Claim Missing Document
Check
Articles

Semiotika Arsitektur Masjid Jamik Sumenep-Madura Femy Andromedha Atthalibi; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Jamik Sumenep merupakan bangunan prasejarah dan wujud produk karya seni arsitektur dengan perpaduan kebudayaan dan kepercayaan. Masjid Jamik Sumenep, gapura dan menara memiliki bentuk yang khas tampilan visual fasad bangunan yang dimana terdapat tanda atau simbol arsitektur dalam bentuk ragam hias maupun elemen arsitektur bangunan yang perlu dikaji. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali dan memaparkan obyek studi yang kemudian hasil pemaparan tersebut dianalisa dengan menggunakan teori semiotika arsitektur sintaksis, pragmatik dan semantik. Hasil penelitian ini dapat mengetahui relasi tanda dalam bentuk visual fasad bangunan dan fungsi karya arsitektur dalam membentuk bahasa tanda dan makna yang terdapat pada Masjid Jamik Sumenep, gapura dan menara.Kata Kunci : Semiotika, Masjid Jamik Sumenep, sintaksis, pragmatik, semantik
Sekolah Alam di Dusun Magersari Tulungagung dengan Konsep Permakultur Prima Adi Yudha; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.346 KB)

Abstract

Kebutuhan masyarakat mengenai ruang belajar dengan konsep yang mampumembangun dan mendukung pembelajaran mengenai alam dan nilai-nilai kulturmasyarakat diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan lingkungandengan sistem berkelanjutan. Maka, perlu adanya konsep perancangan sekolah alamyang mampu menyikapi permasalahan tersebut dengan bijak yang sesuai denganpotensi alam dan kultur masyarakat.Ruang lingkup studi pada konsep perancangan sekolah alam terletak di kawasanDusun Magersari, Kabupaten Tulungagung. Dusun Magersari merupakan kawasanyang memiliki potensi alam yang tinggi dan masyarakat Dusun Magersari menjaganilai-nilai kultur untuk menjaga alam dengan baik. Metode yang digunakan adalahmetode deskriptif dan analisa sebagai dasar perancangan sekolah alam denganpemahaman fenomena berupa visual kultur sosio-ekologi diikuti denganpemahaman secara mendalam mengenai lingkungan eksisiting site yaitu DusunMagersari. Metode desain yang digunakan adalah metode pragmatis.Penerapan konsep permakultur pada sekolah alam, dapat membuat desain sekolahalam menjadi lebih ramah lingkungan dengan sistem desain sekolah alam yangmemiliki sifat berkelanjutan sesuai dengan potensi wilayah Dusun Magersari.Sistem desain sekolah alam yang berkelanjutan, berkaitan dengan sistemperkebunan, sistem peternakan, sistem utilitas, sistem sirkulasi, desain dan tataletak bangunan, dan zonasi permakultur.Kata kunci: sekolah alam, permakultur, sistem berkelanjutan
Membaca Pola Geometri pada Gereja Katolik Palasari Aminah Inoue Sjaharia; Chairil Budiarto Amiuza; Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.605 KB)

Abstract

Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa dengan penduduknya yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya maupun agama. Bangsa Indonesia sendiri terkenal sebagai masyarakatnya yang religius, yang dimana dalam setiap aktivitas kehidupannya bertitik-tolak pada ajaran agama yang dianutnya masing-masing. Agama Katolik termasuk salah satu dari enam agama yang diakui di Indonesia, dengan gereja sebagai tempat peribadatannya. Gereja Katolik Palasari merupakan salah satu gereja Katolik yang berada di Bali yang memiliki langgam bangunan yang sedikit berbeda dengan bangunan gereja pada umumnya. Gereja Katolik yang dibangun pada tahun 1958 tersebut dianggap sebagai bangunan bertema heritage yang merupakan bangunan inkulturasi, yakni antara arsitektur Bali yang merupakan arsitektur lokal dengan arsitektur Gereja Katolik Gotik. Penelitian ini akan meneliti apakah benar adanya proses inkulturasi yang terjadi pada Gereja Katolik Palasari yang dilihat dari kacamata geometri. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis korelasi dengan aspek geometri sebagai alatnya. Peneliti melakukan sebuah kategorisasi, dengan cara menyajikan data-data serta penarikan kesimpulan sebagaimana yang pada umumnya dilakukan pada tahap analisa data dalam sebuah penelitian yang bersifat kualitatif.Kata Kunci: Inkulturasi, Geometri Arsitektur
TRANSFORMASI BAHASA RUPA WAYANG KULIT PURWA PADA PERANCANGAN MUSEUM WAYANG KEKAYON BANTUL YOGYAKARTA Ardhi Ismana; Chairil Budiarto Amiuza; Nurachmad Sujudwijono A. S.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.393 KB)

