Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA SEBAGAI WUJUD IDENTITAS MASYARAKAT DI DESA LUWUNG BATA, BREBES, JAWA TENGAH Sutisno, Andi; Muliawati, Hesti; Andika Dutha Bahari; Bediyanto
Bahtera Indonesia Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/bi.v6i1.113

Abstract

Bahasa tidak bisa dilepaskan dari penuturnya. Tanpa masyarakat penuturnya, bahasa tidak akan bisa bertahan atau akan punah. Dalam kehidupan masyarakat, bahasa selalu menempati posisi strategis sebagai alat atau media berkomunikasi. Di tengah-tengah masyarakat, pada kenyataannya bahasa tidak bersifat monolingua tetapi bisa beraneka dengan berbagai macam variasi bahasa di dalamnya. Hal ini juga yang terjadi pada masyarakat Desa Luwung Bata, Kabupaten Brebes. Kabupaten Brebes yang notabene secara geografis dan etnografis berada di wilayah Jawa Tengah dengan mayoritas pengguna bahasa Jawa, namun ada satu daerahnya yaitu Desa Luwung Bata yang berbahasa Sunda. Masyarakat di Desa Luwung Bata memiliki keunikan tersendiri sebab mereka berbahasa Sunda namun berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritasnya pengguna bahasa Jawa. Hal inilah yang membuat masyarakat Desa Luwung Bata memiliki tantangan sendiri dalam mempertahankan bahasa Sunda.
PELATIHAN KREATOR KONTEN VIDEO YOUTUBE BAGI MAHASISWA UPI DENGAN METODE ADDIE Bachari, Andika Dutha; Fakhrudin, Agus; Fasya, Mahmud
ABMAS Vol 18, No 1 (2018): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.967 KB) | DOI: 10.17509/abmas.v18i1.36612

Abstract

PRAKTIK MOM SHAMING DALAM MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Nabilah Hasna; Andika Dutha Bachari; Jatmika Nurhadi
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena mom shaming yang terjadi di media sosial tidak dapat dihindari. Penelitian ini, oleh karena itu, mengkaji bentuk-bentuk ujaran mom shaming di media sosial Instagram dan mencari tahu efek yang ditimbulkan dari ujaran tersebut menggunakan kajian pragmatik. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan dokumentasi dengan teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Penelitian deskriptif ini mengambil data dari kolom komentar akun Instagram selebritas Indonesia yang memiliki pengikut di atas sepuluh juta. Analisis dalam penelitian ini didasarkan pada teori tindak tutur, karena ujaran mom shaming di media sosial dalam pandangan banyak orang tidak hanya dianggap sebagai tulisan biasa karena signifikansinya bagi penulis dan pembaca. Tujuan penelitian ini ialah mengeksplorasi, menyelidiki, dan mendeskripsikan bentuk-bentuk ujaran mom shaming yang terdapat dalam media sosial Instagram dan efek yang ditimbulkannya. Penelitian ini dengan hati-hati memeriksa bagaimana maksud dari komentar mom shaming yang ditulis oleh pengguna Instagram untuk pengguna Instagram lainnya. Temuan mengungkapkan bahwa ujaran mom shaming yang terdapat dalam kolom komentar akun Instagram selebritas merupakan tindak tutur jenis asertif, direktif, dan ekspresif yang memiliki tujan menasihati, melarang, memohon, memerintah, mengkritik, menyatakan, dan menunjukkan seperti apa pengasuhan yang baik.
PERUNDUNGAN SIBER (CYBERBULLYING) BERMUATAN PENISTAAN AGAMA DI MEDIA SOSIAL YANG BERDAMPAK HUKUM: KAJIAN LINGUISTIK FORENSIK Agus Syahid; Dadang Sudana; Andika Dutha Bachari
Jurnal Semantik Vol 11, No 1 (2022): Volume 11 Number 1, February 2022
Publisher : STKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/semantik.v11i1.p17-32

Abstract

Recently in Indonesia, there have been many cyberbullying containing blasphemy on social media such as what was done by Joseph Paul Zhang and M. Kece. Of course, it can cause legal implications if there are other peoples who feel humiliated. This research aims to (1) analyze illocutionary speech acts of cyberbullying containing blasphemy on social media, (2) reveal the legal impact of the utterance cyberbullying containing blasphemy, and (3) determine the characteristics of cyberbullying containing blasphemy. The method of this research is qualitative with forensic linguistic approach. The data of the research were collected from the copies of court verdict. Based on the analysis, the illocutionary speech act by defendants includes; expressive (hate speech, humiliation), directive (insulting), and assertive (lies). The legal impact of cyberbullying containing blasphemy carried out by the defendants on social media can be charged based on the Law of the Republic Indonesian Article 28 paragraph (2) Law Number 19 of  2016 about Information and Electronic Transactions (the ITE Law). The characteristic of cyberbullying containing blasphemy on social media is the use of harsh words, insults, and blasphemy against religious group, God, Prophets, the holy scriptures/verse, and other religious symbols.
RAGAM DAN ARAH PERTANYAAN PENYIDIK DALAM BERITA ACARA PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA ANAK Andika Dutha Bachari; Dadang Sudana; Wawan Gunawan
Linguistik Indonesia Vol 36, No 1 (2018): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.337 KB) | DOI: 10.26499/li.v36i1.73

