Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : Farmaka

ARTIKEL ULASAN : PEMANFAATAN KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium lappaceum Linn) SEBAGAI SEDIAAN FUNGSIONAL Hanifa Olgha Rizka; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.244 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17625

Abstract

Rambutan (Nephelium lappaceum L.) merupakan buah tropis musiman dengan masa panen bulan Desember hingga Februari. Daging buah ini kaya akan vitamin bagi tubuh manusia terutama vitamin C dan disukai oleh masyarakat karena bentuknya yang unik (berambut) dan rasa daging buahnya yang manis. Namun, konsumsi buah rambutan ini menyumbang limbah yang cukup banyak; terutama kulit dan biji. Pada beberapa penelitian, bagian rambutan yang dianggap limbah ini memiliki aktivitas yang bermanfaat, seperti antibakteri, antioksidan, antidiabetes hingga antikanker. Untuk kenyamanan penggunaan, kulit dari buah rambutan ini dibuat menjadi sebuah sediaan yang aplikatif dan familiar dalam kehidupan masyarakat kini. Ulasan ini memberikan informasi mengenai sediaan fungsional dari kulit buah rambutan dan menjadi ide berkelanjutan untuk penelitian kulit buah rambutan dan aplikasinya.Kata Kunci : Kulit buah rambutan, sediaan fungsional, Nephelium lappaceum L.
Review: Teknik Isolasi dan Identifikasi Kurkuminoid dalam Curcuma longa DHITA DWI PRICILIA; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.158 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10872

Abstract

ABSTRAKIsolasi dan identifikasi senyawa kurkuminoid telah dilakukan pada tanaman yang termasuk genus Curcuma, termasuk Curcuma longa L (kunyit). Senyawa kurkuminoid memiliki banyak aktivitas terapeutik, seperti antioksidan, anti-inflamasi, dan antikarsinogenik. Proses isolasi dan identifikasi menggunakan variasi metode yang berbeda. Review ini bertujuan untuk membandingkan metode isolasi dan identifikasi yang paling efisien, mudah, sederhana, dan murah. Metode yang digunakan adalah studi pustaka primer penelusuran jurnal yang membahas isolasi kurkuminoid dalam rimpang kunyit, kemudian membandingkan metode yang dipakai. Metode yang paling efisien adalah metode ekstraksi menggunakan alat soxhlet dengan  pelarut aseton, fraksinasi dengan kromatografi kolom, isolasi dan identifikasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis didapat kurkuminoid dengan kadar 84% pada fraksi no 1-31. Kata Kunci : Curcuma longa, kurkuminoid, isolasi, identifikasi
PERBANDINGAN METODE ANALISIS KADAR SELENIUM TOTAL DALAM SAMPEL SAYURAN : REVIEW JURNAL DETI DEWANTISARI; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.658 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17566

