Wawan Kurniawan
Departemen Hama Dan Penyakit Tumbuhan - Universitas Padjadjaran

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Kompatibilitas Vegetatif Fusarium oxysporum dari Beberapa Tanaman Inang Sri Sri Hartati; Ummu Salamah Rustiani; Lindung Tri Puspasari; Wawan Kurniawan
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.943 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10875

Abstract

ABSTRACTVegetatif compatibility of Fusarium oxysporum on various hostsMany strains or race of Fusarium oxysporum can be grouped based on compatibility reproduction from a variety of different strains called Vegetative Compatibility Group (VCG). This study was aimed to determine how the grouping of several isolates of F. oxysporum and grouping of several hosts of the fungus by vegetative compatibility group. Fusarium oxysporum isolated from chickpea plants that showed symptoms of fusarium wilt. The isolates of F. oxysporum of chili and tomatoes obtained from the culture collections of Mycology Laboratory of IPB. Stages of vegetative compatibility testing assayed through recovery of nit mutants, the identification of phenotype of nit mutant, and complementation test. There are 29 mutants isolated from the isolates of F. oxysporum. Nit1 mutant was obtained from all isolates of beans, tomatoes and peppers. NitM and Nit3 mutant isolates were obtained from chickpea 4 and chili sequentially. Two VCG and one single self compatibility (SSC) were assayed from isolates of F. oxysporum based on complementation testing.Keywords: Beans, Fusarium wilt, Nit mutant, SSC, VCGABSTRAKJamur Fusarium oxysporum memiliki banyak forma spesialis dan ras. Jamur ini dapat dikelompokkan berdasarkan kompatibilitas reproduksi dari berbagai strain yang berbeda disebut dengan vegetative compatibility group (VCG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pengelompokkan F. oxysporum dan pengelompokkan jamur tersebut dari beberapa inang berdasarkan kelompok kompatibilitas vegetatifnya. Isolasi F. oxysporum dilakukan dari tanaman kacang panjang yang menunjukkan gejala layu fusarium. Isolat F. oxysporum dari cabai dan tomat berasal dari koleksi Laboratorium Mikologi IPB. Tahapan pengujian kompatibilitas vegetatif melalui pembiakan nit mutan, identifikasi fenotipe nit mutan, dan pengujian komplementasi. Isolasi mutan F. oxysporum didapatkan 29 mutan. Mutan nit1 didapatkan dari semua isolat yang diperoleh dari semua inang yang berbeda yaitu kacang panjang, tomat dan cabai. Mutan nitM hanya didapatkan dari isolat kacang panjang 4 dan mutan nit3 hanya didapatkan dari isolat cabai. Berdasarkan uji komplementasi F. oxysporum yang diuji terdiri dari dua VCG dan satu single self compatibility (SSC).Kata Kunci: Kacang panjang, Layu fusarium, Nit mutant, SSC, VCG
Penambahan Gula pada Medium Biakan untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kemampuan Antagonisme Candida tropicalis terhadap Patogen Penyebab Penyakit Layu Fusarium Tomat Sri Hartati; Timotius A. Sumbari; Ceppy Nasahi; Wawan Kurniawan
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28544

Abstract

Layu fusarium merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman tomat yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (FOL) Salah satu agens antagonis yang dapat menghambat pertumbuhan FOL adalah khamir Candida tropicalis. Pertumbuhan dan kemampuan antagonisme khamir dapat ditingkatkan dengan penambahan gula sebagai sumber nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi dan jenis gula yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan antagonisme C. tropicalis terhadap FOL. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 16 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas jenis gula yang ditambahkan pada medium tumbuh khamir yaitu glukosa, sukrosa, trehalosa, D-xylose, dan D-mannitol dengan konsentrasi masing-masing gula 1%, 2,5%, 5%, dan kontrol (PDA setengah dekstros dan PDA dekstros penuh). Hasil percobaan menunjukkan bahwa D-mannitol 1% mampu meningkatkan panjang koloni C. tropicalis tertinggi sebesar 4,80 cm, dibanding kontrol (4,07 cm). Sukrosa 2,5% mampu meningkatkan lebar koloni tertinggi sebesar 1,47 cm, dibanding kontrol (1,00 cm). Seluruh perlakuan mampu meningkatkan kerapatan sel khamir C. tropicalis.  Kerapatan sel tertinggi dihasilkan oleh trehalosa 1% sebesar 4,27 x 107, sementara pada kontrol 0,1 x 107 sel/ml. Gula trehalosa 2,5% dapat meningkatkan antagonisme khamir dengan daya hambat tertinggi sebesar 23,68%, dibandingkan dengan kontrol PDA dekstros penuh.
Pengaruh Komposisi Pakan Buatan terhadap Perkembangbiakan Menochilus sexmaculatus Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae) Sudarjat Sudarjat; Ani Rosmiyati; Toto Sunarto; Wawan Kurniawan
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28816

