Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Cegah Awal Penyebaran Hoaks di Media Sosial: Menggagas Pengembangan Instrumen Pengenalan Hoaks Krisanjaya, Krisanjaya; Widia, Ida
Indonesian Language Education and Literature Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i1.15503

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) menentukan dimensi, elemen, atau aspek yang dapat digunakan dalam pencegahan awal penyebaran berita bohong dan 2) memanfaatkan instrumen cegah awal penyebaran hoaks (ICAPH) seperti dimaksud dalam Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2008. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D) Borg dan Gall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencegah secara dini penyebaran berita bohong di media sosial dapat digunakan 14 butir pernyataan (dimensi emosi, konten, literasi informasi, kategori informasi, opini, dan sumber) ke dalam instrumen yang disingkat ICAPH. Hasil pengembangan instrumen menunjukkan bahwa ICAPH dapat digunakan untuk mencegah secara dini penyebaran berita bohong atau hoaks. Prevent The Initial Spread of Hoaxes on Social Media: Initiated an Instrument DevelopmentThis article elaborates on the importance of developing instruments to prevent the initial spread of fake news or hoaxes. This research specifically aims to: 1) determine the dimensions, elements or aspects that can be used in early prevention of the spread of fake news and 2) utilize the Instrument for Early preventing the spread of hoaxes (ICAPH) in the provisions of the articles of Republic of Indonesia Law Number 11 of 2008. Research using research and development (R&D) Bord and Gall methods. The research results show that to prevent the early spread of fake news on social media, 14 statement items (emotional dimensions, content, information literacy, information categories, opinions and sources) can be used in an instrument abbreviated as ICAPH. The results of instrument development show that ICAPH can be used to prevent the early spread of fake news or hoaxes.
Peningkatan Kemampuan Menulis Pesan di Media Sosial dengan Kesantunan Berbahasa Indonesia Masyarakat Kampung Sawah Bekasi Krisanjaya; Aulia Rahmawati; Asisda Wahyu; Ida Widia
Mitra Teras: Jurnal Terapan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Mitra Teras: Jurnal Terapan Pengabdian Masyarakat, Volume 4 Number 1, June 2025
Publisher : PT. Mitra Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58797/

Abstract

Social media is a collection of digital applications that enable users to interact online by sharing information in the form of photos, videos, news, and short stories. This convenience has made the dissemination of information rapid and widespread. However, alongside these advantages come challenges, particularly the use of impolite language that can disrupt communication, both in process and content. In such a context, it is essential to foster awareness of polite language use in social media, especially within communities that embrace diversity. Kampung Sawah, a Betawi community located in Jatimurni Subdistrict, offers a unique example of harmony, where three houses of worship mosque, church, and chapel stand side by side. Residents of different faiths Islam, Christianity, and Catholicism have long maintained familial ties dating back to before Indonesia's independence. This harmony is sustained through shared customs, culture, and language. Therefore, training in polite message writing for social media targeted at residents, teachers, students, and parents of SD (elementary school) in Kampung Sawah is of great significance. The training focused on writing messages that promote tolerance and unity, as well as identifying polite and impolite language forms. The results show an improvement in the ability to write respectfully using strategies such as direct speech, positive and negative politeness, and off-record strategies. With this understanding, community members are better equipped to avoid profanity, curses, and expressions that degrade others, while fostering wisdom and setting a positive example in their digital communication practices.    Abstrak Media sosial merupakan kumpulan aplikasi digital yang memungkinkan penggunanya berinteraksi secara daring dengan berbagi informasi dalam bentuk foto, video, berita, hingga cerita singkat. Kemudahan ini membuat penyebaran informasi menjadi sangat cepat dan luas. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan berupa penggunaan bahasa yang tidak santun, yang dapat mengganggu jalannya komunikasi, baik dari segi proses maupun isi pesan. Di tengah situasi ini, penting untuk mengembangkan kesadaran berbahasa santun dalam bermedia sosial, terutama di komunitas dengan latar belakang keberagaman. Kampung Sawah, sebuah komunitas masyarakat Betawi di Kelurahan Jatimurni, menjadi contoh unik kerukunan, di mana tiga rumah ibadah berdiri berdekatan, dan masyarakat Islam, Kristen, serta Katolik hidup berdampingan dalam ikatan kekeluargaan yang telah terjalin jauh sebelum Indonesia merdeka. Harmoni ini dijaga melalui kesamaan adat, budaya, dan bahasa. Oleh karena itu, pelatihan menulis pesan santun di media sosial bagi warga, guru, murid, dan orang tua murid SD di Kampung Sawah menjadi sangat penting. Pelatihan ini menekankan pada penulisan pesan yang mendukung kerukunan dan toleransi, serta mengenalkan bentuk-bentuk bahasa yang santun dan tidak santun. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan menulis secara santun dengan pendekatan strategi pembicaraan langsung, kesantunan positif dan negatif, serta strategi pembicaraan semu. Dengan pemahaman ini, masyarakat mampu menghindari penggunaan makian, umpatan, dan ungkapan yang merendahkan, serta menumbuhkan sikap bijak dan memberi contoh positif dalam komunikasi digital sehari-hari. 
Belajar Etika Budaya: Menakar Kesantunan dan Kepercayaan Diri Mahasiswa Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Sundusiah, Suci; Idris, Nuny Sulistiany; Widia, Ida; Fauzia, Amirush Shafa; Asri, Dinar
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 10 No 2 (2025): Volume 10, Nomor 2 - Desember 2025
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v10i2.12358