Abstract

Arsitektur merupakan media komunikasi pesan visual yang diungkapkan melalui simbol dari arsitek atau perancang kepada para pengguna atau pengamat bangunan. Begitu pula peran visual sangat berpengaruh pada perancangan arsitektur museum. Dewasa ini gagasan perancangan museum modern dalam dalam kaitan visual arsitektur sangat berperan penting, dimana desain visual arsitektur museum sebagai interpretasi isi museum agar masyarakat lebih mudah mengingat. Selain itu visual arsitektur museum sebagai ungkapan simbol berupa skulpture penanda suatu potensi kawasan. Ada beberapa metode untuk terwujudnya perancangan visual arsitektur sebagai media komunikasi simbolik, metode yang pertama adalah pengkajian terlebih dahulu tentang objek karakter visual yang akan disampaikan dalam ranah arsitektur. Dalam perkembangannya metode yang sering digunakan berkaitan dengan kajian visual adalah teori kajian semiotika. Tahap kedua adalah kajian perancangan yang digunakan untuk memindah objek karakter visual yang dikaji keranah arsitektur. Tahap yang kedua ini dalam ranah arsitektur sering disebut metode perancangan transformasi.Kata Kunci: Arsitektur, Museum, Metode, Transformasi, Semiotika
Pemaknaan Terhadap Prinsip dan Pola Ruang pada Istana Maimoon Nindya Adhyaksa; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.939 KB)

Abstract

Sebagai salah satu elemen terpenting dalam perancangan arsitektur penempatan sebuah ruang juga melalui pertimbangan tertentu yang membentuk suatu pola tata ruang. Dalam pola penataan tersebut setiap susunan ruang memiliki maksud tertentu sehingga hal tersebut dapat dibaca melalui bahasa tanda. Istana Maimoon adalah peninggalan kebudayaan melayu di kota Medan yang harus dijaga kelestariannya. Dalam tatanan pola ruangnya Istana Maimoon memiliki suatu prinsip-prinsip penataan ruang yang memiliki makna dalam setiap susunan dan penempatannya. Pemaknaan tersebut dapat diterjemahkan melalui semantik dengan beberapa aspek yakni dari segi referensi atau kode tertentu, relevansi atau tertentu, maksud atau fungsi tertentu dan ekspresi atau nilai tertentu dari setiap pola dan prinsip-prinsip ruang yang terbentuk. Melalui identifikasi terhadap aspek sepasial pada pola ruang Istana Maimoon akan mengetahui prinsip-prinsip penyusunan pola tata ruangnya, kemudian dikaji makna yang terkandung di dalamnya melalui aspek semantik. Pola dan prinsip tata ruang yang ada pada Istana Maimoon mengacu pada sebuah pola tatanan istana kerajaan pada umumnya yang memiliki makna yaitu gambaran sosok kekuasaan dan kebesaran seorang Sultan Melayu Deli pada masa kepemimpinannya dan nilai-nilai kepemimpinan yang harus dijaga baik hubungan vertikal terhadap Tuhan maupun hubungan horizontalnya kepada sesama manusia.Kata kunci: Pola ruang, Prinsip tata ruang, Semantik, Istana Maimoon
Transformasi Arsitektur Sasak pada Bangunan Resort M. Caesarian Ardi; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.318 KB)