Abstract

ABSTRAKKemampuan beberapa tanaman untuk mengakumulasi dan mengubah bentuk anorganik selenium  menjadi senyawa organik bioaktif memiliki implikasi penting bagi gizi dan kesehatan manusia. Bawang putih dan bawang merah termasuk sayuran yang kaya dengan senyawa selenium. Perlakuan pengayaan selenium biasanya mengalami perubahan metabolisme tertentu yang menentukan produk akhir serta translokasi dan akumulasi dalam jaringan tanaman yang berbeda. Tujuan literature review ini adalah untuk membandingkan metode-metode analisis yang dapat digunakan dalam menganalisis kadar selenium total dalam sampel sayuran sehingga didapatkan metode yang paling baik yang diperoleh dari beberapa parameter kritis pengujian. Beberapa metode penentuan kadar selenium dalam tumbuhan telah dikembangkan mencakup spektrometri emisi plasma-optik induktif, kromatografi cair, kromatografi gas, dan fluoresensi atomik. Metode spektrometri emisi plasma-optik induktif rentan akan gangguan unsur besi (Fe) pada sampel. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) memungkinkan pemisahan pada material kolom pada tekanan tinggi hingga 108 Pa menggunakan diameter partikel 1,7 µm, yang dapat meningkatkan efisiensi, resolusi dan kecepatan pemisahan. Metode kromatografi gas dapat menganalisis selenium yang bersifat volatil. Metode fluoresens atomik yang didasarkan pada resonansi fluoresens memiliki batas deteksi hingga satuan ppb. Pemilihan metode pada akhirnya disesuaikan dengan jenis dan kadar selenium yang terkandung dalam sampel.Kata Kunci : Fluoresens Atomik, Kromatografi, Sayuran, SeleniumABSTRACTThe ability of some plants to accumulate and convert the inorganic form of selenium into bioactive organic compounds has important implications for human nutrition and health. Garlic and onions are vegetables which rich in selenium compounds. Selenium enrichment treatment usually undergoes certain metabolic changes that determine the final product as well as translocation and accumulation in different plant tissues. The purpose of this review literature is to compare the methods used in analyzing total selenium content in vegetable samples and to obtain the best method. Several methods of determining selenium levels in plants have been developed including inductive plasma-optic emission spectrometry, liquid chromatography, gas chromatography, and atomic fluorescence. The inductive plasma-optical emission spectrometry method is susceptible to iron (Fe) distruption in the sample. The High Performance Liquid Chromatography Method (HPLC) allows separation of column material at high pressures up to 108 Pa using a particle diameter of 1.7 μm, which can improve the efficiency, resolution and speed of separation. The gas chromatography method can analyze the volatile selenium. The atomic fluorescence method based on the fluorescence resonance has a limit ppb unit of. The chosen method is ultimately depend on the type and level of selenium contained in the sample.Keywords: Atomic Fluorescence, Chromatography, Vegetables, Selenium 
REVIEW: PARAMETER DAN METODE SAMPLING VALIDASI PEMBERSIHAN DI INDUSTRI FARMASI Arni Praditasari; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.245 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.18120

Abstract

Validasi pembersihan merupakan upaya yang dilakukan dalam langkah konfirmasi atau pembuktian efektivitas prosedur pembersihan dalam industri farmasi ketika memproduksi obat. Pentingnya validasi pembersihan dalam suatu proses dinilai dari prosedur pembuatan produk. Parameter validasi pembersihan terdiri atas batas kandungan residu suatu produk, bahan pembersih dan kontaminasi mikroba. Penentuan senyawa marker ditentukan berdasarkan manajemen risiko mutu suatu produk dari segi kelarutan, dosis terapeutik harian terkecil, dan toksisitas (LD50). Kriteria penerimaan parameter menggunakan metode penilaian MACO (Maximum Allowable Carryover) berdasarkan ADE (Acceptable Daily Exposure), dosis terapeutik harian, dan toksisitas (LD50). Validasi pembersihan ini dilakukan menggunakan dua metode sampling, yakni metode swab dan metode rinse. Metode sampling yang efektif bergantung pada permukaan peralatan, luas permukaan alat, bahan material peralatan serta kelarutan senyawa marker. Kata kunci : validasi pembersihan, parameter, MACO, metode sampling
IBM PEMBUATAN MINUMAN KESEHATAN CUKA COKLAT DARI LIMBAH PULP BIJI COKLAT Aliya Nur Hasanah; Sri Agung Fitri Kusuma; Nyi Mekar Saptarini; Danni Ramdhani; Anisa Desy Ariyanti; Henry Ng Henry; Shelvy Elizabeth Suherman; Karen Low Ka Ling
Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.284 KB) | DOI: 10.24198/jf.v13i4.13313

