Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh pupuk hayati dan pengapuran terhadap produktivitas kedelai di tanah Inceptisol Jatinangor Irwan, Aep Wawan; Nurmala, Tati
Kultivasi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Pertanian UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.664 KB) | DOI: 10.24198/kltv.v17i2.18117

Abstract

ABSTRAK Kedelai merupakan tanaman pangan dengan kandungan protein tinggi sebagai bahan baku utama berbagai makanan, sehingga kebutuhan kedelai di Indonesia selalu tinggi. Hasil kedelai dapat ditingkatkan melalui aplikasi pupuk hayati dan pengapuran. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang  pada ordo tanah Inseptisol. Penelitian dilakukan dari Maret 2017 sampai Juni 2017. Rancangan percobaannya adalah Rancangan Acak Kelompok, terdiri dari sembilan perlakuan, yaitu tanpa pupuk hayati dan tanpa pengapuran (kontrol); pupuk hayati 5 liter/ha + tanpa pengapuran; pupuk hayati 8 liter/ha + tanpa pengapuran; tanpa pupuk hayati +  pengapuran 140 kg/ha; pupuk hayati 5 liter/ha +  pengapuran 140 kg/ha; pupuk hayati 8 liter/ha +  pengapuran 140 kg/ha; tanpa pupuk hayati +  pengapuran 200 kg/ha; pupuk hayati 5 liter/ha +  pengapuran 200 kg/ha; dan pupuk hayati 8 liter/ha +  pengapuran 200 kg/ha. Semua perlakuan diulang 3 kali. Hasil percobaannya yaitu aplikasi pupuk hayati dan pengapuran tidak menunjukkan berpengaruh nyata terhadap jumlah polong, jumlah biji, jumlah bunga, bobot kering tanaman, bintil akar efektif, Indeks Luas Daun (ILD), bobot biji, Indeks Panen dan bobot 100 butir, namun berpengaruh nyata pada pengamatan tinggi tanaman serta jumlah cabang produktif. Hasil panen tertinggi mencapai 36,86 g/tanaman atau sekitar 1,1 ton/ha.Kata kunci : kedelai, pengapuran, pupuk hayati, inceptisols. ABSTRACT Soybean is a food plant with high vegetable protein content,  is always lack of demand. Its yield can be improved by biofertilizer and lime application. This research was conducted at Experimental Field of Agricultural Faculty of Padjadjaran University, Jatinangor, Sumedang, on Inceptisols, from March 2017 to June 2017. It used Randomized Block Design, nine treatments and three replications, as follows: without biological fertilizer and without liming (control); biological fertilizer 5 liters / ha + without liming; biological fertilizer 8 liters / ha + without liming; without biological fertilizer + liming 140 kg / ha; biological fertilizer 5 liters / ha + liming 140 kg / ha; biological fertilizer 8 liters / ha + liming 140 kg / ha; without biological fertilizer + liming 200 kg / ha; biological fertilizer 5 liters / ha + liming 200 kg / ha; and biological fertilizer 8 liters / ha + liming 200 kg / ha. The results showed that there were no significant effect on the number of pods, the number of seeds, the number of flowers, the dry weight of the plant, the effective root nodule, leaf area index (ILD), yield, harvest index, and 100 grain weight, but there were significant effect on plant height and number of productive branches. The best yield reached 36.86 g / plant or about 1.1 tons / ha.Key words : soybean, liming, biological fertilizer, inceptisols.
Pengaruh Pupuk NPK dan Pupuk Hayati BPF Terhadap Karakter Pertumbuhan dan Hasil Empat Genotip Hanjeli (Coix lacryma jobi L.) (The Effect of NPK Fertilizer and Biofertilizer BPF on Growth Character and Yield of Four Genotypes Cereal Grains (Coix Lacryma jobi L.)) Qosim, Warid Ali; Nurmala, Tati; Irwan, Aep Wawan; Damanik, Martha C.
JURNAL PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.22 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i2.83

