Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Penanaman Karakter Kebangsaan Terhadap Mahasiswa (Studi Deskriptif Pada Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia) Ria Yuni Lestari; Susilawati Susilawati
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2719

Abstract

AbstrakPendidikan karakter adalah pendidikan yang berupaya untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih baik. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa, yang mana mereka akan menjadi pelaku perubahan dan kemajuan suatu bangsa. Diharapkan agar perilaku warga negara baik dalam aspek politik, ekonomi, maupun sosial budaya mengacu pada konsep, prinsip dan nilai yang terkandung dalam Pancasila.Sikap dan tingkah laku yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dengan mendudukan hak asasi manusia secara proporsional sesuai dengan konsep dan prinsip yang terkandung dalam Pancasila. Semangat kebangsaan yang tinggi, sehingga selalu menjunjung tinggi existensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan maraknya kasus penyelewengan perilaku dan karakter anak bangsa, perlu ditumbuhkan kesadaran bagi tidak hanya tenaga pendidik dan pemerintah, melainkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk menerapkan perilaku yang baik dan menanamkan karakter yang baik bagi anak Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan karakter kebangsaan dalam diri mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa sangat penting dilakukan, salah satunya adalah melalui proses pendidikan.Kata kunci: Penanaman Karakter, Pendidikan Karakter, Generasi Muda AbstractCharacter education is education that seeks to in still certain character values to students in which there are components of knowledge, awareness or willingness, as well as actions to carry out these values. Character education is closely related to moral education where the goal is to shape and train individual abilities continuously for self-improvement to wards a better life. The young generation is the next generation of the nation, where they will be the agents of change and progress of a nation. It is hoped that the behavior of citizens in terms of politics, economy, and socio-culture refers to the concepts, principles and values contained in Pancasila. Attitudes and behaviors that up hold human dignity as creatures created by God Almighty, by placing human rights proportionally in accordance with the concepts and principles contained in Pancasila. High national spirit, so that it always up holds the existence of the Unitary State ofthe Republic of Indonesia. With the rise of cases of misappropriation of the behavior and character of the nation’s children, it is necessary to raise awareness not only for educators and the government, butals of or the awareness of the Indonesian people to apply good behavior and in still good character in Indonesian children. Therefore, the development of national character in students as the next generation of young people is very important, one of which is through the education process.Keywords: Character Planting, Character Education, Young Generation
Pengembangan Media Pembelajaran Komik Digital Pada Pelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Di SMA Negeri 3 Kota Serang Aulia Najwa; Ratna Sari Dewi; Ria Yuni Lestari
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2809

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan dengan tujuan mengembangkan media pembelajaran komik digital pada pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang  dilakukan di SMAN 3 Kota Serang. Tujuan pengembangan media pembelajaran komik digital dibuat untuk memudahkan kegiatan belajar mengajar bagi guru dan peserta didik. Dengan adanya media pembelajaran komik digital peserta didik lebih tertarik dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah penelitian pengembangan dengan menggunakan model pengembangan R&D (Research and Development) yang dilakukan dengan beberapa tahap yaitu (1) analisis masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain produk, (5) revisi desain, dan (6) uji coba produk. Validasi ahli uji kelayakan media pembelajaran komik digital terdiri dari dua yaitu ahli media dan ahli materi. Uji coba produk dilakukan kepada dua puluh satu peserta didik. Berdasarkan tahapan-tahapan tersebut, hasil penelitian media pembelajaran komik digital pada pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran materi kemerdekaan beragama dan berkepercayaan di Indonesia menghasilkan nilai rata-rata dari ahli materi sebesar 83,75% dikategorikan sangat layak, ahli media 95% dikategorikan sangat layak, dan respon peserta didik memperoleh presentase sebesar 93,26% oleh peserta didik pada tahap uji coba produk memperoleh presentase sebesar 93,26% yang menyatakan media pembelajaran komik digital sangat layak.Kata kunci : Pengembangan Media Pembelajaran, Komik Digital, PPKnAbstractAulia Najwa. Development of Digital Comics Learning Media in Pancasila Education Lessons and Citizenship at SMAN 3 Serang City. This research was conducted with the aim of developing digital comics learning media in Pancasila and Citizenship Education lessons conducted at SMAN 3 Serang City. The purpose of developing digital comics learning media is made to facilitate teaching and learning activities for teachers and students. With the digital comic learning media, students are more interested in teaching and learning activities. The research conducted by the author is development research using the R&D development model (Research and Development) which is carried out in stages, namely (1) problem analysis, (2) data collection, (3) product design, (4) product design validation, (5 ) design revisions, and (6) product trials. The validation of digital comic learning media test experts consisted of two, namely media experts and material experts. Product trials were conducted on twenty-one students. Based on these stages, the results of research on digital comics learning media in Pancasila and Citizenship Education lessons on freedom of religion and belief in Indonesia resulted in an average score of 83.75% from material experts categorized as very feasible, 95% media experts categorized as very feasible, and response students obtained a percentage of 93.26% by students at the product trial stage of 93.26% which stated that digital comic learning media was very feasible. Keywords : Learning Media Development, Digital Comics, PPKn
SCHOOL-BASED YOUTH INFORMATION AND COUNSELING ACTIVITIES FOR DEVELOPING ADOLESCENT LIFE SKILLS Siti Siska Cutikawati; Damanhuri; Ria Yuni Lestari
EDUCATIONE Volume 4, Issue 2, July 2026
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v4i2.242

