Biyanti Dwi Winarsih
Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Published : 37 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PASIEN YANG DI RAWAT DI ICU RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS Mariati Mariati; Sri Hindriyastuti; Biyanti Dwi Winarsih
The Shine Cahaya Dunia S-1 Keperawatan Vol 7, No 01 (2022): THE SHINE CAHAYA DUNIA S-1 KEPERAWATAN
Publisher : Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/tscs1kep.v7i01.326

Abstract

Latar belakang; Kondisi kesehatan dapat menyebabkan seseorang harus menjalani perawatan di ruang intensif. Kriteria pasien yang harus dirawat di ICU disebabkan karena penyakit infeksi dan noninfeksi. Aktivitas pelayanan ICU menyebabkan keluarga mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan pasien. Keadaan seperti ini sebagai salah satu sebab yang membuat keluarga mengalami kecemasan. Perasaan cemas yang dihadapi dan dialami oleh salah satu anggota keluarga mempengaruhi seluruh keluarga. Kecemasan yang terjadi bersumber dari kondisi pasien, keparahan penyakit dan informasi yang tidak adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan keluarga pasien yang di rawat di ICU Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.Metode; Jenis penelitian adalah deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah keluarga yang mempunyai anggota yang dirawat di Ruang ICU RS Mardi Rahayu Kudus. Teknik sampling dengan purposive sampling dengan besar sampel sebanyak 44 responden. Pengumpulan data dengan kuesioner. Analisa data dalam bentuk deskriptif.Hasil; Hasil penelitian diperoleh data bahwa kecemasan keluarga pasien paling banyak adalah kategori kecemasan ringan sebanyak 16 responden (36,4%), kecemasan sedang sebanyak 12 responden (27,3%), tidak cemas sebanyak 9 responden (20,5%), kecemasan berat sebanyak 6 responden (13,6%) dan paling sedikit adalah panik sebanyak 1 responden (2,3%).Kesimpulan; Kecemasan keluarga pasien di ICU paling banyak adalah kategori ringan. Kata Kunci : Kecemasan, Keluarga, ICU.
HUBUNGAN PEMBERIAN INFORMASI PENYAKIT JANTUNG TERHADAP KECEMASAN KELUARGA PASIEN DI RUANG ICU RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS Sudarsih Sudarsih; Biyanti Dwi Winarsih; Heriyanti Widyaningsih
The Shine Cahaya Dunia S-1 Keperawatan Vol 7, No 01 (2022): THE SHINE CAHAYA DUNIA S-1 KEPERAWATAN
Publisher : Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/tscs1kep.v7i01.327

Abstract

Latar Belakang; Pelayanan di ruang ICU diberikan kepada pasien dengan kondisi kritis yang membutuhkan pelayanan, pengobatan dan observasi secara ketat. Selama menjalani keperawatan kritis (ICU), pasien dan anggota keluarga mempunyai beban mental emosional berbeda. Kecemasan terjadi sebagai respon emosional ketika pasien atau keluarga merasakan ketakutan, yang diikuti beberapa tanda dan gejala. Kecemasan timbul karena kurangnya informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian informasi penyakit jantung terhadap kecemasan keluarga pasien di Ruang ICU Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.Metode; Jenis penelitian bersifat korelasi dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah keluarga pasien yang dirawat di ICU RS Mardi Rahayu Kudus. Teknik sampling dengan purposive sampling sehingga besar sampel sebanyak 27 responden. Pengumpulan data dengan kuesioner. Analisa data secara statistik dengan uji Chi Square.Hasil; Hasil analisa Chi Square mendapatkan nilai p 0,002.Kesimpulan; Terdapat hubungan antara pemberian informasi penyakit jantung dengan tingkat kecemasan keluarga di Ruang ICU Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus   Kata Kunci : Pemberian Informasi, Kecemasan, Keluarga, Penyakit Jantung, ICU.
PENGARUH PEMBERIAN AIR MINERAL TERHADAP FUNGSI MEMORI JANGKA PENDEK ANAK USIA SEKOLAH DI SD N 2 GEMBONG PATI Biyanti Dwi Winarsih; Yayuk Fatmawati; Sri Hartini
The Shine Cahaya Dunia Ners Vol 5, No 2 (2020): The Shine Cahaya Dunia Ners
Publisher : Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/tscners.v5i2.244

