Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Analisis Kualitas Kasgot dari Larva Black Soldier Fy (BSF) dengan Menggunakan Sampah Organik Sayur dan Buah di TPS 3R Pasar Segiri, Kota Samarinda Setiawan, Yunianto; Sarwono, Edhi; Asghaf, Achmad Taufan Fatahillah
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.3612

Abstract

Organic waste can be used as feed for cultivating Black Soldier Fly (BSF) larvae, one of which is frass. In this research, maggot breeding was carried out at Solid Waste Processing Station System Reduce, Reuse, and Recycle (TPS 3R) Segiri Market. The waste used to feed maggots was mango and apple waste, as well as Chinese cabbage and carrot vegetable waste with three variations of waste used for maggots, namely (1) a combination of 50% vegetable and 50% fruit, (2) a combination of 75% vegetable and 25% fruit, and (3) a combination of 25% vegetable and 75% fruit. This research was carried out for 18 days with 100 grams of feed per day. The results of this research are frass, which was tested on the parameters of water content, pH, C-organic, macro nutrients, C/N ratio, Fe, and Cd compared to the Republic of Indonesia Minister of Agriculture Decree Number 261 of 2019 concerning Minimum Requirements for Organic Fertilizers, Biological Fertilizers, and Improvers Soil, Solid Organic Fertilizer section. In this research, it was concluded that feed variations affect parameters due to the ingredients used. The best quality frass was the variation of 50% vegetables and 50% fruit, and met the quality standards based on the Republic of Indonesia Minister of Agriculture Decree Number 261 of 2019. The yield of frass produced by BSF larvae originating from organic waste at TPS 3R Pasar Segiri Samarinda for 18 days was equal to 44%.   Abstrak Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) salah satunya berupa kasgot. Pada penelitian ini dilakukan pengembangbiakan maggot di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS 3R) Pasar Segiri. Sampah yang digunakan untuk pakan maggot adalah sampah buah mangga dan apel, serta sampah sayur sawi putih dan wortel dengan variasi yang digunakan adalah (1) kombinasi 50% sayur dan 50% buah, (2) kombinasi 75% sayur dan 25% buah, dan (3) kombinasi 25% sayur dan 75% buah. Penelitian ini dilakukan selama 18 hari dengan pemberian pakan sebanyak 100 gram per hari. Hasil dari penelitian ini berupa kasgot yang diuji pada parameter kadar air, pH, C-organik, hara makro, rasio C/N, Fe, dan Cd dibandingkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 261 Tahun 2019 tentang Persyaratan Minimal Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah, bagian Pupuk Organik Padat. Pada penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa variasi pakan mempengaruhi parameter karena bahan yang digunakan. Kualitas kasgot yang terbaik adalah pada variasi 50% sayur dan 50% buah, dan telah memenuhi standar baku mutu berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 261 Tahun 2019. Yield kasgot yang dihasilkan oleh larva BSF yang berasal dari sampah organik di TPS 3R Pasar Segiri Samarinda selama 18 hari adalah sebesar 44%.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM REDUKSI SAMPAH ORGANIK MELALUI BUDIDAYA MAGOT DI KECAMATAN SAMARINDA ULU KOTA SAMARINDA Ibrahim, Ibrahim; Setiawan, Yunianto; Ermawati Rahayu, Dwi; Sarwono, Edhi; Mellita Yessika, Al
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 5 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i5.1923-1931

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas reduksi sampah organik melalui pembenahan sarana budidaya maggot serta pelatihan untuk mendorong partisipasi masyarakat di Kelurahan Samarinda Ulu. Sebagai data awal, sarana budidaya yang tersedia di salah satu TPS3R terdiri dari biopon sebanyak 12 unit berukuran 50 x 200 cm dan 20 unit berukuran 33 x 60 cm dengan kapasitas total reduksi 2,015 ton/bulan  yang menggunakan desain rak bersusun non-permanen. Melalui kegiatan pembenahan ini, kapasitas reduksi berhasil ditingkatkan menjadi 4,725 ton/bulan melalui penggunaan 15 unit biopon berukuran 1 x 1 meter dan desain bak permanen yang lebih efisien. Pada aspek pemberdayaan masyarakat, pelatihan budidaya maggot diikuti oleh 29 peserta yang mendapatkan pemahaman teknis tentang budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah sampah organik secara mandiri. Pelatihan ini berhasil meningkatkan animo masyarakat, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen partisipasi kolektif dari dua komunitas, yaitu Bank Sampah SIHAT RT.02 Kelurahan Jawa dan Bank Sampah BERSINAR RT.22 Kelurahan Jawa. Kedua komunitas tersebut menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan tim fasilitator kegiatan PKM untuk kolaborasi jangka panjang dalam reduksi sampah organik menggunakan budidaya maggot. Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan kapasitas reduksi sampah di TPS3R kecamatan Samarinda Ulu serta antusiasme masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah organik. Dengan adanya pendampingan dari fasilitator, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi model keberlanjutan bagi pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.
Kajian Daya Dukung Air Berdasarkan Supply dan Demand di Kota Samarinda Wisiking Gusti, Ai Sukma; Ndan Imang; Yunianto Setiawan
Jurnal Serambi Engineering Vol. 10 No. 4 (2025): Oktober 2025
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing population growth is accompanied by a rapid pace of development, especially in urban areas that serve as centers of the economy, government, trade, and industry. The rapid population growth and economic activities in Samarinda City have led to a higher demand for water, a vital resource for humans and the environment. Samarinda City is one of the regions experiencing growth both in terms of population and economic activity. This study utilizes equations from Government Regulation No. 17 of 2009 concerning water resource management to determine water availability and demand. The research method used is a quantitative study with the collection of primary and secondary data. The results indicate that from the present until 2035, Samarinda City will still experience a water surplus, where water availability exceeds demand. However, several challenges remain, particularly related to distribution, accessibility, and the quality of clean water in some areas, due to uneven development of water distribution infrastructure.
Kesesuaian Antara Dokumen Studi Kelayakan Dan Rencana Pasca Tambang Pada Lahan Tambang PT Kitadin Embalut Rozi, Fachrul; Setiawan, Yunianto; Hamdhani, Hamdhani; Setyasih, Iya'; Ibrahim, Ibrahim; Rizal, Samsul
geoedusains: Jurnal Pendidikan Geografi Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/geoedusains.v6i1.5274

