Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal KALAM

DEBUS BANTEN: Pergeseran Otentisitas dan Negosiasi Islam-Budaya Lokal Hakiki, Kiki Muhamad
KALAM Vol 7 No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v7i1.163

Abstract

Sebagai suatu produk budaya, kesenian debus merepleksikan kompleksitas manusia itu sendiri. Di dalamnya terdapat kepentingan sosial, politik, bahkan nilai-nilai religi. Dalam historisitasnya debus mengalami pasang surut khususnya ketika berhadapan dengan perkembangan zaman dan nilai kelokalan. Artikel ini mengkaji apakah kesenian debus telah mengalami perubahan atau dengan kata lain terpengaruh oleh budaya lokal atau tidak. Hasil penelitian menemukan fakta bahwa kesenian debus nampaknya sudah mengalami pergeseran dan perubahan karena ia harus menyesuaikan diri agar tak ketinggalan zaman atau bahkan dilupakan. Kesenian debus saat ini sudah mengalami modifikasi yang ditunjukkan dengan banyak sekali hal-hal yang tak pernah dipraktekkan pada debus tempo dulu. Debus saat ini telah meninggalkan atau lepas dari asalnya yakni tarekat. Pergeseran itu terlihat dari segi ritual, gaya pertunjukan, pola perekrutan personil dan tujuan yang ingin dicapai. Kesenian debus sekarang lebih cenderung digunakan sebagai alat hiburan masyarakat atau menjadi komoditi pariwisata saja ketimbang sebagai suatu produk budaya yang mengandung nilai keagamaan.
Simbol Islam dan Adat dalam Perkawinan Adat Lampung Pepadun Isnaeni, Ahmad; Hakiki, Kiki Muhamad
KALAM Vol 10 No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v10i1.341

Abstract

Masyarakat pribumi Lampung mempunyai berbagai macam bentuk kebudayaan daerah yang unik yang salah satunya terdapat pada tradisi upacara perkawinan. Sebagai akibat dari akulturasi budaya dan agama di kalangan masyarakat Lampung, maka tidak heran jika upacara adat perkawinan masyarakat Lampung bercorak Islam. Memang, Relasi antara Islam dan budaya Lampung ini dapat diibaratkan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pada satu sisi, kedatangan Islam di tanah Lampung memperkaya budaya masyarakat Lampung; Sementara pada sisi lain, kultur atau budaya masyarakat Lampung berpengaruh pada pengamalan ajaran Islam di masyarakat. Inkulturasi Islam sebagai ajaran baru ke dalam konteks kebudayaan lokal Lampung berjalan secara akomodatif atau adaptif sehingga Islam mewarnai budaya lokal tanpa kehilangan identitasnya.
Eksistensi Gerakan Idiologi Transnasional HTI Sebelum dan Pasca Pembubaran Qohar, Abd; Hakiki, Kiki Muhamad
KALAM Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v11i2.1403

Abstract

This article attempts to explore the local development of Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), especially in Lampung. The research focuses on the networks of HTI’s recruitment to maintain its identity. It also alludes how the existence of HTI withstands with its dissolution in the era of President Joko Widodo. The research concludes: Firstly, there are systematically some procedures to contend the politics of identity and HTI’s recruitment such as organizing the demonstrations, striving seminar and public discussion, media networks, approaching to the prominent figures and educational institutions, interpersonal recruitment, and halaqah (personal indoctrination). Secondly, there two possibilities of post-dissolution of HTI that would be executed, 1. The formation of new mass organization as the alternate of HTI. 2. To be new party or proceed to join the Islamic Party. They may search the parties that are ideologically identical or similiar to HTI’s ideology like PKS, PPP, PAN, PBB. This would be happened if they fail to scramble and to maintain its ideology in the form of new mass organization.