Abstract

Tanaman hanjeli (Coix lacryma jobi L.) merupakan salah satu tanaman serealia potensial sebagai bahan pangan (karbohidrat) berbasis tepung. Untuk menunjang ekspresi genetik plasma nutfah hanjeli berdaya hasil dan kandungan lemak tinggi diperlukan kondisi lingkungan yang optimal. Salah satunyaadalah ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Tujuan penelitian adalah menghasilkan genotip hanjeli yang berdaya hasil tinggi dan informasi jenis dan dosis pupuk yang optimal dalam mendukung potensi genetik hanjeli berdaya hasil tinggi. Percobaan dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Novembar 2012 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unpad Kampus Jatinangor, Sumedang dengan ketinggian 799 m dpl. Percobaan ditata dalam Rancangan Acak Kelompok dengan dua ulangan. Perlakuan adalah kombinasi genotip hanjeli dan pupuk. Genotip hanjeli, yaitu: #Acc 26 (G1); #Acc 28 (G2); #Acc 37 (G3); #Acc 38 (G4), sedangkan kombinasi pupuk hayati BPF (Bakteri Pelarut Fosfat) dan pupuk NPK, yaitu: pupuk NPK dosis 0 kg/ha (Po); pupuk NPK dosis 300 kg/ha (P1); pupuk NPK dosis 300 kg/ha + BPF (P2); pupuk NPK dosis 200 kg/ha + BPF (P3); pupuk NPK dosis 150 kg/ha + BPF(P4). Data diolah menggunakan uji-F pada taraf 5 persen. Untuk mengetahui tingkat perbedaan karakter yang diamati dilaksanakan uji jarak berganda Duncan pada taraf 5 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip #Acc 26, #Acc 28, #Acc 37, #Acc 38 memiliki penampilan yang bervariatif akibat dari perlakuan jenis dan dosis pupuk untuk karakter jumlah buku, jumlah dan bobot biji per tanaman, bobot 100 biji dan untuk karakter jumlah biji, bobot biji per tanaman dan bobot biji per plot. Pengaruh perlakuan dosis pupuk NPK 300 kg/ha + BPF dan NPK 200 kg/ha + BPF memberikan perlakuan lebih baik pada genotip #Acc 37 dan #Acc 38 terutama untuk karakter jumlah biji per tanaman dan bobot biji per plot.Job’s tear (Coix lacryma jobi L.) is one of potential cereal crops as flour-based food carbohydrate source. To support the expression of genetic germplasm of Job’s tear with high yielding and fat contents requires optimal environmental conditions, such as availability of nutrient in the soil. The objective of this study was to determine the optimum effect of various NPK and biofertilizer PSB (Phosphate-solubilizing bacteria) doses in supporting the growth and characters of job’s tears with high yielding. The experiment was carried out from March to November 2012 at experimental station of Faculty of Agriculture UNPAD Jatinangor Campus (799 m asl). The experiment was arranged in completly randomized block design with two replications, and with the combination of genotypes and various of NPK doses and biofertilizer PSB. Genotypes of job’s tears were. #Acc 26 (G1); #Acc 28 (G2); #Acc 37 (G3); #Acc 38 (G4), while various NPK doses and biofertilizer PSB were 0 kg/ha (Po); NPK doses of 300 kg/ha (P1); NPK doses of 300 kg/ha + PSB (P2); NPK doses of 200 kg/ha + PSB(P3); NPK doses of 150 kg/ha + PSB (P4). The data were the analyzed using F-test at 5 percent level and Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5 percent level. The results showed that these treatments affected the growth and yield characters of four Job’s tears. Genotypes of #Acc 26, #Acc 28, #Acc 37, #Acc 38 gave the best effect on the number of nodes, number and weight of grain per plant and plot. Application of NPK 300 kg/ha + PSB 2 and NPK 200 kg/ha+ PSB gave the best effect on genotypes #Acc 37 and #Acc 38, especially on the characters of number of grain per plant and weight grain per plot.  
Karakterisasi dan Kekerabatan 23 Genotip Jawawut (Setaria italica L. Beauv) yang Ditanam Tumpangsari dengan Ubi Jalar Berdasarkan Karakter (Agromorfologi Characterization and Relationship of 23 Foxtail Millet (Setaria italica L. Beauv) Genotypes Intercropped With Sweet Potato Based on Agromorphological Traits) Ali Qosim, Warid; Randall, Alan; Yuwariah, Yuyun; Nuraini, Anne; Nurmala, Tati; Irwan, Aep Wawan
JURNAL PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1141.505 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i1.303

