Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Studi Pemasangan Express Feeder Jaringan Distribusi 20 kV Untuk Mengatasi Drop Tegangan Pada Feeder Sorek PT PLN (Persero) Rayon Pangkalan Kerinci: Distribusi Andri Van Anugrah; Hamzah Eteruddin; Arlenny Arlenny
SainETIn : Jurnal Sains, Energi, Teknologi, dan Industri Vol. 4 No. 2 (2020): SainETIn
Publisher : Teknik Elektro Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/sainetin.v4i2.6338

Abstract

Penyaluran energi listrik oleh PT PLN (Persero) Area Pekanbaru, Rayon Pangkalan Kerinci untuk daerah Sorek dan sekitarnya, disuplai oleh saluran distribusi 20 kV feeder Sorek melalui Gardu Hubung Kerinci. Panjang total jaringan feeder Sorek 194 kms dengan luas penampang jaringan utama 240 mm2 dan percabangan umumnya menggunakan 150 mm2. Jumlah pelanggan yang tersambung ke feeder Sorek sebanyak 20.606 dengan beban penyulang 218,2 ampere melalui 152 unit trafo distribusi. Feeder Sorek menggunakan sistim distribusi Radial, hanya ada satu sumber melalui dari Gardu Hubung Kerinci, tidak terdapat sumber lain yang dekat dengan feeder tersebut. Panjangnya feeder Sorek ini menyebabkan terjadinya drop tegangan dan rugi-rugi daya yang sangat besar, dengan tegangan terendah pada ujung saluran mencapai 11,5 kV, kondisi tegangan yang disalurkan telah melampaui batas standar drop tegangan yaitu 10% (18 kV). Dengan dilakukannya pemasangan Express Feeder sepanjang 46 kms dari GH kerinci sampai ke GH Sorek, maka tegangan yang diterima seluruh trafo mengalami peningkatan diantaranya trafo BM 006 yang berada pada ujung saluran menjadi 17,155 kV. Rugi-rugi daya pada sistem PLN dapat ditekan hingga 1.407 kW sehingga memberikan dampak langsung pada peningkatkan kualitas layanan penyaluran tenaga listrik pada feeder Sorek.
Pengaturan Grouping Proteksi Titik Kontingensi pada Peralatan Switching untuk Menurunkan ENS Ade Nafiarman; Usaha Situmeang; Zulfahri Zulfahri; Arlenny Arlenny
SainETIn : Jurnal Sains, Energi, Teknologi, dan Industri Vol. 5 No. 2 (2021): SainETIn
Publisher : Teknik Elektro Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/sainetin.v5i2.6427

Abstract

Sistem distribusi merupakan bagian terpenting dalam proses penyaluran tenaga listrik, karena merupakan penghubung dari sumber ke konsumen. Gangguan yang mengalami pada sistem tenaga listrik 20 kV di Riau dapat mengakibatkan terputusnya penyaluran tenaga listrik kepada konsumen. Gangguan-gangguan tersebut mengakibatkan tingginya Energy Not Supplied (ENS), PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Distribusi (UP2D) Riau merupakan unit bagian dari PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Riau & Kepulauan Riau yang mengelola operasi sistem Distribusi 20 kV. Salah satu faktor yang mendapat perhatian adalah gangguan berulang dan lamanya durasi padam sehingga berdampak pada hilangnya potensi dalam penjualan tenaga listrik. Dari 118 penyulang terintegrasi SCADA ada 6 penyulang yang memiliki titik kontingensi pada peralatan Switching. Ke 6 penyulang tersebut mampu menurunkan nilai Energy Not Supplied (ENS) Penyulang Kontingensi di tahun 2017 sebesar 333.206 kWh sedangkan di tahun 2018 nilai ENS turun sebesar 24.892 kWh, dapat dikatakan Pengaturan Grouping Proteksi Titik Kontingensi Pada Peralatan Switching bekerja dengan baik sehingga saat mengalaminya gangguan, pemadaman baik pemadaman terencana maupun tidak terencana, pelanggan tidak mengalami padam dan ENS tidak terlalu besar.
Studi Karakteristik Generator Sinkron Terhadap Perubahan Beban di PT. PLTG Mobile Power Plant Balai Pungut Iqbal Tara Sukmana; Arlenny Arlenny; Elvira Zondra; Monice Monice
SainETIn : Jurnal Sains, Energi, Teknologi, dan Industri Vol. 7 No. 2 (2023): SainETIn
Publisher : Teknik Elektro Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/sainetin.v7i2.7309

