I Nyoman Wande
Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Bali, Indonesia

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PERBANDINGAN HASIL ANTARA METODE PEMERIKSAAN ELISA DAN RAPID TEST UNTUK SKRINING HIV/AIDS Tjokorda Istri Agung Sintya Dewi; I Nyoman Wande; Tjokorda Gde Oka
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i9.P12

Abstract

ABSTRAK Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala atau penyakit yang diakibatkan menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). Gold Standar pada pemeriksaan skrining yang digunakan adalah Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pemeriksaan ELISA membutuhkan waktu lebih lama, maka dari itu terjadi pergeseran penggunaan ELISA ke Rapid Test.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil dalam metode pemeriksaan ELISA dan metode pemeriksaan Rapid Test untuk skrining HIV/AIDS. Penelitian ini telah dilakukan di UDD PMI Kodya Denpasar/RSUD Wangaya pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2016. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan longitudinal terhadap 80 sampel donor. Hasil uji ELISA dan Rapis Test ditampilkan dalam bentuk tabel 2x2 dan diuji dengan uji diagnostik. Hasil dari uji diagnostik dilihat dari sensitivitasnya Rapid Test dapat mengklarifikasi sampel donor dengan HIV/AIDS benar-benar sakit pada kenyataannya adalah 100%. Jika dilihat dari spesifisitasnya Rapid Test dapat mengkonfirmasi sampel donor yang benar-benar bebas dari HIV/AIDS sesuai kenyataannya sebesar 100%. Sama halnya dengan Rapid Test, ELISA dapat mengklarifikasi sampel donor dengan HIV/AIDS benar-benar sakit pada kenyataannya adalah 100%. Jika dilihat dari spesifisitasnya ELISA dapat mengkonfirmasi sampel donor yang benar-benar bebas dari HIV/AIDS sesuai dengan kenyataannya sebesar 100%.Dapat disimpulkan tidak ada perbedaan hasil skrining HIV/AIDS dan tidak terdapat perbedaan antara metode pemeriksaan ELISA dan Rapid Test untuk skrining HIV/AIDS dilihat dari sensitivitas dan spesifisitas yang sama. Kata Kunci: HIV/AIDS, ELISA, Rapid Test
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN HITUNG JUMLAH LIMFOSIT PADA ANAK DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI RSUP SANGLAH DENPASAR I Made Bayu Puradipa; I Nyoman Wande
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i11.P16

Abstract

ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit akibat dari gigitan nyamuk Aedes aegypty yang terinfeksi. Salah satu determinan penting dalam imunitas adalah gizi. Kekurangan gizi dapat meningkatkan risiko infeksi dan menghambat respon imunitas salah satunya adalah limfosit. Tujuan penelitan ini untuk mengetahui hubungan status gizi dengan hitung jumlah limfosit pada anak dengan DBD di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan metode cross sectional study. Teknik penentuan sampel adalah consecutive sampling dengan total sampel yang digunakan adalah 104 pasien anak yang mengalami demam dengue dan menjalani pemeriksaan lab darah lengkap di RSUP Sanglah periode Januari-Desember 2015 yang merupakan data sekunder yang diambil dari rekam medis. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa nilai p = 0,378, maka nilai p>0,05 yang artinya bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi terhadap jumlah limfosit pada pasien anak yang mengalami DBD di RSUP Sanglah Denpasar. Hasil ini juga menunjukkan pola hubungan yang negatif, dimana semakin besarnya status gizi maka jumlah limfosit akan semakin menurun dengan kekuatan korelasi sangat lemah (r = -0,087). Keterbatasan penelitian ini adalah menggunakan data sekunder berupa rekam medis sehingga keakuratannya tergantung pada data yang tersedia di rekam medis. Diperlukan penelitian lebih lanjut terkait dengan hubungan status gizi dengan hitung jumlah limfosit pada anak dengan DBD di RSUP Sanglah Denpasar mempertimbangkan variabel yang tidak diteliti dalam penelitian ini sehingga diharapkan mendapat hasil yang lebih akurat. Kata kunci: demam berdarah dengue, status gizi, anak, jumlah limfosit
PREVALENSI ANEMIA PADA ANAK DENGAN HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH TAHUN 2015 Ni Putu Diah Utami Darmayanti; I Nyoman Wande
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i7.P14