Abstract

This study aims to report a study on the patterns of Indonesian police strategies in examining criminal cases involving children. The ability to ask questions is instrumental for the investigators. The variety, content, and direction of the investigators’ questions  determine the value of information obtained from investigations(see Clarke & Milne, 2001). By using Strauss and Corbin’s qualitative paradigm, Glacer’s ground theory as well as Milne’s analytical frameworks, the present study has revealed that despite the fact that police investigation reports contained a lot of unproductive questions that might lead to unproductive answers, they compensated these with other investigative questioning strategies to reveal more information. Therefore effectiveness of questioning is more determined by these follow-up strategies than by the initial questions addressed to the suspects.
The Elicit Function of Speech Acts in Questioning on Investigative Interviews in Criminal Inspection of Dump Truck Theft Cases at Cirebon City Police Station Andika Dutha Bachari
JOMANTARA Vol 2 No 2 (2022): Vol. 2 No. 2 July 2022
Publisher : Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.515 KB) | DOI: 10.23969/jijac.v2i2.5691

Abstract

In this study, the data source was obtained from the transcription of dump truck theft cases recorded in the Police Record. Investigators conducted investigative interviews to obtain information from witnesses and suspects, which led to the suspect's confession. The investigator asked several questions to the examinee regarding the criminal act. The data analysis method was carried out by eliminating the answers being examined and focusing on the questions given by the investigator to be classified based on the seven elicit functions of the speech act of asking questions described by Tsui (2002). It was found that the elicit function in the investigator's question was the function of seeking information (appearing 119 times), repeat function (appear 50 times), clarifying function (appear 47 times), confirm function (appear 43 times), and approve function (appear 11 times). The elicit function that occurred the most from the questions submitted by investigators was the function of seeking information, which was 119 times out of 270 questions. In contrast, the function of asking for commitment was not found. Keywords: ask, elicit function, investigative interview speech act
Conversational implicature forms of Banyumasan humorous utterances on YouTube Wijiasih Eka Pertiwi; Dadang Sudana; Andika Dutha Bachari
Journal of Research on English and Language Learning (J-REaLL) Vol. 4 No. 1 (2023): Journal of Research on English and Language Learning (J-REaLL)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j-reall.v4i1.19314

Abstract

This study focuses on conversational implicatures in humorous utterances. In pragmatics, implicature analysis is used to reveal the additional meaning or implied meaning of the speech conveyed by the speaker. An implicature can occur because of a violation of the principle of conversation. Conversational implicature (especially) only appears in the context of certain utterances and has an implied meaning. An utterance in a conversation can imply a pragmatic function implicitly or imply some meaning indirectly through language. This study aims to describe the implicature forms of Banyumasan humorous utterances on YouTube. This study was analyzed using Searle’s (1969) speech acts theory and Grice’s (1975) theory of conversational implicature. The method in this research was descriptive qualitative. Based on the results of the analysis found in Banyumasan humorous speech, there are assertive, directive, expressive, and commissive implicature forms.
JENIS PERTANYAAN PENYIDIK DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM Andika Dutha Bachari; Agus Ristiana
Riksa Bahasa Vol 3, No 1 (2017): Riksa Bahasa Vol. 3 No.1 Maret 2017
Publisher : Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/rb.v3i1.11490

Abstract

Studi ini mengeksplorasi pola strategi polisi Indonesia ketika menyelidiki kasus kriminal anak. Ada beberapa studi yang menyelidiki kasus peradilan anak dengan membahas faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keputusan pengadilan. Namun, di Indonesia, jumlah kasus pemidanaan anak yang semakin meningkat belum banyak diteliti oleh para ahli, khususnya dari sisi linguistik. Penelitian ini memandag investigasi sebagai peristiwa yang terikat oleh faktor-faktor yang tidak terisolasi, namun dibatasi oleh aspek kontekstual dan sosial di ruang pemeriksaan. Investigasi seringkali tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Hal tersebut sesungguhnya mempengaruhi keabsahan proses peradilan pidana. Analisis data dilakukan dengan mengikuti konsep analisis pragmatik. Analisis tersebut diarahkan untuk mengungkap pola strategi percakapan polisi yang berpotensi menempatkan tersangka pada posisi yang tidak menguntungkan. Analisis dilakukan juga untuk menunjukkan investigasi, secara pragmatis, tidak berpihak pada kemampuan kognitif anak-anak. Temuan ini berkaitan dengan berbagai faktor yang mempengaruhi adanya ketidakadilan dalam proses peradilam di tingkat penyidikan.
MODEL ANALISIS PEMBUKTIAN PIDANA HOAKS DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA Bachari, Andika Dutha
Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Membaca (Bahasa dan Sastra Indonesia)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jmbsi.v5i2.8775

