Claim Missing Document
Check
Articles

Kualitas Madu Lokal dari Beberapa Wilayah di Kabupaten Temanggung Ni Putu Tasya Savitri; Endah Dwi Hastuti; Sri Widodo Agung Suedy
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.1.2017.58-66

Abstract

Kualitas madu yang baik harus memenuhi standar acuan yang ditetapkan pemerintah. Kualitas madu dapat dilihat dari kadar air, gula total, dan keasaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas madu lokal dari 5 desa di Kabupaten Temanggung. Preparasi uji kadar air dan gula total dengan metode refraktometri, serta kadar keasaman dengan metode titrasi asam-basa. Metode penentuan lokasi sampling penelitian menggunakan metode purposive sampling berdasarkan perbedaan wilayah geografi, yaitu madu randu dari Desa Nglorog, madu kaliandra dari Desa Kwadungan Jurang, madu randu dari Desa Kentengsari, madu karet dari Desa Medari, dan madu kopi dari Desa Rejosari. Parameter yang digunakan untuk nilai kadar air, gula total, dan keasaman mengacu pada standar yang ditetapkan pemerintah (SNI-2013). Analisis data kuantitatif kadar air, gula total, dan keasaman menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah geografi yang berbeda pengaruh nyata pada kadar air, gula total, dan keasaman madu yang diteliti. Kualitas madu terbaik ditemukan  pada madu karet dari Desa Medari dengan kadar air 20,9%, kadar gula total 77,5%,dan kadar keasaman 34,59 ml NaOH/kg dimana nilainya mendekati nilai Standar Nilai Indonesia (SNI-2013) untuk madu. Kata kunci: madu; kadar air; kadar gula total; kadar keasaman
Pertumbuhan dan Kandungan Antosianin Tanaman Bayam Merah (Alternanthera amoena Voss) Setelah Perlakuan Limbah Teh Pada Lama Pengomposan Yang Berbeda Dian Rosiana Fatikasari; Endah Dwi Hastuti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 7, Nomor 1, Tahun 2022
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.7.1.2022.35-41

Abstract

Pertumbuhan dan kandungan antosianin bayam merah sangat dipengaruhi oleh faktor pemupukan. Limbah teh merupakan pupuk organik yang memiliki unsur hara seperti nitrogen dan fosfor dimana penting dalam mempengaruhi pertumbuhan dan antosianin bayam merah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah teh pada lama pengomposan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kandungan antosianin bayam merah. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah lama pengomposan 0, 1 dan 2 minggu. Perlakuan diaplikasikan dengan cara memberikan pupuk kompos limbah teh, tanah dan sekam dengan perbandingan 1:1:1 pada tanaman bayam merah yang seragam. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah tanaman, berat kering tanaman, panjang akar, berat basah akar, berat kering akar, berat kering tajuk, rasio tajuk akar dan nilai antosianin. Data yang dihasilkan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dilanjutkan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan lama pengomposan berpengaruh meningkatkan tinggi tanaman, berat basah tanaman, berat kering tanaman, berat basah akar, nilai antosianin dan ratio tajuk akar. Perlakuan limbah teh lama pengomposan satu minggu memberikan rerata tertinggi terhadap pertumbuhan dan kandungan antosianin tanaman bayam merah. Growth of red amaranth and anthosyanin influenced by the fertilizer. Tea waste contain of nutrients such as nitrogen and phospor that important for red amaranth. The composting will effect for the fertilizer contain. Anthocyanin is a red- purple pigment. The aim of this experiment was to know the effects of tea waste in different composting time on red amaranth’s growth and anthocyanin. The design that used is Complate Random Design with 3 treatment and 5 replicates. The treatment of compost time were: 0 week, a week and 2 week. The parameters observed were plant height, leaf number, wet weight and dry weight of plant, root length, wet weight and dry weight of root, crown root ratio and anthocyanin. The result of data analysis using ANOVA followed by Duncan’s Multiple Range Test. The result showed that the difference of compost duration affected and improved the growth of plant height, leaf number, wet weight and dry weight of plant, root length, wet and dry weight of root, anthocyanin, crown root ratio. The treatment of tea waste by a week compost duration create the highest average for growth and anthocyanin of red amaranth.
Respon Perkecambahan Biji dan Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Terhadap Berbagai Limbah Organik Harmigita Putri Fitriani; Endah Dwi Hastuti; Erma Prihastanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 5, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.5.2.2020.198-205

