagai koagulan dengan KKK sebesar 41,24%.
PROSES PEMBUATAN TEH HERBAL DAUN SUKUN DENGAN OPTIMASI PROSES PENGERINGAN DAN PENAMBAHAN BUBUK KAYU MANIS DAN CENGKEH Muhammad Zainuddinnur; Meldayanoor Meldayanoor; Nuryati Nuryati
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.136 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v3i1.11

Abstract

Teh herbal adalah sebutan untuk ramuan bunga, daun, biji, akar, atau buah kering yang biasanya digunakan sebagai minuman yang berhasiat obat. Salah satu jenis tanaman yang daunnya dapat dimanfaatkan dalam pembuatan teh herbal adalah sukun, hal ini tentunya dapat menjadi sebuah peluang dalam pembuatan sebuah produk yang dapat menunjang kesehatan. Tujuan dari optimasi ini adalah untuk mendapatkan produk teh daun sukun terbaik. Rancangan produk teh herbal daun sukun ini menggunakan 3 tahap, yaitu optimasi proses pengeringan, pengujian kualitas teh daun sukun terbaik yang dihasilkan dan tingkat penerimaan masyarakat terhadap optimasi penambahan bubuk kayu manis dan cengkeh dengan menggunakan parameter uji kualitatif senyawa fenol dan tannin, uji kadar air, uji kadar abu, dan uji organoleptik. Analisis data yang digunakan adalah uji F (ANOVA) yang dilanjjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test). Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa produk terbaik terdapat pada daun tua dengan pengeringan oven dan komposisi daun sukun 87%, bubuk kayu manis 8,7 %, dan bubuk cengkeh 4,3 %.Kata Kunci: teh, teh herbal, daun sukun
Analisis Mutu Minyak Pangan dari Biji Karet (Havea brasiliensis) dengan Mengadopsi Metode Pembuatan Minyak Kelapa Tradisional Mufrida Zein; Nuryati Nuryati; Adzani Ghani Ilmannafian; Ema Lestari
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 8 No 1 (2021): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v8i1.137

Abstract

Karet (Havea brasiliensis) merupakan salah satu komuditas perkebunan yang banyak sekali di Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan. Sebagian besar masyarakat petani tanaman karet, hanya memanfaatkan getah karet sebagai sumber penghasilan mereka, padahal masih ada selain getah karet yang dapat dimanfaatkan yaitu biji karet yang mengandung minyak sekitar 40%-50% minyak nabati. Tingginya kandungan minyak pada biji karet tersebut dapat dimanfaatkan menjadi minyak goreng. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguraikan proses pengolahan minyak dari biji karet sampai menjadi minyak goreng dan menganalisis kualitas minyak goreng dari biji karet. Metode penelitian ini yaitu pengolahan minyak biji karet dengan mengadopsi metode pembuatan minyak kelapa tradisional dan melakukan analisa pengecekan minyak yang meliputi rendemen minyak, kadar air dan bilangan asam. Hasil minyak yang paling banyak rendemennya yaitu pada minyak biji karet dengan perendaman selama 2 hari yaitu sebesar 8,15%. kadar air terbaik yang sesuai standar SNI pada perendaman satu hari sebesar 0,12%, sedangkan nilai bilangan asam pada semua perlakuan belum memenuhi SNI.
OPTIMASI PEMBUATAN KURTO (KURMA TOMAT) Muhammad Rustam Effendi; Nuryati Nuryati; Jaka Darma Jaya
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.136 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v3i1.7

Abstract

Tomat (Solanum lycopersicum) merupakan salah satu sayuran yang sangat terkenal di Indonesia. Namun pemanfaatannya hanya sebatas sebagai lalapan dan bahan tambahan dalam masakan. Tomat juga bisa untuk diolah berbagai macam produk olahan misalnya, manisan, selai,sirup, saos, dll. Tujuan penelitian ini untuk optimasi pembuatan kurto (kurma tomat) dan untuk mendapatkan kurto terbaik dengan analisis kadar air dan vitamin C. Optimasi pembuatan kurto menggunakan gula pasir dan gula merah. Parameter pengujian kurto meliputi kadar air, vitamin C, dan uji organoleptik. Uji organoleptik meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur. Analisis data yang digunakan uji Anova (uji F) yang dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test). Hasil yang diperoleh menunjukkan perlakuan terbaik adalah optimasi penambahan gula pasir dan gula merah adalah penambahan gula merah 30 g + 5 g gula pasir.Kata Kunci : Tomat, Manisan, Kurto
Pengaruh Penambahan Serbuk Daun Pegagan terhadap Karakteristik Sabun Padat Nuryati Nuryati; Ema Lestari
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 8 No 2 (2021): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v8i2.139

