Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Effect of Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Fruits Extracts on Testes Heat-induced Rats Ika Widi Astuti
Journal of Global Pharma Technology Volume 11 Issue 6.
Publisher : Journal of Global Pharma Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.552 KB)

Abstract

Background: Spermatogenesis can run optimally if the testes temperature is 2-8o C lower than body temperature. Higher testicular temperature causes oxidative stress, which results in infertility. The purple-red colour of Dewandaru (Eugenia uniflora L.) fruits have very high of flavonoid. The study aimed to examine the effect of Dewandaru (Eugenia uniflora L.) fruit extract on testis in heat-induced rats. Methods: The study was conducted at Integrated Biomedical Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Udayana between March until July 2019. This True experimental with randomised post-test only control group design consisted of a total of 24 rats. These were divided into four groups, with the group I and II was a negative and positive control. Group III and IV were treatment pre and post heat induction. Lipid peroxidation (MDA) level, Bcl-2, serum testosterone, and testis weight were measured. Data were presented as mean, and one-way ANOVA was used as a statistical tool with significant p<0.05. Result: Treatment with Dewandaru (Eugenia uniflora L.) fruit extract before and after heat induction, respectively showed a decrease significantly in the serum lipid peroxidase level, increase in the Bcl-2 expression, testosterone level, and testis weight. There is no significant difference between treatment pre and post heat induction. Conclusion: This study shows that Dewandaru (Eugenia uniflora L.) fruit extract altered the lipid peroxidase level, Bcl-2, testosterone level, and testis weight.Keywords: Bcl-2, Dewandaru fruits extract, Heat induction, MDA, Oxidative stress, Testosterone, Testis weight.
TINGKAT RISIKO GEMPA BUMI DI KABUPATEN NABIRE BERDASARKAN PERHITUNGAN NILAI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM MENGGUNAKAN METODE DONOVAN Ika Widi Astuti; Ipa, Sangaji Hasmi Maharani; Indra Birawaputra; Erari, Ishak Semuel
Jurnal Natural Vol. 19 No. 2 (2023): Jurnal Natural
Publisher : FMIPA Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/jn.v19i2.239

Abstract

Kota Nabire merupakan salah satu kota di Papua yang mempunyai tingkat resiko tinggi terhadap bencana alam gempa bumi. Pada tahun 2004, Kota Nabire diguncang gempa dengan kekuatan 7,2 SR yang menyebabkan kerusakan pada bangunan. Tingkat resiko gempa suatu daerah dinyatakan dengan intensitas MMI (Modified Mercalli Intensity) yang diklasifikasikan berdasarkan nilai Percepatan Tanah Maksimum (Peak Ground Acceleration, PGA). Di dalam menentukan PGA digunakan Metode Empiris Donovan dengan menggunakan dua parameter yaitu magnitudo dan jarak hiposentrum. Hasil perhitungan PGA dan Klasifikasi MMI di Kota Nabire dinyatakan dalam citra dua dimensi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai PGA tertinggi yang diperoleh dengan menggunakan Metode Empiris Donovan adalah 339 gal dan digolongkan ke dalam kategori resiko sangat besar 1 dengan intensitas MMI IX-X. Nilai risiko gempa bumi dengan menggunakan nilai percepatan tanah maksimum Metode Empiris Donovan lebih kecil daripada nilai risiko gempa bumi Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia.
Legal Protections of Pratama Clinic Doctors in Providing Aesthetic Services Lenno Idjianto; I Nyoman Suyatna; Ika Widi Astuti
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 5 No. 4 (2025): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v5i4.1465

Abstract

Pratama clinic is a facility that provides limited medical services carried out by a doctor or dentist with technical responsibility. This research uses a type of normative legal research, namely deductively starting with an analysis of articles in statutory regulations and their relationship to their application in practice. The results of this research are that currently, the regulatory framework relating to medical aesthetics in Indonesia does not have formal regulations. Regulations regarding medical aesthetics refer to several regulations regarding related medical services and can be used as a legal basis for medical aesthetics. Legal protection for aesthetic doctors operating in beauty clinics is currently regulated by Law Number 29 of 2004 concerning Medical Practice. This law provides legal protection for doctors who comply with professional standards and standard operational processes when practicing.
Perlindungan Hukum pada Pekerja dengan Status Orang dengan HIV/AIDS (Odha) Dikaitkan dengan Hukum Kesehatan Henni Widia Astuti; Ika Widi Astuti; Ida Bagus Surya Dharma Jaya; I Wayan Gede Artawan Eka Putra
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 5 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i5.7829

Abstract

HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan global yang tidak hanya berdampak pada aspek medis, tetapi juga sosial dan ketenagakerjaan, terutama bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Di Indonesia, meskipun regulasi seperti Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan telah menjamin hak ODHA, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai hambatan seperti stigma sosial, diskriminasi di tempat kerja, lemahnya pengawasan, dan terbatasnya akses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum bagi pekerja ODHA dalam perspektif hukum kesehatan dan ketenagakerjaan. Metode yang digunakan adalah penelitian normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan studi literatur, menggunakan bahan hukum primer dan sekunder. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat kesenjangan signifikan antara ketentuan hukum dan praktik di lapangan, yang menghambat terciptanya lingkungan kerja inklusif. Implikasinya, diperlukan sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam bentuk edukasi HIV/AIDS, penguatan kebijakan perusahaan, serta penegakan hukum yang tegas. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan model kebijakan inklusif dan komprehensif yang dapat diadopsi secara nasional guna meningkatkan perlindungan terhadap ODHA di tempat kerja.