Abstract

Kacang tanah merupakan salah satu bahan industri. Produksi kacang tanah di Indonesia meningkat namun belum dapat mengimbangi konsumsi dalam negeri. Produksi mempengaruhi penggunaan pupuk kimia yang seharusnya dikurangi karena dampak negatifnya terhadap lingkungan. Pupuk organik cair merupakan solusi yang tepat untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia. Salah satu bahan yang dapat dijadikan pupuk organik cair ialah air kelapa, urin sapi, dan air cucian beras. Limbah organik cair ini mengandung unsur hara yang dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah sehingga mampu meningkatkan perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman kacang tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman kacang tanah terhadap berbagai limbah organik cair. Penelitian dilakukan menggunakan RAL dengan 4 perlakuan, yaitu kontrol, air kelapa konsentrasi 100%, urin sapi konsentrasi 30%, dan air cucian beras konsentrasi 100% dan 5 ulangan. Parameter yang diamati ialah panjang radikula, berat basah kecambah, berat kering kecambah, tinggi tanaman, jumlah daun, umur pembungaan, jumlah bunga, berat basah tanaman, dan berat kering tanaman. Analisis data menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan limbah organik cair memiliki kecenderungan meningkatkan perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman kacang tanah. Konsentrasi urin sapi 30% memberikan pengaruh yang paling baik terhadap perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman kacang tanah.Kata kunci : kacang tanah, air kelapa, urin sapi, air cucian beras
Perbaikan Sifat Fisik dan Kimia Tanah dengan Pembenah Tanah Anting-anting, Bandotan, dan Lamtoro untuk Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Relita Aprisa; Endah Dwi Hastuti; Sri Widodo Agung Suedy
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 5, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.5.2.2020.138-146

Abstract

Pembenah tanah merupakan bahan-bahan sintetis atau alami yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman. Anting-anting, bandotan dan lamtoro merupakan tumbuhan yang mengandung bahan organik > 5% sehingga dapat digunakan sebagai pembenah tanah. Penambahan pembenah tanah  ini diharapkan akan meningkatkan sifat fisik tanah, kimia tanah, pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan konsentrasi dan jenis pembenah tanah terhadap sifat fisik tanah, kimia tanah, pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Kawasan Tembalang, Laboratorium BSF Tumbuhan Jurusan Biologi FSM Universitas Diponegoro, Laboratorium Tanah Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor. Faktor yang pertama yaitu konsentrasi pembenah tanah dan faktor yang kedua yaitu jenis pembenah tanah. Masing-masing perlakuan dengan 3 ulangan. Sedangkan data kualitas kimia tanah dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dan jenis pembenah tanah berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah namun tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan serta produksi bawang merah. Interaksi antara konsentrasi dan jenis pembenah tanah berpengaruh terhadap peningkatan kapasitas lapang tanah.  Interaksi yang memberikan pengaruh yaitu jenis pembenah Lamtoro konsentrasi 25%, 50% dan 75%, pembenah Bandotan konsentrasi 50% dan 75% serta pembenah Anting-anting konsentrasi 25%. Jenis pembenah Lamtoro konsentrasi 75% memberikan pengaruh optimal terhadap kapasitas lapang tanah. Kata kunci : pembenah tanah, Anting-anting, Bandotan, Lamtoro, Bawang merah
Pengaruh Kombinasi Pupuk NPK dan Pengapuran pada Tanah Gambut Rawa Pening terhadap Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill) Amelia Lestari; Endah Dwi Hastuti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.3.1.2018.1-10

Abstract

Tanah gambut berasal dari dekomposisi bahan organik sehingga memiliki pH tanah yang asam dan kaya kadar C-organik. Pemanfaatan tanah gambut Rawa Pening saat ini masih sangat terbatas. Pemberian kombinasi pupuk NPK dan kapur dolomit sebagai upaya meningkatkan pH tanah, sehingga tanah gambut dapat dimanfaatkan sebagai media tanam yang baik bagi tanaman tomat. Tujuan penelitian ini mengetahui kombinasi pupuk NPK dan kapur dolomit terhadap pertumbuhan tanaman tomat yang optimum pada media tanah gambut.. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor yaitu konsentrasi pupuk NPK (P): tanpa pupuk NPK (P0), pupuk NPK 5 g/tanaman (P1), pupuk NPK 10 g/tanaman (P2), pupuk NPK 15 g/tanaman (P3) dan kapur dolomit (K): tanpa kapur dolomit (K0), kapur dolomit 15 g/tanaman (P1), kapur dolomit 25 g/tanaman. Penelitian menggunakan 12 perlakuan masing-masing dengan 3 ulangan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis of Variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji beda nyata Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf kepercayaan 95 %. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, berat basah dan berat kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik tidak berpengaruh. Terdapat interaksi antara pupuk NPK dan kapur dolomit terhadap berat basah dan berat kering tanaman tomat. Interaksi 5 g/tanaman dan kapur dolomit 15 g/tanaman menghasilkan berat basah dan berat kering yang optimal. Kata kunci: tomat (Lycopersicon esculentum Mill); gambut; NPK; dolomit; pertumbuhan
Efek Alelokimia Ekstrak Daun Babandotan( Ageratum Conyzoides L.) terhadap Kandungan Pigmen Fotosintetik dan Pertumbuhan Gulma Rumput Belulang (Eleusine Indica (L.) Gaertn) Dian Septiani; Endah Dwi Hastuti; Sri Darmanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 4, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.437 KB) | DOI: 10.14710/baf.4.1.2019.1-7