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kepercayaan diri mahasiswa dalam menyimak Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan kesadaran mereka terhadap kesantunan berbahasa. Data diperoleh melalui dua instrumen berupa skala kepercayaan diri menyimak dan skala kesadaran kesantunan yang diberikan kepada mahasiswa BIPA dari tiga level: dasar, menengah, dan mahir. Uji normalitas dan analisis non-parametrik Kruskal-Wallis digunakan untuk menguji perbedaan antar level, sedangkan analisis korelasi dan regresi diterapkan untuk mengeksplorasi hubungan antarvariabel. Hasil menunjukkan tidak terdapat korelasi signifikan antara kepercayaan diri menyimak dan kesadaran kesantunan, dengan indikasi adanya fenomena overconfidence pada pemelajar dengan skor kepercayaan diri tinggi tetapi kesadaran kesantunan rendah. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengajaran secara eksplisit tentang norma kesopanan dan nilai budaya Indonesia dalam pembelajaran BIPA. Implikasi pedagogis disoroti, khususnya integrasi pelatihan pragmatik ke dalam kurikulum BIPA guna menghasilkan komunikator yang fasih sekaligus beretika.
PERBANDINGAN PRONOMINA PERSONA BAHASA INDONESIA DENGAN BAHASA MALAYSIA: TINJAUAN SEMANTIS Aswan, Aswan; Idris, Nuny Sulistiany; Widia, Ida
Diksi Vol. 29 No. 2: DIKSI SEPTEMBER 2021
Publisher : Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/diksi.v29i2.43034

Abstract

Indonesian and Malaysian are languages that are often debated because they have similarities and similarities. This happens because Indonesian and Malaysian are rooted in Malay. Problems related to Indonesian and Malaysians are interesting to study. The topic discussed in this study is the use of Indonesian and Malaysian personal pronouns. The main objective of this study is to compare the use of Indonesian and Malaysian personal pronouns from a semantic point of view. That is, the authors compare them in terms of lexical meaning. This is because the root of a vocabulary is the meaning of the dictionary. In this study, the type of qualitative method with a descriptive approach was chosen as the data analysis method.. The data collected is in the form of first, second, and third personal pronoun vocabulary. The data sources for this study are Kamus Besar Bahasa Indonesia and Kamus Dewan Bahasa Malaysia. Based on the results of the study, it was found that the use of Indonesian and Malaysian pronouns had differences and similarities. The difference can be seen from the number of meanings. In Indonesian, there are as many as 15 meanings, while in Malaysia there are as many as 20 meanings. The similarities can be seen in each personal pronoun.
Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar BIPA Berbasis Kurikulum Internasional bagi Mahasiswa di Jawa Barat Fauzy, Eka Rahmat; Widia, Ida; Sulistyaningsih, Lilis Siti; Mulyati, Yeti; Rizkyanfi, Mochamad Whilky; Zufar, Alzena Nabiilah; Febiana, Wulan; Sulaeman, Tiara Adinda
Dimasatra Vol 5, No 1 (2025): April
Publisher : Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dm.v5i1.74841