Abstract

ABSTRAK Anemia adalah suatu kondisi jumlah sel darah merah dalam tubuh tidak dapat memenuhikebutuhan. Salah satu penyakit yang mempunyai manifestasi klinis anemia adalah HIV. Anemia padaanak dengan HIV/AIDS dapat meningkatkan tingkat morbiditas apabila tidak ditangani dengan segera.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui prevalensi anemia pada anak dengan HIV/AIDS di RumahSakit Sanglah bulan Januari sampai Desember 2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptifdengan pendekatan cross-sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pasien anak di Poliklinik PediatriRumah Sakit Umum Pusat Sanglah di Denpasar, Provinsi Bali bulan Januari sampai Desember 2015.Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret-Juni 2016. Instrumen yang digunakan dalam penunjangpenelitian ini adalah formulir ekstraksi rekam medis dan rekam medis. Hasil yang didapatkan daripenelitian ini, sebanyak 120 orang subjek, 41 orang (34%) mengalami anemia dan 79 orang (66%)lainnya tidak menderita anemia, berdasarkan jenis kelamin didapatkan paling banyak pada kelompoklaki-laki sebanyak 31 orang (39%), kelompok usia yang paling banyak menderita anemia adalah usia6-11 tahun sebanyak 22 orang (54%), derajat keparahan yang paling banyak ditemukan adalah sedangsebanyak 18 orang (44%), hiporomik-makrositik adalah tipe anemia yang paling banyak ditemukanyaitu pada 16 orang (39%). Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber referensi bagi penelitianselanjutnya. Kata kunci : Anemia, HIV/AIDS, prevalensi ABSTACT Anemia is a condition when red blood cell amount can not fulfill body needs. HIV is one of thediseases that have anemia as manifestation. Anemia in children with HIV/AIDS may increase morbidityif not treated immediately. The purpose of this study was to determine the prevalence anemia in childrenwith HIV/AIDS in Sanglah General Hospital on January-December 2015. This research is descriptivestudy with cross-sectional approach. Sample used in this study are patient who comes to pediatricpoliclinic Sanglah General Hospital from January to December 2015. This study conducted from marchto June 2016. Instrument used in this study are medical record extraction form and medical record. Theresult shown from 120 subjects, 41 people (39%) had anemia and the other 79 people (66%) did notsuffer anemia, the age group that suffered the most was the age of 6-11 years found in 22 people (54%),the severity of the most found was moderate found in 18 people (44%), hyporomic-macrocytic is themost common type of anemia found in 16 people (39%). It is hoped that this research can be a referencesource for further research. Keywords : Anemia, HIV/AIDS, prevalence
HUBUNGAN LINGKAR PERUT TERHADAP KADAR GULA DARAH MENGGUNAKAN TES TOLERANSI GLUKOSA ORAL PADA REMAJA AKHIR Anak Agung Ngurah Krisnanta Adnyana; I Wayan I Wayan Surudarma; Desak Made Desak Made Wihandani; I Wayan Gede Sutadarma; I Nyoman Wande
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i12.P03