Abstract

Latar belakang; Usia sekolah meupakan periode dimana anak-anak dianggap mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan dengan orang tua, teman sebaya, dan orang lain. Perkembangan intelektual dan peforma akademik anak telah menjadi perhatian karena implikasinya pada masa depan serta kualitas individu dan kehidupan sosial. Peforma akademis selain ditentukan fungsi afektif juga fungsi intelegensi, dimana intelegensi merupakan aplikasi dari aspek kognitif dan metakognitif pada proses belajar dan pemecahan masalah. Proses kognitif bergantung dari fungsi-fungsi otak seperti memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Daya ingat yang baik akan menunjang prestasi akademis anak, sehingga diperlukan proses integrasi otak yang optimal. Berbagai cara untuk mengoptimalkan fungsi otak, diantaranya adalah dengan belajar, bermain dan gizi/nutrisi termasuk kebutuhan cairan tubuh. Penelitian bertujuan mengetahui pemberian air mineral terhadap fungsi memori jangka pendeka anak usia sekolah di SD N 2 GembongMetode; Jenis penelitian menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan metode One-group pre-post test design dan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sejumlah 53 responden pada siswa kelas III, IV dan V. Alat bantu yang digunakan adalah kuesioner Digit Span. Hasil uji normalitas data tidak normak, uji statistik yang digunakan adalah uji wilcoxon.Hasil: uji wilcoxon dengan nilai p-value = 0,001 < 0,00 yang artinya ada pengaruh pemberian air mineral terhadap fungsi memori jangka pendek anak usia sekolah di SDN 2 Gembong.  Kesimpulan; setelah minum air mineral terdapat peningkatan memori jangka pendek pada responden. Kata Kunci : Memori Jangka Pendek, Air Mineral, Anak Usia Sekolah
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS Cicilia Pujiastuti; Sri Hindriyastuti; Biyanti Dwi Winarsih
The Shine Cahaya Dunia D-III Keperawatan Vol 7, No 01 (2022): THE SHINE CAHAYA DUNIA D-III KEPERAWATAN
Publisher : Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/tscd3kep.v7i01.331

Abstract

Latar belakang; Hipertensi menjadi salah satu penyakit tidak menular yang perlu diwaspadai yang ditandai dengan peningkatan darah diatas normal secara persisten. Hipertensi saat ini semakin meningkat jumlahnya. Tingginya prevalensi hipertensi disebabkan kebiasaan yang tidak sehat. Faktor psikologis seperti stress juga menjadi faktor pemicu peningkatan tekanan darah, terutama pada kelompok dewasa akhir dan lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat inap di RS Mardi Rahayu Kudus.Metode; Jenis penelitian bersifat korelasi dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah penderita hipertensi di rawat inap Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus. Teknik sampling dengan purposive sampling sehingga besar sampel sebanyak 36 responden. Pengumpulan data dengan kuesioner. Analisa data secara statistik dengan uji Chi Square.Hasil; Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-squre didapatkan nilai p-value 0,000.Kesimpulan; Terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus karena nilai p (0.000) < 0.05 pada taraf signifikansi 5%. Kata Kunci : Tingkat Stres, Hipertensi, Pasien Rawat Inap.
Peningkatan Status Gizi Pada Balita Stunting Melalui Program Pemberian Makanan Tambahan Hartini, Sri; Winarsih, Biyanti Dwi; Yusianto, Wahyu; Faidah, Noor; Nafi’ah, Nur
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v6i3.370

Abstract

Stunting adalah salah satu permasalahan gizi yang terjadi di Indonesia. Stunting disebabakan karena kurangnya asupan makanan dan adanya penyakit infeksi, status gizi balita stunting di tunjukkan menggunakan antopometri dan dikategorikan berdasarkan standart baku WHO dengan indeks BB/U (Berat badan/umur), TB/U (Tinggi badan/umur), dan BB/TB (Berat badan/tinggi badan). Upaya memperbaiki status gizi balita stunting yaitu dengan PMT pada balita 6-59 bulan, PMT bukan sebagai penggati makanan utama sehari-hari tetapi sebagai tambahan makanan balita, program ini merupakan program intervensi terhadap balita yang menderita kurang gizi dimana  agar dapat meningkatkan gizi balita sesuai dengan usiannya. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan status gizi pada balita stunting sesudah program pemberian makanan tambahan di Desa Watuaji Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Pemberian makanan tambahan dilakukan setiap hari selama 90 hari. Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan berat badan balita yang sudah tercantum dilembar KMS. Berat badan balita sejumlah 35 balita stunting sebelum mendapatkan program PMT dengan status gizi buruk 7 balita (20,0%) dan gizi kurang 28 balita (80,0%), dan status gizi balita stunting sesudah program PMT status gizi kurang 5 balita (14,3%) gizi baik 30 balita (85,7%). 
Peningkatan Pemahaman Perawat Tentang Paliatif Care Saat Discharge Planning Pada Pasien Paliatif di RSUD RA Kartini Jepara Faidah, Noor; Hartini, Sri; Winarsih, Biyanti Dwi; Alvita, Galia Wardha
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v6i1.320