Abstract

Adanya arsitektur tradisional pada setiap daerah yang tersebar di Indonesia saat ini masih sangat membutuhkan campur tangan arsitek dengan tujuan untuk mengangkat, melestarikan, serta mengembangkan konsep-konsep serta identitasnya dalam setiap karya yang terbangun, agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang begitu saja. Pulau Lombok sebagai pulau yang banyak memiliki obyek wisata memungkinkan arsitektur tradisionalnya untuk diangkat menjadi tema dalam bangunan seperti hotel, khususnya sebuah resort. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan suatu gagasan transformasi desain arsitektur tradisional tersebut untuk dapat diterapkan ke dalam fungsi lainnya yang ada dalam sebuah resort. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif serta menggunakan pendekatan tipologi sebagai dasar untuk menentukan variable perancangan dengan dibantu berbagai sumber seperti buku, jurnal peraturan pemerintah dan penelitian terdahulu yang terkait dengan pembangunan resort. Tahapan analisis yang dilakukan yaitu terlebih dahulu mengidentifikasi elemen-elemen bangunan, tipologi bentuknya, serta material yang menjadi identitas dari arsitektur tradisional suku Sasak. Hasil analisa tersebut kemudian dilakukan proses sintesis sehingga menghasilkan kriteria desain yang harus dipenuhi dalam proses transformasi.Kata Kunci: Transformasi, Resort, Suku Sasak
Pemaknaan Alun-alun Lumajang sebagai Ruang Publik Rizal Ardy Firmansyah; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makna sakral dan profan yang diwadahi pada alun-alun jawa yang salah satunya adalah alun-alun Lumajang menjadi hal yang diteliti dalam penelitian serta peran masyarakat dalam memunculkan makna alun-alun akan dilihat perannya. Penelitian ini menggunakan kondisi fisik dan non fisik dari objek studi berupa aktivitas dan interaksi masyarakat dengan objek sebagai observasi awal. Interaksi yang terjadi didukung dengan hasil respon para responden tentang hal yang ditangkap dan ditelaah dari masing-masing elemen. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang makna-makna yang muncul pada alun-alun Lumajang saat ini dengan melihatnya sebagai ruang publik karena terdapat indikasi pemanfaatan dan perancangan ruang alun-alun sebagai ruang publik kota. Hubungan makna denotatif dan konotatif yang terbentuk dari penanda dan petanda karena interaksi dan respon masyarakat. Makna tersebut akan digali dengan teori semiotika menggunakan pendekatan kualitatif dipadukan bersama metoda survei. Hasil temuan makna selanjutnya akan diinterpretasikan dengan hasil bahwa tidak semua area objek studi memiliki pemaknaan yang condong ke makna denotatif, karena sisi utara memiliki pemaknaan kuat tentang makna sebagai ruang privat para pemerintah daerah. Sedangkan pada semua area kecuali sisi utara bermakna sebagai ruang hiburan bagi masyarakat dengan penyediaan berbagai kebutuhan dalam hal hiburan bagi masyarakat.   Kata kunci: makna, semiotika, alun-alun, interaksi masyarakat, ruang publik
Pelestarian Bangunan Masjid Jamik Sumenep Faridatus Saadah; Antariksa Antariksa; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.132 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menemukan karakter bangunan MasjidJamik Sumenep yang meliputi karakter visual, spasial dan karakter strukturalbangunan, dan menentukan strategi pelestarian yang dapat digunakan pada bangunantersebut. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan tiga macampendekatan, yaitu metode deskripsi analisis, metode evaluative (pembobotan) danmetode development. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa karakter bangunan MasjidJamik Sumenep ditentukan oleh beberapa elemen, yaitu antara lain elemen karaktervisual yang membentuk tampak bangunan seperti pintu, jendela dan dinding. Karakterspasial yaitu organisasi ruang dan orientasi bangunan, dan karakter struktural denganmenganalisa struktur atap dan dinding bangunan. Setelah ditemukan karakterbangunan tersebut, maka digunakan metode evaluative dan ditetapkan beberapaelemen bangunan yang mempunyai potensial tinggi, sedang dan rendah. Dari hasilpenetapan ditentukan stategi pelestarian yang sesuai dengan kondisi masing –masingelemen bangunan tersebut.Kata kunci: masjid, karakter bangunan, strategi pelestarian
Museum Jembatan sebagai Bangunan Ikonik Pulau Madura Dedy Asrizal; Chairil Budiarto Amiuza; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.645 KB)

