Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEINGINAN PERPINDAHAN FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA PADA PESERTA JKN MANDIRI DI KOTA DENPASAR TAHUN 2017 Iwan Abdi Suandana; Pande Putu Januraga; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 6 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.998 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2019.v06.i01.p01

Abstract

ABSTRAK Keinginan pindah fasilitas kesehatan tingkat pertama merupakan salah satu bentuk ketidakpuasan pasien serta akan berdampak pada loyalitas pasien dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pada tahun 2016, terjadi peningkatan yang signifikan pada peserta JKN Mandiri di Kota Denpasar yang melakukan perpindahan FKTP yaitu di bulan Juni sebanyak 453 orang dan menjadi 504 orang pada bulan November 2016. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak BPJS Kesehatan Cabang Denpasar didapatkan data mengenai keluhan peserta JKN di FKTP di Kota Denpasar meliputi pelayanan yang kurang ramah, kurang informatif, antrian panjang, penolakan pasien luar wilayah dan pasien tidak terlayani karena berobat di luar jam kerja FKTP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keinginan pindah FKTP pada peserta JKN Mandiri di Kota Denpasar. Desain penelitian ini menggunakan analitik crossectional dengan jumlah sampel 108 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling di beberapa FKTP yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan di Kota Denpasar. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan dianalisis dengan analisis univariat, bivariat (chi-square) dan multivariat (regresi logistik) Berdasarkan hasil mutivariat didapatkan hasil terdapat hubungan antara ketersediaan fasilitas (p=0,005, 95% CI=2,05-56,57), waktu tunggu (p=0,000, 95% CI=5,98-233,68), jarak (p=0,000, 95% CI=3,66-51,92), pindah domisili (p=0,022, 95% CI=1,34-43,01) dan pelayanan dokter (p=0,005, 95% CI=2,02-55,32) dengan keinginan pindah FKTP, sedangkan waktu pelayanan tidak mempunyai hubungan dengan keinginan pindah FKTP (p=0,138, 95% CI=0,50-147,25). Adapun faktor yang paling dominan terhadap keinginan pindah FKTP yaitu waktu tunggu (p=0,000 dan Adjust OR= 37,38) Bagi pihak FKTP sebaiknya dapat meningkatkan kualitas mutu pelayanan yang diberikan pada peserta JKN serta bagi BPJS Kesehatan dapat meningkatkan penilaian terhadap FKTP yang bekerjasama dengannya dalam hal kredensialing dan rekredensialing FKTP. Kata Kunci: Perpindahan, FKTP, JKN ABSTRACT The desire to move first-level health facilities is one form of patient dissatisfaction and will have an impact on patient loyalty in utilizing health services. In 2016, there was a significant increase in JKN Mandiri participants in Denpasar City who moved FKTP in June as many as 453 people and became 504 people in November 2016. Based on interviews with BPJS Health Denpasar Branch data obtained about JKN participants' complaints in FKTP in Denpasar City includes services that are not friendly, less informative, long queues, rejection of patients outside the region and patients not served because of treatment outside FKTP working hours. This study aims to determine the factors associated with the desire to move FKTP on JKN Mandiri participants in Denpasar City. The design of this study used cross-sectional analytics with a sample of 108 people. The sampling technique was done by consecutive sampling in several FKTP in collaboration with BPJS Health in Denpasar City. Data collection was carried out by questionnaire and analyzed by univariate, bivariate (chi-square) and multivariate (logistic regression) analysis. Based on the results of the mutivariat, there was a correlation between the availability of facilities (p = 0.005, 95% CI = 2.05-56.57) , waiting time (p = 0,000, 95% CI = 5.98-233.68), distance (p = 0,000, 95% CI = 3.66-51.92), moving domicile (p = 0.022, 95% CI = 1.34-43.01) and doctor's service (p = 0.005, 95% CI = 2.02-55.32) with the desire to move FKTP, while the service time has no relationship with the desire to move FKTP (p = 0.138, 95 % CI = 0.50-147.25). The most dominant factor for the desire to move FKTP is the waiting time (p = 0,000 and Adjust OR = 37.38) For the FKTP it should be able to improve the quality of service provided to JKN participants and for BPJS Health can improve the assessment of FKTP in collaboration with in terms of FKTP credentialing and recruitment. Keywords: Displacement, FKTP, JKN
PEMETAAN BERDASARKAN LOKASI DAN JUMLAH PESAING PUSKESMAS PERAWATAN DI KABUPATEN GIANYAR YANG BERSTATUS BLUD SEBAGAI DASAR PENYUSUNAN STRATEGI BISNIS Putu Ayu Indrayathi; Ketut Hari Mulyawan; Putu Novi Trisna Dewi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 3 No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.736 KB)