Abstract

Schools require integrated approaches that enable adolescents to practice personal, social, and decision-making competencies rather than merely receive health information. This study examined how activities in an Indonesian Youth Information and Counseling Center (Pusat Informasi dan Konseling Remaja, PIK-R) were perceived to foster junior secondary students’ life skills and identified conditions supporting or constraining implementation. A descriptive qualitative case study was conducted at SMP Negeri 7 Kota Serang from October 2025 to January 2026. Data were generated through participant observation, in-depth interviews with eight informants—one PIK-R supervisor, one trainer, and six student members—and analysis of photographs, videos, organizational records, and program documents. Data were reduced, displayed, compared across sources, and interpreted through source and technique triangulation. Five interconnected activities—leadership training, self-management, life-skills training, peer educator preparation, and peer counselor preparation—were associated with six domains: physical and mental self-care, self-awareness and expression, cooperation, self-protection and assertiveness, logical decision-making, and goal planning. Adequate facilities, trained personnel, school funding, peer support, and collaboration with the population and family-development agency enabled implementation. Schedule conflicts and limited student interest restricted continuity and reach. PIK-R can function as a school-based positive youth-development setting when learning is practice-oriented, peer roles are supervised, and institutional support is sustained. Multi-site and longitudinal research should examine non-participants, program dosage, and changes measured with validated life-skills instruments.
Analisis Persepsi Masyarakat Terhadap Eksistensi Calon Legislatif Muda Di Dapil 5 Kabupaten Serang Tamrohul Ikhsani; Febrian Alwan Bahrudin; Ria Yuni Lestari
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.14984

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif masyarakat terhadap calon legislatif muda pada pemilu tahun 2024 di Daerah Pemilhan (Dapil) 5 Kabupaten Serang dan mencakup dampak dari faktor timbulnya perspektif masyarakat tersebut. Metode yang diterapkan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif melalui pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap calon legislatif muda sangat beragam, akan tetepi secara keseluruhan cenderung positif. Hampir seluruh masyarakat berpandangan bahwa eksistensi kaum muda merupakan bentuk regenerasi yang dapat membawa perubahan, dengan gagasan yang inovatif, dan terbuka terhadap aspirasi masyarakat dan juga dianggap lebih mudah menjangkau masyarakat karena lebih mampu memanfaatkan media sosial. Namun terdapat beberapa masyarakat yang berpandangan skeptis atas kapabilitas caleg muda, karena persepsi publik terkait kurangnya pengalaman dan belum matang dalam berpikir dan bertindak dalam bidang politik. Beberapa faktor yang mempengaruhi pandangan tersebut meliputi tingkat pendidikan politik, pengalaman masyarakat dalam mengikuti proses politik, intensitas interaksi dengan calon legislatif muda, serta dampak lingkungan sosial dan budaya politik di masyarakat setempat.
PELESTARIAN KESENIAN TARI BUAYA PUTIH SEBAGAI UPAYA MENJAGA NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL (Studi Deskriptif di Kampung Curugdahu Kab. Serang) Umiyah; Dinar Sugiana Fitrayadi; Ria Yuni Lestari
Jurnal Binagogik Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL BINAGOGIK
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61290/pgsd.v10i1.159