Abstract

ABSTRAK Obesitas menjadi salah satu faktor utama dari peningkatan penyakit tidak menular secara global. DiIndonesia sendiri, prevalensi obesitas sentral pada umur 15 tahun ke atas terus mengalami peningkatan,secara berurutan pada tahun 2007, 2013, 2018 yaitu 18,8; 26,6; dan 31,0. Peningkatan lemak visceralberkaitan dengan terjadinya metabolik yang abnormal, seperti penurunan toleransi glukosa danpenurunan sensitivitas insulin sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula darah, yang manamerupakan faktor risiko dari terjadinya diabetes. Dalam upaya memprediksi kejadian diabetes mellitustipe 2, lingkar perut merupakan predictor yang lebih baik dibandingkan IMT terhadap kejadian daridiabetes melitus tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkar perut terhadapkadar gula darah pada remaja akhir. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional denganmenggunakan metode potong lintang. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakanconsecutive sampling, yang diambil berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi pada populasi.Keseluruhan subjek penelitian berjumlah 70 responden. Hasil penelitian menunjukkan adanyahubungan bermakna antara lingkar perut terhadap kadar gula darah puasa (p=0,000) dengan korelasisedang (r=0,440), dan adanya hubungan yang bermakna antara lingkar perut terhadap kadar gula darah2 jam pasca pembebanan glukosa (p=0,030) dengan korelasi lemah (r=0,259). Kesimpulan daripenelitian ini bahwa terdapat hubungan lingkar perut terhadap kadar gula darah menggunakan testoleransi glukosa oral pada remaja akhir.Kata Kunci: lingkar perut, diabetes melitus, tes toleransi glukosa oral
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN PENURUNAN KADAR TROMBOSIT PADA ANAK YANG MENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE DI RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE MARET - DESEMBER 2015 Ernest Jonathan Hartiono; I Nyoman Wande
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.878 KB)

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan utama, khususnya pada anak-anak di Asia Tenggara. Anak-anak memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi dengue. Manifestasi klinisnya ditandai dengan penurunan kadar trombosit. Penurunan kadar trombosit dipengaruhi status gizi secara tidak langsung oleh imunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan penurunan kadar trombosit. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross-sectional dengan menggunakan sampel pasien rawat inap yang diperoleh dari data rekam medis pada anak usia 5 - 15 tahun selama periode Maret - Desember 2015 di RSUP Sanglah Denpasar. Status gizi diukur dengan menggunakan tabel antropometri berat badan menurut umur yang diterbitkan oleh WHO tahun 2005. Penurunan kadar trombosit dinilai dengan menghitung selisih rerata kadar trombosit pada hari-4 dan ke-5 penyakit. Data sampel diolah menggunakan uji korelasi Pearson. Sampel yang terkumpul sebanyak 61 orang anak. Status gizi pada sampel antara lain anak dengan dengan gizi lebih (14,8%), gizi baik (70,5%), gizi kurang (13,1%), dan gizi buruk (1,6%). Berdasarkan hasil analisis data tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan penurunan kadar trombosit (p = 0,249) dan tingkat korelasi antar variabel sangat rendah (r = -0,15). Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi status gizi seorang anak, maka penurunan kadar trombosit akan semakin parah, begitu juga sebaliknya. Untuk peneliti selanjutnya perlu dilakukan pengembangan metode penelitian dan menggunakan sampel yang lebih besar. Kata kunci: status gizi, trombosit, anak, demam berdarah dengue
GAMBARAN KADAR HBA1C PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSUP SANGLAH PERIODE JULI-DESEMBER 2017 Ida Ayu Trisna Wulandari; Sianny Herawati; I Nyoman Wande
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.236 KB)

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kumpulan penyakit metabolik yang diakibatkan oleh adanya gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya sehingga memiliki karakteristik hiperglikemia. Kejadian penyakit ini masih mengalami peningkatan di Indonesia khususnya DM tipe II. Pengukuran hemoglobin terglikasi (HbA1c) merupakan kontrol glikemik terbaik untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah selama dua hingga tiga bulan terakhir. Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol mengakibatkan berbagai komplikasi kronik baik itu komplikasi makrovaskular maupun mikrovaskular. Pasien yang memiliki kadar HbA1c >7% akan berisiko 2 kali lebih tinggi untuk mengalami komplikasi.Oleh karena itu, pemeriksaan kadar HbA1c sangat penting dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis, kontrol glikemik jangka panjang, manajemen, dan prognosis dari penyakit DM tipe II. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar HbA1c pada pasien diabetes mellitus tipe II di RSUP Sanglah periode Juli-Desember 2017 serta proporsinya berdasarkan jenis kelamin, usia, dan indeks massa tubuh. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif cross sectional. Sampel penelitian meliputi populasi terjangkau yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 100 sampel. Data penelitian berupa data sekuder yang diperoleh dari rekam medis pasien. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar HbA1c pada sampel didominasi oleh kelompok tidak terkontrol yaitu 64%. Proporsi kadar HbA1c tidak terkontrol lebih banyak ditemukan pada laki-laki (64,2%), usia 41-60 tahun (69,6%), dan IMT normal (68,1%). Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe II, Kadar HbA1c
Perbedaan Gambaran Histopatologi Granuloma Paru Mencit Setelah Diinfeksi Mycobacterium tuberculosis dan atau Intervensi Silika (THE INFLUENCES OF TIME IN THE HISTOPATHOLOGY OF LUNG GRANULOMA IN MICE AFTER INFECTION OF MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS AND SILI Ni Made Linawati; I Gusti Ngurah Mayun; I Gusti Nyoman Sri Wiryawan; Nyoman Sri Budayanti; Ni Made Mertaniasih; Fedik Abdul Ratam; I Nyoman Wande; I Gusti Ayu Dewi Ratnayanti; Ida Ayu Ika Wahyuniari; I Wayan Sugiritama; I Gusti Kamasan Arijana
Jurnal Veteriner Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.958 KB)

