Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Identifikasi Mutasi Gen PVK12 Penanda Resistensi Plasmodium Vivax Terhadap Artemisin pada Penderita Malaria Suku Anak dalam Di Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi Sri Wiyani; Charil Anwar; Dwi Handayani; Ahmad Ghiffari
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.991 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v6i12.5170

Abstract

Penyakit malaria disebabkan oleh parasit famili Plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Enam spesies Plasmodium pada manusia adalah P. vivax, P. falciparum, P. malariae, P. ovale, P. knowlesi dan P.cynomolgi (WHO, 2016). Suku anak dalam (SAD) atau orang rimba yang hidup di pedalam hutan Jambi secara geografik menempati wilayah utara sekitar Taman Nasional Bukit 30 selain itu menempati wilayah selatan Provinsi Jambi di daerah Taman Nasional Bukit 12. Wilayah tinggal SAD berada di dalam hutan sehingga mereka sangat rentan terhadap penyakit malaria (Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2015). Tujuan penelitian ini mengetahui adanya mutasi gen Pvk12 pada sampel darah yang diambil dari penderita Suku Anak Dalam yang positif P. vivax di kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif obeservasional dengan desain survei. Dari hasil pemeriksaan Nested PCR dari 35 sampel yang positif malaria P. vivax didapat dua positif ada pita di 792 bp yang selanjutnya disekuensing hasilnya hanya ada satu sampel saja yang dapat diidentifikasi dan yang lainnya tidak dapat didentifikasi. Hasil sekuensing menunjukan mutasi pada titik 1253 , mutasi yang terjadi pada titik bukan penanda resistensi artemisin. Dari hasil diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa belum terjadi resistensi P.vivax pada SAD Kabupaten Batang Hari Jambi terhadap artemisin
Identification of Soil Transmitted Helminths Eggs on Flies in KM 5 Market, Palembang City Husna Syafira Muthmainnah; Gita Dwi Prasasty; Dalilah Dalilah; Dwi Handayani; Susilawati Susilawati
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 4 No. 3 (2021): Vol 4, No 3, 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v4i3.123

Abstract

The prevalence of Soil Transmitted Helminths (STH) infection in the world is still high, especially in areas with poor sanitation. This condition is often found in markets which becomes a favorite place for flies. Flies are insects that have the ability to fly far and habits of life that move around so they can become human health problems as mechanical vectors of STH infection. Therefore, this study aimed to find out the type and number of flies, and the contamination of STH eggs in flies in Pasar KM 5 Palembang City. This research was an observational descriptive study with a cross sectional design. The samples of this study were caught with accidental sampling using insect nets and fly traps. The samples processing and observation were made at the Biooptic and Chemistry Medic Laboratory, Faculty of Medicine Sriwijaya University. The number of flies obtained 419 flies and consisted of 136 Musca domestica (32.4%), 183 Chrysomya megacephala (43.7%), and 100 Lucilia sp. (23,9%). From 42 total samples studied, 14 samples positively contaminated with STH eggs (33.4%), that consisting of 3 samples of Musca domestica (7.2%), 6 samples of Chrysomya Megacephala (14.3%), and 5 samples of Lucilia sp. (11,9%). The number of STH eggs obtained 17 eggs, consisted of 16 eggs of Ascaris lumbricoides (94.1%) that was 3 eggs in Musca domestica (17.7%), 7 eggs in Chrysomya megacephala (41.1%), and 6 eggs in Lucilia sp. (35.3%), and 1 egg of Trichuris trichiura in Chrysomya megacephala (5.9%). The conclusion was that there was contamination of STH eggs on flies in KM 5 Market Palembang City.
Potensi Penggunaan Metode PCR dalam Mendeteksi S. scabiei var. hominis Elva Miryani; Gita Dwi Prasasty; Dwi Handayani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53303

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit akibat infestasi Sarcoptes scabiei yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Deteksi dini yang akurat sangat penting untuk mencegah penularan dan komplikasi. Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan metode diagnostik molekuler yang berpotensi tinggi mendeteksi tungau skabies. Penelitian ini merupakan kajian literatur sistematik untuk mengevaluasi berbagai metode PCR, diantaranya konvensional, real time (RT), nested, dan multiplex dalam mendeteksi tungau skabies. Literatur diperoleh dari Google Scholar, ClinicalKey, Scopus dan PubMed dengan kata kunci “PCR and Scabies”, dibatasi pada artikel berbahasa Indonesia dan Inggris tahun 2015–2025. Hasil menunjukkan bahwa RT-PCR dan Nested PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas paling tinggi, masing-masing mencapai hingga 95% dan >90%. Gen target yang digunakan bervariasi, antara lain gen mitokondria 16S, ITS2, dan cox1. Sampel umumnya berasal dari kulit lesi, dengan sebagian menggunakan swab kering. Kesimpulannya, RT-PCR dan Nested PCR merupakan metode PCR paling potensial untuk deteksi skabies secara akurat, bahkan dengan material tungau yang rendah. Metode PCR bermanfaat dalam konteks surveilans endemis dan memfasilitasi pengobatan secara dini untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.,. Diperlukan penelitian berskala besar serta pengembangan primer dan protokol PCR yang tepat dan sederhana untuk meningkatkan efektivitas diagnosis skabies.