Abstract

Generator sinkron adalah mesin sinkron pengubah energi mekanik menjadi energi listrik yang memiliki frekuensi putar rotor sama dengan frekuensi tegangan yang dibangkitkan. Pada generator, energi mekanik didapat dari penggerak mula yang bisa berupa mesin diesel, turbin, baling-baling dan lain-lain.Pada pembangkit-pembangkit besar, salah satu alat konversi yang sering digunakan yaitu generator sinkron 3 phasa. Generator sinkron yang ditinjau adalah generator sinkron pada PLTG Balai Pungut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa generator sinkron tiga fasa terhadap perubahan beban. Dari hasil analisa data bulan Februari dan Maret dirata ratakan menjadi 7 hari dan 7 tabel, isi tabel berdasarkan logsheet yaitu Beban, Arus Eksitasi, Tegangan Output. Beban generaotr yang bersifat fluaktif atau berubah ubah tiap jam nya. Beban terendah di hari senin yaitu 11 MW dan yang tertinggi 24,7 MW, Beban terendah di hari Selasa 15 MW dan yang tertinggi 26,64 MW, Beban terendah di hari Rabu 10,64 MW dan yang tertinggi 24,14 MW, Beban di hari Kamis adalah 14,25 MW hingga yang tertinggi 26,92 MW, Beban hari Jumat 13,02 MW dan 24,02 MW, Beban tertinggi dihari sabtu yaitu 26,82 MW, Beban hari minggu adalah 11,25 MW untuk yang terendah dan 24,82 MW saat beban tertinggi. Efisiensi generator berubah ubah berkisar 75% hingga 86%.
Analisis Kinerja Motor Induksi Tiga Phasa 2,2 kW Di PT. Max Power Indonesia Sigit Fadila Joko; Elvira Zondra; Arlenny Arlenny
SainETIn : Jurnal Sains, Energi, Teknologi, dan Industri Vol. 7 No. 2 (2023): SainETIn
Publisher : Teknik Elektro Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/sainetin.v7i2.9639

Abstract

Motor induksi tiga phasa adalah motor yang mengubah energi listrik menjadi energi gerak yang sangat dibutuhkan di dunia industri yang mencakup motor induksi. Ini karena motor induksi memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan motor listrik lainnya. Keuntungannya adalah harga yang relatif murah dengan konstruksi yang sederhana dan kuat. Pemanfaatan energi gerak ini yang kemudian banyak digunakan oleh beberapa perusahaan seperti di pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) yang menggunakan 12 motor sebagai pendingin radiator mesin pembangkit memiliki kapasitas daya motor 2,2 kW. Untuk mengetahui efisiensi kinerja motor dapat dilakukan perhitungan arus stator, arus rotor, torka beban dan torka induksi. Dari hasil perhitungan motor dengan tegangan motor 395 volt, arus motor 4,6 amper dan putaran 943 rpm didapatlah arus stator 4,786 Amper, arus rotor 3,446 Amper, torka beban 18,414 N.m, torka induksi 19,599 N.m dan efisiensi 77,6%.
Analisis Ketidakseimbangan Beban Jaringan Distribusi Tegangan Rendah menggunakan ETAP Rizky Tambara Ginting Rizky; Zulfahri Zulfahri; Arlenny Arlenny
SainETIn : Jurnal Sains, Energi, Teknologi, dan Industri Vol. 6 No. 2 (2022): SainETIn
Publisher : Teknik Elektro Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/sainetin.v6i2.9648

Abstract

In order to meet the demand for electrical energy, the load distribution was initially evenly distributed, but due to the unequal installation or usage time. This causes a load imbalance due to inconsistent installation time and usage of these loads, which has an impact on the supply of electrical energy. The load imbalance between each phase (R phase, S phase and T phase) causes current to flow in the neutral section of the transformer. PLN as a supplier of electricity for the community must be able to serve the electricity needs of the community with a good and good quality level. In order to get efficient and effective work results, high productivity is needed. From the load imbalance analysis at the ST 263 distribution substation, Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, against the neutral current, there are 0.383 kW losses during the day and 0.662 kW at night, from simulations and calculations using stages the losses during the day are 0.344 kW and 0.583 kW at night. day. There is a difference of 0.023% during the day and 0.047% when calculating the measurements with the stages. Based on the load imbalance standard, the ST 263 200 kVA transformer still meets the IEEE std 446-1995 standard, which is 5% - 20%. The greater the IN neutral current flowing in the transformer neutral conductor, the greater the losses generated.
Studi Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Biogas Dari Limbah Kelapa Sawit Di PT. Inti Indosawit Subur SP 5 Siak Andika Purba; Usaha Situmeang; Arlenny
SainETIn : Jurnal Sains, Energi, Teknologi, dan Industri Vol. 8 No. 2 (2024): SainETIn
Publisher : Teknik Elektro Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/sainetin.v8i2.10763

