Claim Missing Document
Check
Articles

Kearifan Lokal Maras Taun Dusun Aik Ruak Mangifera Indica Juarsyah; Erda Fitriani; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i1.103

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan kearifan lokalupacara maras taun di Dusun Aik Ruak, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur. Upacara maras taun merupakan upacara yang sangat penting bagi masyarakat Belitong, yang dilaksanakan satu kali dalam satu tahun ketika panen padi. Serta adanya kepercayaan yang masih kental oleh masyarakat Dusun Aik Ruak terhadap berbagai macam tradisi, adat, mitos, dan salah satunya masih percaya akan pentingnya pelaksanaan upacara maras taun di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Fenomena ini dianalisis dengan teori budaya sebagai sistem kognitif oleh Ward Goodenough. Menggunakan pendekatan kualitatif dan tipepenelitian etnografi.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipasi, wawancara mendalam kepada 14 orang informan, dan studi dokumen. Teknik triangualasi yang dipakai yaitu triangulasi sumber, dan model analisis data menurut J.P Spradley.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa: upacara maras taun memiliki kearifan lokal yakni, 1). Menjaga hubungan sosial seperti, menjalin silahturahmi antar sesama masyarakat, kerja sama yang baik dalam upacara maras taun, dan mampu menghargai perbedaan. 2). Kearifan lokal maras taun dalam konservasi alam seperti, adanya pantangan dan larangan hutan yang tidak boleh dibuka menjadi ladang, kerena sebagai tempat flora/fauna serta adanya pembukaan dan pengelolaan ladang yang mampu meminimalisir terjadinya kerusakan ekosistem.
Laghauk: Ramalan Nasib Calon Pengantin Melati Melati; Erda Fitriani; Muhammad Hidayat
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i1.106

Abstract

Penelitian bertujuan menjelaskan sistem pengetahuan masyarakat pada ramalan laghauk yang masih eksis sampai sekarang. Ramalan laghauk adalah ramalan nasib baik dan buruk calon pengantin selama masa perkawinan. Keberadaan ramalan laghauk ini masih dilaksanakan oleh masyarakat yang sudah mengalami perubahan dan pendidikan ke arah yang lebih baik. Penelitian ini dianalisis dengan teori etnosains oleh Spradley. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan tipe etnografi. Teknik pemilihan informan yaitu purposive sampling dengan jumlah informan 20 orang. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipasi dan studi dokumen. Dalam mendapatkan keabsahan data dipilih teknik triangulasi sumber dan analisis data menggunakan alur penelitian maju bertahap Spradley. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa sistem pengetahuan masyarakat pada ramalan laghauk berangkat dari pengalaman-pengalaman yang diperoleh baik dari keluarga maupun kerabat ketika nasib mereka diramal. Pengetahuan masyarakat mengenai ramalan laghauk dapat dikelompokkan atas tiga yaitu adalah percaya, tidak percaya dan percaya tidak percaya. Masyarakat yang percaya akan ramalan disebabkan karena seringnya ditemui kebenaran dari ramalan kehidupan pasangan, sedangkan mereka yang tidak percaya karena tidak terbukti dari isi ramalan laghauk, sedangkan mereka yang percaya dan tidak percaya dikarenakan masih meragukan ramalan laghauk, atau karena kebetulan saja, apalagi adanya keyakinan dalam Islam yang tidak boleh mempercayai ramalan.
Manjapuik Limau Sebelum Upacara Perkawinan (Studi Etnosain Pada Masyarakat Jorong Rumah Panjang Nagari Selayo Tanang Bukit Sileh Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok) Lola Resita; Erda Fitriani; Desy Mardhiah
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 2 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2019)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i2.17