Abstract

Diversifikasi pangan lokal merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi krisis pangan akibat pertambahan jumlah penduduk di Indonesia setiap tahun. Produksi dan pengembangan jawawut di Indonesia masih tergolong rendah karena terbatas oleh ketersediaan lahan. Tumpangsari merupakan praktek pertanian berkelanjutan dan alternatif dalam pengembangan jawawut di Indonesia. Namun, sistem tanam tumpangsari dapat menyebabkan kompetisi antar tanaman. Strategi untuk mengurangi tingkat kompetisi antar tanaman dapat dilakukan dengan penanaman dua jenis tanaman yang mempunyai morfologi, perakaran dan umur panen yang berbeda. Budidaya jawawut dan ubi jalar tidak membutuhkan irigasi. Berdasarkan informasi tersebut, jawawut dan ubi jalar dapat dibudidayakan secara tumpangsari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter agromorfologi yang memberikan kontribusi yang nyata terhadap keragaman 23 genotip jawawut yang ditanam secara tumpangsari dengan ubi jalar. Hasil penelitian menunjukkan koefisien ketidakmiripan yang terbentuk di antara 23 genotip jawawut yang diamati karakter agromorfologinya yaitu berkisar antara 0,24 - 2,34, dan membagi dua klaster utama, yaitu klaster A dan B. Karakter tinggi tanaman 14 hst, 28 hst, 42 hst dan 56 hst, jumlah daun 14 hst dan 42 hst, indeks luas daun 49 hst dan umur panen merupakan karakter yang memberikan kontribusi terhadap keragaman paling tinggi yaitu sebesar 46,82 persen.Local food diversification is one of attempt to anticipate food crisis due to population growth in Indonesia every year. Production and development of millet in Indonesia is still relatively low because it is limited by the availability of land. Intercropping is sustainable and alternative farming practices in the development of millet in Indonesia. However, intercropping system may be occur competition between plants. Strategies to reduce the level of competition between plants by planting two types of plants which have different morphology, root and harvesting time. Cultivation of millet and sweet potatoes do not require irrigation. Based on the information millet and sweet potatoes can be cultivated intercropped. The purpose of this study was to determine the agromorplogical traits which make a significant contribution to the diversity of 23 genotypes of millet were planted with sweet potatoes. Result showed that dissimilarity coefficient between 23 genotypes of millet were 0,24 to 2,34, and split two main clusters, cluster A and B. Plant height at 14 DAP, 28 DAP, 42 and 56 DAP, leaf number at 14 DAP and 42 DAP, leaf area index at 49 DAP and harvesting time were the highest character which contributes to the diversity, 46,82 percent. 
Analisis dampak perubahan iklim terhadap produksi kedelai dan pilihan adaptasi strategisnya pada lahan tadah hujan di Kabupaten Garut Ruminta Ruminta; Aep Wawan Irwan; Tati Nurmala; Gheanofany Ramadayanty
Kultivasi Vol 19, No 2 (2020): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v19i2.27998

Abstract

AbstrakPerubahan iklim dapat menimbulkan ancaman bagi kegiatan pertanian karena berdampak terhadap kenaikan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem, perubahan pola hujan, serta peningkatan suhu udara dan kenaikan permukaan air laut. Tanaman kedelai merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap perubahan iklim karena memiliki dampak penurunan produksi yang tinggi. Maka dari itu telah dilakukan analisis perubahan iklim terhadap produksi tanaman kedelai di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya perubahan iklim di Kabupaten Garut, mengetahui dampak perubahan unsur iklim yaitu suhu udara dan curah hujan terhadap produksi dan produktivitas kedelai serta mengidentifikasi usaha adaptasi yang dilakukan oleh para petani. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim di wilayah Kabupaten Garut. Dampak perubahan iklim terhadap penurunan produksi kedelai berkorelasi signifikan. Penurunan produksi kedelai di Kabupaten Garut disebabkan oleh faktor perubahan curah hujan dan suhu udara. Adaptasi yang harus dilakukan petani adalah dengan menanam bibit kedelai yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim, melakukan pengaturan pola tanam, dan membuat sumur resapan air.Kata Kunci: Perubahan Iklim, Produksi Kedelai, Dampak, Adaptasi Strategis AbstractClimate change can cause a threat for agriculture because it affects to the increased frequency and intensity of extreme weather, changes in rainfall patterns, and increase in global temperature also sea level rise. Soybean is the most sensitive commodity to climate change because it has a high impact of reduced production. Therefore it has been studied the impact of climate change on the production of soybean in the area of Garut District, West Java. The research object was to identify climate change in Garut District, determine the impact of climate change which is air temperature and rainfall on the production and productivity of soybean and identify adaptation efforts should be done by farmers. The method used in this research is quantitative descriptive. The results showed that the area of Garut District has experienced climate change. The climate change was significant affected on the decreased of soybean production. The decreased of soybean production in Garut District was caused by changes in rainfall and air temperature. Adaptation that must be done by the farmers are planting of yield that be able to adapt to climate change, regulate cropping patterns, and make infiltration wells.Keywords: Climate change, Soybean production, Impacts, Adaptation Strategic
Pengaruh pupuk hayati majemuk dan pupuk fosfor terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai di inceptisol Jatinangor Aep Wawan Irwan; Tati Nurmala
Kultivasi Vol 17, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.759 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i3.19583

