Claim Missing Document
Check
Articles

Geometri Fraktal pada Candi Singosari sebagai Konsep Desain Museum Purbakala Singosari Sirly Intan Sayekti; Chairil Budiarto Amiuza; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1064.921 KB)

Abstract

Candi Singosari merupakan salah satu kekayaan arsitektur nusantara yang memiliki karakter lokal. Sebagai arsitektur yang dibangun pada masa Kerajaan Singosari pada abad ke 13, bentuk pada candi peninggalan kerajaan Singosari merupakan ikon peninggalan sejarah Kerajaan Singosari di masa lalu. Keberadaan inilah yang memperkuat bahwa bangunan ini memiliki kedekatan dengan masyarakat sekitarnya, memiliki potensi untuk dikembangkan dengan perubahan fungsi awal candi sebagai tempat peribadatan dan pemujaan menjadi tempat belajar dan melestarikan budaya. Untuk menerjemahkan bangunan perlu mengidentifikasi bentukan dasar bangunan dengan menggunakan ilmu geometri yang merupakan alat dasar arsitektur untuk mendefinisikan ruang di alam semesta. Ilmu geometri dan arsitektur tidak terpisahkan, terjadi perubahan dan perkembangan mengikuti waktu. Geometri fraktal adalah geometri alam yang memiliki bentukan irregular. Arsitektur Candi mengambil bentukan alam ke dalam arsitekturnya. Perulangan geometri alam pada candi memakai aturan perhitungan vastu purusa mandala menggunakan geometri bujursangkar, diulang dengan berbagai ukuran besar dan kecil membentuk pola geometri fraktal, sehingga dengan pengkajian dapat dikembangkan dalam perancangan arsitektur. Berdasarkan permasalahan konservasi peninggalan masa lalu yang perlu dilindungi dan dijaga agar dapat dilestarikan maka dalam penelitian ini akan dilakukan kajian geometri fraktal candi dan akan diterapkan pada perancangan Museum Purbakala Singosari sebagai upaya konservasi dan pengembangan budaya peninggalan Kerajaan Singosari.Kata kunci: geometri fraktal, Candi Singosari, museum
Perancangan Museum Pinisi dengan Menerapkan Konsep Living Museum di Bulukumba Wisnu Hanggara; Chairil Budiarto Amiuza; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1192.477 KB)