Abstract

Community health care center (Puskesmas) as gate keeper is the first level of health care that is closest to the people. Since January 2010, several puskesmas which provide inpatient care in Kabupaten Gianyar has become public service agencies (BLUD) to improve quality and access to health care services for community During the implementation of such policy, it is important to review its effectiveness especially with so many competitors in the community. This study was a cross-sectional descriptive study. Research carried out in existing health facilities competitors in the work area BLUD community health care centers in Gianyar.  Mapping was conducted using GIS and processed by the Epi Info system. The results showed that the four community health care centers in Gianyar treatments have different levels of competition. Puskesmas Ubud I has a very high density of competition, while Puskesmas Tegallalang II has very little of competition. The implementation of such policy in Puskesmas Payangan and Puskesmas Tegallalang II is considered very effective because far from city and rarely finding a competitor health facilities. This research recommend the community health care center to improve the promotion about existence of health care centers and quality of health care services so that communities in the solid area of competitor can switch utilize community health care center services.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN TERHADAP TINGKAT KEPERCAYAAN ATAS PELAYANAN YANG DIBERIKAN OLEH DOKTER RESIDEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR TAHUN 2017 Ni Made Mas Dwi Purwaningrat; Pande Putu Januraga; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 4 No 2 (2017): Desember (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.242 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2017.v04.i02.p01

Abstract

ABSTRAKSalah satu faktor yang paling mempengaruhi kepercayaan pasien adalah kualitas pelayanan yang diberikan, dimana pentingnya karakteristik pasien sebagai penentu utama pembentukan persepsi terhadap suatu pelayanan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien terhadap tingkat kepercayaan pasien atas pelayanan yang diberikan oleh dokter residen. Penelitian ini dilakukan di Ruang Rawat Inap Kelas III RSUP Sanglah Denpasar. Desain penelitian menggunakan rancangan Cross Sectional analitik kuantitatif. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling sebanyak 109 responden. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi Square Fisher Exact’s untuk melihat hubungan karakteristik pasien terhadap tingkat kepercayaan atas pelayanan yang diberikan oleh dokter residen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara karakteristik pendidikan pasien (p=0,014) dan karakteristik umur (p=0,043) dengan tingkat kepercayaan pasien atas pelayanan dokter residen. Tetapi tidak ada hubungan antara jenis kelamin (p=0,104) dan pekerjaan (p=0,751) dengan tingkat kepercayaan pasien atas pelayanan dokter residen. Karakteristik umur responden rata-rata 42,02 pada kelompok umur ? 45 tahun, jenis kelamin perempuan, pasien lebih banyak berpendidikan SMA/SMK dan berstatus bekerja. Pasien memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi atas pelayanan dokter residen (82,57%). Ada hubungan antara karakteristik pendidikan dan karakteristik umur dengan tingkat kepercayaan pasien atas pelayanan dokter residen. Untuk mencapai target kepercayaan pelanggan, dapat dilakukan dengan menjelaskan pelayanan yang diberikan oleh dokter residen kepada pasien yang memiliki umur lanjut usia serta berpendidikan rendah.Kata Kunci : Kepercayaan Pasien, Rumah Sakit, Karakteristik ABSTRACTPatient’s Trust is one factors that influences the quality of services provided by hospital. In order to determine the level of patient trust, hospital needs to comprehend the characteristic of patients for decision making related to services provides by the hospital. The purpose of this study was to find out the relationship of patient characteristic towards level of trust for the service provided by resident doctors. This research was conducted in class III inpatient room at Sanglah Hospital Denpasar. This study is a cross sectional with quantitative approach. Samples were taken by consecutive sampling technique with 109 respondents. Data analysis was performed with Chi Square Exact’s Statistical Test to find out the relationship of patient characteristics toward level of trust in the services provided by resident doctors. Patient characteristic in this study include age, sex, education, and occupation. Study found that 90 respondents (82,57%) had high level of trust in the services provided by resident doctors .There was a relationship between the characteristics of patient education (p=0.014) and age characteristics (p=0.043) with the level of patient trust in the services of resident doctors. But there is no relationship between sex and occupation with p value 0.104 and 0.751 respectively. Therefore, to achieve target of customer trust, it can be done by explaining the services provided by resident doctors to elderly patients and low education.Keywords : patient trust, hospital, characteristics
PERBANDINGAN KEPUASAN PASIEN PESERTA JKN DAN NON JKN TERHADAP PELAYANAN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM PRIMA MEDIKA TAHUN 2020 Anak Agung Sagung Istri Maradi Suryaningrat; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 9 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2022.v09.i01.p12

