Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

HUBUNGAN KADAR HBA1C TERHADAP DERAJAT KAKI DIABETIK PADA PASIEN KAKI DIABETIK DI RSUP SANGLAH TAHUN 2015-2016 Putu Ayu Suastidewi; I Made Pande Dwipayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i12.P09

Abstract

ABSTRAK Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan sistem metabolik dimana terjadi peningkatan kadar gula darah yang disebabkan oleh gangguan pankreas menyekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Neuropati perifer adalah salah satu komplikasi pasien diabetes yang berisiko menyebabkan masalah pada kaki seperti ulkus kaki. Terdapat beberapa indikator yang mempengaruhi risiko ulkus kaki diabetes, diantaranya yaitu pengendalian gula darah yang dapat dinilai dari kadar HbA1c pada penderita DM. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar HbA1c terhadap derajat kaki diabetik pada pasien kaki diabetik di Ruang Rawat Inap RSUP Sanglah periode tahun 2015-2016. Metode penelitian yang digunakan adalah desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien kaki diabetes yang dirawat inap di RSUP Sanglah pada tahun 2015-2016 yang diperoleh dengan consecutive sampling. Sampel yang dipilih memiliki kriteria inklusi, tanpa memiliki kriteria eksklusi. Analisis data univariat yang digunakan yaitu prevalensi, rerata, dan median. Analisis bivariat yang digunakan yaitu uji Kai Kuadrat. Hasil penelitian dari 62 sampel yang diperoleh dan uji Kai Kuadrat yang digunakan menunjukkan bahwa hubungan kadar HbA1c dan derajat kaki diabetik tidak signifikan, dengan nilai P diperoleh sebesar 0,290 (P > 0,05). Hubungan tidak signifikan dapat dipengaruhi oleh variabel perancu pada pasien, meskipun dari variabel perancu yang ada tidak menemukan hubungan yang signifikan, ini dikarenakan kurangnya sampel untuk mengontrol variabel perancu. Variabel perancu berupa index massa tubuh, kolesterol, trigliserida, HDL, gula darah puasa, dan gula darah 2 jam postprandial. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kadar HbA1c tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan derajat kaki diabetik pada pasien kaki diabetik di RSUP Sanglah tahun 2015-2016. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan data dasar untuk penelitian selanjutnya mengenai kaki diabetik. Kata Kunci: Derajat Kaki Diabetik, HbA1c, Diabetes Mellitus
PREVALENSI DAN HUBUNGAN ANTARA KONTROL GLIKEMIK DENGAN DIABETIK NEUROPATI PERIFER PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSUP SANGLAH Aditya Rachman; I Made Pande Dwipayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.267 KB) | DOI: 10.24843/eum.2020.v09.i01.p07

Abstract

Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. Diabetik neuropati adalah salah satu komplikasi dari diabetes melitus jika tidak tertanganidan merupakan gangguan saraf yang disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi yang ditandai dengan berkurangnya rangsangan oleh sensasi seperti panas, dingin dan nyeri pada ekstremitas. Perlu sebuah penelitian untuk melakukan pemeriksaan dini agar komplikasi dari diabetes mellitus dapat dicegah, yaitu dengan meneliti hubungan kontrol glikemik dengan diabetik neuropati perifer. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara status glikemik Hba1c, gula darah puasa, dan gula darah 2 jam post-prandial dengan diabetik neuropati perifer. Diabetes Melitus dikatakan terkontrol bila Hba1c <7%, gula darah puasa <130 mg/dl, dan gula darah 2 jam post prandial <180 mg/dl , Penelitian ini dilaksanakan di Diabetic Centre RSUP Sanglah Denpasar. Rancangan studi yang dipakai adalah analitik dengan desain penelitian cross-sectional study.. Peneliti memeriksaakan diagnosis diabetic neuropati perifer dengan alat monofilament. Peneliti juga menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data dari sampel terkait kontrol glikemik. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Dari total sampel sebanyak 96 pasien, 40 orang (41,7%) mengalami neuropati dan 56 orang (58,3%) memiliki fungsi saraf normal. Dengan mean dari usia 56.8 tahun, indeks massa tubuh 26,375 kg/m2; hba1c 7,657%; gula darah puasa 161,01 mg/dl; dan gula darah 2 jam post prandial 222,99 mg/dl. Pada analisis bivariat, Hba1c (p= 0,000), gula darah puasa (p= 0,003), gula darah 2 jam post prandial (p= 0,001) berhubungan dengan diabetik neuropati perifer. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu kontrol glikemik memiliki hubungan dengan diabetik neuropati perifer. Perlu adanya penelitian lanjut dan diagnosa cepat dan tepat agar dapat mengurangi angka kejadian diabetik neuropati perifer. Kata kunci: diabetes melitus, diabetik neuropati, hba1c, gula darah puasa, gula darah 2 jam post-prandial, kontrol glikemik.
HUBUNGAN KADAR HbA1c TERHADAP TERAPI OBAT ANTI DIABETES ORAL DAN KOMBINASI OBAT ANTI DIABETES ORAL-INSULIN PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI POLIKLINIK DIABETES RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2016 Ni Made Alit Arini; I Made Pande Dwipayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i9.P16