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai pengetahuan masyarakat Jorong Rumah Panjang dalam manjapuik limau sebelum upacara perkawinan dan mendeskripsikan keyakinan masyarakat Jorong Rumah Panjang penganut Islam terhadap kesaktian roh nenek moyang. Penelitian ini dianalisis dengan teori Ethnoscience yang dikembangkan oleh James P Spradley. Ethnoscience menekankan bahwa data yang disodorkan adalah data kognitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian etnografi. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan pola pikir masyarakat Jorong Rumah Panjang penganut ajaran islam yang melaksanakan manjapuik limau tidak begitu saja muncul, pemahaman itu muncul berdasarkan pengalaman atau bukti yang telah terjadi. Masyarakat Jorong Rumah Panjang yang melaksanakan manjapuik limau disebabkan berberapa alasan yaitu pengetahuan masyarakat tentang manjapuik limau dan keyakinan terhadap kesaktian roh nenek moyang.
Tontoang Kayu: Revival Kesenian Tradisional Minangkabau Rani Sagita Putri; Erda Fitriani; Lia Amelia
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i2.110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan revival tontoang kayu serta proses yang dilakukan masyarakat dalam revival kesenian tontoang kayu. Tontoang kayu ini adalah jenis alat musik pukul, dimainkan sambil berdiri. Tontoang kayu ini digantung dengan kayu yang kuat dan dipukul dengan pemukul seperti talempong biasanya. Keberadaan tontoang kayu ini sudah lama hilang, kemudian masyarakat menghidupkan atau membangkitkan kembali kesenian tontoang kayu tersebut. Penelitian ini dianalisis dengan teori etnosains oleh James P. Spradley. Teknik pemilihan informan yaitu purposive sampling dengan jumlah informan 12 orang. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam dan observasi partisipasi aktif. Teknik triangulasi yang digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber dan analisis data yang digunakan merupakan model analisis data menurut J.P Spradley. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan bahwa: faktor revival tontoang kayu adalah upaya memajukan pariwisata di Jorong Guguak menjadi daya tarik pariwisata serta kepedulian masyarakat terhadap kesenian tradisional yang ada di Jorong Guguak dalam rangka pelestarian budaya. Proses dalam revival kesenian tontoang kayu yaitu: menggali alat musik kesenian tradisional tontoang kayu, melatih generasi muda untuk memainkan alat musik kesenian tontoang kayu serta menari piring yang diiringi oleh alat musik, menampilkan kesenian tradisional tontoang kayu di pesta pernikahan, baik masyarakat Jorong Guguak maupun masyarakat luar Jorong Guguak, pertunjukan di depan wisatawan yang sedang menikmati keindahan alam serta mempromosikan kesenian tradisional tontoang kayu di media sosial.
Fungsi Sekolah Incung dalam Pelestarian Aksara Kerinci Tasha Soliha Ayunda; Erda Fitriani; Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i2.111

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi Sekolah Incung dalam pelestarian aksara Kerinci melalui pendidikan non formal. Hal ini menarik untuk dikaji karena aksara Incung merupakan salah satu ciri khas daerah Kerinci perlu untuk diperkenalkan dan dipelajari oleh seluruh masyarakat Kerinci. Namun faktanya pelestarian aksara Incung belum tercapai ke seluruh masyarakat Kerinci secara keseluruhan. Sehingga pada pelestarian aksara Incung ini perlunya sebuah wadah yang bisa lebih berfokus kepada pelestarian aksara Incung. Pada penelitian ini.dianalisis.menggunakan teori fungsionalisme dari Bronislaw Malinowski yang pada asumsi dasar teori ini adalah bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi semua masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Kemudian untuk teknik pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Perolehan data penelitian didapat dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Untuk penelitian ini menggunakan teknik analisis data dari Miles dan Huberman. Pada hasil penelitian yang peneliti teliti.menjelaskan bahwa fungsi Sekolah Incung dalam melestarikan kebudayaan Tradisional Incung di.Desa.Gedang,.Kecamatan.Sungai Penuh,.Kota Sungai.Penuh, adalah: 1) Sekolah Incung memiliki fungsi mengedukasi kepada para peserta untuk menambah wawasan serta ilmu budaya khususnya aksara Incung kepada generasi muda, 2) Sekolah Incung memiliki fungsi meliterasikan generasi muda bagaimana cara membaca dan menulis aksara Incung, 3) Sekolah Incung memiliki fungsi pelestarian karena aktivitas atau program-program yang mereka lakukan menunjukkan upaya pelestarian aksara Kerinci.
Makna Upacara Utang Tahunan Masyarakat Melayu Indragiri Hulu Jhon Milap Moranovan Sembiring; Erda Fitriani; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i2.113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna Upacara Utang Tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Pondok Gelugur. Utang Tahunan adalah upacara yang dilakukan untuk menolak bala, bencana, maupun mala petaka yang akan menimpa masyarakat.. Penelitian ini dianalisis dengan teori interpretivisme simbolik oleh Clifford Geertz. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipan, wawancara mendalam dan studi dokumentasi, validitas data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber. Analisis data dilakukan dengan analisis interpretivisme. Lokasi penelitian ini terletak di Desa Pondok Gelugur. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan teknik Snowball Sampling dengan jumlah informan keseluruhannya 12 orang yang terdiri dari ketua RT, ketua adat, datuk dan warga masyarakat yang mengetahui tentang Upacara Utang Tahunan. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa makna yang terkandung dalam Upacara Utang Tahunan yang dilaksanakan masyarakat Desa Pondok Gelugur yaitu sebagai ajang silatuhrahmi antara kerabat serta anggota keluarga, sebagai ajang bersedekah bagi orang yang punya niek telah memberikan makan kepada masyarakat yang hadir untuk menyaksikan atau melihat upacara, sebagai ajang tolong-menolong untuk memperkuatkan solidaritas sosial antar sesama anggota keluarga.
Indonesia vs Japan in the Education System Riza Desriandi; Joni Indra Wandi; Rhona Sandra; Erda Fitriani; Nurhizrah Gistituati; Rusdinal Rusdinal; Azwar Ananda
International Journal of Educational Dynamics Vol 5 No 1 (2022): International Journal of Educational Dynamics (IJEDs)
Publisher : Postgraduate School, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/ijeds.v5i1.346