Abstract

Penyakit yang banyak diderita masyarakat saat ini beralih dari penyakit infeksi ke penyakit degenerative kronik. jumlah pasien dengan penyakit degenerative kronik menjadi jumlah kunjungan terbanyak yaitu penyakit Gagal ginjal kronik, diabetes mellitus, kanker dan stroke. Penyakit tersebut jika telah memasuki  stadium akhir maka mereka dinamakan pasien tahap paliatif. Berdasarkan hasil analisa banyak perawat yang kurang memberikan edukasi tentang penyakit yang diderita pasien baik untuk pasien itu sendiri ataupun keluarga saat mereka mau pulang dikarenakan kurangnya pemahaman tentang paliatif care.Metode dalam pengabdian masyarakat ini menggunakan deskriptif obesrvasional dengan 12 sampel perawat di ruang rawat inap. Teknik pengambilan data dilakukan melalui kuesioner yang diberikan saat pre dan post test tentang peran perawat dalam discharge planning pada pasien paliatif. Setelah dilakukan penyampaian materi tentang peran perawat edukasi paliatif care terjadi peningkatan pemahaman perawat yang sebelumnya dalam pre test mendapatkan nilai rata-rata 61,67 naik menjadi nilai rata-rata 90. Pendidikan kesehatan ini diharapakan dapat mengubah perilaku perawat untuk dapat mengoptimalkan discharge planning pada psaien paliatif.
Kesejahteraan Keluarga Berhubungan Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik Pada Ibu Hamil widyaningsih, heriyanti; Noor Sholekhah; Biyanti Dwi Winarsih; Noor Faidah; Sri Hartini
Jurnal Anestesi Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Anestesi: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/anestesi.v3i2.1578

Abstract

Pregnancy can trigger Chronic Energy Deficiency (CED). The main factors influencing CED in pregnant women include food intake, family welfare, and nutritional status. Efforts to reduce the prevalence of CED in Indonesia encompass early screening, nutrition education, and the provision of supplementary food. The novelty of this study lies in identifying the relationship between family welfare levels and the incidence of CED in pregnant women. The study aims to describe family welfare levels, examine the incidence of CED, and analyze the relationship between family welfare and CED occurrence. This research utilized an analytical observational approach with a cross-sectional design. The study population consisted of pregnant women in the UPTD Puskesmas Mayong I, Jepara area, in 2022, with inclusion criteria being pregnant women in their second and third trimesters who attended antenatal care at the maternal and child health clinic. The sample size was 87 respondents, calculated using the Slovin formula (error margin 0.05%), and sampling was conducted using non-probability consecutive sampling. Data analysis employed the chi-square test. Most families were categorized as "prosperous," with 79 respondents (90.8%). The majority of pregnant women did not experience CED, accounting for 61 respondents (70.1%). Additionally, most of the prosperous families had pregnant members without CED, comprising 59 respondents (67.8%), with a p-value of 0.012 (p-value < 0.05). There is a significant relationship between family welfare and the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) among pregnant women in UPTD Puskesmas Mayong I, Jepara Regency.  
Profile of Elderly Independence in Tluwuk Village, Wedarijaksa Pati Widyaningsih, Heriyanti; Muniroh, Fitri Ambarwati; Fitriana, Vera; Arsy, Gardha Rias; Putri, Devi Setya; Faidah, Noor; Winarsih, Biyanti Dwi; Hartini, Sri; Pujiati, Eny
Journal Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58774/jourkep.v3i2.82

