Claim Missing Document
Check
Articles

Perancangan Tata Letak Pabrik Pengalengan Ikan Tuna di Sendangbiru Erwan Budi Kristanto; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.524 KB)

Abstract

Sendangbiru merupakan kawasan minapolitan yang berada pada daerah pesisir dan memiliki produksi hasil perikanan laut berupa ikan tuna sebesar 6.252,73 ton pada tahun 2016. Pengolahan ikan di daerah Sendangbiru masih sangat minim dan belum adanya pengolahan dalam skala besar. Pabrik yang dirancang menggunakan pendekatan tata letak pabrik karena banyak dari pabrik-pabrik pengalengan yang sudah ada masih memiliki tata leta pabrik yang dirancang dengan tanpa adanya kajian terlebih dahulu sehingga proses produksi terhambat dan menurunkan output produksi, menambah waktu tunggu, serta pemborosan penggunaan areal produksi, gudang, dan servis. Metode perancangan yang digunakan adalah metode programatik yang secara garis besar melakukan analisa desain dengan cara mengkaji dengan beberapa alternatif desain untuk menjawab persoalan desain. Tata letak pabrik dianalisis menggunakan karakteristik tata letak sehingga dapat menghasilkan tata letak yang terbaik dan pabrik pengalengan ikan tuna dapat memproduksi ikan secara optimal dengan hasil alernatif tata letak terbaik dengan nilai 83%.   Kata Kunci: tata letak, pabrik pengalengan ikan tuna, Sendangbiru.
SECONDARY SKIN MOTIF BATIK JAWA TIMUR PADA HOTEL DI SURABAYA Razqyan Mas Bimatyugra Jati; Jusuf Thojib; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.781 KB)

Abstract

Surabaya menjadi salah satu destinasi bisnis dalam tingkat lokal, nasional, maupun internasional.Salah satu kebutuhan penunjang kondisi demikian adalah penginapan (hotel). Hotel bangunan tinggi di daerah tropis umumnya memiliki permasalahan visual, yaitu silau. Salah satu carapenyelesaian silau adalah dengan memberikan secondary skin pada bangunan. Selain mengurangi silau,secondary skin juga dapat memberikan citra pada bangunan. Untuk mengoptimalkan fungsi dan makna secondary skin, dipandang perlu untuk memanfaatkan kekayaan budaya, satu diantaranya adalah batik Jawa Timur. Berdasarkan pemikiran ini, maka dibutuhkan secondary skin motif batik Jawa Timur pada hotel di Surabaya.Perancangansecondary skin ini menggunakan metode programatik dengan penggabungan prinsipsecondary skindengan motif batik Jawa Timur yang mampu mengurangi silau pada kamar hotel menjadi ±200 lux. Rancangansecondary skin menggunakan batik Probolinggo motif mangga dengan Window to Wall Ratio (WWR) 30%, ketebalan0,2 m dengan jarak 1m di sisi timur dan tebal 0,5 m dengan jarak 1,65 m di sisi barat bangunan, material menggunakan alumunium composit panel (ACP).Kata kunci: secondary skin, motif batik Jawa Timur, hotel, Surabaya
Semantik Ragam Hias pada Gedung PT. Perkebunan Nusantara XI di Surabaya Bahtiar Rah Adi; Chairil Budiarto Amiuza; Joko Tri Winarto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1336.57 KB)