Abstract

ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 memiliki angka kejadian relatif lebih tinggi daripada tipe 1 dan terus mengalami kenaikan. Sebagian besar peningkatan berdampak dari pengelolaan pasien yang kurang tepat dan berujung pada pesatnya perkembangan komplikasi makrovaskuler dan mikrovaskuler. Menurut algoritme tatalaksana pasien diabetes melitus (DM), terdapat pengobatan dengan monoterapi dan kombinasi. Berdasarkan penelitian, terapi kombinasi obat anti diabetes (OAD) oral dan insulin memberikan efek penurunan HbA1c lebih baik dibandingkan monoterapi OAD. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar HbA1c terhadap terapi OAD oral dan kombinasi OAD oral-insulin pada pasien DM tipe 2 di RSUP Sanglah sehingga hasil penelitian dapat digunakan sebagai studi konfirmatif. Penelitian ini termasuk penelitian analitik cross-sectional dengan sampel penelitian adalah semua pasien DM tipe 2 di poliklinik diabetes RSUP Sanglah yang mendapat terapi OAD oral atau kombinasi dengan insulin dan memenuhi kriteria inklusi. Teknik pemilihan sampel adalah simple random sampling dan jumlah minimal adalah 76 sampel. Analisis univariat menunjukkan jumlah sampel terbanyak pada kelompok usia ?50 tahun (53,95%), laki-laki (51,3%), mayoritas aktivitas ringan (50%), tanpa riwayat merokok 85,5% dan 57,9% dengan riwayat hipertensi. Sebanyak 56,6% sampel menderita DM tipe 2 selama <10 tahun, dengan tingkat kepatuhan terapi tinggi (80,3%), dan dominan ras Bali, serta kadar HbA1c <7% sebanyak 64,47%. Analisis bivariat menunjukkan terapi kombinasi OAD-insulin dan monoterapi OAD berhubungan dengan penurunan HbA1c. Terapi kombinasi OAD-insulin memberikan hasil yang lebih baik dengan nilai p 0,012. Terdapat hubungan antara kadar HbA1c dan terapi OAD oral dan kombinasi OAD oral-insulin pada pasien DM tipe 2 di Poliklinik Diabetes RSUP Sanglah dengan terapi kombinasi memberikan efek penurunan HbA1c yang lebih baik. Kata Kunci : diabetes melitus tipe 2, HbA1c, OAD.
HUBUNGAN KONTROL GLIKEMIK DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016 Kevin Ezekia; I Made Pande Dwipayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.516 KB) | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i4.P05