Abstract

Pembuatan kapal pinisi di Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu aset industri dan kebudayaan maritim bagi Indonesia yang telah dikenal dunia internasional. Keberadaannya saat ini terus mengalami degradasi, padahal dalam proses pembuatan kapal pinisi terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang berpadu harmonis dengan kemampuan teknis kekriyaan para pengrajinnya. Perancangan Museum Pinisi di Bulukumba ini merupakan upaya untuk menjaga warisan budaya tersebut dan mempertahankan identitas masyarakatnya. Penerapan konsep museum hidup diharapkan dapat menjadi dasar untuk menyelenggarakan program aktivitas dalam museum yang berbasis pengalaman langsung mengenai proses pembuatan kapal pinisi. Pemilihan tapak yang terintegrasi langsung dengan kampung pengrajin pinisi di Desa Tanah Beru diharapkan dapat memberikan informasi dan pengalaman ruang yang otentik, maka dari itu penambahan fasilitas museum diupayakan tetap mempertahankan pola aktivitas asli dan seminimal mungkin merubah suasana ruang di sekitarnya. Sehingga maksud dan tujuan museum pinisi ini dapat dirasakan manfaatnya, baik oleh masyarakat lokal maupun masyarakat luas.Kata kunci: konsep museum hidup, perancangan museum, program aktivitas museum
Geometri Arsitektur Pada Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang, Kediri, Jawa Timur Puput tri Eliza; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia dibangun oleh masyarakat yang plural. Baik dari segi agama, suku, ras hingga antar golongan. Salah satu wujud agama yang terdapat pada Indonesia adalah agama Katolik secara resmi diperkirakan muncul di Indonesia pada abad ke-16 yang dibawa oleh bangsa Portugis dengan gereja sebagai sarana peribadatannya. Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang dibangun pada tahun 1936. Gereja ini memiliki lokasi tapak yang berada pada kawasan wisata religi Gua Maria Lourdes yang disana tedapat beberapa bangunan penunjang kegiatan peribadatan.  Gereja memiliki  ide pembangunan tidak hanya sebagai tempat peribadatan, melainkan digunakan untuk kepentingan menimba ilmu anak-anak pribumi. Pemrakarsanya adalah Pastor Jan Wolters C.M yang menunjuk Henri Maclaine Pont sebagai arsitek pelaksana atas pembangunan gereja. Hal ini dikarenakan  Henri Maclaine Pont dianggap memiliki minat dan keingintahuan yang sama terhadap budaya Jawa. Sehingga langgam gereja tidak hanya menampilkan langgam bangunan arsitektur gereja Gotik melainkan ada pertimbangan arsitektur Jawa-nya. Penelitian akan meneliti geometri arsitektur yang ada pada bangunan gereja terkait delapan pendekatan geometri menurut teori Simon Unwin. Metode yang digunakan adalah metode analisis kualitatif dengan alat ukur geometri arsitektur. Penelitian ini melakukan penglompokkan data-data serta penarikan kesimpulan, seperti yang terdapat pada penelitian yang bersifat kualitatif pada umumnya.
Pola Community Behavioral Settings untuk Penataan Ruang Terbuka Publik Kawasan Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta Dela Puspa Winata; Chairil Budiarto Amiuza; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta adalah lokasi pusat kegiatan komunitas-komunitas aktif yang memiliki banyak ragam perilaku dan kegiatan yang berlatar belakang seni, sosial, mata pencahariaan dan budaya. Didalamnya, terdapat masalah kompleksitas penggunaan ruang dan minimnya kualitas ruang publik eksisting sehingga membutuhkan studi pola behavioural settings yang diperlukan untuk penataan ruang terbuka publik kawasan ini. Metode penelitiannya adalah behaviour place-centered mapping. Variabel penelitiannya adalah person/komunitas beserta perilaku dan aktivitasnya, tatanan lingkungan fisik (milieu), waktu, dan synomorphy yang merupakan hubungan antara perilaku dan milieu-nya. Hasil penelitiannya adalah terdapat kesamaan perilaku yang memanfaatkan ruang teduh kosong, berkumpul dengan komunitas lainnya, berjalan/duduk sambil menikmati pemandangan sekitar, dan berinteraksi sekaligus melakukan kegiatan utamanya. Perilaku-perilaku ini membutuhkan ruang istirahat, ruang interaksi dan ruang kegiatan utamanya. Ruang-ruang aktivitas tersebut dapat membentuk setting dan tatanan lingkungan yang dapat ditunjang dengan rekomendasi penataan elemen ruang publik seperti shelter, vegetasi peneduh, lampu, kios, signage, dan utilitas kawasan sebagai perangkat fisik pendukung didalamnya.Kata kunci: Kawasan Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta, behavioural settings, ruang terbuka publik
Tanda Visual pada Woning Voor Agent Van Javasche Bank Rizaldy Hari Kurniawan; Chairil Budiarto Amiuza; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.017 KB)