Abstract

Survei kepuasan Humas RS Prima Medika (RSPM) menyebutkan bahwa seorang pasien rawat inap merasakan perbedaan keramahan petugas rumah sakit saat dirinya datang berobat dengan menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kepuasan pasien terhadap pelayanan rawat inap pasien JKN dan Non JKN di RSPM dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan metode pengumpulan data survei kasus. Survei sampel dilakukan secara cross sectional dengan jumlah responden 96 pasien yang terdiri dari 48 responden JKN dan 48 responden Non JKN. Data kuesioner kepuasan mencakup dimensi reliability, tanggap, kompetensi, accessibility, komunikasi, etika, kredibilitas, keamanan dan kelengkapan. Data dianalisis secara univariat dan bivariat pada kemudian dilakukan uji hipotesis dengan Mann Whitney U. Nilai rata-rata kepuasan pasien JKN adalah 3,29 (cukup puas) dan pasien Non JKN 3,73 (cukup puas). Pada hasil tes statistik Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan kepuasan (p=5.0704E-10) yang bermakna antara responden JKN dan non JKN. Perbedaan bermakna ditemukan pada unsur layanan visite dokter (p = 2.3144E-7), Kesesuaian obat dengan resep (p = 7.0098E-11), kemudahan mendapat kamar rawat inap (p = 9.5274E-15) dan informasi ketersediaan kamar (p = 4.3919E-13). Secara umum terdapat perbedaan kepuasan, dimana rata -rata kepuasan pasien JKN lebih rendah dibanding pasien non JKN. Kata Kunci : Kepuasan, JKN, Non JKN, Rumah Sakit
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI MENGENAI KESELAMATAN PASIEN PADA PUSKESMAS RAWAT INAP KOTA DENPASAR Ni Nyoman Intan Widya Sari; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 8 No 3 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2021.v08.i03.p15

Abstract

ABSTRAKKeselamatan pasien merupakan suatu sistem yang membuat asuhan pasien menjadi lebih aman. Dengan adanya pandemi COVID-19, membuat fasilitas pelayanan kesehatan memiliki tantangan dalam memastikan dan meningkatkan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan pegawai puskesmas mengenai keselamatan pasien pada puskesmas rawat inap di Kota Denpasar. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan rancangan cross-sectional study. Sampel dari penelitian ini yaitu seluruh pegawai puskesmas medis dan non medis yang bekerja di puskesmas rawat inap Kota Denpasar yaitu 124 responden, teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Hasil univariat dengan menggunakan uji beda proporsi menunjukkan karakteristik pegawai di puskesmas tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Hasil bivariat dengan menggunakan Simple Logistic Regression menunjukkan tidak ada hubungan antara variabel umur, jenis kelamin, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, pelatihan terhadap tingkat pengetahuan. Hasil multivariat menggunakan Binary Logistic Regression menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (Ho diterima). Memberikan pelatihan kepada pegawai puskesmas, mengevaluasi mutu pelayanan, mengembangkan standar kinerja, membentuk tim keselamatan pasien dan mengoptimalkan perannya dan memperbaiki sistem pencatatan, pelaporan serta penyimpanan data.Kata kunci: Pengetahuan, Keselamatan pasien, Puskesmas, Pegawai, Puskesmas Rawat Inap
PERSEPSI DOKTER UMUM DI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA KLINIK KIMIA FARMA 125 DENPASAR TENTANG SISTEM KAPITASI BERBASIS PEMENUHAN KOMITMEN PELAYANAN DI ERA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL Coratry Shovariah Premilga; Rina Listyowati; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 6 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.428 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2019.v06.i01.p03