Abstract

Peripheral Arterial Disease (PAD) is one of the macrovascular complications of type II diabetes. In the Framingham Heart Study, 20% of patients with symptomatic PAD have type II diabetes, as well as according to a study from the Prevention Of Progression Of Arterial Disease And Diabetes (POPADAD), 20.1% patients ?40 years with type II diabetes develop symptoms associated with PAD. PAD is affected by several risk factors, such as glycemic control, age, gender, smoking, obesity, and hypertension. The aim of this study is to determine correlation of glycemic control with PAD in patient with type II diabetes in Diabetic Clinic Sanglah Hospital Denpasar. This study uses cross sectional analytical study in which variable measurement will be performed at the same time. The method used to obtain the data in this study is direct measurement of ABI in patients with type II diabetes and medical records at Diabetic Clinic, Sanglah Hospital Denpasar. The diagnosis of PAD is set when ABI <0.90%. Of the 96 patients with type II diabetes, there are 44 (45.8%) type II diabetic patients with PAD. Based on the results of the chi square bivariate analysis, some variables that have a significant relations are HbA1c (p=0.001), fasting blood glucose (p=0.006), 2 hour post prandial blood sugar (p=0.004), and hypertension (p=0.047). Based on the results, it can be concluded that there is a significant relation between glycemic control, assessed by HbA1c, fasting blood sugar, 2 hour post prandial blood sugar, and hypertension with PAD in patients with type II diabetes. The results of this study are expected to raise awareness of health practitioners to complications of PAD in patients with type II diabetes. Keywords: diabetes mellitus, peripheral arterial disease, PAD, glycemic control
Hubungan indeks massa tubuh (IMT) dengan prestasi belajar pada siswa sekolah menengah atas (SMA) negeri di Kota Denpasar Utara Mona Mentari Pagi Surbakti; I Made Pande Dwipayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.157 KB)

Abstract

The current global is the problem of obesity, especially Indonesia. In this case the alleged obesity has an effect indirectly, namely the decline in cognitive resulting from an increase in fatty deposits, leading to learning disorders and academic achievement. This study aims to determine body mass index and academic achievement in public high school students in the city of Denpasar. This study was cross-sectional study. The population in this study are students of class IX - IPA 2014/2015 school year at high schools in Denpasar North. This research was conducted in August and September. Used as a sample of 150 students. The data obtained were analyzed with pearson correlation test. Pearson correlation test is used to determine the correlation of body mass index and academic achievement. The results showed body mass index (BMI) in category overweight/obesity is 30,7% and the learning achievement in category standard is 1,0%. In the analysis, 150 samples obtained showed p = 0,244, meaning that there is no significant relationship between BMI and academic achievement (p> 0,05). It can be inferred that the BMI in the State high school students in the city of North Denpasar was no significant relationship between nutritional status and study achievement. Keywords: Body Mass Indeks, Academic Achievement, Obesity
Correlation between waist circumference and glycated haemoglobin (HbA1c) among type 2 diabetes mellitus patients in Diabetic Polyclinic Sanglah General Hospital Wan Muhamad Syafiq; I Made Pande Dwipayana; Made Ratna Saraswati; Wira Gotera
Neurologico Spinale Medico Chirurgico Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Indoscholar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36444/nsmc.v3i2.116

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is an interminable issue that can modify glucose, protein, and fat digestion caused by the absence of insulin discharge due to either the dynamic or checked powerlessness of the β-Langerhans islet cells of the pancreas to create insulin. The prevalence of type 2 diabetes mellitus parallels the expanding prevalence of obesity and central obesity. The prevalence of obesity and central obesity in Indonesian among the adult populations are 23.1% and 28%, respectively. Obesity and central obesity are associated with a higher risk of DM. The accumulation of adipose tissue in certain parts of the body, such as in the abdominal cavity, causes an increased risk of insulin resistance until the onset of the metabolic syndrome. This study aims to determine the correlation between waist circumference and glycated haemoglobin (HbA1c) among type 2 DM patients in Diabetic Polyclinic Sanglah General Hospital. Methods: This study was an observational analytic study using a cross-sectional method. Samples selected using consecutive sampling, which determined based on inclusion and exclusion criteria from the population. The total of study subject was 70 respondents. Result: The results of the study showed a significant relationship between waist circumference and HbA1c among type 2 diabetes mellitus patients (p = 0.012) with a low correlation (r = 0.300). Conclusion: Conclusion of this study that there is a relationship between waist circumference and HbA1c among type 2 diabetes mellitus patients in Diabetic Polyclinic Sanglah General Hospital.
Seorang penderita tiroiditis hashimoto dan kaitannya dengan riwayat utikaria kronis serta keganasan rahim I Komang Realiska; I Made Pande Dwipayana
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.173 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.900