Abstract

The characteristics of lung tuberculosis is granuloma, which is consisted of lymphocytes andmacrophages that show the interaction between immune cells and M.tb. Granuloma is the organizationprocess which is depend on lymphocytes invasion, adhesion molecules and chemokine fasilitation. Silicosiswhich is caused by silica, can influence granuloma in the lung. The features of granuloma is variationdepend on the elicited agent and immune reaction. The main purpose of this study was to prove thehistopathology differences of  mice lung granuloma caused by M.tb infection,  silica intervention and bothin 3th  and 7th weeks. It was 45 mice Balb-c strain, divided into 3 groups;  P1 got  M.tb infection with H37Rvstrain 105  perml,P2 got silica intervention with 60 micro litre and, P3 got both of M.tb infection and  silica intervention. Termination of each group were held on 3 and 7 weeks of intervention, continued byhistopathology examination. In the histopathology feature, we done semi-quantitative prosedure to measurelung damage by using Dormans scores; perivasculitis, peribronchiolitis, alveolitis and granuloma. Oneway anova to analysis the differences of histopathologycal result among these groups (P< 0,05).  Resultshowed the significant differences  among these group.  In the 3th weeks, we found  mild lung damage werehappened in all groups with granuloma, without necrosic (P1 and P2). In the 7th weeks we found  severe lungdamage in P3 with necrotic and fibrotic granuloma sign, with necrosis in P1, with fibrotic in P2.  Weconcluded the worst lung damage happened in 7th weeks in group which are got M.tb infection and silicaintervention, with granuloma characterictic of necrosic and fibrotic.
High Myostatin Serum Related with High Prevalence of Sarcopenia Among Elderly Population in Pedawa Village, Bali, Indonesia I Gusti Putu Suka Aryana; I Nyoman Astika; Raden Ayu Tuty Kuswardhani; Ida Bagus Putu Putrawan; Ni Ketut Rai Purnami; Wayan Giri Putra; Anak Agung Wiradewi Lestari; I Nyoman Wande
The Indonesian Biomedical Journal Vol 11, No 3 (2019)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v11i3.822