Abstract

Bangunan ikonik memiliki peran penting sebagai penanda (sign) atau ikon sebuah tempat, lingkungan, kota, kawasan, bahkan negara. Kehadirannya memberi identitas sehingga tempat tersebut mudah diingat dan dikenal oleh masyarakat atau lingkungannya. Bangunan ikonik memiliki pengertian adalah bangunan yang dapat dijadikan penanda tempat di lingkungan sekitar ataupun karya arsitektur yang menjadi tanda waktu/era tertentu. Objek rancang pada studi ini adalah Museum Jembatan yang direncanakan strategis di gerbang utama Pulau Madura lebih tepatnya pada lahan reklamasi kaki Jembatan Suramadu. Bangunan tersebut akan mengedukasi masyarakat dengan perkembangan teknologi jembatan dan dokumentasi pembuatan Jembatan Suramadu sebagai jembatan kebangggan Indonesia. Metode penelitian yang digunakan untuk mengevaluasi objek rancang Museum Jembatan sebagai bangunan ikonik Pulau Madura adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa rancangan Museum Jembatan telah memenuhi kriteria sebagai bangunan ikonik dengan ciri-ciri diantaranya adalah, (a) memiliki skala bangunan relatif besar dan cenderung megah, (b) memiliki bentuk atraktif, (c) memiliki unsur kekuatan bangunan yang tinggi, dan (d) berlokasi pada tempat strategis.Kata kunci: Museum Jembatan, bangunan ikonik, Pulau Madura
Pola Aktivitas Pengunjung dalam Ruang Penghubung Kawasan Stasiun Depok Baru dan Terminal Margonda Widya Agatha Putri; Jenny Ernawati; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stasiun Depok Baru dan Terminal Margonda berperan dalam memberikan akses bagi masyarakat komuter melalui penyediaan moda kereta api, bus, serta angkot sebagai layanan transportasi publik Kota Depok. Terdapat kebijakan pemerintah mewujudkan keduanya sebagai pusat transportasi terpadu dengan penyediaan hubungan ruang berdasar pada pola yang terbentuk dari pergerakan serta aktivitas. Studi bertujuan untuk mengetahui pola yang terbentuk sebagai pertimbangan menghasilkan wujud ruang penghubung yang sesuai. Environment behavior menjadi pendekatan studi melihat adanya keterkaitan antara pelaku, ruang, serta aktivitas membentuk kecenderungan perilaku pemanfaatan ruang. Penjelasan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan variabel berupa aspek perilaku dan arsitektural. Teknik behavioral mapping merekam kecenderungan pola yang terbentuk selama jangka waktu observasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan antara aktivitas dengan ruang, serta aktivitas lainnya saling mempengaruhi. Perilaku awal yang terbentuk mempengaruhi munculnya perilaku pengunjung lainnya. Perlunya batasan dalam mengarahkan dan membatasi teritori ruang aktivitas pengunjung sehingga terwujud ruang penghubung sesuai fungsi peruntukkan melalui penyediaan ruang peralihan tansportasi yang strategis dengan memperhatikan ketersediaan elemen fisik, dimensi, serta konfigurasi ruang, serta penataan perabot antara dua kawasan.Kata kunci: ruang penghubung, pola aktivitas, environment behavior