Claim Missing Document
Check
Articles

Makna Upacara Malam Badirui Pada Masyarakat Kerinci Dhany Oktoliano; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 5 No 2 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2023)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v5i2.112

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan mengenai makna upacara Malam Badirui di Dusun Koto Lanang Kecamatan Depati Tujuh Kabupaten Kerinci. Pendekatannya yang dipakai yaitu kualitatif dengan tipe etnografi. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling,dan data dianalisis dengan perspektif teori Interpretatif yang dikemukakan oleh Clifford Geertz. Hasil penelitian mengungkapkan, makna upacara Malam Badirui di Dusun Koto Lanang Kecamatan Depati Tujuh Kabupaten Kerinci. Makna upacara yaitu; (1) prestise/ kebanggaan sebagai kebanggaan suku dan keluarga yang terpilih untuk menjadi imam, khatib, dan bilal; (2) ajang silatuhrahmi di saat acara tradisi Malam Badirui anggota suku tersebut berkumpul; (3) memperkuatkan solidaritas sosial terutama pada saat mempersiapkan kegiatan Malam Badirui; (4) penghormatan terhadap tokoh adat terutama pengambilan keputusan yamg diambil oleh tokoh adat/ Depati sewaktu Malam Badirui; (5) motivasi para genersi muda di bidang agama.
Strategi Sanggar Batik Incung dalam Pelestarian Aksara Incung Kerinci Morisa Dwi Vesty; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 5 No 2 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2023)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v5i2.126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Sanggar Batik Incung dalam melestarikan aksara incung di Kota Sungai Penuh Kerinci. Aksara incung merupakan aksara tua Kerinci yang terancam punah karena sudah tidak diketahui lagi oleh masyarakat Kerinci. Aksara Kerinci merupakan kekayaan budaya Kerinci dan kebanggaan bagi masyarakat Kerinci. Oleh sebab itu, mulai diajarkan kembali kepada masyarakat terutama generasi muda. Pemerintah Kerinci berupaya mempertahankan aksara Kerinci dengan menjadikannya sebagai muatan lokal di sekolah, memberikan nama jalan dengan menggunakan aksara Kerinci. Aksara incung selanjutnya juga dikembangkan menjadi motif batik yang dikembangkan oleh industri batik di Kerinci. Sanggar Batik Incung yang merupakan sebuah lembaga ekonomi kreatif yang bertujuan mencari profit dan juga berperan sebagai wadah dalam melestarikan budaya lokal aksara incung. Penelitian ini dianalisis dengan teori aksi oleh Talcott Parsons. Teknik pemilihan informan yaitu purposive sampling dengan jumlah informan 12 orang. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, studi dokumen dan observasi partisipan. Teknik triangulasi yang digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber dan analisis data yang digunakan merupakan model analisis menurut Mathew Milles dan Huberman.Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan ada beberapa strategi yang dilakukan oleh Sanggar Batik Incung dalam upaya melestarikan dan mempertahankan aksara incung yaitu, 1)pelatihan menulis dan membaca aksara incung kepada anggota sanggar, 2) pelatihan membatik incung kepada anggota sanggar, 3) memproduksi batik motif aksara incung, 4) pelatihan menulis, membaca dan membatik incung kepada masyarakat seruang lingkup Kota Sungai Penuh, 5) pengembangan sablon baju kaos, jacket, dompet dan tas motif aksara incung.
Pemilihan Jodoh pada Masyarakat Nagari Padang Tarok Tia Aprilia; Erda Fitriani; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 6 No 1 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2024)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v6i1.145