Abstract

Sari. Kedelai merupakan salah satu tanaman yang membutuhkan fosfor dalam jumlah besar. Ketersediaan P merupakan faktor pembatas utama pada pertumbuhan dan produksinya. Fosfor tidak banyak tersedia untuk tanaman, sehingga dibutuhkan pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme untuk dapat melarutkan fosfor. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis pupuk hayati majemuk dan pupuk P yang efektif dan dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil tanaman kedelai kultivar Anjasmoro. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2017 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, dengan ketinggian tempat yaitu ± 780 mdpl. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 9 perlakuan dan diulang tiga kali, adapun perlakuannya yaitu : tanpa pupuk fosfor dan tanpa pupuk hayati; 100 kg/ha pupuk fosfor; 5 L/ha pupuk hayati; 100 kg/hapupuk fosfor + 5 L/ha pupuk hayati; 100 kg/ha pupuk fosfor + 8 L/ha pupuk hayati; 100 kg/ha pupuk fosfor + 10 L/ha pupuk hayati; 150 kg/ha pupuk fosfor  + 5 L/ha pupuk hayati; 150 kg/ha pupuk fosfor  + 8 L/ha pupuk hayati dan 150 kg/ha pupuk fosfor  + 10 L/ha pupuk hayati. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi pupuk fosfor 150 kg/ha + pupuk hayati 10 L/ha memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah bintil akar, namun tidak memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, bobot kering tanaman, indeks luas daun, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman dan indeks panen.Kata Kunci: kedelai, pupuk hayati, inceptisols  Abstract. Soybeans are one of the plants that require large amounts of phosphorus. The availability of P is a major limiting factor in its growth and production. Phosphorus is not widely available for plants, so it requires biological fertilizers that contain microorganisms to dissolve phosphorus. This study aims to obtain a dose of compound biofertilizer and P fertilizer that is effective and can provide the best effect on growth, yield components, and yield of Anjasmoro cultivar soybean plants. The research conducted from March to June 2017 at the Ciparanje Experimental Field, Faculty of Agriculture, University of Padjadjaran, with altitude of 780 meters above sea level. Experiment used Randomized block design that consisted of 9 treatments. There were without biological fertilizers and without P fertilizer; 100 kg/ha P fertilizer + 5 L/ha biological fertilizer; 100 kg/ha P fertilizer + 8 L/ha biological fertilizer; 100 kg/ha P fertilizer + 10 L/ha biological fertilizer; 150 kg/ha fertilizer P + 5 L/ha biological fertilizer; P 150 kg/ha fertilizer + 8 L/ha biological fertilizer; 150 kg/ha fertilizer P + 10 L/habiological fertilizer. It was repeated three times. The results showed that a combination of phosphorus fertilizer 150 kg/ha + biological fertilizer 10 L/ha gave were significant effect on plant height and the number of root nodules but it had no effect on plant height, plant dry weight, leaf area index, number of seeds, seed weight, and harvest index.Keywords: soybean, biofertilizer, inceptisols
Respons tanaman jagung (Zea mays L.) hibrida terhadap aplikasi paraquat pada lahan tanpa olah tanah (TOT) Agus Wahyudin; Dedi Widayat; Fiky Yulianto Wicaksono; Aep Wawan Irwan; Abdulah Hafiz
Kultivasi Vol 17, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.484 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i3.18989