Abstract

ABSTRAK Sistem kapitasi berbasis pemenuhan komitmen pelayanan yang diatur dalam peraturan BPJS Kesehatan No 2 tahun 2015 mulai diberlakukan per 1 Januari 2017. Adanya perubahan pola pembayaran kapitasi tentunya akan mendapatkan berbagai macam persepsi dokter umum sebagai PPK di FKTP Klinik Kimia Farma 125 Denpasar. Persepsi ini penting untuk diketahui karena akan mempengaruhi perilaku yang akan diberikan oleh dokter umum terhadap pasien JKN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyelenggaraan dari sistem kapitasi JKN berbasis pemenuhan komitmen pelayanan. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dipilih delapan orang dokter umum di Klinik Kimia Farma 125 Denpasar yang ditentukan sesuai kriteria sebagai informan. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Juli 2017 bertempat di Klinik Kimia Farma 125 Denpasar. Metode pengambilan data menggunakan metode wawancara mendalam (indepth interview) yang dilakukan selama 20 hingga 40 menit. Hasil penelitian persepsi dokter umum terhadap sistem kapitasi berbasis pemenuhan komitmen pelayanan dimana sebagian besar dokter umum setuju besaran tarif kapitasi yang diberikan oleh BPJS Kesehatan cukup untuk melaksanakan pelayanan kesehatan, sistem kapitasi dirasa dapat meningkatkan kesejahteraan dokter. Standar pelayanan yang diberikan pada era JKN mengikuti standar yang telah diatur oleh BPJS Kesehatan. Dalam pelaksanaannya upaya komitmen pelayanan dilakukan dengan cara menambahkan poli untuk mengurangi waktu antrian. Indikator komitmen pelayanan yang diatur dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan mutu pelayanan. Untuk memaksimalkan pemberlakuan sistem kapitasi berbasis pemenuhan komitmen pelayanan, diperlukan upaya tambahan dalam bentuk program promotif dan preventif. BPJS Kesehatan untuk mengelola layanan dan komunikasi dengan dokter diperlukan sosialisasi yang maksimal terhadap program promotif dan preventif untuk meningkatkan kunjungan sehat. Keywords: Persepsi, Kapitasi, Pemenuhan Komitmen Pelayanan ABSTRACT The capitation system based on fulfilling the service commitments regulated in BPJS Kesehatan No 2 tahun 2015 began to take effect as of January 1, 2017. The change in capitation payment patterns will certainly get a variety of perceptions of general practitioners as PPK at FKTP Kimia Farma 125 Denpasar Clinic. This perception is important to know because it will affect the behavior that will be given by general practitioners towards JKN patients. This study aims to determine the effectiveness of the implementation of the JKN capitation system based on fulfilling service commitments. The design of this study was descriptive qualitative, selected eight general practitioners at the Kimia Farma 125 Denpasar Clinic which were determined according to the criteria as informants. The study was conducted in May to July 2017 at the Kimia Farma 125 Clinic in Denpasar. The data collection method uses the in-depth interview method (indepth interview) which is conducted for 20 to 40 minutes. The results of research on the perception of general practitioners of the capitation system based on the fulfillment of service commitments where most general practitioners agree that the amount of the capitation tariff provided by BPJS Health is sufficient to carry out health services, the capitation system is considered to be able to improve the welfare of doctors. Service standards provided in the JKN era followed the standards set by the Health BPJS. In the implementation of the service commitment efforts carried out by adding poly to reduce queuing time. Indicators of service commitment that are set can be a motivation to improve service quality. To maximize the implementation of a capitation system based on fulfilling service commitments, additional efforts are needed in the form of promotive and preventive programs. BPJS Health to manage services and communication with doctors requires maximum socialization of promotive and preventive programs to increase healthy visits. Keywords: Perception, Capitation, Fulfillment of Service Commitments
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI REMAJA BALI DALAM KEINGINAN MEMILIKI JUMLAH ANAK IDEAL I Gusti Ayu Agung Putri Krismayanthi; Istiana Marfianti; Putu Ayu Indrayathi; Ni Made Ari Listiani
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 7 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2020.v07.i02.p10