Abstract

Menochilus sexmaculatus merupakan salah satu predator yang memangsa berbagai jenis serangga antara lain famili Aphididae, Coccidae, Diaspidae, dan Aleyrodidae yang menyerang tanaman hias, kacang-kacangan, jagung, kopi, tebu dan tembakau. Upaya perbanyakan serangga tersebut pada pakan alami seringkali menghadapi kendala. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi pakan buatan yang paling baik untuk perkembangbiakan M. sexmaculatus sehingga dapat menunjang upaya pembiakkan massal yang lebih praktis dan efisien. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 8 perlakuan yaitu 7 perlakuan  pakan buatan dan 1 perlakuan pakan alami. Komposisi utama pakan buatan yang diuji adalah tepung hati ayam, tepung telur, tepung kedelai, tepung hati ayam dan tepung telur (1:1), tepung telur dan tepung kedelai (1:1), tepung kedelai dan tepung hati ayam (1:1), tepung hati ayam, tepung telur dan tepung kedelai (1:1:1), yang masing-masing dicampur bahan tambahan berupa ragi roti, gula pasir, madu, vitamin C dan vitamin E. Setiap perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. sexmaculatus yang diperbanyak pada pakan buatan dengan komposisi utama berupa 30 g tepung telur + 20 g bahan tambahan adalah komposisi pakan buatan yang paling baik dengan menghasilkan jumlah telur 157,25 butir, persentase penetasan telur 92,54%, jumlah larva 145 ekor, jumlah imago 133 ekor dan persentase kemunculan imago 91,67%.
Preferensi dan Waktu Aktif Harian Kunjungan Burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) terhadap Fase Pertumbuhan Padi (IR-36) di Lahan Sawah Jatinangor Ichsan Nurul Bari; Ai Siti Santriyani; Wawan Kurniawan; Reginawanti Hindersah; Tarkus Suganda; Vira Kusuma Dewi
Agrikultura Vol 32, No 1 (2021): April, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i1.31450

Abstract

Burung bondol jawa (Lonchura leucogastroides) merupakan salah satu hama pada tanaman padi ketika memasuki fase generatif. Petani seringkali menjaga sawah selama sehari penuh untuk mengendalikan hama burung. Cara tersebut kurang efektif karena banyak waktu petani yang terbuang hanya untuk mengendalikan burung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan padi yang disukai bondol jawa dan mengetahui kelimpahan kunjungan tertinggi burung bondol jawa di sawah. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga bulan Mei 2020 bertempat di lahan sawah milik petani di Desa Cileles, Jatinangor dan Laboratorium Vertebrata, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Metode uji kelimpahan kunjungan tertinggi dilakukan dengan menghitung jumlah burung yang berkunjung pada lahan penelitian. Sementara itu, metode uji preferensi pada bondol jawa dilakukan dengan membandingkan bagaimana cara makan bondol jawa ketika diberi pakan padi yang matang susu dan padi yang sudah matang penuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bondol jawa menyerang sepanjang pengamatan, yaitu 11 MST-14 MST. Tingkat kematangan padi yang disukai bondol jawa adalah saat matang susu. Kelimpahan bondol jawa mengunjungi sawah adalah saat sore hari, yaitu mulai dari jam 14.00 hingga jam 17.00. Hal ini menunjukkan bahwa masa tersebut dapat digunakan petani untuk mengendalikan hama burung di sawah.
Perlakuan Benih Ekstrak Anredera cordifolia Menekan Kejadian Penyakit Antraknosa Benih Cabai Terinfeksi Colletotrichum Acutatum Endah Yulia; Hadi Syahir Muhadam; Fitri Widiantini; Wawan Kurniawan
Agrikultura Vol 30, No 2 (2019): Agustus, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.237 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i2.24022

Abstract

Keberadaan patogen pada benih telah menimbulkan kerugian yang tinggi. Perlakuan benih sudah umum dilakukan untuk menjamin benih bebas hama maupun patogen serta untuk menyediakan pengendalian penyakit selama masa perkecambahan maupun pada awal pertumbuhan tanaman. Penyakit antraknosa pada tanaman cabai yang disebabkan oleh Colletotrichum spp. dapat mengakibatkan kehilangan hasil panen mencapai 100%. Infeksi patogen penyebab penyakit antraknosa pada benih dapat mengakibatkan penyakit hawar bibit atau pre emergence atau post emergence damping-off. Penggunaan bahan alami untuk perlakuan benih diharapkan dapat menjadi upaya pengendalian penyakit yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) dalam menekan kejadian penyakit hawar bibit yang disebabkan oleh jamur Colletotrcihum acutatum terbawa benih cabai. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Percobaan terdiri atas tujuh perlakuan yaitu empat perlakuan benih dengan ekstrak binahong konsentrasi 0,25%, 0,50%, 1%, dan 2%, serta dua perlakuan kontrol positif dan negatif, dan perlakuan pembanding fungisida propineb 0,30% yang masing-masing diulang empat kali. Hasil percobaan menunjukkan perlakuan benih cabai dengan ekstrak metanol daun binahong mampu menekan kejadian penyakit hawar bibit pada benih terinfeksi C. acutatum dengan penekanan penyakit tertinggi sebesar 81,65% yang diperoleh pada perlakuan konsentrasi 2%. Namun demikian, perlakuan benih cabai dengan ekstrak metanol daun binahong memengaruhi viabilitas benih cabai dengan panjang kecambah benih cabai yang lebih pendek daripada pada perlakuan kontrol.Kata Kunci: Binahong, Pestisida nabati, Perlakuan benih