Abstract

Gedung PT. Perkebunan Nusantara XI merupakan bekas gedung HVA (Handelsvereeniging Amsterdam) yang memiliki ragam hias di bagian fasad dan interiornya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, karakteristik, dan denotasi-konotasi ragam hias. Kajian ragam hias ini dapat mengetahui karakteristik dan langgam gedung sesuai masa periode berdirinya. Ragam hias yang memiliki makna dapat memperkuat nilai sejarah gedung. Metode penelitian yang digunakan berupa deskriptif-kualitatif dengan pendekatan semantik. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ragam hias terletak pada bagian fasad lobi, selasar, dan ruang kerja. Pada fasad dan lobi memiliki ragam hias utama, sedangkan pada selasar dan ruang kerja tidak memiliki ragam hias utama karena jumlah ragam hias sedikit dan diulang. Ragam hias merupakan percampuran antara ragam hias tradisional Jawa dengan langgam kolonial. Motif ragam hias berupa geometris, stilasi flora, fauna, alami, dan kombinasi geometris-stilasi flora. Ragam hias gedung memiliki denotasi-konotasi yang berkaitan dengan aspek kebudayaan dan sejarah gedung HVA. Contohnya, denotasi ragam hias utama pada fasad berupa ukiran motif stilasi flora khas Jawa. Konotasi ukiran tersebut adalah kemakmuran dan keindahan.Kata Kunci: semantik, ragam hias, gedung PT. Perkebunan Nusantara XI Surabaya
Kritik Arsitektur: Relasi Kuasa-Pengetahuan dalam Revitalisasi Hutan Kota Malabar Robbani Amal Romis; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.14 KB)

Abstract

Revitalisasi Hutan Kota Malabar adalah proyek yang proses materialisasinya dibasiskan pada kontestasi diskursus kuasa-pengetahuan yang kompleks. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui jejak-jejak kuasa yang berada dalam desain Revitalisasi Hutan Kota Malabar sebagai produk dari formasi diskursus kuasa pengetahuan tertentu. Kajian ini menggunakan pendekatan genealogi dan arkeologi Michel Foucault yang dioperasionalisasikan oleh metode kritik deskriptif depictive dan kontekstual. Dari kajian ini ditemukan bahwa terdapat dua jenis kebenaran yang membentuk mozaik desain Revitalisasi Hutan Kota Malabar yaitu kebenaran stabilitas negara dan pasar. Kata kunci: Revitalisasi, Hutan Kota Malabar, arkeologi, genealogi.
Evaluasi Fungsional pada Stasiun Kereta Api Kotalama Malang Redisya Gilang Permana; Chairil Budiarto Amiuza; Tito Haripradianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stasiun Kereta Api Kotalama Malang adalah stasiun tertua di Kota Malang yang pada awalnya dibangun untuk mengangkut hasil bumi dan perdagangan dari Kota Malang ke Surabaya dan sekitarnya.Stasiun ini mengalami perkembangan yang dahulu diperuntukkan bagi pengiriman barang kini menjadi stasiun yang diperuntukkan juga bagi penumpang manusia. Evaluasi yang dititikberatkan pada aspek fungsional menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan wawancara dan pengamatan sebagai alat riset. Dalam penjelasannya akan digunakan variabel kefungsian berupa akses, sirkulasi, parkir, ruang terbuka tata hijau serta urutan ruang. Variabel-variabel tersebut memiliki sejumlah kriteria performa yang telah ditetapkan dalam standar desain, yang jumlahnya tergantung persyaratan optimal yang harus dipenuhi untuk mengetahui sejauh mana kondisi variabel kefungsian tersebut sempurna, baik, cukup, kurang dan tidak memenuhi persyaratan. Studi ini menghasilkan pemaparan kondisi fungsional tapak dan bangunan yang terpaparkan dalam beberapa elemen kefungsian yang terdeskripsikan secara kualitatif dan kuantitatif. Dari segi akses, sirkulasi, parkir dan ruang terbuka tata hijau pada skala tapak ditemukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan standar yang ada. Begitu pula dalam skala bangunan baik dari aspek akses, sirkulasi dan urutan ruang terdapat ketidaksesuaian. Dari hasil evaluasi tersebut dapat dijadikan pedoman untuk menindaklanjuti permasalahan-permasalahan yang ada berupa rekomendasi desain.Kata kunci: stasiun, fungsional, evaluas
Penginapan Terapung Waduk Batujai Sebagai Fasilitas Penunjang Kegiatan Wisata Di Pulau Lombok Fachruddin Muchsin; Edi Hari Purwono; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.88 KB)