Abstract

Pemilihan jodoh secara tradisional diatur oleh adat istiadat suatu sukubangsa, jika terjadi pelanggaran maka adat mengatur sanksi secara adat. Secara tradisional masyarakat Minangkabau mengenal istilah perkawinan ideal yaitu perkawinan beda suku (exogami suku) dan dalam satu nagari (endogami nagari). Pada masyarakat Nagari Tarok adat mengatur warga masyarakatnya untuk mencari pasangan di luar suku (clan) dan di luar nagari. Jika dilanggar maka terdapat sanksi adat yang disebut dengan lompek paga. Menariknya pada saat sekarang ini semakin banyak yang memperoleh pasangan dari luar nagari, dan dilaksanakan adat lompek paga. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena lompek paga pada masyarakat Nagari Tarok, terutama terdapatnya perubahan dalam masyarakat mengenai pola ideal dalam pemilihan jodoh. Penelitian ini dianalisis dengan teori strukturalisme oleh Claude Lévi-Strauss. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe penelitian studi kasus. Lokasi penelitian di Nagari Padang Tarok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlah informan 18 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Teknis analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles & Huberman. Hasil penelitian ditemukan bahwa struktur pemikiran masyarakat dalam pemilihan jodoh yaitu lebih mengutamakan pasangan yang seiman (Islam), memiliki pekerjaan, pendidikan, dan sikap karakter pasangan. Pasangan yang berada di luar suku tetap menjadi perhatian masyarakat karena dianggap masih seketurunan, namun jika berbeda datuk atau nagari maka dianggap sudah jauh hubungan garis keturunan.
Adaptasi Sosial Budaya Orang Jawa di Nagari Pulau Mainan Agung Novialdi; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 6 No 1 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2024)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v6i1.146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan proses adaptasi sosial budaya yang dilakukan oleh orang Jawa di Nagari Pulau Mainan. Nagari Pulau Mainan termasuk daerah transmigrasi pada periode tahun 1978-1979 Kabupaten Dharmasraya. Orang Jawa sebagai penduduk transmigrasi beradaptasi dengan lingkungan mereka yang baru. Sebelumnya mereka bekerja di sawah, namun sebagai penduduk transmigrasi mereka ditempatkan di wilayah hutan yang baru dibuka, yang selanjutnya dijadikan lahan perkebunan dan tempat tinggal. Orang Jawa ini juga dihadapkan dengan penduduk asli (orang Minangkabau) dan mereka harus dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Penelitian ini dianalisis dengan teori etnosains yang dikemukakan oleh James Spradley. Metode penelitian yang dilakukan yaitu metode penelitian kualitatif, dengan tipe etnosains. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan informan penelitian sebanyak 29 orang. Pengumpulan data dilakukan secara observasi partisipasi aktif, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Untuk menguji keabsahan data peneliti melakukan triangulasi data. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan analisis etnografi yang dikemukakan oleh Spradley. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kondisi lingkungan di tempat yang baru di Nagari Pulau Mainan dapat diatasi dengan kemampuan pengetahuan mereka. Proses adaptasi yang dilakukan oleh orang Jawa merupakan wujud dari usaha-usaha mereka mengatasi masalah yang mereka hadapi. Kemampuan transmigran Jawa mengubah lahan yang tidak produktif menjadi lahan yang produktif dengan mendapatkan penghasilan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari merupakan keberhasilan dalam proses adaptasi transmigran Jawa dalam menghadapi lingkungan baru. Begitu pula kemampuan mereka dalam berinteraksi dengan sesama Jawa dengan latar belakang daerah, bahasa dan budaya yang berbeda serta berinteraksi dengan penduduk asli (orang Minangkabau).
Pilihan Rasional Lulusan SMA Tidak Kuliah di Nagari Pasir Binjai Latifatus Shofiatun Nafi'ah; Erda Fitriani
Jurnal Perspektif Vol 8 No 3 (2025): Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan, Universitas Negeri Pad
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/perspektif.v8i3.1229