Abstract

Pegagan merupakan tanaman liar yang memiliki banyak manfaat yang baik bagi kesehatan. Salah satu manfaat pegagan yaitu dapat digunakan sebagai bahan dalam pembuatan sabun, karena pegagan memiliki kandungan saponin yang mempunyai kemampuan untuk membersihkan. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi sabun dengan penambahan ekstrak pegagan. Metode yang telah digunakan dalam pembuatan sabun ini yaitu eksperimental dengan perbedaan formulasi penambahan ekstrak pegagan. Karakterisasi sabun padat ekstrak pegagan menghasilkan nilai kadar air 3,82% - 4,47%, pH 9,03 – 9,38, asam lemak bebas 2,18% - 4,51% dan stabilitas busa 93,2% - 95,8%. Tingkat penerimaan panelis terhadap sabun padat dengan penambahan ekstrak pegagan berdasarkan uji kesukaan yang dilakukan yaitu panelis lebih suka sabun dengan dengan penamabahan ekstrak pegagan 0,2 gram dari segi warna sedang gram dari segi aroma dan tekstur panelis lebih suka penambahan ekstrak pegagan 0,3 gram.
PEMANFAATAN TEMULAWAK, JAHE MERAH, KUNYIT PUTIH, KAPULAGA, BUNGA LAWANG, DAUN SALAM SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PEMBUATAN JAMU Muhammad Supandi; Nuryati Nuryati; Rizki Amalia
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.228 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v3i2.3

Abstract

Jamu merupakan ramuan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan tanpa penambahan zat kimia. Jamu temulawak yang dipadukan dengan rempah-rempah di Kabupaten Tanah Laut masih belum banyak yang memproduksi, sehingga pembuatan jamu temulawak sebagai salah satu produk olahan temulawak memiliki potensi yang bagus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui proses pembuatan jamu temulawak dengan penambahan rempah-rempah dan menentukan formulasinya, sehingga dapat meningkatkan nilai jual temulawak dan rempah-rempah (jahe merah, kunyit putih, kapulaga, bunga lawang dan daun salam) yang ada di pasaran. Pembuatan jamu temulawak dilakukan dengan memvariasikan perbandingan temulawak, rempah-rempah dan gula. Proses pembuatan jamu yang terdiri dari tiga tahap yaitu penghalusan, pencampuran dan penyangraian. Hasil uji organoleptik terhadap rasa, aroma dan warna, menunjukkan perlakuan terbaik adalah T15 dengan komposisi 100 g temulawak: 500 g gula. Berdasarkan hasil pengujian kadar air jamu temulawak terbaik adalah T17 dengan kadar air 1,21% dan berdasarkan pengujian kurkumin yang terbaik T16 dan T29 dengan kadar kurkumin 0.996 .10-3% dan T29 0,372%, nilai ini standar SNI 01-4320-2001. Sehingga jumlah kurkumin yang aman dikonsumsi oleh manusia adalah 100 mg/hari sedangkan untuk tikus 5 g/hari.Kata Kunci: Jamu, Temulawak, Kurkumin, Kadar Air
OPTIMASI PROSES PIROLISIS ASAP CAIR DARI TEMPURUNG KELAPA DAN APLIKASINYA SEBAGAI KOAGULAN LATEKS Jaka Darma Jaya; Nuryati Nuryati; Badri Badri
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.472 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v2i1.22

Abstract

Salah satu pemanfaatan tempurung kelapa supaya bernilai ekonomis yang tinggi adalah dibuat asap cair dengan proses pirolisis. Asap cair merupakan suatu campuran larutan dan dispersi koloid dari uap asap kayu dalam air yang diperoleh dari hasil pirolisa kayu atau dibuat dari campuran senyawa murni. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi proses pirolisis asap cair dan mengaplikasikannya sebagai koagulan lateks. Optimasi proses pirolisis dilakukan dengan melakukan variasi suhu dan waktu pirolisis sebagai berikut: perlakuan A (suhu 150°C waktu 1 jam), perlakuan B (suhu 150°C waktu 2 jam), perlakuan C (suhu 175°C waktu 1 jam), perlakuan D (suhu 175°C waktu 2 jam), perlakuan E (suhu 200°C waktu 1 jam) dan perlakuan F (suhu 200°C waktu 2 jam). Berdasarkan hasil pirolisis ini diketahui bahwa perlakuan dengan suhu 175oC dan waktu 2 jam menghasilkan rendemen tertinggi (27,34%) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada tahapan aplikasi asap cair sebagai koagulan latek diperoleh data kadar karet kering dengan menggunakan koagulan asap cair tempurung kelapa memberikan hasil yang bervariasi antara 39,69-41,24%. Asap cair yang diperoleh dari perlakuan suhu 175°C waktu 2 jam menunjukkan kadar karet kering tertinggi sebesar 41,24% dan asap cair yang diperoleh dari perlakuan suhu 150°C waktu 2 jam menunjukkan kadar karet kering terendah sebesar 39,69%. Kinerja koagulasi lateks oleh asap cair dari tempurung kelapa masih berada sedikit dibawah asap cair dari cangkang kelapa sawit dan asam formiat, asap cair dari tempurung kelapa. Akan tetapi data penelitian menunjukkan bahwa asap cair tempurung kelapa berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai koagulan latek yang ramah lingkungan dan ekonomis, mengingat ketersediaannya yang melimpah di wilayah Kalimantan Selatan.
Pembuatan Plastik Biodegradable Dari Pati Biji Nangka Nuryati Nuryati; Jaka Darma Jaya; Norhekmah Norhekmah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.194 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v6i1.83