Abstract

Keberadaan Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) semakin marak di Indonesia. SPK pada umumnya mengacu pada kurikulum internasional, namun tetap dituntut untuk mengikutsertakan beberapa mata kuliah dari kurikulum nasional, termasuk mata kuliah bahasa Indonesia. Sayangnya, pengadaan bahan ajar bahasa Indonesia yang berbasis kurikulum internasional masih terbatas, dan penyediaan di perguruan tinggi yang diperoleh mahasiswa sebagai calon pengembang bahan ajar tersebut belum selalu memadai. Keadaan ini menjadi tantangan sekaligus peluang, khususnya bagi mahasiswa di Jawa Barat yang meliputi hampir 90 SPK yang masih aktif. Dengan demikian, pelatihan ini dinilai relevan sebagai salah satu upaya penguatan kompetensi mahasiswa untuk menjadi guru BIPA yang kompeten. Pelatihan ini menggandeng akademisi di perguruan tinggi dan praktisi di SPK yang memiliki keahlian di bidang kurikulum BIPA dan IB-DP yang relevan dengan tujuan yang diharapkan. Para peserta mengikuti serangkaian kegiatan teori dan praktik untuk mendapatkan pengalaman yang lebih kaya. Pada akhirnya, ditemukan bahwa sebagian besar kandidat harus berhadapan dengan tantangan internal dan eksternal untuk mengatasi situasi tersebut. Lingkungan, khususnya program studi, juga berpeluang untuk meningkatkan kompetensi kandidat di masa mendatang.
Peningkatan Kemampuan Menulis Pesan di Media Sosial dengan Kesantunan Berbahasa Indonesia Masyarakat Kampung Sawah Bekasi Krisanjaya, Krisanjaya; Rahmawati, Aulia; Wahyu, Asisda; Widia, Ida
Mitra Teras: Jurnal Terapan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Mitra Teras: Jurnal Terapan Pengabdian Masyarakat, Volume 4 Issue 1, June 2025
Publisher : MJI Publisher by PT Mitra Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58797/teras.0401.05