Abstract

Melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang arsitektur, bangunan terapung merupakan sebuah inovasi yang unik dalam pemanfaatan daerah air sebagai tempat hunian. Bangunan terapung di Indonesia sebenarnya sudah lama diaplikasikan di daerah-daerah tertentu seperti Kalimantan, Aceh, Irian Jaya dan beberapa daerah di Indonesia. Bagi negara-negara yang memiliki luas wilayah sempit, bangunan terapung merupakan salah satu penyelesaian masalah dalam permasalahan tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman, bangunan terapung sering dimanfaatkan sebagai tempat hunian yang memiliki sensasi berbeda dari tempat hunian lainnya. Perancangan penginapan terapung waduk Batujai merupakan sebuah perancangan yang memfokuskan perancangan pada bangunan di atas air, berupa penginapan terapung. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode komparatif, yaitu membandingkan bangunan-bangunan apung yang sudah ada lalu diaplikasikan pada bangunan penginapan tersebut. Untuk membantu dalam menentukan parameter perancangan, dilakukan studi literatur untuk mengetahui komponen-komponen penyusun apa saja yang ada pada bangunan terapung (skala kecil).Kata kunci: bangunan apung, penginapan wisata, waduk Batujai, pariwisata Lombok
Pusat Fasilitas Wisata Tamblingan di Desa Wisata Munduk (Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular) Vera Muslikha; Chairil Budiarto Amiuza; Beta Suryokusumo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.125 KB)

Abstract

Desa Wisata Munduk memiliki Danau Tamblingan sebagai destinasi wisata utama dengan pengembangan ke arah wisata alam dan spiritual. Sebagai dukungan akomodasi perlu adanya sebuah pusat fasilitas yang berbasis pada masyarakat, budaya dan lingkungan sesuai dengan kriteria desa wisata. Pencapaian kriteria tersebut ditunjukkan dengan perancangan yang berkarakter lokal, ramah lingkungan dan menyesuaikan kondisi saat ini. Hal ini dapat diproses dengan pendekatan arsitektur neo-vernakular yang mengkinikan arsitektur vernakular setempat dengan transformasi berdasarkan makna dan fungsi. Metode kajian diarahkan pada metode deskriptif kualitatif yang disusun secara programatik dengan penekanan ideologi dari arsitektur neo-vernakular. Fungsi yang diwadahi dalam Pusat Fasilitas Wisata Tamblingan terbagi dalam fungsi wisata (informasi, edukasi dan rekreasi) dan fungsi kemasyarakatan (sarana pembinaan dan organisasi masyarakat). Karakter arsitektur neo-vernakular pada skala tapak ditunjukkan dengan aplikasi pola zonasi berdasarkan hirarki, pola lansekap mengadaptasi konsep natah, konsep sirkulasi kombinasi Arsitektur Bali yang dimodifikasi dan sistem utilitas ramah lingkungan. Pada skala bangunan, bentuk aplikasinya adalah tipe bangunan tropis, material alami dan sistem struktur ekspos yang dikembangkan sesuai fungsi, tatanan masa majemuk serta adaptasi karakter tipologi bentuk dan tampilan bangunan setempat.Kata kunci: pusat fasilitas wisata, desa wisata, arsitektur neo-vernakular
Museum Seni dan Budaya Kota Batu (Dengan Pendekatan Transformasi Konsep Arsitektural Candi Songgoriti) Dyah Ayu Novianti; Noviani Suryasari; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candi Songgoriti merupakan salah satu bangunan peninggalan sejarah berupa hasil kesenian dan kebudayaan lokal tertua yang ada di Kota Batu. Untuk mendukung perkembangan Kota Batu sebagai Kota Pariwisata diperlukan fasilitas yang dapat mengemas hasil karya kesenian dan kebudayaan lokal yang ada. Dengan pemilihan Candi Songgoriti sebagai dasar konsep perancangan Museum Seni dan Budaya Kota Batu diharapkan dapat memperkuat kesan objek wisata dengan tema bangunan peninggalan sejarah yang harus dilestarikan dengan konten kesenian dan kebudayaan lokal yang ada di Kota Batu. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan bangunan museum seni dan budaya dengan menggunakan pendekatan transformasi dari konsep arsitekural Candi Songgoriti. Metode yang digunakan adalah dengan pemilihan variabel konsep arsitektural dari Candi Songgoriti yang diterapkan pada aspek bangunan museum berupa konsep ruang, bentuk, tampilan, dan hirarki. Dari hasil perancangan dapat disimpulkan bahwa transformasi yang dilakukan pada konsep arsitektural dan sejarah candi menjadi rancangan aspek bangunan museum dapat memperkuat kesan bangunan museum dengan tampilan dan penataan organisasi ruang Museum Seni dan Budaya.Kata kunci: Candi Songgoriti, transformasi, konsep arsitektural, aspek bangunan
PENERAPAN KONSTRUKSI BAMBU PADA FASILITAS KAMPEONG KIDZ DI SEKOLAH ALAM SELAMAT PAGI INDONESIA, BATU M. Thaufan Dwi Putro; Edi Hari Purwono; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.218 KB)