Abstract

ABSTRAK Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menemukan terjadinya penurunan TFR dari 2.60 anak per wanita menjadi 2.4 anak per wanita dan masih belum mencapai target nasional tahun 2018 sebesar 2.31 anak per wanita. Provinsi Bali menjadi salah satu provinsi dengan TFR terendah sebesar 2.2 anak per wanita. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi remaja Bali memiliki jumlah anak ideal. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program KKBPK (SKAP) tahun 2018 dengan rancangan cross-sectional. Besar sampel adalah 632 remaja belum kawin usia 15-24 tahun yang terdiri dari 334 remaja perempuan dan 298 remaja laki-laki. Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, umur, tempat tinggal, pendidikan, kuintil kekayaan, keterpaparan remaja terhadap informasi kesehatan reproduksi dan sumber informasi kependudukan dengan variabel terikatnya adalah keinginan keluarga menginginkan banyak anak (>2). Berdasarkan jenis kelaminnya, sebanyak 58.5% remaja perempuan usia 15-24 tahun lebih menginginkan memiliki anak >2 dibandingkan remaja laki-laki (41.4%). Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor yang berhubungan secara signifikan yakni jenis kelamin (p=0.014, OR= 1.722, 95% CI= 1.115-2.593) dan televisi (p=0.043, OR=1.729, 95% CI= 1.017-2.937). Sementara faktor protektifnya adalah pamflet/brosur/leaflet (p=0.002, OR=0.444, 95% CI=0.265-0.747). Simpulan yang dapat ditarik pada penelitian ini adalah preferensi remaja Bali dalam keinginannya memiliki jumlah anak ideal dipengaruhi oleh faktor internal seperti jenis kelamin dan eksternal yakni media massa seperti televisi.
AKSEPTABILITAS, UTILISASI DAN ADOPSI UPAYA PENANGGULANGAN HIV MELALUI KADER DESA PEDULI AIDS DARI PERSPEKTIF MASYARAKAT DI KOTA DENPASAR Ni Made Sri Nopiyani; Desak Putu Yuli Kurniati; Putu Ayu Indrayathi; Rina Listryowati
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 2 No 2 (2013): Desember (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2988.501 KB)

Abstract

Village AIDS Cadres (KDPA) Program has been conducted in Denpasar district since 2010. Despite the importance of community participation for a successful community based program, no research has been conducted to explore community perception regarding KDPA program.This research is aimed to explore community perceptions regarding acceptability, utilization, and adoption of the KDPA program from community perspective.The design used in this research is descriptive with qualitative data collection method through six focus group discussions in six villages in Denpasar. Data was analysed using thematic analysis.KDPA is well-accepted as it is perceived as an important issue to be tackled in the community. However, many opinions arise concerning who should be given the role "cadre". Lack of program introduction to the community, also high stigma and discrimination resulted in low utilization of the program. Villages with active KDPA have conducted a variety of HIV-related activities rarely carried out by the less active villages. There is Lack of community participation on HIV-related activities. Inequity of access to HIV information exists between adults and teenagers, between men and women, and between the member of traditional and non-traditional hamlets. Program adoption is hampered by the lack of commitment of village authorities and limited resources of KDPA program.The utilization and adoption of KDPA program are sub-optimal. Introduction of KDPA program to the community and provision of program resources should be improved.
PERSEPSI PESERTA BPJS KESEHATAN TERHADAP PROGLAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS DI PUSKESMAS I DENPASAR BARAT DAN PUSKESMAS II DENPASAR TIMUR Putu Inok Puspaeni; Desak Putu Yuli Kurniati; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 6 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.855 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2019.v06.i01.p04