Abstract

Background: Hashimoto's thyroiditis (TH) is a spectrum of autoimmune diseases in the presence of a thyroid. The spectrum begins pathologically from auto-antibodies that attack the thyroid tissue and progress to fibrosis.Case report: A 28-year-old woman diagnosed with Hashimoto's Thyroiditis (TH) and a history of chronic urticaria and uterine malignancies. Thyroid hormone profile examination showed primary abnormalities thyroid by autoimmune with TSH 8.63 (0.25-5.00) ?IU / mL, FT4 1.06 (0.93-1.70) ng / dL, and anti-thyroid peroxidase (anti-TPO) 3155.38 IU / mL. Thyroid ultrasound examination showed increased parenchymal vascularization, no nodules or cysts, calcifications. Histopathological examination revealed a lymphocytic thyroiditis process—management of patients given levothyroxine, achieve the appropriate clinical resolution and therapeutic targets.Conclusion: Chronic urticaria condition and uterine malignancy history in patients are suspected to be related to TH. Based on the cycle model theory of autoimmunity and carcinogenesis, malignancy can cause activated immune response, and loss of self-tolerance occurs as induction of autoimmune processes and vice versa inflammation in autoimmune induces malignancy.Latar Belakang: Tiroiditis Hashimoto (TH) merupakan salah satu spektrum penyakit autoimun pada kelenjar tiroid. Spektrum ini dimulai secara patologi dari terbentuknya auto-antibodi yang menyerang jaringan tiroid, dan berpogresif menjadi fibrosis.Laporan kasus: Seorang wanita 28 tahun dengan diagnosa Tiroiditis Hashimoto (TH) dan riwayat urtikaria kronis dan keganasan rahim. Pemeriksaan profil hormon tiroid menunjukkan kelainan primer kelenjar tiroid oleh autoimun dengan TSH 8.63 (0.25-5.00) ?IU/mL, FT4 1.06 (0.93-1.70) ng/dL, dan anti-thyroid peroxidase (anti-TPO) 3155.38 IU/mL. Pemeriksaan USG tiroid menunjukkan peningkatan vaskularisasi parenkim, tak tampak nodul/kista, ataupun kalsifikasi. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan proses limphocytic thyroiditis. Tatalaksana pada pasien diberikan levotiroksin yang mencapai resolusi klinis dan target terapi yang sesuai.Simpulan: Pasien memiliki riwayat  keganasan rahim yang diasosiasikan dengan TH. Berdasarkan teori cyclic model of autoimmunity and carcinogenesis mengatakan keganasan dapat menyebabkan teraktivasi respons imun dan terjadi self-tolerance sebagai induksi dari proses autoimun dan sebaliknya inflamasi yang terjadi pada autoimun  menginduksi keganasan.
HUBUNGAN KONTROL GLIKEMIK DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016 Kevin Ezekia; I Made Pande Dwipayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penyakit Arteri Perifer (PAP) merupakan salah satu komplikasi makrovaskuler dari DM Tipe II. Dalam studi Framingham Heart, 20% dari penderita PAP simptomatik menderita penyakit DM Tipe II, serta menurut studi dari Prevention Of Progression Of Arterial Disease And Diabetes (POPADAD), sebanyak 20,1% pasien berusia ?40 tahun dengan DM Tipe II terkena gejala terkait PAP. Kejadian PAP dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko, yaitu kontrol glikemik, usia, jenis kelamin, merokok, obesitas, dan hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kontrol glikemik dengan kejadian PAP pada penderita DM Tipe II di Poliklinik Diabetes RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik cross sectional dimana pengukuran variabel akan dilakukan pada waktu yang bersamaan. Metode yang digunakan untuk memperoleh data pada penelitian ini adalah dengan pengukuran ABI pasien DM Tipe II secara langsung dan menggunakan hasil pencatatan rekam medis pada Poliklinik Diabetes RSUP Sanglah Denpasar, dimana diagnosis PAP ditegakkan apabila nilai ABI <0,90. Dari 96 pasien DM Tipe II, didapatkan 44 (45,8%) pasien DM Tipe II yang menderita PAP. Berdasarkan hasil analisis bivariat chi-square, beberapa variabel yang memiliki hubungan signifikan adalah HbA1c (p=0,001), gula darah puasa (p=0,006), gula darah 2 jam pasca prandial (p=0,004), dan hipertensi (p=0,047). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kontrol glikemik, yang dinilai berdasarkan HbA1c, gula darah puasa, gula darah 2 jam pasca prandial, serta hipertensi dengan PAP pada pasien DM Tipe II. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan praktisi kesehatan akan komplikasi PAP pada pasien DM Tipe II. Kata Kunci: diabetes melitus, peripheral arterial disease, PAP, kontrol glikemik.
Analisis faktor resiko yang berhubungan dengan nilai Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) tinggi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 yang terinfeksi COVID-19 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Bali, Indonesia Marisye Christantia; Made Ratna Saraswati; Anak Agung Gde Budhiarta; Ketut Suastika; I Made Pande Dwipayana; I Made Siswadi Semadi; Ida Bagus Aditya Nugraha
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 3 (2022): (In Press 1 December 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/ism.v13i3.1340