Abstract

Woning voor Agent van Javasche Bank merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda di Surabaya yang sekarang dikenal sebagai perpustakaan Bank Indonesia. Bangunan ini berdiri pada tahun 1921 dan dirancang oleh biro arsitek Belanda Job en Sprij yang pada awalnya digunakan sebagai rumah tinggal bagi Direktur Javasche Bank atau yang sekarang dikenal sebagai Bank Indonesia. Pada perkembangannya bangunan ini memiliki tanda visual yang berbeda dari bangunan kolonial pada umumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tanda visual yang terdapat pada bangunan dan hubungannya dengan periodisasi bangunan kolonial yang ada di Indonesia. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan pendekatan semiotika melalui tiga aspek yaitu sintaksis, pragmatik dan semantik. Hasil studi menunjukkan bahwa pada bangunan ini terdapat tanda visual dari tiga periodisasi bangunan kolonial yang ada di Indonesia. Tanda visual tersebut disampaikan melalui hubungan aspek sintaksis, pragmatik, dan semantik pada bangunan. Tanda visual yang terdapat pada bangunan menunjukkan ciri dari tiap periodesasi dan juga makna yang terkandung dari setiap periodisasi bangunan kolonial.Kata kunci: Bangunan kolonial, tanda visual, semiotika.
Fleksibilitas Artspace dengan Lahan Minim (Studi Kasus Semen Art Gallery) Edwin Abdullah Almuhaimin; Chairil Budiarto Amiuza; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.763 KB)

Abstract

Artspace merupakan suatu wadah bagi seniman dalam menuangkan karya seni kemasyarakat dan melestarikan karya serta sebagai sarana pendidikan publik. Bagiandalam dari Artspace adalah komponen penting yang dapat mempengaruhi suasanagaleri. Selain itu terdapat komponen interior yang juga sangat berpengaruh, sepertisistem sirkulasi, tata letak, pencahayaan dan sistem tampilan yang dapatmempengaruhi alur cerita suatu karya dan aktivitas di dalamnya yang dinamissehingga dapat menentukan kenyamanan pengunjung. Adanya fleksibilitas ruangyang dapat memfasilitasi karya seni yang beragam sangat dibutuhkan terutamapada bangunan dengan lahan minimal, sehingga pengembangan fleksibilitas ruangpada Artspace diharapkan dapat meningkatkan manfaat dan fungsionalitasbangunan itu sendiri.Kata kunci: Artspace, Tata Ruang, Sirkulasi, Pencahayaan
Convention Center dalam Konteks Semiotika Reizal Adi Siswoyo; Chairil Budiarto Amiuza; Tito Haripradianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.852 KB)

Abstract

Convention Center merupakan sebuah aset berharga bagi sebuah kota atau negara yang menjadikan MICE sebagai salah satu daya tarik wisatanya. Melalui tampilan visual bangunan, orang awam akan mampu mengidentifikasi apa makna yang terdapat pada desain bangunan tersebut, dan fungsi dari bangunan tersebut. Jika kita memaknai arsitektur sebagai sebuah bahasa yang digunakan para perancang untuk bekomunikasi dengan masyarakat awam, maka tampilan visual bangunan itulah yang menjadi media pertama perancang dalam berkomunikasi. Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mengidentifikasi sebuah tanda. Di dalam semiotika arsitektur terdapat tiga unsur yaitu sintaksis, pragmatik, dan semantik. Untuk menelusuri makna dalam sebuah desain arsitektur maka digunakan pendekatan melalui unsur semiotika semantik. Melalui pendekatan semiotika semantik arsitektur terhadap tanda – tanda visual pada sebuah desain Convention Center, diketahui bahwa desain sebuah Convention Center merupakan gambaran dari nilai – nilai lokal dan gambaran bentang alam dari lokasi bangunan tersebut berada yang terwujud dalam pengaplikasian desain, terutama pada struktur bangunan tersebut.Kata Kunci: Convention Center, Semiotika Arsitektur, Semiotika Semantik
SEMANTIK ARSITEKTUR PADA PASAR SENI KABUPATEN SIDOARJO Alifian Kharisma S; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.833 KB)