Abstract

Sari. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan dan hasil tanaman jagung akibat persiapan lahan dengan menggunakan herbisida paraquat pada lahan tanpa olah tanah (TOT), serta memperoleh dosis yang tepat yang dapat digunakan dalam budidaya jagung untuk menggantikan olah tanah sempurna (OTS). Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dengan ketinggian tempat ± 750 meter diatas permukaan laut  dan ordo tanah Inceptisol serta tipe curah hujan C3 menurut Oldeman (1975). Percobaan dilaksanakan dari bulan Mei 2017 hingga Agustus 2017.  Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 6 perlakuan dan diulang sebanyak 4 kali. Perlakuannya adalah sebagai berikut : Perlakuan TOT + Herbisida Paraquat Diklorida Dosis 207g/L, TOT + Herbisida Paraquat Diklorida  Dosis 276g/L, TOT + Herbisida Paraquat Diklorida Dosis  345g/L, TOT + Herbisida Paraquat Diklorida Dosis  414g/L, TOT + Penyiangan Manual, dan  Kontrol (OTS). Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian herbisida paraquat 414 g/L untuk persiapan lahan dengan TOT pada tanaman jagung  dapat menyamai OTS.Kata kunci : Paraquat , Persiapan lahan, Jagung, Tanpa olah tanah  Abstract. This study aims to determine growth and yield of maize caused by land preparation using paraquat herbicide at zero tillage, then find the best dosage of paraquat that can be replaced full tillage in maize cultivation. The experiment was conducted at the experimental field Ciparanje, Faculty of Agriculture, University of Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang Regency, West Java at ± 750 meters above sea level, soil order was Inceptisols, the type of rainfall was C3 according Oldemann classification. The experiment conducted from May 2017 until August 2017. It used  randomized block design that consisted of 6 treatments and repeated four times. The treatments were: zero tillage + Paraquat Dicloride at the dosage 207g/L, zero tillage + Paraquat Dicloride at the dosage 276g/L, zero tillage + Paraquat Dicloride at the dosage 345g/L, zero tillage + Paraquat Dicloride at the dosage 414g/L, zero tillage +  weeding manual, and full tillage as control. The results of the experiments showed that application of paraquat 414 g/L can replace full tillage.Keyword : Land preparation, Paraquat, Maize, Zero tillage
Pengaruh pupuk hayati dan pengapuran terhadap produktivitas kedelai di tanah Inceptisol Jatinangor Aep Wawan Irwan; Tati Nurmala
Kultivasi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.664 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i2.18117