Abstract

Background: Coronavirus disease (COVID-19) infection has become a worldwide pandemic. Diabetes Mellitus is a comorbid disease that can increase in severity. The most common clinical finding in severe COVID-19 infection is a high Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR). In patients with Diabetes Mellitus (DM) type 2, it is also known that high NLR values ​​have a poor prognosis. This study analyzes the risk factors associated with high NLR values ​​in type 2 DM patients infected with COVID-19 at Sanglah General Hospital. Methods: A cross-sectional analytical study was conducted on the medical records of 70 patients with COVID-19 infection with type 2 DM who were treated at Sanglah General Hospital, Denpasar, for the period April 2020-October 2020. The samples were divided into two groups, namely high and normal NLR. The analysis was conducted to see which risk factors were significantly associated with high NLR values ​​in COVID-19 patients with type 2 diabetes. The analysis was carried out using an independent T-test for numerical variables and chi-square for nominal variables. Results: Most of the study samples had high levels of NLR (65.71%). Risk factors that had a significant relationship with high NLR values ​​were random blood sugar levels (p=0.00), fasting blood sugar levels (p=0.00), HbA1c (p=0.002), CRP levels (p=0.00), leukocyte level (p=0.00), BUN level (p=0.004), history of type 2 DM before COVID-19 infection (p=0.009) and control HbA1c (0.001). Conclusion: The risk factors associated with high NLR values ​​in COVID-19 patients with type 2 DM at Sanglah Hospital Denpasar are random blood sugar levels, fasting blood sugar levels, HbA1c, CRP levels, leukocyte levels, BUN levels, history of type 2 diabetes before COVID-19 infection and HbA1c control.   Latar Belakang: Infeksi Coronavirus disease (COVID-19) telah menjadi pandemik di seluruh dunia. Diabetes Mellitus merupakan penyakit komorbid yang dapat meningkatkan keparahan. Temuan klinis yang banyak ditemukan pada infeksi COVID-19 berat adalah nilai neutrophil lymphocyte ratio (NLR) yang tinggi. Pada pasien Diebetes Mellitus (DM) tipe 2 juga diketahui nilai NLR yang tinggi memiliki prognosis buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan nilai NLR tinggi pada pasien DM tipe 2 yang terinfeksi COVID-19 di RSUP Sanglah. Metode: Studi analitik potong lintang dilakukan pada rekam medik 70 pasien dengan infeksi COVID-19 dengan DM tipe 2 yang dirawat di RSUP Sanglah Denpasar periode April 2020-Oktober 2020. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yakni NLR tinggi dan normal. Analisis dilakukan untuk melihat faktor risiko yang signifikan berhubungan dengan nilai NLR tinggi pada pasien COVID-19 dengan DM tipe 2. Analisis dilakukan menggunakan uji independent T-test untuk variabel numerik dan chi-square untuk variabel nominal. Hasil: Mayoritas sampel penelitian memiliki kadar NLR tinggi (65,71%). Faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan dengan nilai NLR tinggi adalah kadar gula darah acak (p=0,00), kadar gula darah puasa (p=0,00), HbA1c (p=0,002), kadar CRP (p=0,00), kadar leukosit (p=0,00), kadar BUN (p=0,004), riwayat DM tipe 2 sebelum infeksi COVID-19 (p=0,009) dan kontrol HbA1c (0,001). Kesimpulan: Faktor risiko yang berhubungan dengan nilai NLR tinggi pada pasien COVID-19 dengan DM tipe 2 di RSUP Sanglah Denpasar adalah kadar gula darah acak, kadar gula darah puasa, HbA1c, kadar CRP, kadar leukosit, kadar BUN, riwayat DM tipe 2 sebelum infeksi COVID-19 dan kontrol HbA1c.
Hubungan nilai Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) terhadap parameter laboratorium pada pasien DM tipe 2 yang terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Bali, Indonesia R. Prawira Bayu Putra Dewa; Made Ratna Saraswati; Anak Agung Gde Budhiarta; Ketut Suastika; I Made Pande Dwipayana; I Made Siswadi Semadi; Ida Bagus Aditya Nugraha
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 2 (2022): (In Press : 1 August 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/ism.v13i2.1345