Abstract

Desa Hegarmanah yang masuk dalam wilayah Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis,Propinsi Jawa Barat yang memiliki lahan perkebunan coklat rakat yang cukup luas danberpotensi untuk terus dikembangkan. Para petani masih melakukan proses budidaya coklatdengan cara yang sederhana, begitu juga dengan proses pengolahan hasil panennya.Pengetahuan tentang pengolahan limbah hasil pengolahan biji coklat, terutama limbah pulpbelum diketahui oleh para kelompok tani coklat di sana. Oleh karena itu ProgramPengabdian Kepada Masyarakat ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepadamasyarakat mengenai pengolahan limbah pulp biji coklat menjadi minuman kesehatan cuka.Pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan memberikan pelatihan teknik fermentasiuntuk pembuatan minuman cuka, membuat fermentor yang dapat menghasilkan minumancuka dalam kapasitas besar dan memberikan pelatihan pembuatan kemasan yang baik.Melalui kegiatan ini masyarakat memiliki pengetahuan mengenai pengolahan limbah pulpbiji coklat menjadi produk yang memiliki nilai jual yaitu minuman kesehatan cuka. Hasil daripembuatan minuman dilakukan pemberian kuesioner dan hasilnnya adalah semua respondenyang mencoba produk memiliki rasa yang enak dan mereka berkeinginan membeli bilaproduk beredar di pasaran. Minuman cuka yang dihasilkan telah diperiksa kandungan logamberat dan cemaran mikrobanya. Minuman cuka tidak mengandung logam berat Pb dan hasiluji cemaran mikrobanya memenuhi syarat.Kata kunci: pulp biji coklat, fermentasi, cuka coklat
HIDROKSI PROPIL METIL SELULOSA DAN KARBOMER SERTA SIFAT FISIKOKIMIANYA SEBAGAI GELLING AGENT CHRISTINE CITRA DEWI; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.537 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i3.8593

Abstract

Hidroksi propil metil selulosa (HPMC) dan karbomer merupakan gelling agent yang umum dipakai dalam pembuatan gel. Kedua gelling agent ini memiliki sifat fisikokimia yang berbeda sehingga dapat menghasilkan sediaan gel yang berbeda. Selain sifat fisikokimia, konsentrasi gelling agent yang digunakan juga berpengaruh pada sediaan gel yang dihasilkan. Sifat fisikokimia yang dimiliki oleh gelling agent akan berpengaruh pada aplikasinya sebagai gelling agent. Meski sifat fisikokimianya berbeda, HPMC dan karbomer dapat dikombinasikan untuk menutupi kekurangan dari karbomer dan untuk mendapatkan sediaan gel dengan sifat fisika yang lebih baik. Kemampuan pelepasan obat serta viskositas dari HPMC dan karbomer dapat dipengaruhi oleh beberapa zat tambahan.Kata Kunci : HPMC, karbomer, gelling agent, sifat fisikokimia, sediaan gel, kombinasi, pelepasan obat, viskositas
REVIEW JURNAL: AKTIVITAS SENYAWA BIOAKTIF ALGA MERAH (Rhodophyta) SEBAGAI ANTIMIKROBA DINA SOFA ISTIFADA; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.503 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17506

Abstract

Rumput laut merupakan kelompok tumbuhan berklorofil yang memproduksi metabolit. Senyawa metabolit yang dihasilkan menunjukkan aktivitas antimikroba, yaitu antijamur dan antibakteri. Isolasi alga merah menunjukkan adanya senyawa bioaktif yang terkandung (polisakarida, pigmen, alkaloid, terpen) yang memiliki aktivitas antibakteri dan antijamur. Pada review ini akan membahas tentang pemanfaatan senyawa bioaktif yang dimiliki oleh alga merah dari berbagai wilayah, meliputi aktivitas biologinya sebagai antibakteri dan antijamur. Perbedaan hasil aktivitas antimikroba (antijamur dan antibakteri) disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu faktor lingkungan.
KELEBIHAN DAN KETERBATASAN PEREAKSI FOLIN-CIOCALTEU DALAM PENENTUAN KADAR FENOL TOTAL PADA TANAMAN STEFANNY AGNES SALIM; FEBRINA AMELIA SAPUTRI; NYI MEKAR SAPTARINI; JUTTI LEVITA
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.972 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.21909