Abstract

ABSTRAK Kedelai merupakan tanaman pangan dengan kandungan protein tinggi sebagai bahan baku utama berbagai makanan, sehingga kebutuhan kedelai di Indonesia selalu tinggi. Hasil kedelai dapat ditingkatkan melalui aplikasi pupuk hayati dan pengapuran. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang  pada ordo tanah Inseptisol. Penelitian dilakukan dari Maret 2017 sampai Juni 2017. Rancangan percobaannya adalah Rancangan Acak Kelompok, terdiri dari sembilan perlakuan, yaitu tanpa pupuk hayati dan tanpa pengapuran (kontrol); pupuk hayati 5 liter/ha + tanpa pengapuran; pupuk hayati 8 liter/ha + tanpa pengapuran; tanpa pupuk hayati +  pengapuran 140 kg/ha; pupuk hayati 5 liter/ha +  pengapuran 140 kg/ha; pupuk hayati 8 liter/ha +  pengapuran 140 kg/ha; tanpa pupuk hayati +  pengapuran 200 kg/ha; pupuk hayati 5 liter/ha +  pengapuran 200 kg/ha; dan pupuk hayati 8 liter/ha +  pengapuran 200 kg/ha. Semua perlakuan diulang 3 kali. Hasil percobaannya yaitu aplikasi pupuk hayati dan pengapuran tidak menunjukkan berpengaruh nyata terhadap jumlah polong, jumlah biji, jumlah bunga, bobot kering tanaman, bintil akar efektif, Indeks Luas Daun (ILD), bobot biji, Indeks Panen dan bobot 100 butir, namun berpengaruh nyata pada pengamatan tinggi tanaman serta jumlah cabang produktif. Hasil panen tertinggi mencapai 36,86 g/tanaman atau sekitar 1,1 ton/ha.Kata kunci : kedelai, pengapuran, pupuk hayati, inceptisols. ABSTRACT Soybean is a food plant with high vegetable protein content,  is always lack of demand. Its yield can be improved by biofertilizer and lime application. This research was conducted at Experimental Field of Agricultural Faculty of Padjadjaran University, Jatinangor, Sumedang, on Inceptisols, from March 2017 to June 2017. It used Randomized Block Design, nine treatments and three replications, as follows: without biological fertilizer and without liming (control); biological fertilizer 5 liters / ha + without liming; biological fertilizer 8 liters / ha + without liming; without biological fertilizer + liming 140 kg / ha; biological fertilizer 5 liters / ha + liming 140 kg / ha; biological fertilizer 8 liters / ha + liming 140 kg / ha; without biological fertilizer + liming 200 kg / ha; biological fertilizer 5 liters / ha + liming 200 kg / ha; and biological fertilizer 8 liters / ha + liming 200 kg / ha. The results showed that there were no significant effect on the number of pods, the number of seeds, the number of flowers, the dry weight of the plant, the effective root nodule, leaf area index (ILD), yield, harvest index, and 100 grain weight, but there were significant effect on plant height and number of productive branches. The best yield reached 36.86 g / plant or about 1.1 tons / ha.Key words : soybean, liming, biological fertilizer, inceptisols.
Pengaruh pola tanam tumpangsari jagung dan kedelai terhadap pertumbuhan dan hasil jagung hibrida dan evaluasi tumpangsari di Arjasari Kabupaten Bandung Yuyun Yuwariah; Dedi Ruswandi; Aep Wawan Irwan
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.804 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i3.14377

Abstract

Jagung dan kedelai merupakan tanaman pangan terpenting setelah padi di Indonesia. Konsumsi jagung dan kedelai akan terus mengalami peningkatan setiap tahun dikarenakan pertambahan jumlah penduduk. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi tanaman dapat dilakukan dengan cara tumpangsari. Sistem tumpangsari merupakan sistem pertanaman dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman secara serentak pada lahan yang sama dalam waktu satu tahun. Penelitian bertujuan untuk mengetahui genotip jagung hibrida yang terbaik ditumpangsarikan dengan kedelai. Percobaan dilaksanakan dari bulan Maret 2016 sampai bulan Agustus 2016 di Arjasari, Kabupaten Bandung dengan ketinggian tempat mencapai  960 m di atas permukaan laut. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 20 perlakuan dan diulang sebanyak 2 kali, dengan perlakuan 18 genotip dan 2 genotip cek, terdiri dari F1B X 4.8.8, F1E X 1.1.3, F1D X 3.1.4, F1F X G203, F1A X 4.8.8,, F1E X 3.1.4, F1H X G-673, F1I X G203, F1B X 1.1.3, F1E X 3.1.4, F1C X G203-1, F1G X 16.5.15, F1D X 16.5.15, F1H X 1.1.3, F1A X 16.5.15, F1I X G673, F1G X 673, F1C X 4.8.8, Maros 1 x 2 dan Maros 11 x 12 yang masing-masing ditumpangsarikan dengan tanaman kedelai. Hasil percobaan menunjukkan bahwa sistem tanam tumpangsari jagung dan kedelai dapat memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung genotip F1F x 3.1.4, Maros 1 x 2, dan Maros 11 x 12.  Perlakuan jagung hibrida genotip F1B x 1.1.3, F1B x 4.8.8, F1C x 4.8.8, F1I x G203-1, Maros 1 x 2 dan Maros 11 x 12  yang ditumpangsarikan dengan kedelai memberikan pengaruh terbaik terhadap bobot biji pipilan kering per petak sebesar 2,60 – 3,30  kg/m2 setara dengan 5,77 – 7,34 ton/ha.Kata kunci : Jagung Hibrida, Kedelai, Tumpangsari
Pengaruh jarak tanam berbeda dan berbagai dosis pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman hanjeli pulut (Coix lacryma-jobi L.) di dataran tinggi Punclut Aep Wawan Irwan; Tati Nurmala; Tia Dian Nira
Kultivasi Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.546 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i1.11719