Abstract

Rumput belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn) merupakan gulma yang hidup di area pertanian. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan mengguanakan bioherbisida. Tanaman yang dapa dijadikan bioherbisida adalah tanaman yang mengandung alelokimia. Alelokimia adalah senyawa kimia yang dihasilkan tumbuhan dan apabila di keluarkan ke lingkungan mampu menghambat pertumbuhan tanaman disekitarnya Salah satu tanaman yang mengandung alelokimia adalah A. conyzoides. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh alelokimia ekstrak daun A. conyzoides pada konsentrasi yang berbeda terhadap kandungan pigmen fotosintetik dan pertumbuhan gulma rumput belulang, serta mengetahui konsentrasi optimum yang dapat menghambat pertumbuhan rumput belulang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu konsentrasi ekstrak alelokimia A. conyzoides, masing – masing perlakuan dengan mengguanakan lima ulangan. Perlakuan dengan konsentrasi berbeda yaitu 0%, 5%, 10%, 15%. Parameter yang diamati yaitu kandungan klorofil a, klorofil b , klorofil total, karotenoid, bobot basah, bobot kering, tinggi tanaman, panjang akar, dan jumlah daun yang dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji DMRT pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak memberikan pengaruh nyata terhadap penurunan kandungan klorofil a, klorofil b , klorofil total, karotenoid, bobot basah, bobot kering, tinggi tanaman, panjang akar, dan jumlah daun. Kata kunci : Rumput belulang, alelokimia, A. conyzoides, bioherbisida
Review: Peningkatan Tata Kelola Wanamina di Wilayah Pesisir Kota Semarang: Peranan Praktis Struktur Vegetasi Mangrove Endah Dwi Hastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.168-177

Abstract

Penerapan wanamina di Indonesia telah berlangsung sejak lama, namun perkembangannya relatif lambat. Adanya konflik kepentingan hingga rendahnya partisipasi masyarakat merupakan kendala yang selalu ada dalam pengembangan wanamina. Meskipun perkembangan penerapan wanamina relatif lambat, namun manfaatnya telah mulai banyak dirasakan oleh masyarakat, mulai dari peningkatan produktivitas budidaya, manfaat hasil samping budidaya, biaya pengelolaan yang rendah hingga manfaat ekologis bagi perlindungan pantai dan daya dukungnya terhadap perikanan tangkap. Peningkatan kualitas lingkungan merupakan manfaat yang paling banyak dirasakan oleh pembudidaya. Sementara jasa-jasa lingkungan dari keberadaan ekosistem mangrove lebih banyak dirasakan oleh masyarakat sekitar khususnya nelayan karena semakin meningkatnya keragaman dan kelimpahan sumber daya ikan. Berbagai upaya pengembangan tata kelola telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan manfaat ekonomisnya serta mengurangi limbah dan biaya produksi dalam budidaya. Pengaturan jenis mangrove hingga pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan merupakan strategi yang semakin banyak dipadukan dalam budidaya dengan sistem wanamina. Fungsi perlindungan dan ketahanannya dalam tambak wanamina juga semakin dipertimbangkan dalam pemilihan jenis mangrove yang akan ditanam. Peranan praktis dari jenis vegetasi mangrove menunjukkan adanya dampak yang signifikan dalam pengendalian kualitas lingkungan, penyediaan pakan alami hingga daya dukungnya terhadap sumber daya perikanan secara umum. Potensi pemanfaatan jangka panjang berupa produksi kayu mangrove juga menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan untuk menghindari konflik pemanfaatan mangrove di masa yang akan datang. Pengelolaan ekosistem mangrove dan tambak secara terpadu diharapkan mampu menjembatani kepentingan pemerintah dalam melindungi wilayah pesisir, petambak dalam melakukan kegiatan budidaya serta nelayan penangkap ikan yang kesemuanya merupakan pemangku kepentingan yang tidak dapat diabaikan. Kata kunci: budidaya; jasa lingkungan; mangrove; pengelolaan; wanamina
Kualitas Air dan Pertumbuhan Semai Avicennia marina (Forsk.) Vierh pada Lebar Saluran Tambak Wanamina yang Berbeda Nimas Ayu Suryani; Endah Dwi Hastuti; Rini Budihastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.817 KB) | DOI: 10.14710/baf.3.2.2018.207-214

