Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

DAYA HAMBAT DEKOK KULIT APEL MANALAGI (Malus sylvestrs Mill.) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus dan Pseudomonas sp. PENYEBAB MASTITIS PADA SAPI PERAH Puguh Surjowardojo; Tri Eko Susilawati; Gabriel Ruth Sirait
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.983 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2015.016.02.6

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya hambat dekok kulit apel Manalagi terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonassp. Metode penelitian adalah Percobaan dan data dianalisis dengan menggunakan Analisis Varians (ANOVA) dari Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan kemudian hasil perlakuan yang berbeda dianalisis oleh Duncan Beberapa Rentang Test (DMRT), dengan 4 perlakuan, dan 5 pengulangan. Perlakuan yang P0 (iodips), P1 (10% dekok kulit apel), P2 (20% dekok kulit apel) dan P3 (30% dekok kulit apel). Variabel yang diamati adalah zona hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas sp.Hasil penelitian menunjukan bahwa dekok kulit apel memberi hasil yang berbeda sangat nyata (p<0,01) dalam menghambat pertumbuhan bakteriStaphylococcus aureus danPseudomonas sp. Konsentrasi tertinggi dekok kulit apel  P3 (30%) belum dapat mengimbangi kemampuan P0 (iodips) dalam menghambat bakteri Gram positif Staphylococcus aureus.Daya hambat dekok kulit apel dengan konsentrasi P3 (30%) dapat mengimbangi P0 (iodips) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Gram negatifPseudomonas sp. Saran untuk penelitian selanjutnya meninggkatkan konsentrasi dekok kulit apel untuk larutan herbal teat dipping Kata kunci : kulit apel, mastitis, antibakteri
Daya Hambat Ekstrak Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa L.) Dengan Pelarut Ethanol dan Aquades Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Penyebab Mastitis pada Sapi Perah Wina Astriyani; Puguh Surjowardojo; Tri Eko Susilorini
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 2 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.701 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2017.018.02.2

Abstract

The purpose of this research was determined effect of inhibitory the Phaleria macrocarpa  L. fruits extract with ethanol and aquades solvents againts Staphylococcus aureus. Materials used was Staphylococcus aureus which isolated from mastitis milk. Phaleria macrocarpa  L. fruits powder were extracted using ethanol and aquades with concentration were 10%, 20%, 30% and 40%. Iodips was used as control. Inhibitory of bacteria effect test was done by well diffusion methods. Variable was inhibition zone of each concentration, both of ethanol and aquades solvent. Data was analyzed by using two way nested ANOVA and continued by Duncan Multiple Range Test (DMRT). Result showed that highly significantly (P<0.01) on inhibition zone of Staphylococcus aures. Diameters of inhibitory was the optimum inhibition with ethanol solvent (17.46±0.67)mm and aquades solvent (11.14±0.30) mm. The best of  treatment of  Phaleria macrocarpa  L. fruits extract againts Staphylococcus aureus with ethanol and aquades solvent was 40%. The conclusion of this research is that mahkota dewa (Phaleria macrocarpa  L.) fruits extract with ethanol and aquades solvent in concentration 40% had a high ability to inhibit the growth of Staphylococcus aureus. Phaleria macrocarpa  L. fruits extract with ethanol higher in inhibiting capability the Staphylococcus aureus bacteria compared to aquades solvent.
Analisis Profil Protein Darah Induk Kambing Peranakan Etawah Bunting Tua Dengan Perlakuan Steaming Up Rachmad Dharmawan; Puguh Surjowardojo; Tri Eko Susilorini
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.01.6