Abstract

Social media is a collection of digital applications that enable users to interact online by sharing information in the form of photos, videos, news, and short stories. This convenience has made the dissemination of information rapid and widespread. However, alongside these advantages come challenges, particularly the use of impolite language that can disrupt communication, both in process and content. In such a context, it is essential to foster awareness of polite language use in social media, especially within communities that embrace diversity. Kampung Sawah, a Betawi community located in Jatimurni Subdistrict, offers a unique example of harmony, where three houses of worship mosque, church, and chapel stand side by side. Residents of different faiths Islam, Christianity, and Catholicism have long maintained familial ties dating back to before Indonesia's independence. This harmony is sustained through shared customs, culture, and language. Therefore, training in polite message writing for social media targeted at residents, teachers, students, and parents of SD (elementary school) in Kampung Sawah is of great significance. The training focused on writing messages that promote tolerance and unity, as well as identifying polite and impolite language forms. The results show an improvement in the ability to write respectfully using strategies such as direct speech, positive and negative politeness, and off-record strategies. With this understanding, community members are better equipped to avoid profanity, curses, and expressions that degrade others, while fostering wisdom and setting a positive example in their digital communication practices. Abstrak Media sosial merupakan kumpulan aplikasi digital yang memungkinkan penggunanya berinteraksi secara daring dengan berbagi informasi dalam bentuk foto, video, berita, hingga cerita singkat. Kemudahan ini membuat penyebaran informasi menjadi sangat cepat dan luas. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan berupa penggunaan bahasa yang tidak santun, yang dapat mengganggu jalannya komunikasi, baik dari segi proses maupun isi pesan. Di tengah situasi ini, penting untuk mengembangkan kesadaran berbahasa santun dalam bermedia sosial, terutama di komunitas dengan latar belakang keberagaman. Kampung Sawah, sebuah komunitas masyarakat Betawi di Kelurahan Jatimurni, menjadi contoh unik kerukunan, di mana tiga rumah ibadah berdiri berdekatan, dan masyarakat Islam, Kristen, serta Katolik hidup berdampingan dalam ikatan kekeluargaan yang telah terjalin jauh sebelum Indonesia merdeka. Harmoni ini dijaga melalui kesamaan adat, budaya, dan bahasa. Oleh karena itu, pelatihan menulis pesan santun di media sosial bagi warga, guru, murid, dan orang tua murid SD di Kampung Sawah menjadi sangat penting. Pelatihan ini menekankan pada penulisan pesan yang mendukung kerukunan dan toleransi, serta mengenalkan bentuk-bentuk bahasa yang santun dan tidak santun. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan menulis secara santun dengan pendekatan strategi pembicaraan langsung, kesantunan positif dan negatif, serta strategi pembicaraan semu. Dengan pemahaman ini, masyarakat mampu menghindari penggunaan makian, umpatan, dan ungkapan yang merendahkan, serta menumbuhkan sikap bijak dan memberi contoh positif dalam komunikasi digital sehari-hari.
DEVELOPMENT OF BIPA READING ASSESSMENT FOR BASIC LEVEL IN ESSA BAUCAU SCHOOL, TIMOR LESTE RIBEIRO, GIL TOME; Idris, Nuny S.; Widia, Ida
DIVERSITY Logic Journal Multidisciplinary Vol. 3 No. 2 (2025): September: Diversity Logic Journal Multidisciplinary
Publisher : SYNTIFIC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61543/div.v3i2.138

Abstract

Background. This study addresses challenges in reading assessment for basic-level Indonesian Language Learning for Foreign Speakers (BIPA). Research Purpose. Creating an instrument that is valid, reliable, practical, and adapted to learners’ language backgrounds. Research Method. Using the ADDIE Research and Development model, the study involved 45 students selected purposively. Data were collected through expert validation, student questionnaires, and reading tests. Validation was done by three experts, with trials conducted in two stages: a limited trial with 15 students and a broader trial with 45 students. Validity was assessed using Content Validity Ratio and Index, reliability with Cronbach’s Alpha, practicality by positive response rates, and effectiveness by comparing pre- and post-test results. Findings. The developed instrument showed high validity, with 93.3% of items rated highly valid by experts and an average score of 4.17 on a 5-point scale. Reliability was strong, indicated by a Cronbach’s Alpha of 0.87. Practicality measured through positive feedback was 83.5% from students and 90.5% from teachers. Effectiveness was demonstrated by an increase in average student reading scores from 65.2 to 78.4 and a 23% rise in learning motivation. The instrument covers literal, inferential, and critical comprehension, matching learners’ characteristics well. Conclusion. This study provides a well-rounded reading assessment tool that can significantly improve reading skills measurement in BIPA learning contexts.
Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Eksplanasi melalui Metode Kolaboratif pada Siswa BIPA di Timor Leste: Improving the Ability to Write Explanatory Texts through Collaborative Methods for BIPA Students in Timor Leste Madeira, Clementino; Sundusiah, Suci; Widia, Ida
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 4 No. 6 (2025): AGUSTUS-SEPTEMBER TAHUN 2025
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v4i6.3849