Abstract

Background: The pathogenesis of COVID-19 infection is the occurrence of excessive inflammatory reactions in which one of the markers of inflammation that is easy to work with is the value of the Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR). The NLR value increases in uncontrolled type 2 DM patients and is a prognostic factor for the occurrence of severe symptomatic COVID-19 infection. This study aims to examine the correlation between NLR values ​​and various laboratory parameters of type 2 DM patients with COVID-19 infection at Sanglah Hospital. Methods: This study used a cross-sectional analytical design and involved 70 research samples from the medical records of type 2 DM patients with COVID-19 who were treated at Sanglah Hospital from April 2020 to October 2020. Analysis with Pearson and Spearman tests to see the correlation between NLR values ​​and 12 laboratory parameters such as GDS, GDP, HbA1c, Leukocytes, Hemoglobin, BUN, D-Dimer, CRP, serum creatinine, SGOT, SGPT and Ferritin using SPSS software version 21 for Windows. Results: From the results of the correlation test, laboratory parameters that were found to be significantly positively correlated with NLR values ​​were GDS levels (r=0.451; p=0.000), GDP (r=0.037; p=0.001), leukocytes (r=0.479; p=0.000), BUN (r=0.368; p=0002), D-dimer (r=0.348; p=0.011), CRP (r=0.557; p=0.000), serum creatinine (r=0.313; p=0.009) and ferritin (r=0.337; p=0.011). Conclusion: The NLR value in type 2 DM patients with COVID-19 is positively correlated with glycemic markers, namely GDS and GDP. In addition, it is also positively correlated with leukocytes, BUN, D-dimer, CRP, serum creatinine and ferritin.   Latar belakang: Patogenesis infeksi COVID-19 adalah terjadinya reaksi inflamasi berlebihan dimana salah satu penanda inflamasi yang mudah dikerjakan adalah nilai Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR). Nilai NLR meningkat pada pasien DM tipe 2 yang tidak terkontrol dan menjadi faktor prognostik untuk terjadinya infeksi COVID-19 gejala berat. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti korelasi antara nilai NLR dengan berbagai parameter laboratorium pasien DM tipe 2 dengan infeksi COVID-19 di RSUP Sanglah. Metode: Studi ini menggunakan desain analitik potong lintang dan melibatkan 70 sampel penelitian dari rekam medik pasien DM tipe 2 dengan COVID-19 yang dirawat di RSUP Sanglah bulan April 2020 hingga Oktober 2020. Analisis dengan Uji Pearson dan Spearman untuk melihat korelasi antara nilai NLR dengan 12 parameter laboratorium berupa GDS, GDP, HbA1c, Leukosit, Hemoglobin, BUN, D-Dimer, CRP, serum kreatinin, SGOT, SGPT dan Ferritin menggunakan piranti lunak  SPSS versi 21 untuk Windows. Hasil: Dari hasil uji korelasi, parameter laboratorium yang ditemukan signifikan berkorelasi positif dengan nilai NLR adalah kadar GDS (r=0,451; p=0,000), GDP (r=0,037; p=0,001), leukosit (r=0,479; p=0,000), BUN (r=0,368; p=0002), D-dimer (r=0,348; p=0,011), CRP (r=0,557; p=0,000), serum kreatinin (r=0,313; p=0,009) dan ferritin (r=0,337; p=0,011). Kesimpulan: Nilai NLR pada pasien DM tipe 2 dengan COVID-19 berkorelasi positif dengan penanda glikemik yaitu GDS dan GDP. Selain itu berkorelasi positif juga dengan leukosit, BUN, D-dimer, CRP, serum kreatinin dan ferritin.