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek steaming up selama kebuntingan tua terhadap profil protein darah induk kambing Peranakan Etawah. 12 ekor induk kambing dipilih berdasarkan periode laktasi kedua dan ketiga. Perlakuan pertama sebagai kontrol (P0), perlakuan kedua dan ketiga adalah steaming up menggunakan Gliricidia sepium 0,4% BK (P1) dan 0,8% BK (P2). Seluruh perlakuan diberikan pakan basal konsentrat 0,9% BK dan Pennisetum purpureum secara ad-libitum. Data dianalisis menggunakan Anova dengan Rancangan Acak Kelompok. Data profil protein darah induk kambing PE bunting tua dianalisis secara deskriptif eksploratif. Perlakuan Steaming up memberikan perbedaan yang nyata pada konsumsi BK, BO, dan PK (P<0,05). Praperlakuan steaming up menghasilkan 18 pita protein dengan berat molekul 15-158 kDa. Pasca perlakuan P0 menghasilkan 18 pita protein dengan berat molekul 15-158 kDa, P1 menghasilkan 19 pita protein dengan berat molekul 15-158 kDa. P2 menghasilkan 22 pita protein dengan berat molekul 15-158 kDa. Kesimpulan dari penelitian yaitu steaming up Gliricidia sepium sebesar 0,8% menghasilkan 22 pita protein dengan berat molekul yang berbeda. Banyaknya pita yang muncul dikaitkan dengan keberhasilan perlakuan steaming up pada kebuntingan tua.
PENGARUH LAMA MASSAGE DAN LAMA MILK FLOW RATE TERHADAP LAJU PANCARAN PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIAN HOLSTEIN DI PT GREENFIELDS INDONESIA Puguh Surjowardojo; Pratiwi Trisunuwati; Suratul Khikma
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 17, No 1 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO)
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.448 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2016.017.01.6

Abstract

Produksi susu sapi perah dipengaruhi oleh manajemen pemerahan. Lama massage dan milk flow rate merupakan bagian dari manajemen pemerahan yang dapat mempengaruhi laju pancaran produksi susu sapi perah. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari sampai April 2016 di PT Greenfields Indonesia.Tujuan dari penelitian ini mengetahui adanya pengaruh interaksi lama massage dan lama milk flow rate yang berbeda pada sapi FH (Friesian Holstein) terhadap laju pancaran produksi susu. Materi penelitian menggunakan sapi FH periode laktasi sebanyak 64 ekor dengan bulan laktasi 3.Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimen yang dilakukan 8 pengulangan.Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Faktorial, dan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam/Analysis of Variant (ANOVA), dan apabila terdapat perbedaan yang nyata maka untuk mengetahui perlakuan yang optimal menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi lama massagedenganlama milk flow rate yaitu memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap laju pancaran produksi susu.  Perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan M4 MFR2 (lama massage 4 detik dengan lama milk flow rate 60-120 detik) dengan rata-rata laju pancaran produksi susu 9,64±0,38liter/ekor/milk flow rate. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang nyata interaksi lama massage, lama milk flow rate terhadap laju pancaran produksi susu. Berdasarkan dari hasil rata-rata laju pancaran produksi susu pada perlakuan dapat diketahui bahwa semakin lama waktu massage dan lama milk flow rate akan meningkatkan laju pancaran produksi susu. Kata kunci: lama massage, milk flow rate, laju pancaran produksi  susu dan sapi perah FH.
Production of Feed Crops for Local Dairy Goats Using an Integrated Farming System Tri Eko Susilorini; Kuswati Kuswati; Rini Dwi Wahyuni; Puguh Surjowardojo; Suyadi Suyadi
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 44, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v44i2.3803

Abstract

This investigation aimed to identify the production and composition of crops as feed, classify the types of integrated farming in different locations, and compare dairy goats based on their morphometric characteristics. The data used were collected from July to November, 2021 in the Malang, Lumajang, and Bangkalan regencies of Indonesia, via a survey and direct observations. Descriptive, multivariate, and variance analyses were adopted using RStudio to analyze the collected data. In Malang and Lumajang, farmers adopted agroforestry, alley cropping, and cover crops as the main types of integrated farming. The integrated farming adopted by the farmers in Malang, Bangkalan, and Lumajang helped to explain the differences in forage crops. Calliandra calothyrsus, Indigofera zollingeriana, and Thitonia diversifolia are non-grasses having high levels of average production. In Lumajang, farmers provided only a few combinations with Calliandra which was the most intensively grown crop. In Malang, six crops were combined for the dairy goat feed. Pennisetum purpureum was the crop most intensely grown to feed the PE (Etawa crossbred). In Bangkalan, Pote-Arosbaya goats were fed a combination of eight crops. Moringa oleifera, Bambusa sp., Artocarpus heterophyllus, and natural grasses were the most popular feed crops. In Malang and Lumajang, the PE Singosari and Senduro goats had a high degree of similarity based on their morphometric characteristics, respectively.
HUBUNGAN BODY CONDITION SCORE DENGAN KUANTITAS DAN SOLID NON FAT (SNF) KOLOSTRUM SAPI PERAH PFH DI KPSP SETIA KAWAN NONGKOJAJAR PASURUAN Indah Hanum Muashomah; Puguh Surjowardojo
Jurnal Agriovet Vol. 4 No. 2 (2022): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v4i2.748