Abstract

Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan menulis teks eksplanasi siswa BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di sebuah sekolah menengah di Timor Leste melalui penerapan metode kolaboratif. Latar penelitian muncul dari temuan awal di kelas bahwa keterampilan menulis siswa masih rendah pada aspek kosakata, struktur teks, kohesi, koherensi, dan mekanik bahasa. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas akhir program BIPA. Data dikumpulkan melalui tes menulis, observasi, wawancara, dan dokumentasi; dianalisis secara deskriptif-kualitatif dan kuantitatif sederhana. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata menulis dari pra-siklus 55,75 (kategori kurang) menjadi 66,25 pada siklus I (cukup) dan 79,50 pada siklus II (baik). Peningkatan kumulatif mencapai 42,6% dari kondisi awal. Observasi kelas memperlihatkan partisipasi dan kolaborasi antarsiswa meningkat, terutama pada sesi peer review dan diskusi struktur teks. Temuan mendukung kerangka konstruktivisme sosial—interaksi dan scaffolding memperkaya proses berpikir, memperjelas ide, dan mendorong revisi efektif. Penelitian merekomendasikan pemanfaatan metode kolaboratif secara konsisten pada pengajaran menulis BIPA, khususnya untuk jenis teks yang menuntut logika kausal dan organisasi informasi seperti teks eksplanasi.
Contrastive Corpus Studies in Language Teaching: A Bibliometric and Systematic Review of Language Pairs Yulian, Yulia; Mulyati, Yeti; Widia, Ida
Journal of Languages and Language Teaching Vol. 13 No. 4 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jollt.v13i4.15236

Abstract

Corpus-based contrastive studies have become increasingly vital in language education, offering empirical insights into cross-linguistic structures, discourse patterns, and semantic strategies. However, a comprehensive synthesis mapping recent developments and identifying existing research gaps has been lacking. This study addresses this need by conducting a systematic literature review and bibliometric analysis of 73 peer-reviewed articles published between 2014 and 2024. Using PRISMA 2020 guidelines and tools such as VOSviewer, the study maps dominant linguistic focuses, frequently analyzed language pairs, and collaboration networks. The findings reveal a strong emphasis on discourse and semantics, with English commonly paired with Spanish, Arabic, and Chinese. Pragmatic dimensions and underrepresented language pairs, particularly from Southeast Asia and Africa, remain largely overlooked. The study also highlights geographic disparities in global contributions, suggesting the need for more inclusive and collaborative research frameworks. The results offer practical implications for pedagogy, policy, and research. For pedagogy, integrating corpus-informed, contrastive materials into language instruction can enhance learners’ awareness of discourse conventions and intercultural variation. In terms of policy, stakeholders are encouraged to invest in open-access multilingual corpora and support cross-border collaboration, particularly involving underrepresented linguistic communities. For future research, this study underscores the need to explore pragmatic features, diversify language pairings, and build interdisciplinary networks to promote a more equitable and context-sensitive development of corpus-based contrastive inquiry in language education.
PENERAPAN METODE PARTISIPATORI BERBASIS KECERDASAN KINESTETIK UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS 12 ESCOLA SECUNDARIA GERAL LERE ANAN TIMUR LOSPALOS – TIMOR LESTE Sebastião Sarmento, Teofilo; Widia, Ida
SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol. 4 No. 11 (2025)
Publisher : Penerbit Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/sibatik.v4i11.3686

Abstract

This study aims to improve students’ speaking skills through the implementation of a participatory method based on kinesthetic intelligence in teaching Indonesian as a Foreign Language (BIPA). The research was motivated by the low participation and speaking proficiency of 12th-grade students at Escola Secundaria Geral Lere Anan Timur (ESG LAT) Lospalos – Timor Leste, due to conventional teaching methods and the lack of body movement activities during lessons. This research employed a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design. Data were collected through observation, speaking tests, and documentation. The findings reveal that the application of the participatory method based on kinesthetic intelligence significantly enhanced students’ speaking abilities. The mean score of the experimental group increased from 62.4 to 84.7, while the control group only rose from 61.8 to 70.5. The t-test result showed a significant difference between the two groups (t-count = 4.82 > t-table = 2.00; Sig. = 0.000). These results indicate that integrating kinesthetic activities into participatory learning effectively fosters students’ activeness, confidence, and expressiveness in speaking.