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kesenian tari buaya putih di kampung Curugdahu Kabupaten Serang, (2) strategi bentuk pelestarian kesenian tari buaya putih di kampung Curugdahu Kabupaten Serang, (3) tantangan dalam melestarikan kesenian tari buaya putih di kampung Curugdahu Kabupaten Serang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi serta keabsahan data menggunaka triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kesenian tari buaya putih yaitu nilai religi, nilai estetika, nilai gotong royong dan nilai moral. Berbagai nilai tersebut menjadi sesuatu hal yang sangat penting di kesenian tari buaya putih karena nilai-nilai tersebut dapat dimaknai dengan baik apabila para anggota kesenian menjalankan kesenian tari buaya putih ini secara rutin dilakukan dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tahapan dari persiapan, pelaksanaan dan penutupan. Selain itu, dibutuhkan sebuah strategi untuk melestarikan kesenian tari buaya putih yaitu dengan cara adanya sebuah fasilitator, koordinar dan dinamisator dalam pelestarian baik dari pengelola sanggar maupun dari pemerintah. Terdapat pula sebuah tantangan baik secara internal maupun internal yang dihadapi dalam proses pelestarian kesenian tari buaya putih yang mana faktor internal dipengaruhi oleh dalam diri misalnya motivasi dalam diri dalam melestarikannya, sedangkan untuk faktor internal yang dihadapi ialah adanya budaya luar, perkembangan teknologi serta sarana dan prasarana kurang memadai.
PERAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DALAM MEMBENTUK SIKAP KOMUNIKATIF PESERTA DIDIK (STUDI DESKRIPTIF PADA KELAS VII C DI MTSN 1 PANDEGLANG) Nayla Zulvia Rachma; Ria Yuni Lestari; Qotrun Nida
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14470

Abstract

Pancasila Education learning plays an important role in shaping students' communicative attitudes as part of strengthening character and citizenship competency. However, in its implementation, students are still found to lack confidence in expressing opinions, have not been able to build arguments appropriately, and do not respect the opinions of others in the learning process. This study, conducted from January to March 2026, aims to describe the role of Pancasila Education learning in shaping the communicative attitudes of class VII C students at MTsN 1 Pandeglang using the perspective of Jürgen Habermas's communicative action theory. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The data were then analyzed using the Miles, Huberman, and Saldana model which includes data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that Pancasila Education learning through the debate method plays a role in shaping students' communicative attitudes through a dialogue process that provides opportunities for students to express opinions, build arguments, listen, respect the views of others, and justify their opinions rationally. Based on Habermas's communicative action perspective, the learning process encourages the creation of communication that is oriented towards mutual understanding, so that students' communicative attitudes develop through aspects of clarity, accuracy, honesty, listening skills, respect for other people's opinions, courage to speak, and responsibility in communicating. ABSTRAK Pembelajaran Pendidikan Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk sikap komunikatif peserta didik sebagai bagian dari penguatan karakter dan kompetensi kewarganegaraan. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan peserta didik yang kurang percaya diri menyampaikan pendapat, belum mampu membangun argumentasi secara tepat, serta kurang menghargai pendapat orang lain dalam proses pembelajaran. Penelitian yang dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2026 ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam membentuk sikap komunikatif peserta didik kelas VII C di MTsN 1 Pandeglang dengan menggunakan perspektif teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Data kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila melalui metode debat berperan dalam membentuk sikap komunikatif peserta didik melalui proses dialog yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat, membangun argumentasi, mendengarkan, menghargai pandangan orang lain, serta mempertanggungjawabkan pendapatnya secara rasional. Berdasarkan perspektif tindakan komunikatif Habermas, proses pembelajaran tersebut mendorong terciptanya komunikasi yang berorientasi pada saling memahami (mutual understanding), sehingga sikap komunikatif peserta didik berkembang melalui aspek kejelasan, ketepatan, kejujuran, kemampuan mendengarkan, penghargaan terhadap pendapat orang lain, keberanian berbicara, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi.