Claim Missing Document
Check
Articles

Kelapa Sebagai Komponen Bahan Ramuan Obat di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman Farah Diba Setiana; Jumari Jumari; Endah Dwi Hastuti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.85 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.40

Abstract

Abstrak Kelapa memiliki peran penting bagi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman serta masyarakat sekitarnya karena mempunyai banyak fungsi, salah satunya sebagai bahan ramuan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan kelapa sebagai komponen bahan ramuan. Rancangan penelitian studi kualitatif dengan cara wawancara, studi literatur, survei dan observasi. Informasi dianalisis secara deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan April-Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 68 jenis ramuan berbahan kelapa yang digunakan untuk berbagai ramuan yang dikategorikan dalam 14 kategori pengobatan. Ramuan terbanyak yang diketahui dan digunakan oleh masyarakat dalam lingkungan Karaton adalah ramuan perawatan wanita dan anti racun. Kata kunci : Cocos nucifera L, Ramuan Obat, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Abstract Coconut has an important role for Ngayogyakarta Hadiningrat Palace and Pura Pakualaman with vinicity society. This study aims to examine the utilization of coconut as a component of the ingredients. Data in this research were obtained by interview with key informants, literature study, survey, questionnaire, and participant observation of traditional ceremony activities. This study is done april-desember 2015. The results showed there are 68 types of herbs made from coconut used for various herbs that are categorized in 14 categories of treatment. The most common ingredients known and used by the people around the Karaton are the ingredients of women’s care and anti-toxins. Keywords: Cocos nucifera L, Medicinal Herb, Ngayogyakarta Hadiningrat Palace
Tingkat kesegaran bunga Gladiol (Gladiolus hybridus Hort.) potong dalam rendaman campuran air kelapa hijau dan natrium hipoklorit Titik Dwi Lidiyanti; Endah Dwi Hastuti; Munifatul Izzati
Jurnal Biologi Tropika Vol. 3, No. 1, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.786 KB) | DOI: 10.14710/jbt.1.1.41-46

Abstract

Gladiolus hybridus Hort. is one of the cut flower commodities that is much demanded by peope since they have a variety of colors. The freshness of the flower that has been separated from the old parent plants will be decreased. Coconut water contains mineral, sugar, vitamin, and fitohormon that can keep its freshness. Sodium hypochlorite (NaClO) is a disinfectant that can inhibit the growth of microorganisms. This research aims to find out the level of the cut flower's freshness that was soaked in the green coconut water and sodium hypochlorite with a different concentration. This research uses Complete Random Design (CRD) with 4x2 factorial. The first factor is the concentration of the green coconut water: 20%, 40%, and 60%. The second factor is the concentration of sodium hypochlorite: 0% and 5%. Each treatment with 3 repetitions. Data is analyzed with Analysis of Variance (ANOVA) proceed with DMRT test at a test level significance of 5%. The results showed that there was an interaction between the mixture of coconut water and sodium hypochlorite on the freshness of the cut Gladiolus flower, the interaction between coconut water 40% and sodium hypochlorite 5% gave optimal results on the freshness of cut flowers. Gladiolus was shown by the results of 4.7 days freshness of freshness, the percentage of the flowering of 10.22%, and the percentage of flower loss of 5.88%.
Pengaruh Arah dan Tebal Irisan Rimpang Terhadap Rendemen Flavonoid, Berat Kering dan Performa Simplisia Umbi Garut (Maranta arundinacea L.) Setelah Pengeringan Devi Ermawati; Erma Prihastanti; Endah Dwi Hastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.2.2021.131-137

Abstract

Simplisia merupakan bahan alami sebagai bahan pembuatan obat yang belum mengalami pengolahan. Pengirisan merupakan salah satu tahap penting dalam pembuatan bahan simplisia untuk mempermudah dalam proses pengepakan, penyimpanan dan penggilingan. Pengirisan dapat dilakukan secara melintang atau membujur. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh arah dan tebal irisan rimpang terhadap rendemen flavonoid, berat kering dan performa simplisia umbi garut (Maranta arundinaceaL.) setelah pengeringan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium BSF Tumbuhan UNDIP. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2X2 dengan perlakuan kombinasi ketebalan (3 mm dan 5 mm) dan arah irisan (membujur dan melintang). Parameter penelitian meliputi berat kering dan performa simplisia yang meliputi warna, kekerasan, dan aroma pada simplisia kering. Analisis data menggunakan Anova dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan arah irisan berpengaruh terhadap berat kering simplisia, sedangkan interaksi antara tebal dan arah irisan tidak berpengaruh terhadap berat kering simplisia umbi garut. Arah irisan berpengaruh terhadap berat kering dan performa simplisia umbi garut, tebal irisan berpengaruh terhadap rendemen flavonoid. Crude simplisia is natural material for making medicine, which has not undergo processing, packing, drying and saving. Slicing is an important step in making medicine because in this process the loss of some parts could ease the process of packing and milling. Slicing could be done diagonally or longitudinally. A Different way of slicing could affect this simplisia. This study aimed to examine the influence of slicing direction, the thickness of slices, and its combination on the dry weight and the performance of arrowroot. This research was conducted in the Laboratory of BSF Tumbuhan UNIDIP. The design used was Completely Randomized Design with combination treatment of thickness (3mm and 5mm) and slice direction (diagonally and longitudinally). The parameter of this research used dry weight by weighing after the drying process and the performance (by measuring color, hardness, and the aroma of dried simplisia). The data analysis used Analysis of Variance. The findings showed that slice direction influenced the weight loss on simplisia, but the interaction did not influence on the dry weight of arrowroot simplisia. Slice direction affects dry weight and performance of arrowroot simplicia, slice thickness affects flavonoid yield. 
Hubungan Kualitas Air dengan Pertumbuhan Semai Rhizophora mucronata Lamk. Pada Periode Pengamatan yang Berbeda Solikhah Solikhah; Endah Dwi Hastuti; Rini Budihastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.749 KB) | DOI: 10.14710/baf.3.2.2018.215-222

Abstract

Pengelolaan kawasan tambak dapat dilihat dari peran mangrove dalam pengendalian kualitas lingkungan tambak. Pengelolaan ekosistem mangrove dapat dilakukan dengan polikultur atau wanamina (silvofishery). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas air (suhu, kekeruhan, salinitas, pH, dan DO) terhadap pertumbuhan semai Rhizophora mucronata Lamk. pada periode pengamatan yang berbeda di saluran tambak wanamina Semai mangrove sangat rentan terhadap perubahan lingkungan, sehingga kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tumbuhnya menentukan keberhasilan pertumbuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan periode pengamatan. Analisis data yang digunakan berupa analisis varians (ANOVA) satu faktor (periode pengamatan) dengan 6 perlakuan yaitu periode pengamatan I, II, III, IV, V , dan VI serta analisis regresi linear berganda untuk mengetahui hubungan kualitas lingkungan dengan pertumbuhan semai. Analisis data menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan daun rendah, pertumbuhan jumlah cabang belum ditemukan, diameter batang dan tinggi tanaman mengalami pertumbuhan. Periode pengamatan berpengaruh terhadap kualitas air. Kualitas air yg berpengaruh nyata yaitu suhu, kekeruhan dan salinitas. Kekeruhan dan suhu merupakan parameter kualitas air yang memiliki hubungan paling erat dengan pertumbuhan  semai  Rhizophora mucronata.
Struktur Anatomi Daun Mangrove Api-api Putih [Avicennia marina (Forsk.) Vierh] Di Pantai Mangunharjo, Semarang Atia Nadira Lumban Tobing; Sri Darmanti; Endah Dwi Hastuti; Munifatul Izzati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.1.2021.96-103

Abstract

Mangrove api-api putih (Avicennia marina) adalah jenis mangrove yang dapat hidup di lingkungan dengan kondisi salinitas, intensitas cahaya, dan suhu dengan kisaran yang cukup luas. Hal tersebut ditunjang oleh kemampuan adaptasi secara fisiologi, anatomi maupun morfologi. Adaptasi anatomi terutama berkaitan dengan kemampuan mengabsorbsi air dan hara dari media tanam dengan potensial osmotik rendah yang disebabkan oleh salinitas tinggi, kemampuan regulasi kandungan garam yang tinggi pada jaringan dan kemampuan menekan laju transpirasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  struktur  anatomi daun A. marina yang tumbuh di Pantai Mangunharjo, Semarang. Sampel adalah daun ketiga dari ujung cabang. Masing-masing sampel diambil pada dua titik sampling, yaitu di tambak dan pantai. Tiap titik sampling diambil tiga pohon mangrove dengan ukuran pohon yang hampir sama. Preparat penampang lintang daun dibuat dengan metode embedding. Pengamatan struktur anatomi daun dilakukan dengan menggunakan fotomikrograf. Hasil penelitian menunjukkan struktur anatomi daun A. marina dari permukaan adaksial ke permukaan abaksial  berturut-turut tersusun atas kutikula, epidermis atas, kelenjar garam, jaringan hipodermis, jaringan mesofil yang terdiri atas jaringan palisade parenkim dan spons parenkim. Diantara jaringan mesofil terdapat jaringan pengangkut (vascular bundle) yang terdiri atas xilem dan floem. Sebelah bawah dari spons parenkim terdapat epidermis bawah dengan derivatnya berupa trikoma nonglandular dan stomata dengan tipe kriptofor.
Hubungan Total Fenol Akar dan Daun Mangrove Api-Api [Avicennia marina (Forsk.) Vierh] dengan N, P, dan C Organik Sedimen Iis - Su'aidah; Endah Dwi Hastuti; Munifatul Izzati; Sri Darmanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.1.2021.17-25

Abstract

Fenol adalah kelompok metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan. Variasi kandungan fenol dipengaruhi oleh faktor internal seperti organ tumbuhan dan faktor eksternal seperti unsur hara sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan kandungan total fenol akar dan daun A. marina dengan N, P, dan C organik sedimen. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan 3 stasiun di lokasi penelitian dan setiap stasiun memiliki 1 titik pengambilan sampel. Variabel yang diamati meliputi kandungan total fenol akar dan daun A. marina serta N, P, dan C organik sedimen. Data kuantitatif total fenol dan unsur hara dianalisis secara deskriptif sedangkan hubungan total fenol dan unsur hara dianalisis dengan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan total fenol akar dan daun masing-masing (19,5 mg GAE /g) dan (14,9 mg GAE /g). Kandungan unsur N, P, dan C organik sedimen pada ekosistem mangrove masing-masing 0,24%, 106,25 ppm, dan 2,03%. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara fenol akar dengan P dan fenol daun dengan P. Namun, tidak terdapat korelasi antara fenol daun dengan N, fenol akar dengan N, fenol daun dengan C organik, dan fenol akar dengan C organik.
Pengaruh Masa Inkubasi Pupuk dari Air Cucian Beras Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.) Pipit Wijiyanti; Endah Dwi Hastuti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 4, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.99 KB) | DOI: 10.14710/baf.4.1.2019.21-28

Abstract

Air cucian beras mengandung protein glutelin dan vitamin B1 yang berpotensi sebagai pupuk organik. Masa inkubasi adalah proses dekomposisi senyawa-senyawa kompleks pada air cucian beras menjadi senyawa sederhana yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh masa inkubasi pupuk dari air cucian beras terhadap pertumbuhan tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.). Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2018 s/d. bulan April 2018 di Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan, Departemen Biologi Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian ini disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan masa inkubasi yang terdiri dari, P0: tanpa masa inkubasi, P1: masa inkubasi 5 hari, P2: masa inkubasi 10 hari, P3: masa inkubasi 15 hari, P4: masa inkubasi 20 hari. Pada penelitian ini parameter yang diamati antara lain, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, jumlah klorofil total dan karotenoid. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa inkubasi air cucian beras berpengaruh meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, bobot basah dan jumlah klorofil total tetapi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah daun, luas daun, bobot kering dan kandungan karotenoid. Kata kunci :Sawi hijau, air cucian beras, masa inkubasi
Performa Green Bean Kopi Robusta (Coffea robusta Lindl.Ex De Will) setelah Perendaman Limbah Tahu dengan Jenis dan Konsentrasi yang Berbeda Ayu Rahmawati Sulistyaningtyas; Erma Prihastanti; Endah Dwi Hastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.856 KB) | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.148-152

Abstract

Tingkat  konsumsi  terhadap  kopi  robusta  lebih  rendah  dari pada  kopi  arabika  karena performanya kurang baik. Salah satu upaya peningkatan kualitas performa kopi melalui dekafeinasi. Kopi dekafeinasi yang telah dipasarkan secara luas misalnya kopi luwak. Prinsip pembuatan kopi luwak melibatkan protease dalam pencernaan hewan luwak. Dekafeinasi menggunakan  protease  tersebut  telah  terbukti  menurunkan  kadar  kafein  kopi  robusta sehingga performanya meningkat. Sumber protease dapat diperoleh dari limbah tahu. Dekafeinasi dengan cara merendam green bean kopi robusta (Coffea. robusta) dalam limbah tahu belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian antara lain mengkaji pengaruh jenis limbah tahu  dan konsentrasi limbah tahu  serta interaksi jenis dan konsentrasi limbah industri tahu  terhadap performa pada kopi robusta. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor jenis limbah tahu (L0= Air, L1=limbah cair dan L2=limbah padat) dan faktor konsentrasi limbah tahu (K1=30%, K2=60% dan K3=90%), setiap perlakuan dilakukan 3 ulangan. Parameter penelitian yang diamati adalah performa kopi robusta meliputi warna, aroma dan tekstur  green bean kopi robusta. Analisis data yang digunakan adalah Analisis of Variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikasi 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman kopi robusta dalam limbah cair tahu 90 % paling efektif meningkatkan kualitas performa yang meliputi warna, aroma dan tekstur green bean. Kata kunci :  Coffea robusta; dekafeinasi; kopi; limbah tahu; performa
Pertumbuhan Batang, Akar dan Daun Gulma Katumpangan (Pilea microphylla (L.) Liebm.) Agustina Tri Hapsari; Sri Darmanti; Endah Dwi Hastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.3.1.2018.79-84

Abstract

Pilea microphylla (L.) Liebm. adalah gulma yang diketahui mempunyai kandungan  senyawa fenolik dan flavonoid cukup tinggi, sehingga sering dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Sampai saat ini penelitian tentang Pilea microphylla (L.) Liebm. sebagian besar dilakukan  pada aspek fitokimia, sedangkan aspekpertumbuhan dan  perkembangan anatomi masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan anatomi organ batang, akar, dan daun Pilea microphylla (L.) Liebm. dengan membandingkan ukuran sel pada organ batang, akar serta daun muda dan dewasa. Sampel organ diambil secara acak, pembuatan preparat anatomi organ dengan metode parafin dan replika sedang pengukuran sel menggunakan fotomikrograf. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan batang, akar dan daun Pilea microphylla (L.) Liebm. ditunjukkan dengan terjadinya penambahan diameter  batang dan diameter lumen xilem batang, penambahan diameter akar dan diameter lumen xilem akar, penambahan lebar daun  dan kerapatan stoma. Kata kunci:  Pilea microphylla (L.) Liebm.;  pertumbuhan; xilem; anatomi
Penerapan Wanamina: Kelulushidupan Semai Mangrove, Variasi Kualitas Lingkungan dan Perubahan Kandungan Logam Berat Endah Dwi Hastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.1.2017.17-25

Abstract

Penerapan wanamina dalam budidaya tambak diharapkan memberikan perbaikan bagi lingkungan oleh adanya jasa-jasa lingkungan yang disediakan oleh tegakan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kelulushidupan semai mangrove, dampak wanamina terhadap tingkat kekeruhan dan kandungan TDS serta menganalisis perubahan kandungan logam berat dalam sedimen saluran tambak wanamina. Penelitian dilakukan selama 2 bulan pada tambak wanamina dengan perlakuan lebar saluran 1 m, 2 m dan 3 m dengan jenis mangrove A. marina dan R. mucronata dengan jarak tanam 1 x 1 m2. Pengamatan  terhadap tingkat kelulushidupan, tingkat kekeruhan dan kandungan TDS dilakukan pada akhir pengamatan, sedangkan kandungan Pb dan Cd dalam sedimen diamati pada awal dan akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelulushidupan R. mucronata dalam saluran tambak wanamina lebih baik yaitu berkisar antara 80 – 90% dibandingkan A. marina yang berkisar 0 – 85%. Kekeruhan secara signifikan berbeda berdasarkan lebar saluran sedangkan TDS secara signifikan dipengaruhi oleh lebar saluran dan jenis mangrove secara parsial. Perubahan kandungan Pb tidak dipengaruhi secara signifikan baik oleh lebar saluran maupun jenis mangrove, namun terdapat pola akumulasi yang berlawanan antara kedua jenis mangrove, sedangkan perubahan kandungan Cd secara signifikan dipengaruhi oleh lebar saluran dimana pada saluran dengan lebar 2 m memiliki tingkat akumulasi paling tinggi. Kata kunci : kekeruhan; kelulushidupan; logam berat; TDS; wanamina