Abstract

ABSTRAK Pada era Jaminan Kesehatan Nasional salah satu upaya yang dilaksanakan untuk menanggulangi penyakit kronis adalah Prolanis. Puskesmas se-Kota Denpasar telah melaksanakan program prolanis tetapi terdapat perbedaan rasio kunjungan peserta prolanis tertinggi dan terendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran persepsi peserta BPJS Kesehatan terhadap program pengelolaan penyakit kronis di Puskesmas I Denpasar Barat dan Puskesmas II Denpasar Timur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan purposive sampling menggunakan metode wawancara mendalam dan focus group discusion. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas I Denpasar Barat dan Puskesmas II Denpasar Timur dari bulan Mei-Juni 2017. Informan penelitian berjumlah sembilan belas orang yang terdiri dari kepala puskesmas, pemegang program prolanis dan peserta BPJS Kesehatan yang tergabung dalam kelompok prolanis. Hasil penelitian menunjukkan peserta prolanis di Puskesmas I Denpasar Barat merasa rentan terkena penyakit diabetes/ hipertensi dan dampak penyakit tersebut menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada peserta karena efek keseriusan penyakit sudah dilihat/ dirasakan. Besarnya manfaat yang dirasakan mampu menutupi hambatan yang dialami, selain itu dukungan teman dan rasa kekeluargaan meningkatkan partisipasi peserta prolanis. Maka dari itu puskesmas yang rasio kunjungan prolanis rendah perlu mengundang keluarga yang menderita diabetes/ hipertensi untuk memberikan testimoni. Kata Kunci : Prolanis, Persepsi, Puskesmas ABSTRACT In the era of National Health Insurance, one of the efforts undertaken to tackle chronic illness is Prolanis. Health centers throughout Denpasar have implemented prolanis programs but there are differences in the ratio of visits of the highest and lowest prolanis participants. The purpose of this study was to determine the description of BPJS Health participants' perceptions of chronic disease management programs in Puskesmas I Denpasar Barat and Puskesmas II Denpasar Timur. This research is a qualitative descriptive study with purposive sampling using in-depth interviews and focus group discussion methods. The research was conducted at the Health Center I of West Denpasar and Health Center II of East Denpasar from May-June 2017. The informants of the study consisted of nineteen people consisting of the head of the puskesmas, the prolanist program holder and BPJS Health participants who were members of the prolanist group. The results showed prolanis participants in Puskesmas I Denpasar Barat felt vulnerable to diabetes / hypertension and the impact of the disease caused fear and anxiety in participants because the seriousness of the disease had been seen / felt. The amount of benefits felt is able to cover the obstacles experienced, in addition to the support of friends and a sense of family to increase participation of prolanist participants. Therefore a puskesmas with a low prolanis visit ratio needs to invite families suffering from diabetes / hypertension to provide testimonials. Keywords: Prolanis, Perception, Puskesmas
DETERMINAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI TRADISIONAL DI WILAYAH PERKOTAAN DAN PERDESAAN PROVINSI BALI Putu Ayu Indrayathi; Istiana Marfianti; Putu Dwiki Damadita; Ni Made Ari Listiani; Luh Kadek Ratih Swandewi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 8 No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2021.v08.i02.p01