Abstract

Pembangkit listrik tenaga biogas memproduksi energi listrik dari sumber energi yang berasal dari hasil pembakaran biogas, biogas dihasilkan dari gas yang melalui proses dekomposisi senyawa organik oleh secara anaerobik. Ada pun beberarapa keuntungan yaitu energi yang dihasilkan oleh biogas tidak menimbulkan polusi dan bisa mengurangi emisi rumah kaca, biogas merupakan solusi yang tepat untuk menggantikan bahan bakar fosil. Dalam penelitian mengenai studi kinerja pembangkit listrik tenaga biogas dari limbah kelapa sawit di PT. Inti Indosawit Subur di ketahui pembangkit listrik tenaga biogas buatan satu memiliki 2 unit gas engine dalam proses pembangkitan listrik dan masing-masing kapasitas pembangkitnya adalah 1,4 MW, berdasarkan hasil perhitungan efisiensi kinerja pembangkit listrik tenaga biogas buatan satu untuk faktor kapasitas rata-rata nilai efisiensinya adalah 66,881 %, faktor kapasitas netto memperoleh efisiensi 80.578 %, efisiensi termal sebesar 40,021 %, dan faktor produktivitas memperoleh sebesar 66.881 % untuk nilai efisiennya, serta untuk konsumsi bahan bakar pembangkit listrik tenaga biogas buatan satu rata-rata menghabiskan sebesar 0,492 Nm3/kWh untuk konsumsi bahan bakarnya.
Analisis Starting Motor Tiga Phasa 3,3 kV 750 kW Menggunakan Reactor Di PT. Indah Kiat Pulp And Paper Perawang Heldi Frido; Arlenny Arlenny; Hazra Yuvendius
SainETIn : Jurnal Sains, Energi, Teknologi, dan Industri Vol. 7 No. 1 (2022): SainETIn
Publisher : Teknik Elektro Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/sainetin.v7i1.10907

Abstract

Dari hasil perbandingan starting motor tanpa pengasutan dan dengan pengasutan menggunakan reactor terlihat adanya pengasutan arus pada saat starting motor. Starting motor tanpa pengasutan pada detik pertama lonjakan arus sebesar 937,2 Amp kemudian setelah detik kelima arus kembali susut sebesar 152,5 Amp. Sedangakan pengasutan mengunakan reactor terjadi tiga tahapan pengasutan arus, yaitu pada detik pertama arus sebesar 620,6 Amp lalu pada detik empat koma delapan detik terjadi lonjakan sebesar 938,5 Amp setelah itu susut pada detik kelima yaitu 152,4 Amp. Persentase pengasutan starting motor tanpa pengasutan dan dengan pengasutan reactor yaitu 33,87%.
Analysis of Arcing Horn on Disk Insulator Configuration in 150 kV SUTT at PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah Monice Monice; Tiaz Putra Satria; Arlenny Arlenny
Journal of Electrical Engineering and Computer (JEECOM) Vol 8, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jeecom.v8i2.17183

Abstract

The reliability of the electric power transmission system on 150 kV High Voltage Overhead Transmission Lines (SUTT) is strongly influenced by insulation coordination, particularly in the disk insulator string and arcing horn assembly, which functions to divert electrical flashover caused by overvoltage so that the insulator is not damaged. Under the existing condition, it was found that the installed arcing horn was designed for a 12-disk insulator configuration, while the actual string used only 10 disk insulators, thereby changing the distance between the arcing horns and affecting its breakdown voltage. This study aims to analyze the effect of changes in disk insulator configuration on the arcing horn breakdown voltage and to evaluate the potential risk of insulation unreliability resulting from this mismatch. The research method involves technical data collection of the insulator string and arcing horn configuration, calculation of Critical Flashover Voltage (CFO) using the rod-plane gap method based on CIGRE recommendations, visualized through COMSOL Multiphysics 5.5 simulation. The results show that the 12-disk insulator configuration has an arcing horn distance of 1.352 m with a breakdown voltage of 709.8 kV (positive) and 1209.219 kV (negative), while the 10-disk insulator configuration has a distance of 1.060 m with a breakdown voltage of 556.5 kV (positive) and 995.333 kV (negative). Nevertheless, both configurations still satisfy the insulation coordination principle because the arcing horn breakdown voltage remains lower than the insulator breakdown voltage, with an insulation margin to BIL of 108% (12 disks) and 73.3% (10 disks). The smaller the gap distance, the higher the potential for flashover and the risk of system unreliability, so adjustment of the arcing horn distance is still recommended.