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh jarak tanam yang berbeda dan berbagai dosis pupuk kandang ayam serta memperoleh salah satu kombinasi jarak tanam dengan dosis pupuk kandang ayam yang memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan dan hasil hanjeli pulut. Percobaan dilaksanakan dari bulan Desember 2015 sampai bulan Mei 2016 di Punclut, Lembang, Kabupaten Bandung dengan ketinggian tempat mencapai  1095 m di atas permukaan laut, dengan tanah Latosol dan tipe iklim C2 menurut klasifikasi Oldeman. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 9 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali, dengan perlakuan kombinasi jarak tanam 50 x 50 cm + 0 ton/ha pupuk kandang ayam,  50 x 50 cm + 1 ton/ha, 50 x 50 cm + 2 ton/ha, 75 x 50 cm + 0 ton/ha, 75 x 50 cm + 1 ton/ha, 75 x 50 cm + 2 ton/ha, 100 x 50 cm + 0 ton/ha, 100 x 50 cm + 1 ton/ha, dan 100 x 50 cm + 2 ton/ha. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam berbeda dan pemberian berbagai dosis pupuk kandang ayam dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman hanjeli pulut. Perlakuan jarak tanam 75 x 50 cm dan 2 ton/ha pupuk kandang ayam dapat meningkatkan bobot biji per rumpun tanaman hanjeli pulut.Kata kunci:Jarak tanam, pupuk kandang ayam, hanjeli
Respons kedelai akibat jarak tanam dan konsentrasi giberelin pada tanah inceptisol Jatinangor Aep Wawan Irwan; Agus Wahyudin; Toto Sunarto
Kultivasi Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.759 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v18i2.22232

Abstract

Sari. Teknik budidaya untuk meningkatkan produktivitas kedelai antara lain penggunaan jarak tanam yang tepat dan penambahan input berupa giberelin. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jarak tanam dan konsentrasi yang tepat agar pertumbuhan dan hasil meningkat. Percobaan dilakukan pada bulan Juli sampai Oktober 2017 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, dengan ketinggian tempat yaitu ± 780 meter di atas permukaan laut. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial, dengan tiga ulangan. Faktor I adalah jarak tanam, terdiri dari 3 taraf, yaitu: jarak tanam 25 cm X 25 cm, jarak tanam 15 cm X 15 cm  X 40 cm dan jarak tanam 20 cm X 20 cm X 40 cm. Faktor II adalah konsentrasi Giberelin, terdiri dari 3 taraf, yaitu : konsentrasi 150 ppm, 250 ppm dan 350 ppm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara jarak tanam dan konsentrasi giberelin terhadap indeks luas daun dan jumlah polong per tanaman. Jarak tanam 20 cm X 20 cm X 40 cm memberikan pengaruh yang terbaik terhadap jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan indeks panen. Konsentrasi giberelin 350 ppm memberikan pengaruh terbaik terhadap  jumlah biji per tanaman.Kata Kunci: kedelai, jarak tanam, giberelin, inceptisols.  Abstract. Agronomy innovation to increase soybean productivity were spacing management and giberelin application. This study aims to obtain the right plant spacing and the right concentration so increase growth and yield. The experiment was conducted from July to October 2017 at the Ciparanje Experimental Station, Faculty of Agriculture, Padjadjaran University, with altitude of ± 780 m above sea level. It used randomized block design with factorial treatment and three replications. The first factor was plant spacing that consisted of 3 levels: spacing 25 cm X 25 cm, spacing 15 cm X 15 cm X 40 cm and spacing 20 cm X 20 cm X 40 cm. The second factor was giberelin concentration that consisted of 3 levels: concentration of 150 ppm, 250 ppm, and 350 ppm. The experimental results showed that there were interaction between the spacing and the concentration of gibberellins on leaf area index and number of pods per plant. The spacing 20 cm X 20 cm X 40 cm gave best effect on number of grain, weight of grain, and harvest index. The giberelin concentration of 350 ppm has the best influence on the number of seeds per plant.Keywords: soybean, plant-spacing, gibberelin, inceptisols.