Julita Hendrartini
Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Pencegahan Dan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Published : 35 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Hubungan antara Pendidikan, Pengalaman dan Unit Kerja dengan Persepsi Budaya Keselamatan Pasien di RS Panti Rahayu: Relationship between Education, Experience and Work Unit with Perceptions of Patient Safety Culture at Panti Rahayu Hospital Lestari, I Gusti Agung Ayu Pradipta; Widiati, Sri; Hendrartini, Julita
Open Access Jakarta Journal of Health Sciences Vol 3 No 3 (2024): Open Access Jakarta Journal of Health Sciences
Publisher : Sagamedia Indo Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53801/oajjhs.v3i3.344

Abstract

Latar Belakang: Budaya keselamatan pasien merupakan faktor penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan pasien dari segi keselamatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan, pengalaman dan unit kerja dengan persepsi budaya keselamatan pasien pada staf di rumah sakit. Metode: Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian adalah staf di RS Panti Rahayu yang diambil secara acak lalu dibagi ke dalam empat unit kerja dengan jumlah 150 orang. Variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu pendidikan, pengalaman kerja, dan unit kerja, sedangkan variabel terikat, yaitu persepsi budaya keselamatan pasien. Alat ukur menggunakan Hospital Survey on Patient Safety Culture. Analisis statistik menggunakan uji Rank Spearman dan regresi ordinal. Hasil: Persepsi budaya keselamatan pasien di rumah sakit mayoritas termasuk kategori sedang (67,3%) dan dimensi supervisor, manajer atau pemimpin klinis dinilai paling baik (64%). Analisis bivariat menunjukkan hubungan antara pendidikan dan unit kerja dengan persepsi budaya keselamatan pasien (p < 0,05) dan pengalaman kerja (p > 0,05). Analisis multivariat menunjukkan pengaruh pendidikan terhadap persepsi budaya keselamatan pasien (p < 0,05 dan R² = 0,181). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pendidikan dan unit kerja dengan persepsi budaya keselamatan pasien. Tidak terdapat hubungan antara pengalaman kerja dengan persepsi budaya keselamatan pasien.
PERSEPSI STAKEHOLDER TERHADAP KEBUTUHAN ANGGARAN BERBASIS PREMI PADA PROGRAM JAMINAN KESEHATAN DAERAH DI KOTA CIREBON Sundari, Retno Tresno; Hendrartini, Julita; Irianto, Sugeng
Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains Vol 3 No 2 (2020): Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains
Publisher : Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alokasi anggaran asuransi kesehatan daerah di Kota Cirebon secara konsisten menurun dibandingkan dengan anggaran pemerintah daerah. Pemanfaatan anggaran adalah utang kepada penyedia layanan kesehatan meningkat. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan persepsi pemangku kepentingan terhadap kebutuhan anggaran berbasis premi dalam program asuransi kesehatan lokal di Kota Cirebon dalam pembayaran paket layanan kesehatan dan mengevaluasi kebutuhan anggaran dan pemanfaatannya. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus holistik tunggal. Unit penelitian adalah Dinas Kesehatan Kota Cirebon. Subjek terdiri dari 12 responden dari parlemen lokal (dewan anggaran), Dewan Perencanaan Daerah dan Dinas Kesehatan dipilih melalui purposive sampling dan didukung dengan informasi kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh melalui perhitungan premi dan wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan tentang kebutuhan untuk anggaran berbasis premi dari program asuransi kesehatan lokal di Kotamadya Cirebon. Klaim biaya layanan terjadi di tiga fasilitas kesehatan. Biaya operasional asuransi kesehatan lokal di Kota Cirebon pada tahun 2011 kurang dari 5% dari kapitasi per anggota per bulan (PMPM) dengan pola tarif INA CBG 2.0 memperoleh IDR 8.031, tarif INA CBG 2.1 IDR 8.340 dan tarif INA CBG3.0 IDR 9.185. Pola tarif premi INA CBG yang diperoleh dari perhitungan adalah Rp8.433 dari versi 2.0 dan Rp8.757 dari versi 2.1 dan Rp9.644 dari versi 3.0 sedangkan berdasarkan peraturan lokal, tarif pada tahun 2012 adalah Rp9.065. Kebutuhan anggaran berdasarkan pola tarif INA CBG versi 3.0 premium adalah Rp 9.292.081.356 dan berdasarkan peraturan daerah tarifnya adalah Rp8.732.936.375. Persepsi pemangku kepentingan tentang kebutuhan anggaran adalah bahwa pemangku kepentingan akan menyediakan anggaran tanpa batasan layanan. Jadi mereka siap dengan implementasi program asuransi sosial. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu para pemangku kepentingan menganggap keberadaan program asuransi kesehatan lokal di Kota Cirebon harus dipertahankan dan dimajukan di masa depan seperti yang ditunjukkan dari pemberian kontribusi pemerintah daerah melalui alokasi anggaran hingga 15 miliar rupiah dalam pendapatan daerah dan anggaran belanja 2013.
Polypharmacy and oral health-related quality of life in older adults: a systematic review Lelyana, Shelly; Agustina, Dewi; Hendrartini, Julita; Pramono, Dibyo
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 37, No 1 (2025): March 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjd.vol37no1.58618