Abstract

BACKGROUND: Sarcopenia is defined as a decrease in muscle mass accompanied by a decrease in muscle strength and performance. Sarcopenia arises from the disruption of the complex balance between anabolic and catabolic factors. Myostatin strongly influences muscle growth inhibition. Deletion and function loss of myostatin causes hyperplasia and skeletal muscle hypertrophy.METHODS: This study was an analytical cross-sectional study. Seventy respondents aged ≥60 years in Pedawa Village, Bali, Indonesia were selected by using the stratified random sampling technique. Sarcopenia status was assessed according to Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS) criteria, including muscle mass, grip strength, and walking speed. While the myostatin serum levels was measured by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).RESULTS: The incidence of sarcopenia in the elderly was 45 people (64.3%). Based on the analysis, there was a significant difference between myostatin levels in sarcopenia subjects (47.59 ng/mL) and non-sarcopenia subjects (39.7 ng/mL). Based on the statistical calculations, it was determined that the cut-off range of myostatin levels was 48.91 ng/mL. The prevalence ratio of sarcopenia incidence based on the myostatin levels in the elderly was 3.84, while based on the combination of age risk and myostatin levels was 9.75.CONCLUSION: Based of the data, there are significant differences of myostatin level between elderly people with and without sarcopenia. The prevalence of high myostatin levels in elderly is almost 4 times higher than low myostatin levels in the elderly.KEYWORDS: myostatin, sarcopenia, elderly
SARI CenTeLLA ASIATICA ASLI BALI MENINGKATKAN SEKRESI TuMouR neCRoSIS FACToR ALPHA (TNF-a) PADA MENCIT YANG DIINFEKSIKAN SALMoneLLA TYPHI I Nyoman Wande; Sianny Herawati; Ida Ayu Alit Widhiartini; I Wayan Putu Sutirta Yasa; Tjokorda Gede Oka; Ni Made Linawati
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol 20, No 3 (2014)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v20i3.477

Abstract

Tumour necrosis factor alpha (TNF-α) is a cytokine produced by macrophages and other mononuclear cells, is a good antibacterial agent against Salmonella spp, especially Salmonella typhi. Centella asiatica is an alternative drug that is expected as an immunostimulant in patients with typhoid fever. Comparing the effectiveness of Centella asiatica extract the original Bali as an immunostimulant and without stimulants in mice infected Salmonella typhi in terms of TNF-α secretion. This study is an experimental study with a post test only with control group design. A total of 20 mice were divided into 4 groups. The first and second groups each given Centella asiatica extract 75 mg/20 g bw (0.5 cc) and without a given extract for 4 weeks. Both groups were inoculated orally Salmonella typhi 106 per mL of bacteria in the second week. The third and fourth groups were given thiamphenicol with Centella asiatica extract 75 mg/20 g bw (0.5 cc) and thiamphenicol without any extract for 4 weeks respectively. Both groups were inoculated orally Salmonella typhi 106 per mL of bacteria in the first day. All groups terminated on fourth week and examination levels of TNF-α by ELISA and gall culture. The mean levels of TNF-α in groups (1–4) is 86.10±2.67 pg/mL, 32.81±11.33 pg/mL, 35.87±3.90 pg/mL and 19.21±2.19 pg/mL respectively. Based on the examination of the gall cultures this study showed positive results in the first and second groups, while a negative result on the third and fourth groups. Based on the One way ANOVA analysis on levels of TNF-α, there are significant differences between the first group with the second group (p<0.05), and between the third and fourth groups also found significant differences (p<0.05) increased levels of TNF-α in mice with Salmonella typhi infection given Centella asiatica extract.
KADAR INTERLEUKIN 10 (IL-10) MALARIA DAN ANEMIA I Nyoman Wande; Endang Retnowati; Juli Soemarsono
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol 18, No 1 (2011)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v18i1.767

Abstract

Anaemia is an important complication of malaria, and its pathogenesis is not well understood. High level of the Th2 cytokine (such as IL-10), which counteract the Th1 cytokine, might prevent the development of severe malarial anaemia. The purpose of this study was to know the comparation between the plasma level of IL-10 in malaria patients with anaemia and without anaemia. The plasma level of IL-10 was examined in 16 malaria patients with anaemia and 16 malaria caused by P. falciparum patients without anaemia samplestaken from patients at the primary health centres in West Lombok and Centre Lombok during March until July 2008. The samples were measured using ELISA. The concentration of haemoglobin (Hb) was measured using hematological analyzer. The anaemia concentration of Hb is <11 g/dL. The results were analyzed using two (2) sample t test with SPSS ver.13.The plasma level of IL-10 in malaria patients caused by P. falciparum with anaemia was 8.81(3.04) [mean(SD)] pg/mL where as the plasma level of IL-10 in malaria patients without anaemia was 47.99(25.26) pg/mL. The mean of IL-10 level in malaria falciparum patients with anaemia was significantly lower than that of malaria patients caused by P. falciparum without anaemia (p=0.000).