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) SetiaKawan Nongkojajar selama 2 bulan pada tanggal 24 Agustus – 24 Oktober2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Body ConditionScore (BSC) sapi perah terhadap kuantitas kolostrum dan kandungan SolidNon Fat ( SNF) pada kolostrum. Materi yang digunakan adalah 42 ekor sapiperah bunting umur 9 bulan. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah metode survei dan observasi. Pengambilan sampel dilakukan secarapurposive sampling pada sapi perah tua bunting. Hasil persamaan regresidiperoleh dimana Y1 = 3,62 + 0,14X. Y1 adalah jumlah kolostrum dan Xadalah BCS pada saat pengamatan. Dan juga diperoleh persamaan regresisederhana dan korelasi dengan persamaan regresi Y1 = 11,06 + 2,92X, Y1adalah SNF dan X adalah BCS pada saat observasi. Persamaan ini digunakansebagai dasar untuk memperkirakan hubungan antara kuantitas kolostrumditinjau dari BCS pada sapi dengan koefisien korelasi (r) antara BCS dankuantitas kolostrum sebesar 0,042 yang berarti hubungan antara BCS dankuantitas berada pada kategori sangat rendah. Sedangkan hubungan BCSditinjau dari SNF juga ditemukan hubungan yang positif dengan koefisienkorelasi (r) antara BCS dan SNF sebesar 0,442, artinya hubungan antara BCSdan SNF termasuk dalam kategori sedang.Kata Kunci : BCS, Kolostrum, Produksi Kolostrum, Solid Non Fat AbstractThe study was conducted at the Setia Kawan Nongkojajar DairyFarm Cooperative (KPSP) for 2 months on August 24 – October 24,2021. This study aims to determine the relationship between the BodyCondition Score (BSC) of dairy cows on the quantity of colostrum andthe content of Solid Non Fat (SNF). on colostrum. The material usedwas 42 pregnant dairy cows aged 9 months. The method used in thisresearch is survey and observation method. Sampling was done bypurposive sampling on pregnant old dairy cows. The results of theregression equation are obtained where Y1 = 3.62 + 0.14X. Y1 is theamount of colostrum and X is BCS at the time of observation. And alsoobtained simple regression equation and correlation with regressionequation Y1 = 11.06 + 2.92X, Y1 is SNF and X is BCS at the time ofobservation. This equation is used as the basis for estimating therelationship between colostrum quantity in terms of BCS in cattle witha correlation coefficient (r) between BCS and colostrum quantity of0.042 which means the relationship between BCS and quantity is in thevery low category. Meanwhile, the BCS relationship in terms of SNFalso found a positive relationship with the correlation coefficient (r)between BCS and SNF of 0.442, meaning that the relationship betweenBCS and SNF was included in the medium category.Key words: BCS, Colostrum, Solid Non Fat, Quantity Of Colostrum
Hubungan body condition score (BCS) dan bobot badan dengan produksi susu sapi perah PFH di unit KPSP setia kawan nongkojajar pasuruan Noor Iqomathus Sya'adah; Puguh Surjowardojo
Jurnal Sains Peternakan Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Sains Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jsp.v10i1.6803