Abstract

This study aims to compare Indonesian and Japanese education by using five indicators, namely the purpose of education, education management, education budget, education personnel, and salaries, as well as the learning evaluation process. The education system according to the National Education System Law No. 20/2003 it is stated that the National Education System is all components of education that are interrelated in an integrated manner to achieve national education goals. This research is based on a literature study by looking for theoretical references that are relevant to the cases or problems found. The results of this study According to Law No. 20 concerning "the National Education System" Chapter 1 General Provisions Article 1 paragraph 8 explains that the stages of education that have been determined are based on the level of development of students, the goals to be achieved and the abilities developed. The law explains that formal education in Indonesia consists of primary education, secondary education, and higher education. The financing of the education system in Indonesia is influenced by government policies. There are two financing systems, namely centralized and decentralized.
Kesetaraan Gender dan Pendidikan Humanis Erda Fitriani; Neviyarni Neviyarni
Naradidik: Journal of Education and Pedagogy Vol. 1 No. 1 (2022): Naradidik: Journal of Education & Pedagogy (March 2022)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.005 KB) | DOI: 10.24036/nara.v1i1.27

Abstract

Gender equality is still a target for countries that are members of the SDGs, including Indonesia. Efforts to improve gender equality are mainly through education, both family education and school education. Gender responsive education has been carried out in Indonesia and has become a target for sustainable development with the SDGs program, which is targeted to be achieved by 2030. Various phenomena of gender inequality are still encountered in society. This shows that there are problems in the perception and application of gender equality. One of the efforts to give birth to justice and gender equality is through education. Therefore, this article aims to explain the concept of gender and gender equality and then gender equality education.
Problematika Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Erda Fitriani; Neviyarni Neviyarni; Mudjiran Mudjiran; Herman Nirwana
Naradidik: Journal of Education and Pedagogy Vol. 1 No. 3 (2022): Naradidik: Journal of Education & Pedagogy (September 2022)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.609 KB) | DOI: 10.24036/nara.v1i3.69

Abstract

This article aims to analyze the problems experienced by counselors in carrying out their duties and functions to provide guidance and counseling services in schools. Guidance and counseling are an important component for achieving educational goals. However, in the implementation of services and guidance and counseling experienced various obstacles. In explaining the problem, it is analyzed by the theory of status personality by Raph Linton. The system theory developed by Parson strengthens the analysis to explain the problems in counseling and guidance services in schools. The research was conducted using a qualitative approach through library research or literature study. Based on the research, it was found that the problems experienced in counseling guidance services in schools were the lack of understanding of students, teachers and the community, the professional factor of the counseling teacher and the school management factor and the availability of facilities.
Proses Negosiasi Penentuan Böwö dalam Adat Perkawinan Nias Irene Endang Lafau; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 5 No 1 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2023)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v5i1.129

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses negosiasi penentuan böwö dalam adat perkawinan Nias. Böwö pada masayarakat etnis Nias merupakan hadiah pemberian yang diberikan oleh keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan dalam melangsungkan perkawinan. Pada tahap proses negosiasi böwö, keluarga dari pihak laki-laki maupun perempuan akan membicarakan, membahas dan mempertimbangkan segala bentuk resiko yang akan terjadi dalam setiap keputusan yang akan disepakati. Proses negosiasi böwö menimbulkan tawar-menawar antara keluarga pihak laki-laki dengan keluarga pihak perempuan dan dibicarakan secara tertutup. Proses negosiasi böwö akan menjadi masalah ketika salah satu dari pihak keluarga calon mempelai tidak setuju atau menimbulkan konflik. Penelitian ini dianalisis dengan teori etnosains dari James P. Spradley. Teknik pemilihan informan yaitu snowball sampling dengan jumlah informan10 orang. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam dan observasi partisipasi aktif. Teknik triangulasi yang digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber dan analisis data yang digunakan adalah model analisis data menurut J. P. Spradley. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa: proses negosiasi penentuan böwö dalam perkawinan adat Nias yaitu: musyawarah keluarga tentang lamaran (pihak laki-laki dan perempuan), penentuan böwö, pertemuan si’o (pihak laki-laki dan perempuan), kesepakatan böwö.