Abstract

ABSTRACT The result of 2017 Indonesian Health Demographic Survey (SDKI 2017) shows the number of traditional contraception uses in Bali Province has increased from 7% in 2012 to 13% in 2017. The use of traditional contraception methods in Bali is double that of national figures. The purpose of this study is to determine the factors associated with the choice of traditional contraception methods in urban and rural areas of married women in Bali Province. This study is a secondary data analysis from the 2017 SDKI. The sample size is 357 women ages 15-49 years. There are 22 independent variables that are studied, and the dependent variable is the use of traditional contraception methods. The results of multivariate analysis showed that significantly related factors are uppermiddle category wealth quintile (p = 0.027, OR = 11.16, 95% CI = 1.31-94.54), top category wealth quintile (p = 0.049, OR = 9.04, 95% Ci = 1.01-80.77), obtained family planning information from the pharmacist (p = 0.034, OR = 2.1, 95% CI = 1.05-4.17), side effects of contraception (p = 0.002, OR = 2.95, 95% CI = 1.48-5.88), decision making to use contraception with partner (p = 0.029, OR = 2.43, 95% CI = 1.09-5 , 43), and decision-makers using family planning only husband/partner (p = 0.015, OR = 4.24, 95% CI = 1.32-13.56). The variables that become protective factor is the newspaper reading variables (p = 0.008, OR = 0.42, 95% CI = 0.23-0.79). The conclusion that can be drawn from this study is the use of traditional contraception methods in married women in Bali Province influenced by wealth quintiles, habits of reading the newspaper, obtaining contraception information from pharmacists, side effects of using contraception and those who make decisions about using contraception. Keywords : Contraception method, Traditional contraception, Balinesse married women. ABSTRAK Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menunjukkan angka penggunaan KB tradisional di Provinsi Bali mengalami peningkatan dari 7% pada 2012 menjadi 13% pada 2017. Penggunaan alat/cara KB tradisional di Bali dua kali lipat lebih banyak dibandingkan angka nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat/cara KB tradisional di daerah perkotaan dan perdesaan pada wanita kawin di Provinsi Bali. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari data SDKI 2017. Besar sampel adalah 357 wanita usia subur (WUS) dengan usia 15-49 tahun. Terdapat 22 variabel bebas yang diteliti, sedangkan variabel terikatnya adalah penggunaan alat/cara KB tradisional. Hasil analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik menunjukan bahwa faktor -faktor yang berhubungan secara signifikan terhadap pemilihan alat kontrasepsi tradisional adalah kuintil kekayaan kategori menengah atas (p=0,027, OR=11,16, 95% CI=1,31-94,54), kuintil kekayaan kategori teratas (p=0,049, OR=9,04, 95% Ci=1,01-80,77), mendapatkan informasi KB dari apoteker (p=0,034, OR=2,1, 95% CI=1,05-4,17), efek samping penggunaan kontrasepsi (p=0,002, OR=2,95, 95% CI=1,48-5,88), mengambil keputusan menggunakan KB bersama pasangan (p=0,029, OR=2,43, 95% CI=1,09-5,43)), dan pengambil keputusan menggunakan KB hanya suami/pasangan (p=0,015, OR=4,24, 95% CI=1,32-13,56). Variabel yang menjadi faktor protektif adalah variabel membaca koran (p=0,008, OR=0,42, 95% CI=0,23-0,79). Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah penggunaan alat/cara KB tradisional pada wanita kawin di Provinsi Bali dipengaruhi oleh kuintil kekayaan, kebiasan membaca koran, mendapatkan informasi KB dari apoteker, efek samping penggunaan kontrasepsi dan pihak yang mengambil keputusan dalam menggunakan KB. Kata kunci : Penggunaan alat/cara KB, KB tradisional, WUS di Bali.
Co-Authors Adhi, K.T. Anak Agung Sagung Istri Maradi Suryaningrat Anastasia Septya Titisari Benny Tjahjono Budiastri Citra Mutiarahati, Ni Luh Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Cokorda Bagus Jaya Coratry Shovariah Premilga Desak Putu Yulita Kurniati Dinar Lubis Dinar Lubis Dyah Pradnyaparmita Duarsa Fery Dwiyanto HARI MULYAWAN Hendrayani, Ni Wayan Ani I Gusti Ayu Agung Putri Krismayanthi I Ketut Suwiyoga I Ketut Tunas I Made Ady Wirawan I Made Artana I Nyoman Gede Budiana I Putu Ganda Wijaya I Putu Ganda Wijaya I Putu Ganda Wijaya Ilyas, Jaslis Istiana Marfianti Istiana Marfianti Ketut Suarjana Kolozsvari, Laszlo Robert Krismayani, Tika Krismayanti, Ni Kadek Ari Kurniati, Desak Putu Y Kurniawati, D.P.Y. Laszlo Robert Koloszvari Laszlo Robert Kolozsvari Luh Kadek Ratih Swandewi Luh Kadek Ratih Swandewi Luh Putu Sinthya Ulandari Luh Seri Ani Made Nopy Diah Sundari Manuaba, I.B.G. Fajar Megayanti, Ni Luh Komang Monika Sri Yuliarti Monika Sri Yuliarti, Monika Sri Murniati, Ni Nengah N.M.U. Dwipayanti Ngakan Putu Anom Harjana Ni Ketut Sutiari Ni Luh Saptiaryati Ni Made Ari Listiani Ni Made Mas Dwi Purwaningrat Ni Made Sri Nopiyani Ni Nengah Murniati Ni Nyoman Intan Widya Sari Ni Wayan Ani Hendrayani Ni Wayan Arya Utami, Ni Wayan Arya Nijyoti, Nitya Nirmala, Putu Nitya Nitya Nijyoti Pande Made Sri Rahayu Pande Putu Januraga Putu Dwiki Damadita Putu Erma Pradnyani Putu Inok Puspaeni Putu Nitya Nirmala Putu Novi Trisna Dewi R. A.T. Kuswardhani Rasmaya Niruri Rasmaya Niruri Rasmaya Niruri Rina Listryowati Rina Listyowati Rina Listyowati Rina Listyowati, Rina Rini Noviyani Sagun Chandra Yowani Santosa, Karina Samaria Sri Idayani Sri Idayani, Sri Suandana, Iwan Abdi Sundari, Made Nopy Diah Ulandari, Luh Putu S WIDARSA WIDARSA Wijaya, I Putu Ganda Yaslis Ilyas