Abstract

Dalam perkembangannya, arsitektur di era modern telah mengesampingkan makna. Arsitektur hanya untuk kepentingan sepihak saja (subjektif). Lalu mulai dicetuskan lagi di era posmodern tentang pemaknaan terhadap suatu karya arsitektur dan kembali ke nilai-nilai lokal. Di masa kini muncul banyak kritik arsitektur sehingga mulai bermunculan beragam pendekatan merancang. Salah satunya yang menilai arsitektur secara holistik adalah semiotika arsitektur. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda visual yang berhubungan dengan bentuk, fungsi, dan makna. Salah satu cabangnya adalah semantik arsitektur yang fokus pada pemaknaan tanda visual arsitektur. Pendekatan merancang ini dapat dilakukan pada bangunan pasar seni yang merupakan salah satu ikon dan merupakan aset sosio-kultural kota. Sidoarjo merupakan kabupaten yang memiliki banyak potensi budaya kesenian. Pusatnya adalah daerah kota lama yang juga menjadi pusat perkembangan perekonomian. Tahapan pertama, diperlukan studi preseden dengan pendekatan semiotika. Hal ini akan menentukan kriteria perancangan pasar seni yang baik. Lalu untuk memasukkan nilai nilai lokal ke dalam wujud pasar seni, dilakukan studi tanda visual khususnya pada dimensi makna terhadap kesenian yang mewakili karakter khas Sidoarjo, salah satunya ialah Batik Jetis. Metode desain menggunakan transformasi borrowing dan metafora. Desain yang didapat mampu merepresentasikan karakter lokal.Kata kunci: semiotika, semantik, Pasar Seni Sidoarjo, makna
PENERAPAN UKIRAN MADURA PADA INTERIOR GALERI BATIK DI BANGKALAN PLAZA MADURA Karina Yunita Sari; Chairil Budiarto Amiuza; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1403.285 KB)

Abstract

Ornamen atau ukiran Madura memiliki warna, jenis, maupun corak yang sangat beragam.Interior bangunan terutama galeri batik Madura pada umumnya memiliki tema atau gayamodern. Walaupun demikian, penerapan ukiran Madura pada galeri batik Madura dapatdipakai untuk menunjukkan ciri khas Madura. Perancangan interior ditekankan padamotif hiasan Madura yang kaya akan bentuk, warna, dan karakter yang bertujuan untukmenampilkan ciri khas Madura melalui ukiran. Metode yang dipilih ialah metodeperancangan ruang dalam, selanjutnya dilakukan pemilihan ornamen ukiran Madurabeserta corak, warna, bentuk maupun cara penerapannya untuk dirancang pada sebuahruang interior. Hasil yang diperoleh ialah galeri batik Madura dengan menampilkan cirikhas Madura melalui ornamen ukiran untuk memperoleh ruang interior galeri batikMadura.Kata kunci: interior, ornamen, ukiran Madura
Redesain Taman Sriwedari Kota Surakarta (Studi Kasus Segaran) Nesyarani Fauzia Ami; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1275.941 KB)

Abstract

Taman Sriwedari merupakan taman yang mewadahi kegiatan seni budaya sekaligusmelestarikan sejarah (Bangunan Cagar Budaya) di dalamnya. Dalam Peraturan Daerah KotaSurakarta Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta Tahun2011–2031, Taman Sriwedari termasuk dalam Kawasan Cagar Budaya dan Ruang Terbuka Hijau.Di dalam kawasan Taman Sriwedari terdapat beberapa bangunan cagar budaya, antara lain:Museum Radya Pustaka, Gedung Wayang Orang, Stadion Sriwedari, dan Segaran. Di antarafasilitas- fasilitas tersebut, Segaran menjadi satu-satunya fasilitas yang tidak beroperasi lagikarena tidak ada perbaikan maupun pengembangan fasilitas. Evaluasi Purna Huni dilakukanuntuk mengevaluasi kelayakan kondisi eksisting Segaran Taman Sriwedari berdasarkanobservasi langsung pada objek dan menggunakan Metode EPH investigatif, yaitu penilaianberdasarkan literatur yang berkaitan dengan Segaran Taman Sriwedari. Tujuan evaluasi adalahuntuk mendapatkan kriteria yang tepat dalam proses redesain Segaran agar dapat berfungsikembali secara optimal seperti pada awal didirikan, sekaligus dapat melestarikan sejarahbudaya sebagai identitas pada Taman Sriwedari.Kata kunci: bangunan cagar budaya, taman budaya, evaluasi purna huni