Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Bandotan Terhadap Pertumbuhan Bakteri Vibrio sp. Isolat Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Admi, Masda; Fitri, Khairani; Hennivanda, Hennivanda; Jamin, Faisal; Rosmaidar, Rosmaidar; Syafruddin, Syafruddin; Winaruddin, Winaruddin; Azhari, Azhari
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 2 (2025): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.96568

Abstract

     Daun bandotan merupakan salah satu tanaman obat yang banyak dimanfaatkan  dalam mengobati berbagai jenis penyakit karena mengandung senyawa fitokimia yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun bandotan terhadap pertumbuhan bakteri Vibrio sp. isolat ikan lele dumbo. Pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode Kirby Bauer disk diffusion yang diawali dengan peremajaan stok isolat bakteri pada media Nutrient Broth, reidentifikasi dengan media Thiosulfate Citrate Bile Salt Sucrose Agar dan pewarnaan Gram. Selanjutnya dilakukan uji daya hambat menggunakan media Mueller Hinton Agar. Studi ini terdiri dari 5 perlakuan yaitu ekstrak etanol daun bandotan konsentrasi 25% (P1), 50% (P2), dan 75% (P3), siprofloksasin sebagai kontrol positif dan CMC 1% sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan diameter zona hambat yang terbentuk pada kontrol positif (45,13 ± 0,04mm) dua kali lebih besar dibandingkan daya hambat yang terbentuk pada ekstrak daun bandotan konsentrasi 25% (23,30 ± 0,15mm), konsentrasi 50% (24,29 ± 0,17 mm), dan konsentrasi 75% (25,29 ± 0,16mm), kontrol negatif tidak menunjukkan terbentuknya zona hambat. Kesimpulan penelitian adalah ekstrak etanol daun bandotan berpotensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio sp. hasil isolat lele dumbo.      
Isolation of Aspergillus sp. from The Lungs of Sparrows (Passer montanus) Nugraha, Ronaldi Fajar; Erina, Erina; AK, M. Daud; Jamin, Faisal; Darniati, Darniati
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 2 (2025): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.102705

Abstract

Aspergillosis is a common respiratory disease in avian species. The infection of Aspergillus sp. is characterized by the presence of yellowish plaques or nodules in the respiratory tract such as the trachea, air sac, and lungs. This study aimed to isolate Aspergillus sp. from the lungs of sparrows. The samples used in this research were the lungs of 35 sparrows taken randomly. Isolation was carried out by Thompson’s method (1969), samples were embedded in Saboraud’s Dextrose Agar (SDA) media and then incubated for 2-7 days. The growth of Aspergillus sp. colonies was observed at 24-hour intervals by looking at the color, shape, edges, and bottom surface of the colonies. Meanwhile, to ensure and confirm the species of Aspergillus sp., the fungus was planted on slide culture media. After that, microscopic observations were conducted by looking at the growth of conidiophores, hyphae, phialids, and fungal conidia. The data obtained were then analyzed descriptively. The result showed that Aspergillus sp. can be isolated from 27 out 35 samples. Based on the result of this study it can be concluded that 77.14% of samples were infected by Aspergillus sp. consisting of Aspergillus niger and Aspergillus flavus.
PENENTUAN AFLATOKSIN B1 PADA MAKANAN OLAHAN KACANG TANAH DENGAN MENGGUNAKAN ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) Aisyah, Siti; S, Safika; Jamin, Faisal
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2785

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kontaminasi Aspergillus flavus dan konsentrasi aflatoksin B1 pada jenis makanan berbahan baku kacang tanah yang dipasarkan di Banda Aceh. Pengambilan sampel dilakukan di pasar tradisional dan swalayan di Banda Aceh. Sampel diisolasi dan diidentifikasi A. flavus serta dideteksi AFB1 dengan menggunakan metode enzym-linked immunosorbent assay (ELISA). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dari 15 sampel makanan berbahan baku kacang tanah, 73,33% (11 sampel) terkontaminasi aflatoksin B 1 dengan konsentrasi yang bervariasi. Walaupun terkontaminasi aflatoksin B1, namun sebanyak 86,67% sampel makanan berbahan baku kacang tanah masih aman dikomsumsi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah yaitu maksimal 20 ppb.
Peran Plasma Kaya Trombosit dan Perban Lembab dalam Perawatan Transplantasi Kulit pada Kucing Zamzami, Rumi Sahara; Hasan, Muhammad; Daud, Razali; Daniel, Daniel; Sabri, Mustafa; Jamin, Faisal; Etriwati, Etriwati; Sirait, Muhammad Alfajri Erutama; Erwin, Erwin
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.85600

Abstract

Plasma Kaya Trombosit (PKT) mengandung konsentrasi fibrin dan faktor pertumbuhan yang tinggi, yang berperan penting dalam regenerasi jaringan selama proses penyembuhan transplantasi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian PKT yang dikombinasikan dengan balutan lembap terhadap keamanan dan hasil penyembuhan transplantasi kulit pada kucing domestik melalui penilaian subjektif dan objektif. Penelitian ini menggunakan enam ekor kucing domestik jantan berumur 1–2 tahun dengan bobot badan 2–3 kg yang dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan. Defek kulit full-thickness berukuran 2 × 2 cm dibuat pada ekstremitas anterior dan ditutup d engan transplantasi kulit empat hari kemudian. Kelompok I (K-I) diberi balutan lembap, sedangkan Kelompok II (K-II) diberi PKT pada dasar luka sebelum pemasangan transplantasi kulit dan selanjutnya ditutup dengan balutan lembap. Penilaian subjektif pada area defek pasca skin graft meliputi perubahan warna kulit, respons nyeri, dan uji perdarahan, sedangkan penilaian objektif meliputi absorpsi NaCl dan respons terhadap agen simpatomimetik yang diamati pada hari ke-18 pasca-transplantasi. Hasil menunjukkan bahwa warna kulit dan respons nyeri pada K-II secara signifikan lebih baik dibandingkan K-I (P < 0,05). Area transplantasi menunjukkan warna menyerupai kulit sekitarnya pada hari ke-9 dan ke-12 dengan perbedaan signifikan antar waktu pengamatan (P < 0,05), sementara respons nyeri tidak berbeda signifikan seiring waktu (P > 0,05). Penilaian objektif menunjukkan keluarnya darah merah terang secara segera setelah insisi serta absorpsi NaCl dan respons obat simpatomimetik yang lebih cepat pada K-II (P < 0,05). Disimpulkan bahwa aplikasi PKT yang dikombinasikan dengan balutan lembap secara signifikan mempercepat proses pemulihan trasnplantasi kulit pada kucing domestik.