Abstract

Introduction:: Patient-centered care requires medical personnel to address not only physical illnesses but also the psychosocial well-being of patients. older adultsOlder adults often have medically complex conditions, including one or more chronic diseases, requiring the use of multiple medications (polypharmacy). Polypharmacy is a common problem among older adults, with a reported prevalence of 30% to 80%. Many prescribed medications can lead to xerostomia and hyposalivation, which negatively impact the quality of life , including Oral Health-Related Quality of Life (OHRQoL). This systematic review aims to determine the impact of polypharmacy on OHRQoL in older adults and explore strategies to optimize OHRQoL in this population. Method: The dataset of articles concerning polypharmacy and OHRQoL in older adults was compiled from Google Scholar, PubMed, Semantic, and OpenAlex. The search encompassed publication from 2019 to 2024. Five articles were selected for in-depth analyses, and variations in methodologies used by the researchers in these selected studies were identified and considered. Results: Patients with polypharmacy hyposalivation exhibited significantly higher scores of the Summated Xerostomia Inventory questionnaire (SXI-PL) (8.60 ± 2.56) and the Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14sp) (16.0 ± 15.8). A statistically significant association was found between hyposalivation and both SXI-PL and OHIP-14sp scores (p < 0.05). Elderly individuals on continuous medication demonstrated increased odds of self-reported xerostomia (OR: 2.3; 95% CI: 1.19-4.67; P = 0.009). Conclusion: This study demonstrates an association between polypharmacy and decreased oral health-related quality of life (OHRQoL) in older adults.
Analisis Case Mix Index FKRTL Kerja Sama BPJS Kesehatan di Provinsi Banten Tahun 2019 - 2022 Prihastutik, Yuli; Hendrartini, Julita
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 14, No 2 (2025): June
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkki.103784

Abstract

Dalam rangka menjaga suistanibilitas JKN utamanya kecukupan dana JKN terhadap pembiayaan kesehatan bagi peserta JKN, maka kenaikan pembiayaan pelayanan kesehatan dengan sistem INA CBG yang terus meningkat dari tahun ke tahun tersebut harus dilakukan evaluasi dan monitoring secara berkala oleh seluruh ekosistem yang terlibat dalam JKN salah satunya adalah Rumah Sakit dan BPJS Kesehatan. Evaluasi tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan Case Mix Index. Hasil analisa Case Mix Indeks tersebut sebagai evaluasi yang penting artinya bukan hanya bagi rumah sakit namun juga BPJS Kesehatan. Adapun hasil analisa Case Mix Indeks di Provinsi Banten Tahun 2019 – 2022 didapatkan hasil yaitu terdapat perbedaan signifikan antara kelas RS dimana RS dengan tingkatan lebih tinggi memiliki nilai CMI yang lebih tinggi dari pada kelas dibawahnya. Nilai CMI rawat jalan di provinsi Banten tahun 2019 - 2022 dipengaruhi signifikan oleh proporsi kunjungan pasien lanjut usia, segmen kepesertaan PBI , segmen kepesertaan Non PBI hak perawatan kelas tiga dan proporsi kunjungan pasien hak perawatan kelas satu. Sedangkan Nilai CMI rawat inap di provinsi Banten tahun 2019 - 2022 dipengaruhi signifikan oleh proporsi kunjungan pasien lanjut usia
Outpatient service tariff determination based on unit cost analysis mixed with community ability and willingness to pay Yuniantika; Hendrartini, Julita; Budiarto, Arif
BKM Public Health and Community Medicine Vol 39 No 11 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v39i11.6584

Abstract

Purpose: The study aims to calculate the rational outpatient tariff based on unit cost analysis, ability and willingness to pay. Method: The research is an observational study with a qualitative approach. Secondary data are obtained retrospectively to calculate unit costs and tariffs. Primary data is collected through questionnaires to see the ability and willingness to pay (WTP). Result: The calculation using the step-down method obtained the unit cost for general practice IDR 79,337, dental care IDR 151,635, psychologist consultation IDR 115,283, and fitness center IDR 236,555. The respondent's ATP value is IDR 138,808, with an average examination fee of IDR 56,093. When coupled with an improvement in service and facility quality, 58.1% of respondents agreed to a 10% rate increase. With a 20% rate increase, the willingness to pay decreases to 40.6%. In the bivariate analysis using the chi-square test, the variables significantly affecting WTP are patient perceptions of the suitability of service costs (p = 0.000). In contrast, age, gender, occupation, education, income, number of family members, and insurance ownership do not significantly influence WTP. Conclusion: The service rate is lower than the unit cost calculation. By looking at the ability and willingness to pay, it is possible to evaluate the tariff.