Abstract

Background: Elderly is a stage when a person enters the age of 60 years and above where changes occur in various aspects such as biological, cognitive, psychosocial, spiritual, and economic functions, which can affect the level of individual independence. Independence is related to a person's ability not to depend on others and not require full direction in carrying out activities. Elderly independence refers to the ability to carry out daily activities independently, make their own decisions, and meet their needs without assistance. Aspects of elderly independence include the ability to care for themselves such as eating, dressing, using the toilet, moving, bathing and eating independently. This independence can certainly be the main capital for the elderly in maintaining their health. Purpose: To find out the level of independence of the elderly in Tluwuk Village, Wedarijaksa Pati . Methods: The type of research used is quantitative descriptive with a survey design. The sample used in this study was the entire elderly population at the Tluwuk village health post as many as 30 respondents with a total sampling technique. The inclusion criteria include elderly people aged ≥ 60 years who live in Tluwuk village, are able to communicate fluently and are willing to be respondents. The instrument used to assess the function of independence is the Barthel Index. Results: Based on the results of the analysis, there were 16 elderly people in the independent category (53.3%), 13 people in the mild dependency category (43.3%) and 1 person in the heavy dependency category (3.3%). Conclusion: Almost half of the elderly in Tluwuk village have a good level of independence and can carry out daily activities without depending on or needing help from other people.
Pengaruh Terapi Mindfulness Spiritual Islam pada Kualitas Hidup Pasien CHF (Congestive Heart Failure) Arsy, Gardha Rias; Ansori, Mokamad; Winarsih, Biyanti Dwi; Hindriyastuti, Sri
Nursing Information Journal Vol. 4 No. 2 (2025): In Progress Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/nij.v4i2.958

Abstract

Pendahuluan: Kualitas hidup CHF (Congestive Heart Failure) sangat penting dan merupakan perhatian khusus karena akan berdampak pada domain penting kualitas hidup pasien CHF diantaranya domain kesehatan fisik terdiri dari subdomain fisik dan fisiologi CHF (status kesehatan, gejala), intervensi medis perawatan kesehatan (efek samping obat, kejadian buruk, beban dalam minum obat dan lama pengobatan). Domain kesehatan mental pada pasien CHF yaitu psikologis dan emosional (depresi/ansietas, marah- marah, takut menularkan penyakit, persepsi sehat, dan spiritualitas) untuk itulah di berikan terapi mindfulness spiritual islam. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh terapi mindfulness spiritual islam pada kualitas hidup pasien CHF (Congestive Heart Failure) di RSI Sunan KudusMetode: Penelitian dilaksanakan di RSI Sunan Kudus menggunakan jenis rancangan dalam penelitian ini adalah Quasy-eksperimental dengan Desain penelitian yang digunakan pre and post test Dengan jumlah responden 23 dengan menggunakan Uji analisa Wilcoxon test.Hasil: Hasil analisis statistik uji wilcoxon diperoleh p value = 0.002 lebih besar dari nilai tingkat kemaknaan ɑ <0.05. maka Ha ditolak dan Ho diterima. Terdapat kenaikan kualitas hidup pada pasien CHF yang mendapatkan terapi mindfulness spiritual dari 39,1% menjadi 47,8%.Kesimpulan: Terdapat pengaruh terapi mindfulness spiritual islam pada kualitas hidup pasien CHF di RSI Sunan Kudus. Perawat dapat mengimplementasikan terapi mindfulness spiritual islam untuk dijadikan tambahan terapi selain pengobatan farmakologi.
Komunikasi Informasi Edukasi Pencegahan Stunting pada Orang Tua di Ruang Maranatha 1 Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus Hartini, Sri; Winarsih, Biyanti Dwi; Faidah, Noor; Wedyaningsih, Heriyanti; Yusianto, Wahyu; Hendrawan, Fajar
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Menara Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70109/jupenkes.v2i1.19

Abstract

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang terjadi Anak Balita (bayi di bawah lima tahun) yang disebabkan karena kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Balita yang pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) merupakan balita yang memiliki panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study). Data yang diperoleh oleh World Health Organization (WHO), Indonesia menjadi negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Indonesia pada tahun 2005-2017 memperoleh rata-rata prevalensi balita stunting adalah 36,4%.Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) yang diperoleh tahun 2021, prevalensi stunting hingga saat ini berada pada posisi angka 24,4 % atau 5,33 juta balita. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) menunjukkan prevalensi stunting sebesar 30,8% (Kemenkes, 2023). Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan orang tua khususnya di daerah Kudus yang anaknya dirawat di Rumasakit Mardirahayu tentang pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif dan tanya jawab.