Abstract

Maraknya Tindak Pidana Penyebaran Berita Bohong Dalam Dua tahun terakhir meningkat tajam.  Data yang dirilis oleh Direktorat Tindak Pidana Siber penanganan kasus penyebaran pemberitahuan dan/atau berita bohong meningkat tajam, sekitar 2609 kasus dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 624 kasus.  Dalam satu tahun terjadi peningkatan sebesar 418%.  Kepolisian Republik Indonesia sangat berkomitmen untuk melakukan penegakan hukum terhadap para pelaku penyebaran berita bohong (fake news).karena hoax news yang tersebar viral menuntut ongkos sosial yang sangat mahal  dengan logika itu, Polri telah menetapkan penanganan rtindak pidana penyebaran bohong sebagai prioritas di setiap tahun. Dalam praktik penanganan perkara penyebaran pemberitahuan bohoong, ya, POLRI mutlak membutuhkan ahli bahasa didalam proses penyidikan yang dilakukannya karena pada umumnya barang bukti uang diajukan kepada polisi berupa data kebahasaan, baik lisan maupuun tulisan  untuk mengungkap dengan jelas apakah suatu perkara yang dilaporkan dengan aduan penyebaran berita bohong yang diprosesberdasarkan  sistem peradilan pidana di Indonesia sebagaimana diamanatkan Pasal 184 KUHAP mengatur ketentuntuan bahwa penyidik berhak memanggil ahli di dalam prposes penyidikan agar perkara yang tengah ditangani menjadi terang dan tertangkap pelakunya  dengan memperhatikan persoalan seperti yang telah dikemukakan. Kajian ini akan  berupaya untuk mengembangkan model pembuktian rindak pidana penyebaran berita bohong berbasis teori pragmatik, khususnya teori yang digagas oleh Austin (1962); Recanati (1986). Sementara itu,  Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif dengan desain pengembangan model, konsep, prosedur dan/atau langkah-langkah yang  dapat digunakan untuk membuktikan ada tidaknya unsur pidana dalam pemberitahuan/ berita bohong yang disampaikan oleh seseorang dalam peristiwa komunikasi tertentu (Speech event )  hasil analisis menunjukkan bahwa dalam menganalisis data kebahasaan yang dijadikan sebagai barang bukti terjadinya tindak pidana penyebaran berita bohong, seorang ahli bahasa yang ditugaskan yuntuk memberikan penjelasan kepada penyidik sudah semestinya  harus menenempatkan barang bukti  yang menjadi barang bukti terjadinya tindak pidana penyebaran hoax (kalimat/tuturan) sebagai unit analisis yang termasuk  sebagai tuturan konstatif,yaitu tuturan yang tidak berdimensiu tindakan(Verifikasi kebenaran informasi dalam barang bukti dapat dilihat melalui analisis aspek fonologi, morfologi, dan semantik.
Fake News Analysis of Supreme Court Decision from Linguistic Forensic and Critical Discourse Analysis Perspective Thamrin, Husni; Dadang Sudana; Andika Dutha Bachari; R. Dian Dia-an Muniroh
Journal of English Education and Teaching Vol. 7 No. 4 (2023): Journal of English Education and Teaching
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jeet.7.4.847-861

Abstract

This research purposes to know the results of the Supreme Court's decision on fake news by implementing linguistic forensic and critical discourse analysis based on Fairclough's 1995 grand theory approach. Some categories of analysis include representation, relations, identity, and sociocultural practices. Individual who break the law by spreading fake news may imprisonment. This is in accordance with the rules stated in Article 45A paragraph (2) of law number 19 of 2016, which amends law number 11 of 2008.The research method used is descriptive qualitative by collecting and analyzing data from defendants who are proven to have committed acts of insult and hatred of Ethnic Religion and Intergroup. The results of data analysis are in the form of representation of news information, power relations contained in it, the identity of the defendant formed, and the sociocultural practices that arise. Sociocultural practices that occur in this context, such as discrimination, controversy, and manipulation of information. The results of this study can become a foundation to sensitize the public about the dangers of fake news, encourage changes in creating truth in media practices, and increase defendants' awareness of the importance of justice in the criminal justice system.