Abstract

Sekolah Alam Selamat Pagi Indonesia yang terletak di Kota Batu memiliki fasilitas berupa Kampoeng Kidz yang berfungsi sebagai wahana rekreasi edukasi dengan konsep bangunan yang menyatu dengan alam disekitarnya. Pada kawasan SPI area Kampoeng Kidz menggunakan sistem konstruksi bambu namun tidak menggunakan sistem konstruksi bambu bentang panjang sehingga berkurangnya efektivitas ruang, terutama pada bangunan hall. Dalam waktu dekat bangunan penjualan merchandise akan diganti dengan material bambu yang baru karena masa usia pemakaian bambu dan penambahan fungsi bangunan hall. Menyikapi permasalahan tersebut maka dibutuhkan perancangan fasilitas hall dan tempat penjualan merchandise dengan menggunakan sistem konstruksi bentang panjang dan pengolahan pada material bambu sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu panjang. Metode perancangan yang digunakan ialah deskriptif kualitatif, progrmatik dan pragmatik. Pengumpulan data dilakukan dengan melihat kondisi tapak secara langsung dengan penggunaan teori yang dipaparkan secara kualitatif. Tahap analisis dan sintesis dilakukan dengan metode programatik, sedangkan konsep penerapan konstruksi bambu dikembangkan melalui metode pragmatik. Objek komparasi yang digunakan ialah komparasi bangunan dengan fungsi sejenis dan bangunan dengan sistem konstruksi bentang panjang. Komparasi bertujuan untuk memberikan alternatif konstruksi bambu pada perancangan. Hasil dari kajian menunjukan bahwa pada bangunan perancangan yang menggunakan sistem konstruksi bambu dengan bentang panjang dapat memberikan efektivitas ruang dalam bangunan sangat baik dan pada pengolahan bahan material bambu secara perendaman kimia dapat menjadikan usia pakai material bambu dalam jangka waktu panjang.Kata kunci: Sekolah Alam Selamat Pagi Indonesia, sekolah alam, konstruksi bambu
Taman Wisata Sejarah dan Budaya Goa Selomangleng Kediri Henly Fika Adrinda; Chairil Budiarto Amiuza; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.039 KB)

Abstract

Goa Selomangleng Kediri merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Kediri atau Panjalu. Goa ini merupakan tempat bertapanya Sanggramawijaya Tunggadewi yang bergelar Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi atau lebih dikenal oleh masyarakat Kediri sebagai Dewi Kili Suci.Goa Selomangleng adalah goa batu yang sengaja dibuat oleh manusia, bukan goa yang terbentuk dari proses alam. Selomangleng berasal dari kata selo dan mangleng yang merupakan istilah dalam bahasa Jawa. Adapun selo artinya batu, sedangkan mangleng diartikan mangklung atau menjorok keluar. Salah satu daya tarik dari Goa Selomangleng adalah beberapa peninggalan arca dan relief yang ada disekitar goa. Dari relief dan artefak yang terdapat di Goa Selomangleng tersebut akan di data dan dianalisis untuk mendapatkan pola dasar. Pola dasar dari hasil analisis tersebut akan ditransformasikan menjadi bentuk massa bangunan dari perancangan taman wisata di kawasan Goa Selomangleng. Perancangan taman wisata ini untuk menunjang pelestarian kawasan dan sebagai wadah yang selain berfungsi sebagai tempat wisata juga sebagai tempat edukasi akan budaya sejarah bagi masyarakat kota Kediri dan sekitar.Kata kunci: Goa Selomangleng, relief, taman wisata