Abstract

The purpose of this research was to determine the relationship between BCS and body weight to milk production of Friesian Holstein crossbreed dairy cattle. The material used for this research were 45 dairy cattles that lactating period in 3,4, and 5. The study was conducted in KPSP setia kawan nongkojajar pasuruan on 28 August-30 October 2021. The method used in this research is direct survey to the farm. The data collection technique in this study was purposive sampling. The variables observed in this study were BCS, boby weight, and milk production. Data obtained were analyzed by used correlation analysis, and simple linear regression analysis. The linier regression equation between BCS and milk production shows Y= 12.178+2.899X with a correlation coefficient is 0.309 and for the coefficient of determination is 9.5%. The linier regression equation between body weight and milk production shows Y= -0.635+0.044X with a correlation coefficient is 0.488 and the coefficient of determination is 23.8%. The result of research indicate that there was a significant relationship between BCS and body weight to milk production.
PRODUKSI KOLOSTRUM SAPI PERAH FRIESIAN HOLSTEIN (FH) PADA PERIODE LAKTASI YANG BERBEDA Puguh Surjowardojo; Tri Eko Susilorini; Rifa’i Rifa’i
Jurnal Agriovet Vol. 4 No. 1 (2021): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v4i1.574

Abstract

Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui produksikolostrum pada sapi perah FH dengan periode laktasi yang berbeda.Metode penelitian menggunakan studi kasus di Koperasi PeternakanSapi Perah (KPSP) Setia Kawan, Nongkojajar, Kecamatan Tutur,Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur sebagai tempatpemeliharaan sapi perah FH laktasi. Materi yang digunakan dipenilitian adalah sapi perah FH laktasi sebanyak 37 ekor. Pengambilansampel dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitianmenunjukkan produksi kolostrum pada periode laktasi 2,3,4, dan 5masing-masing dalam satuan liter/ekor/hari yaitu 7.72 ± 2.64, 9.09 ±1.89, 10.80 ± 1.28, 9.04 ± 2.61 liter/ekor/hari Kesimpulan daripenelitian tren produksi kolostrum pada sapi perah FH meningkat dariperiode laktasi ke 2 sampai periode laktasi ke 4, setelahnya trenproduksi kolostrum mengalami penurunan.Kata Kunci : Kolostrum, Sapi perah, Produksi
KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH FRIESIEN HOLSTEIN (FH) DENGAN UMUR KOLOSTRUM YANG BERBEDA DITINJAU DARI KADAR LEMAK Puguh Surjowardojo; Hanum Muarifah; Rifa’i Rifa’i; Ike Mawarni Handayani
Jurnal Agriovet Vol. 5 No. 1 (2022): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui kadar lemak kolostrum sapi FH pada umur kolostrum yang berbeda yang dipelihara secara intensif di Peternakan Rakyat Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) yang berlokasi di Kecamatan Tutur, Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Materi yang digunakana dalam penelitian ini adalah kolostrum dari induk 37 sapi perah FH yang laktasi, sampel yang diambil meliputi hari pemerahan ke 1, ke 2, ke 3 dan ke 4 dengan waktu pemerahan pagi dan sore. Data penelitian dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian menunjukkan rata-rata kadar lemak kolostrum sapi perah FH pada periode laktasi 1,2,3 dan 4 hasil pemerahan pagi berkisar antara 6,49 - 8,56%, sedangkan rataan kadar lemak hasil pemerahann sore berkisar antara 6,43 – 9,35%. Hubungan antara hari pemerahan dengan kadar lemak  kolostrum pagi sapi perah dari persamaan regresi Y= 9,217 + (-0,719)X dan persamaan regresi Y= 10,287 + (-0,822)X pada sore hari yang artinya setiap peningkatan 1 hari pemerahan, maka nilai kadar lemak menurun sebesar 0,719 pada pagi hari dan nilai kadar lemak menurun sebesar 0,822 pada sore hari. Sedangkan nilai koefisien relasi (r) pagi diperoleh 0,267 dan nilai koefisien relasi (r) sore diperoleh 0.325, menunjukan adanya hubungan positif yang rendah antara hari pemerahan dengan kadar lemak kolostrum pada pagi dan sore hari. Nilai koefisien determinasi (R2) pada pagi hari sebesar 7,1% dan 10,6% pada sore hari, artinya hari pemerahan berpengaruh hanya 7,1% (pagi) dan 10,6% (sore) terhadap kadar lemak kolostrum serta 92,9% (pagi) dan 89,4 % (sore) ditentukan oleh faktor lain.   Abstract This study was conducted with the aim of knowing the colostrum fat content of FH cows at different ages of colostrum that were intensively reared at the Dairy Cattle Farming Cooperative People's Farm (KPSP) located in Tutur District, Nongkojajar, Pasuruan Regency, East Java Province, Indonesia. The material used in this study was colostrum from 37 lactating FH dairy cows. The samples taken included the 1st, 2nd, 3rd, and 4th day of milking with morning and afternoon milking. The research data was analyzed using simple linear regression. The results of the study showed that the average fat content of colostrum of FH dairy cows in the lactation period of 1, 2, 3, and 4 in the morning milking ranged from 6.49–8.56%, while the average fat content in the afternoon milking ranged from 6.43–9.35%. The relationship between the day of milking and the fat content of colostrum in the morning of dairy cows from the regression equation Y = 9,217 + (-0,719)X and the regression equation Y = 10,287 + (-0,822)X in the afternoon, which means that for every 1 day increase in milking, the fat content value decreased by 0.719 in the morning and the value of fat content decreased by 0.822 in the afternoon. The value of the correlation coefficient (r) in the morning was 0.267 and the value of the relation coefficient (r) in the afternoon was 0.325, indicating a low positive relationship between milking days and colostrum fat levels in the morning and evening. The value of the coefficient of determination (R2) in the morning is 7.1% and 10.6% in the afternoon, meaning that the day of milking only affects 7.1% (morning) and 10.6% (evening) of colostrum fat content and 92.9% (morning) and 89.4% (afternoon) were determined by other factors.
Hubungan Jarak Puting ke Lantai dengan Tingkat Mastitis dan Kualitas Susu Berdasarkan Uji Reduktase Susu Sapi Perah PFH Rizka Ulfaturrohmah; Puguh Surjowardojo
JAS Vol 7 No 3 (2022): Journal of Animal Science (JAS) - Juli 2022
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.712 KB) | DOI: 10.32938/ja.v7i3.2948