Abstract

Setiap perusahaan pertambangan diwajibkan untuk menyusun rencana pasca tambang yang terintegrasi dengan studi kelayakan untuk memastikan bahwa kegiatan pasca tambang dilakukan secara bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian Dokumen Studi Kelayakan dan Dokumen Rencana Pasca tambang terhadap pelaksanaan pasca tambang, menganalisis kendala-kendala dalam pelaksanaan pasca tambang dan merumuskan rekomendasi strategis untuk keberhasilan program pasca tambang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi sajian literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan pihak terkait. Terdapat 3 program utama dalam pasca tambang yakni Reklamasi, Reklamasi Bentuk Lain dan Program Pemberdayaan Masyarakat. Namun, hasil penelitian menunjukkan terdapat ketidaksesuaian antara dokumen studi kelayakan dan dokumen rencana pasca tambang dan ketidaksesuaian terhadap pemanfaatan kolam bekas tambang (void) yaitu pada void ex Seam 22GS (kolam cinta) yang belum memenuhi baku mutu air limbah. Rekomendasi strategis untuk meningkatkan efektivitas keberhasilan program pasca tambang yakni penyamaan persepsi dokumen, Pedoman Pengembangan Informatif dan Pengelolaan, sehingga keberhasilan program pasca tambang dapat berjalan dengan efektif sesuai dengan rencana.  
PENGGUNAAN FOTO UDARA UNTUK MONITORING LERENG TIMBUNAN IPD PIT 1 LAHAN PASCATAMBANG PT MEGAPRIMA PERSADA Sumarlin, Sumarlin; Ibrahim, Ibrahim; Setiawan, Yunianto; Oktaviani, Revia; Sabrian, Pangea Ghiyats
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 8, No 2 (2025): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtgeo.v8i2.25604

Abstract

Salah satu tantangan utama dalam pascatambang adalah pemantauan stabilitas lereng timbunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketelitian penggunaan foto udara dari Unmanned Aerial Vehicles (UAV) dalam mengidentifikasi lereng timbunan lahan pascatambang, dengan pendekatan kuantitatif berbasis parameter spasial. Dari hasil penelitian penggunan drone/UAV dalam kegiatan identfikasi lereng lahan pascatambang IPD (In pit dump) Pit 1 lahan pascatambang PT Megaprima berdasarkan ketentuan (standart) yang berlaku didapat nilai  CE90 yang dihasilkan nilai horisontal adalah 0,64 meter dan nilai LE90 ketetlitian secara vertikal adalah 2,02 meter secara ketentuan masih masuk dalam Kelas 1 pada ketelitian horizontal dan masuk kedalam kelas 3 ketetlitian secara vertikal. Dari data spasial yang dihasilkan dari pemetaan menggunakan drone atau UAV pada daerah peneltian IPD Pit 1 berdasarkan analisis ulang (back analysis) geoteknik nilai Faktor Keamanan (FK) adalah 0,77 dalam kondisi FK Dinamis pada salah titik lereng timbunan yang diteltiti, sehingga jika mengacu kepada ketentuan Kepmen ESDM nomor : 1827.K/30/MEM/2018 masuk kedalam kataegori keparahan konsekuensi tinggi. Secara lingkungan daerah peneltian masih terdapat void, kurangnya vegetasi yang menutupi, banyak terbentuk gulir erosi dan dekat dengan pemukiman Masyarakat serta daerah penelitian merupakan lereng timbunan yang terbentuk pada lubang bekas tambang seluas 70 Ha.