Abstract

Artikel ini akan menjelaskan faktor-faktor rasional yang mempengaruhi remaja lulusan SMA di Nagari Pasir Binjai untuk tidak melanjut studi melainkan memilih berkeja di perusahaan yang ada didaerahnya. Tulisan ini lebih menitikberatkan pada pendekatan rasional individu berdasarkan sumber daya lokal seperti industri sawit dan sektor ritel yang jarang dikaji dalam konteks studi lanjut dengan mengintegrasikan teori pilihan rasional yang dikembangkan oleh James S. Coleman dalam konteks sosial pedesaan. Penelitian ini juga menawarkan perspektif baru tentang keputusan lulusan SMA dalam konteks wilayah dengan sumber daya ekonomi terbatas tetapi kesempatan kerja tinggi. Hal ini menarik untuk dikaji karena Nagari Pasir Binjai merupakan wilayah yang dekat dengan industri perkebunan kelapa sawit dan sektor ritel, dimana lulusan SMA lebih tertarik untuk bekerja langsung daripada melanjutkan studi. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, tipe studi kasus. Pemilihan informan menggunakan purposive sampling dengan jumlah 17 orang yang terdiri dari lulusan SMA, tokoh Nagari, guru dan orang tua. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis Miles dan Huberman. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2024 hingga Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan lulusan SMA Nagari Pasir Binjai memilih untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi diantaranya rendahnya minat kuliah; peluang kerja di sawit; pengalaman pengelolaan sawit sejak dini; serta dukungan dan privilege keluarga. Dapat disimpulkan bahwasan faktor rasional yang menjadi pendorong lulusan SMA tidak kuliah karena adanya faktor ekonomi (peluang pekerjaan) dan kondisi sosial yang kurang mendukung.
Efek Jera Sanksi Nikah di Pasar Bagi Remaja Angela Hendrika; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 6 No 2 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2024)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v6i1.161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek jera pemberlakuan sanksi nikah di pasar terhadap kalangan remaja di Nagari Koto Lamo Kecamatan Kapur IX Kabupaten Lima Puluh Kota. Sanksi nikah di pasar diberlakukan sebagai upaya efek jera terhadap kejadian hamil di luar nikah yang tinggi di kalangan remaja. Metode yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif yaitu suatu pendekatan yang menjelaskan realitas sosial yang ingin diteliti secara mendalam dengan menggunakan data kualitatif berupa kata-kata dan kenyataan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Kontrol Sosial oleh Travis Hirschi dimana teori ini dibangun atas dasar manusia yang memiliki kecenderungan untuk tidak mengikuti aturan atau tidak patuh hukum. Lokasi penelitian dilakukan di Nagari Koto Lamo, yang memiliki kehidupan masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh adat dan norma setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberlakuan sanksi nikah di pasar telah memberikan dampak positif dalam mengurangi kejadian hamil di luar nikah di kalangan remaja Nagari Koto Lamo. Masyarakat merasa takut dan waspada terhadap dampak sosial seperti adanya hamil di luar nikah, anaknya mengalami nikah di Los Pasar dan jadi cemoohan masyarakat jika terlibat dalam perbuatan tersebut. Selain itu, remaja juga menjadi lebih hati-hati dalam menjalani hubungan dan bergaul.
Strategi Kelompok Sadar Wisata dalam Pengembangan Desa Wisata Ardi Amirul; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 1 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i1.175

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan strategi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dalam pengembangan desa wisata di Nagari Tuo Pariangan Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Penelitian ini menarik untuk dibahas karena pengunjung yang datang ke desa terindah dunia Nagari Tuo Pariangan mengalami penurunan setiap tahunnya dibandingkan dengan wisata-wisata yang ada di Kabupaten Tanah Datar. Realita yang ditemukan masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan desa wisata Nagari Tuo Pariangan meskipun sudah dibentuk Pokdarwis, sehingga dibutuhkan strategi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dalam pengembangan pariwisata desa terindah dunia di Nagari Tuo Pariangan Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Teori untuk menganalisis fenomena ini adalah teori aksi yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Pengumpulan data dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Pemilihan informan menggunakan purposive sampling dengan jumlah informan 14 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai strategi Pokdarwis dalam pengembangan pariwisata Nagari Tuo Pariangan agar tetap banyak dikunjungi oleh pengunjung yaitu dengan: Pertama, promosi wisata Pariangan melalui dunia digital, promosi dilakukan oleh Pokdarwis Nagari Tuo Pariangan melalui media sosial seperti instagram, tiktok, facebook, dan Pokdarwis Nagari Tuo Pariangan juga memiliki website. Kedua, promosi paket wisata oleh Pokdarwis, banyak paket yang disediakan oleh Pokdarwis contohnya saja yaitu paket makan bajamba, paket trakking, paket belajar tari piring. Ketiga, menjaga keaslian alam dan budaya Nagari Tuo Pariangan, wisatawan yang berkunjung ke desa Terindah di dunia Nagari Tuo Pariangan bisa langsung belajar bersama-sama dengan anggota sanggar seni, seperti belajar memainkan bansi, belajar meniup saluang, belajar petatah petitih, belajar randai, belajar silek, dan belajar banyak lagi budaya Nagari Tuo Pariangan. Keempat, festival Pesona Pariangan Nagari terindah, dalam ajang ini yang memperlihatkan bahwa banyak kesenian dari Nagari Tuo Pariangan sampai kebudayaan unik lainnya yang dimiliki Nagari Tuo Pariangan.
Studi Etnosains Makam Keramat Datuak Parpatiah Nan Sabatang Mustika Rani; Adri Febrianto; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 6 No 2 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2024)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v6i2.177