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara jarak puting ke lantai dengan tingkat mastitis menggunakan Callifornia Mastitis Test (CMT) dan kualitas susu berdasarkan uji reduktase. Penelitian ini menggunakan 144 puting susu dari 36 sapi perah PFH pada laktasi ke 3-5 dari 13 peternak lokal di KPSP Setia Kawan, Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus – 24 September 2021. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan observasi langsung. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan regresi dan korelasi sederhana pada software Microsoft Excel 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase puting yang tidak terinfeksi mastitis sebesar 70,8%. Sedangkan persentase kejadian mastitis puting susu pada level 1-4 adalah 16%, 10,4%, 2,1 % dan 0,7%. Hasil uji reduktase menunjukkan bahwa rata-rata kualitas susu yang dihasilkan cukup baik dan termasuk dalam kategori grade 1 dengan perkiraan jumlah bakteri 500.000 sel/ml. Hubungan antara tinggi puting dari lantai dengan tingkat mastitis pada 1-4 tidak cukup kuat. Terdapat korelasi yang rendah antara jarak puting ke lantai dengan tingkat mastitis dengan persamaan Y = 53,71 – 2,68 X dan koefisien korelasinya rendah (r = -0,36). Terdapat hubungan yang rendah antara jarak puting ke lantai dengan kualitas susu dengan persamaan Y = 45,62 + 1,12 X dan koefisien korelasi yang rendah (r = 0,29). Kesimpulannya adalah jarak puting ke lantai dengan tingkat mastitis dan kualitas susu sapi PFH memiliki hubungan yang rendah. Semakin jauh jarak puting ke lantai, semakin rendah risiko mastitis dan semakin baik kualitas susu.