Abstract

Avicennia marina merupakan jenis mangrove yang sifatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, sehingga secara langsung dapat mempengaruhi pertumbuhannya. Lebar saluran yang berbeda akan menentukan distribusi air dan nutrient sehingga dapat mempengaruhi kualitas air yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhan vegetasi mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas air dan pertumbuhan semai Avicennia marina berdasarkan lebar saluran tambak yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK). Analisis data yang digunakan berupa analisis varians (ANOVA) satu faktor dengan uji lanjut Duncan dan analisis deskriptif. Faktor yang digunakan yaitu lebar saluran. Saluran dengan lebar 1m, 2m, 3m dengan 6 ulangan. Hasil analisis sidik ragam terhadap kualitas air dan pertumbuhan semai Avicennia marina selama empat bulan pengamatan pada lebar saluran yang berbeda menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa lebar saluran tambak yang berbeda berpengaruh terhadap kualitas lingkungan terutama suhu. Perlakuan lebar saluran tambak wanamina yang berbeda belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan diameter batang dan kelulushidupan semai Avicennia marina.
Pengaruh Pematahan Dominansi Apikal terhadap Produktivitas Tanaman Kacang-Kacangan Endah Dwi Hastuti; Endang Saptiningsih; Munifatul Izzati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 4, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.489 KB) | DOI: 10.14710/baf.4.2.2019.97-106

Abstract

Peningkatan konsumsi berbagai jenis kacang-kacangan di Indonesia saat ini mendorong adanya upaya peningkatan produktivitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pematahan dominansi apikal terhadap produktivitas tanaman kacang-kacangan, meliputi waktu pembungaan, jumlah polong, jumlah biji dan berat basah dan berat kering polong, mengkaji sifat polong yang dihasilkan. Penelitian dilakukan pada Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro antara April hingga Desember 2018. Materi percobaan meliputi jenis kacang, yaitu kacang kedelai, kacang hijau, kacang tanah, kacang merah dan kacang tolok, sedangkan perlakuan berupa pematahan dominansi apikal dengan pemotongan pucuk tanaman. Analisis data dilakukan dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pada waktu pembungaan, jumlah polong, jumlah biji, berat basah dan berat kering polong yang dihasilkan. Perbedaan yang signifikan hanya teramati pada jumlah biji yang dihasilkan berdasarkan jenis kacang. Secara umum, produktivitas kacang merah merupakan yang paling tinggi dengan 7,8 polong/tanaman, namun berdasarkan jumlah biji yang dihasilkan kacang hijau memiliki produktivitas yang paling tinggi dengan 29 biji/tanaman. Sifat polong yang dihasilkan dari masing-masing jenis kacang menunjukkan adanya variasi terhadap rasio berat kering:berat basah yang dihasilkan. Rasio berat kacang yang dihasilkan berturut-turut 87,2%; 72,3%; 33,0%; dan 23,3% masing-masing untuk kacang hijau, kacang merah, kacang kedelai dan kacang tanah. Kata kunci: berat, kacang-kacangan, polong, produktivitas, rasio
Variasi Kandungan Nutrien dalam Tambak Wanamina dengan Komposisi Jenis dan Jumlah Tegakan Mangrove yang Berbeda di Pesisir Kota Semarang Endah Dwi Hastuti; Rini Budihastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 1, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.1.1.2016.36-42

Abstract

Keberadaan vegetasi mangrove dalam tambak wanamina berfungsi sebagai penyedia jasa lingkungan, diantaranya dalam pengendalian suplai nutrien ke dalam kolam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variasi kandungan nutrien dalam tambak wanamina dan menguji pengaruh jenis serta jumlah tegakan terhadap perubahan kandungan nutrien tambak wanamina. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dengan perlakuan jenis vegetasi (A. marina; R. mucronata; Campuran) dan jumlah tegakan mangrove (5 tegakan; 10 tegakan; 15 tegakan). Kandungan nutrien yang diamati meliputi bahan organik, nitrat, nitrogen dan fosfat terlarut. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali dengan jeda waktu 1 bulan. Pengujian dilakukan dengan uji-t dan ANOVA. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat variasi kandungan nutrien dalam tambak wanamina baik pada pengamatan pertama maupun kedua. Pola perubahan kandungan nutrien bervariasi antar jenis nutrien dimana pada beberapa perlakuan ditemukan penurunan kandungan semua jenis nutrien. Hasil uji-t menunjukkan bahwa antar periode pengamatan tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kandungan bahan organik, nitrat, nitrogen dan fosfat terlarut. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kandungan nutrien dalam tambak wanamina baik pada pengamatan pertama maupun kedua. Perbedaan kandungan nutrien yang signifikan hanya diperoleh pada kandungan bahan organik pada pengamatan pertama. Kata  kunci: jenis; jumlah tegakan; mangrove; nutrien; wanamina