Abstract

Datuak Parpatiah Nan Sabatang dikenal oleh masyarakat Minangkabau sebagai salah seorang pelopor adat istiadat Minangkabau selain Datuak Ketamanggungan. Dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bahwa Datuak Parpatiah Nan Sabatang sebagai pendiri kelompok Bodi Caniago (Moiety) yang disebut lareh Bodi Caniago. Makam Datuak Parpatiah Nan Sabatang berlokasi di Jl. Munggu Tanah Jorong Batu Palano, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung Kabupaten Solok. Makam ini bagi masyarakat dianggap keramat. Warga masyarakat melakukan ziarah ke makam serta melakukan aktivitas religius di makam, selain itu masyarakat memiliki pengetahuan mengenai makam ini. Studi ini menjelaskan tentang pengetahuan masyarakat mengenai makam keramat Datuak Parpatih Nan Sabatang dengan pendekatan etnosain. Penelitian lapangan (fieldwork) dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan tipe etnografi. Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan mengenai kekeramatan makan Datuak Perpatih Nan Sabatang. Pengetahuan masyarakat seperti bunyi atau dentuman di makam, terjadi apabila adanya anggota masyarakat setempat yang melakukan perbuatan yang tidak baik atau maksiat, tanda-tanda musibah yang berkaitan dengan makam, serta pohon beringin yang ada dekat makam dipercayai sebagai obat dan asal pohon beringin diyakini oleh masyarakat merupakan tongkat dari Datuak Parpatiah Nan Sabatang.
Resiliensi Kesenian Tradisional Randai dalam Masyarakat Multietnik Adengganan Nasution; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 1 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i1.193

Abstract

Kesenian tradisional merupakan bagian dari keanekaragaman budaya masyarakat di Indonesia. Sebelum adanya perkembangan teknologi yang pesat, kesenian tradisional merupakan salah satu hiburan yang paling diminati dan dinantikan oleh masyarakat. Randai merupakan kesenian tradisional dari Minangkabau yang memiliki fungsi bagi masyarakat tidak hanya sebagai hiburan akan tetapi juga fungsi pendidikan. Randai diajarkan melalui sangar yang berkembang di masyarakat. Fenomena pengembangan kesenian tradisional mendapatkan tantangan dengan berkembangnya kesenian modern atau kesenian yang datang dari luar. Selain itu keberagaman etnik di suatu kawasan menjadi tantangan dalam pengembangan kesenian randai. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami strategi sangar dalam mempertahankan kesenian tradisional randai pada masyarakat multietnik. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori strukturasi dari Anthony Giddens. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan purposive sampling. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara dan studi dokumen. Data dianalisis dengan teknik analisis data dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian menjelaskan bahwa terdapat beberapa strategi yang dilakukan sanggar dalam menjaga kebertahanan kesenian randai di Nagari Kinali, yaitu : 1) Bersifat terbuka dalam perekrutan anggota sanggar, 2) AKI (Aktif, Kreatif dan Inovatif),3) Menjalin mitra dengan sekolah-sekolah yang terdapat di Nagari Kinali 4) Perencanaan pengadaan kurikulum sanggar, dan 5) Pemanfaatan media sosial.
Basapa ke Gunung Bungsu: Pendidikan Surau Nagari Taeh Baruah Kabupaten Limapuluh Kota Anggun Destia; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.196

Abstract

Aktivitas keagamaan di Minangkabau memperlihatkan percampuran antara agama dan tradisi. Istilah basapa merupakan tradisi tahunan masyarakat Minangkabau, khususnya Padang Pariaman Sumatera Barat, untuk mengenang jasa penyebar agama Islam, Syekh Burhanuddin di Ulakan. Aktivitas basapa di Ulakan yaitu ziarah ke makam syekh, berdoa bersama sebagai penghormatan kepada syekh. Pendidikan di surau Nagari Taeh Baruah memiliki aktivitas basapa ke Gunung Bungsu. Di bukit Gunung Bungsu, tidak terdapat makam, aktivitas anak-anak surau yaitu mengaji bersama, mengadakan perlombaan, dan makan bersama. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pendidikan di surau melalui aktivitas Basapa ke Puncak Gunung Bungsu di Nagari Taeh Baruah Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori konstruktivisme sosial oleh Lev Vigotsky. Aktivitas Basapa yang dilakukan oleh surau pada anak-anak mengaji berfungsi untuk membentuk kognisi sosial anak-anak. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe studi kasus. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Informan penelitian berjumlah 16 orang, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan model analisis dari Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas basapa ke Gunung Bungsu yang dilakukan dalam pendidikan surau mendidik anak-anak mengaji dengan cara belajar agama dengan menyenangkan (joyful learning) sambil bertamasya dan berolahraga.