Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

The Position and Role of the Sharia Supervisory Board in Ensuring Sharia Compliance Equity Crowdfunding in Indonesia Muhammad Habibi Miftakhul Marwa; Sholahuddin Al-Fatih; Mohammad Azam Hussain; Haris Haris
Jurnal Hukum Vol 39, No 2 (2023): Jurnal Hukum
Publisher : Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26532/jh.v39i2.33330

Abstract

Fundraising using the equity crowdfunding method has experienced rapid development and is in high demand from the public. In order to maintain the credibility of the implementation of Islamic securities crowdfunding, it is essential to establish a sharia supervisory board to supervise the offering of sharia-compliant securities employing information technology-driven crowdfunding service platforms. This article aims to discuss and analyze the position and role of the sharia supervisory board within the system, as well as the level of compliance with sharia principles in the implementation of equity crowdfunding in Indonesia. The research method used in this article is a type of normative legal research that relies on secondary data sources obtained through a literature review. The legal protection for the existence of a sharia supervisory board in sharia equity crowdfunding in Indonesia is regulated in POJK Number 57/POJK.04/2020 and Fatwa Number 140/DSN-MUI/VIII/2021. The sharia supervisory board has a very strategic role in ensuring sharia compliance in every equity crowdfunding activity in Indonesia. In order to maintain the credibility of sharia equity crowdfunding in the future, it is essential to ensure that every aspect of operations complies with sharia principles by maximizing the existence of a sharia supervisory board.
Strengthening Aisyiyah Banguntapan 4's Understanding of Murabahah Financing as a Sustainable Sharia Economic Solution Istianah Zainal Asyiqin; Ani Yunita; Muhammad Habibi Miftakhul Marwa; Annisabella Oktaviani; Tanu Surana
Indonesian Journal of Legal Community Engagement Vol. 8 No. 2 (2025): July-December, 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jphi.v8i2.22667

Abstract

The growth of Islamic financial assets in Indonesia reached IDR 2,450.55 trillion in June 2023, with a market share of 10.94% of the total national finance. Islamic banking institutions, particularly those offering financing based on sale and purchase agreements like murabahah, are crucial in expanding financial inclusion and providing Sharia-compliant financial solutions. ‘Aisyiyah, as part of the Muhammadiyah women's movement, plays a significant role in community empowerment, including enhancing knowledge of Islamic financing. This study aims to strengthen the understanding of murabahah financing among the ‘Aisyiyah Banguntapan 4 community, particularly in addressing misconceptions and reducing reliance on usurious transactions. The implementation method in this community service activity consisted of three stages: preparation, implementation, and evaluation. The implementation stage included educational sessions in the form of material presentation, discussions, and legal analysis of murabahah financing, conducted at the partner location with 50 participants. Evaluation was carried out to assess the effectiveness and impact of the program on participants’ knowledge. Data collection methods were through interviews, surveys, and direct engagement with community members. The results indicate a notable improvement in participants' comprehension of Law No. 21 of 2008 on Sharia Banking (45.5%), MUI Fatwa on Usury (51%), DSN MUI Fatwa on Murabahah (50.5%), sharia-based economic transactions (50%), and the concept and implementation of murabahah financing (50.5%). These findings highlight the effectiveness of educational efforts in enhancing public awareness of Islamic financial principles, thereby fostering financial literacy and reducing dependence on non-sharia-compliant transactions.
MODEL PENYELESAIAN PERSELISIHAN PERKAWINAN PERSPEKTIF HUKUM ADAT DAN HUKUM ISLAM Marwa, Muhammad Habibi Miftakhul
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 4 No. 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v4i2.4059

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis konsep hukum perkawinan dan model penyelesaian perselisihan perkawinan untuk menghindari perceraian perspektif hukum adat dan hukum Islam. Prinsip utama dilakukan perkawinan adalah untuk mewujudkan kebahagiaan selama-lamanya bukan sementara. Perselisihan rumah tangga yang tidak segera diselesaikan menjadi salah satu pemicu terjadinya perceraian. Akibat perceraian akan menimbulkan problematika terhadap anak, harta selama perkawinan, dan status salah satu bekas suami-istri menjadi janda atau duda. Artikel ini secara spesifik fokus menganalisis bagaimana konsep perkawinan dan model penyelesaian perselisihan perkawinan menurut hukum adat dan hukum Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan perbandingan (comparative approach). Hasil penelitian ini adalah (1) Hukum perkawinan adat berpedoman pada pandangan hidup masyarakat adat yang dicerminkan pada sistem kekeluargaan yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Sedangkan, pelaksanaan hukum perkawinan Islam berdasarkan sumber hukum Islam. Perkawinan dalam hukum adat dan hukum Islam dimaksudkan untuk mewujudkan keluarga yang bahagia dan kekal abadi. Setiap terjadi perselisihan perkawinan dianjurkan untuk segera diselesaikan supaya tidak mengganggu keharmonisan rumah tangga yang dapat mengakibatkan putusnya perkawinan. (2) Model penyelesaian perselisihan perkawinan dalam hukum adat dan hukum Islam diutamakan diselesaikan melalui musyawarah untuk mufakat. Mekanisme pelaksanaan musyawarah untuk damai dalam hukum adat dilakukan terlebih dahulu oleh para pihak yang berselisih dibantu keluarga. Apabila tidak berhasil dimintakan bantuan kepada tokoh adat dan kepala desa yang dianggap memilik kewenangan dan otoritas lebih dalam penyelesaian sengketa. Sedangkan model penyelesaian perselisihan perkawinan menurut hukum Islam ialah melalui musyawarah, mediasi dan mengangkat hakam.