Abstract

Jackfruit seeds have not been widely used or thrown away as a waste. The content of jackfruit seeds in 100 gr contains 36,7 gr of carbohydrates, 4,2 gr of protein, 165 kcal of energy, so that it is used as food. Jackfruit seed starch isvery cheap even can bemade by itself simple. Relatively high starch contant of about 40-50%. The purpose of this research is to make biodegradable plastic from jackfruit seed starch with variation of glycerol addition, to know the result of biodegradable plastic from jackfruit seed starch. Method used in the study : making biodegradable plastic from jackfruit seed starch with variation of glycerol 2 ml, 3 ml dan 4ml. research was conducted by conducting water resistance test , melting poin test and biodegradable test. Results obtained from the research of making a better biodegradable plastic glycerol 2 ml because it can be seen plastik sheets of all smooth, thinner, clearer and transparent surfaces, no bubbles compared to other glycerol variations seen brownish. Water resistance test with the addition of 2 ml glycerol with the highest water endurance 91,67% with water absorption test using hot plate because the sample heating cannot melt perfectly and that can be observed only shrinkage. A biodegradable test 4 ml glycerol addition resulted a reduced percentage of residual weight of plastic increased by 78,57%.
PEMANFAATAN BUAH LIMPASU (Baccaurea lanceolata) SEBAGAI PENGENTAL LATEKS ALAMI Leonard Julian Purnomo; Nuryati Nuryati; Fatimah Fatimah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 1 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.619 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v1i1.27

Abstract

Buah limpasu merupakan buah hutan khas Kalimantan yang belum banyak dimanfaatkan. Di wilayah Kalimantan buah limpasu memiliki beberapa nama, antara lain ampusu, asam pauh, buah lepasu, buah lipau, empawang, kalampesu, lampaung, lapahung, laptu, lipasu, tamasu, tampoi. Buah ini memiliki rasa masam, buahnya cukup banyak dan tidak mengenal musim. Sehingga memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif untuk koagulan lateks. Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan ekstraksi dari buah limpasu, hasil ekstraknya dikarakterisasi kandungan asam sitrat, densitas dan dihitung rendemennya. Aplikasi ekstraks limpasu digunakan untuk penggumapal lateks. Identifikasi dari pemakaian ekstrak limpasu sebagai pengental lateks meliputi lamanya waktu beku, perhitungan kadar karet kering, dan analisis kadar abu. Hasil menunjukkan bahwa dari ekstrak limpasu memiliki densitas 0,947 g/mL, kandungan asam asetat 2,79%, dan rendemen yang dihasilkan 48,77%. Pengaruh penggunaan koagulan terhadap karet yang dihasilkan meliputi waktu beku, kadar karet kering dan kadar abu. Penelitian ini menunjukkan waktu beku lateks yang dibutuhkan rata-rata 3 menit jika koagulan yang dipakai adalah ekstrak limpasu, kadar karet kering sebesar 30% dan kadar abu sebesar 0,86%.
Pembuatan Enzim Papain Kasar dari Biji, Daun dan Kulit Pepaya dan Aplikasinya untuk Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Nuryati Nuryati; Tekad Budiantoro; Aya Shofia Inayati
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 5 No 2 (2018): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.886 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v5i2.73

Abstract

Minyak kelapa murni (VCO) merupakan salah satu hasil olahan dari buah kelapa segar. Penggunaan biji, daun, dan kulit pepaya pada pembuatan VCO selain lebih murah dan mudah didapat, juga merupakan enzim golongan protease dan dapat diaplikasikan dalam pembuatan VCO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan enzim papain kasar dari biji, daun, dan kulit pepaya, mengetahui pengaruh penambahan enzim papain kasar terhadap rendemen VCO, dan kualitas VCO yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan enzim kasar berpengaruh terhadap rendemen dan kualitas VCO yang dihasilkan. Rendemen tertinggi (33,75%) diperoleh dengan penambahan enzim papain kasar dari biji papaya dengan konsentrasi 30%, Sedangkan rendemen yang terendah (21,12%) dihasilkan dengan enzim papain kasar dari daun dengan konsentrasi 20%. Parameter yang diamati adalah uji kadar air, kadar asam lemak bebas, massa jenis, dan bilangan peroksida. Kadar air VCO yang dihasilkan dari penelitian ini semua sampel belum memenuhi syarat mutu VCO, yaitu maksimal 0,5% (SNI 7381-2008). Sedangkan Hasil uji massa jenis ini yang memenuhi standar mutu SNI 7381-2008 yaitu sampel penambahan enzim papain dari biji 10%, daun 20%, biji 30%, daun 30% dan kontrol. Sedangkan sampel daun 10%, kulit 10%, biji 20%, kulit 20%, dan kulit 30% belum memenuhi standar SNI 7381-2008 yaitu sebesar 0,915-0,920 kg/m3. Hasil uji bilangan peroksida dapat diketahui bahwa semua sampel belum memenuhi standar SNI 7381-2008 sebesar ≤ 3 meq/kg.