Abstract

Senyawa fenolat merupakan metabolit sekunder dari tanaman dan dibagi menjadi dua kelas yaitu asam fenolat dan polifenol. Senyawa-senyawa ini memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Tujuan dari artikel review ini untuk memberikan informasi dan gambaran mengenai aplikasi senyawa fenol dalam tanaman, serta kelebihan dan kekurangan dari pereaksi Folin-Ciocalteu dalam menentukan kadar fenol total pada beberapa jenis tanaman. Metode pencarian literatur menggunakan PubMed, ScienceDirect, dan Google, dipilih beberapa artikel dan dibuka total 131 Artikel dari semua sumber pencarian, 53 diantaranya merupakan kriteria inklusi yang digunakan pada review artikel ini. Pada penentuan kadar fenolat total dalam ekstrak tanaman, senyawa fenol bereaksi spesifik dengan pereaksi redoks (pereaksi Folin-Ciocalteu) membentuk senyawa kompleks fosfotungstat fosfomolibdenum berwarna biru yang dapat diukur pada panjang gelombang 760 nm. Kelebihan metode ini adalah sederhana dan cepat, namun kurang selektif karena dapat bereaksi dengan asam askorbat, gula, dan amin aromatik.Kata Kunci: antioksidan, asam galat, Malvaceae, redoks, Zingiberaceae
Review: Aktivitas Anti Inflamasi dan Bioavaibilitas Andrografolid pada Hewan Uji ANNISA CLAUDIA MUSEFI CHAIRANI; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.062 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10804

Abstract

Andrografolid merupakan komponen aktif utama dalam herba sambiloto (Andrographis paniculata). Komponen aktif ini memiliki beberapa aktivitas farmakologi seperti sebagai imunosupresan, antitrombotik, antivirus, antioksidan serta anti inflamasi. Andrografolid sebagai anti inflamasi dan antioksidan bekerja terhadap berbagai sel tubuh dengan mekanisme yang spesifik. Kini, pengembangan dan penelitian andrografolid sebagai anti inflamasi terus dilakukan terhadap berbagai hewan uji seperti mencit, tikus, kelinci bahkan manusia. Dosis efektif larutan  andrografolid pada mencit sebesar 4 mg/kg BB; pada tikus sebesar 20 mg/kg BB; pada kelinci sebesar 7,04 g/kg BB; dan pada manusia sebesar 12 mg/kg BB.
AKTIVITAS KARDIOTONIK PADA 15 TANAMAN HAZNA PUTRI SALSABILLA; Nyi Mekar Saptarini; Sri Adi Sumiwi
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.72 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.21851

Abstract

Obat kardiotonik seperti glikosida jantung merupakan obat yang dapat meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan digunakan untuk mengobati gagal jantung kongestif. Pada review artikel ini dibahas 15 tanaman yang memiliki aktivitas kardiotonik. Tanaman tersebut adalah Antiaris toxicaria Lesch., Aloe barbadensis Mill., Aquilaria agallocha Roxb., Bougainvillea glabra Choisy, Cassia tora L., Corchorus aestuans L., Haldinia cordifolia Roxb., Lagenaria siceraria (Molina) Standl., Moringa oleifera Lam., Nerium oleander L., Paederia foetida L., Pterocarpus marsupium Roxb., Saussurea lappa L., Vitex negundo L., dan Xylocarpus granatum J. Koenig. Kelima belas tersebut diekstraksi dengan pelarut yang berbeda kemudian diujikan kepada hewan coba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 tanaman tersebut memiliki aktivitas kardiotonik yang baik dengan meningkatkan kontraksi otot jantung sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam pengobatan gagal jantung kongestif.Kata kunci: kardiotonik, jantung, tanaman obat.