Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Desain Material Selection untuk Frame Sepeda Listrik Hybrid Satria, Dhimas; Setiawan, Ipick; Lusiani, Rina; Pratama, Yoga
TEKNIKA Vol 12, No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya, sepeda tersusun atas komponen-komponen seperti frame,roda, sistem transmisi, rem, sadel, dan stang. Frame merupakan bagian yang paling penting, karena semua komponen dipasang pada frame. Frame harus mampu menopang berat pengendara, mentranslasikan usaha pedal menjadi gerakan maju, mengarahkan roda sesuai arah yang dituju dan mengabsorbsi getaran jalan. Frame adalah “jiwa” dari sebuah sepeda dan haruslah menjadi fokus utama dalam pertimbangan untuk memilih sebuah sepeda.Dari sudut pandang keamanan, bahan yang digunakan untuk frame sepeda harus memiliki sifat mekanik yang sangat stabil dan dapat diandalkan,Pemilihan bahan yang tepat dan desain yang penting dapat mempengaruhi kualitas produk dalam pembuatan komponen.Oleh karena itu, pengakuan akan pentingnya pemilihan bahan dalam desain telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penerapan metode concurrent engineering dalam desain dan manufaktur telah memperkuat fakta bahwa bahan dan manufaktur terkait erat dalam menentukan kinerja produk akhir.Semakin meningkatnya kemajuan teknologi modern ini mengakibatkan kebutuhan akan penelitian dan pengembangan dalam segala bidang semakin meningkat pesat, terutama dalam bidang material. Hal yang mendasarkan kemajuan teknologi ini adalah semakin dibutuhkannya material baru dan pemilihan material yang tepat guna menunjang bidang pembuatan frame sepeda. Pengembangan material terfokus untuk memilah material(material selection) untuk meningkatkan kualitas standar yang dibutuhkan untuk obyek yang kita rancang. Oleh sebab itu, penelitian ini lebih kearah pemilihan material yang tepat dengan material yang kuat menahan beban,ringan dan dengan harga yang relatif murah /terjangkau.
Pengaruh Waktu Tahan Proses Pack Carburizing Baja AISI 3115 dengan Menggunakan Calcium Carbonat dan Batubara Sub Bituminous dan Mendapatkan Perlakuan Panas Quenching Media Pendingin Air Satria, Dhimas; Setiawan, Ipick; Rosyadi, Imron; Listijorini, Erny; Haryadi, Haryadi; Lusiani, Rina; Ariesmunandar, Ariesmunandar
ROTASI Vol 21, No 2 (2019): VOLUME 21, NOMOR 2, APRIL 2019
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.742 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.21.2.88-95

Abstract

Perkembangan material di dunia industri semakin menuntut untuk rekayasa terhadap material tersebut sehingga dihasilkan material yang kuat dan ulet sesuai dengan kebutuhan. Salah satu metode untuk meningkatkan sifat fisik dari material adalah dengan carburizing atau proses karburisasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah proses karburisasi yang diikuti dengan perlakuan pendinginan cepat (quenching) untuk meningkatkan kekerasannya sehingga permukaan logam menjadi lebih tahan aus, kemudian menambahkan energizer atau bahan pengaktif kalsium karbonat dan batu bara sub bituminous yang akan mempercepat terbentuknya gas CO rendah. Penelitian ini bertujuan mencari solusi perlakuan panas yang baik pada baja AISI 3115 maka dilakukan perlakuan panas (heat treatment) pada variasi suhu 750°C, 850°C, 950°C. Disusul dengan pendinginan cepat menggunakan cairan berupa air dalam suatu wadah, yang diharapkan dapat meningkatkan kekerasan baja AISI 3115. Hasil penelitian adalah proses karburasi yang diikuti proses perlakuan panas dan pendinginan cepat, serta penambahan bahan pengaktif kalsium karbonat dan batubara sub bituminous mempunyai pengaruh untuk meningkatkan tingkat kekerasan pada baja karbon rendah AISI 3115. Semakin tinggi temperatur pada proses heat treatment maka kekerasan semakin meningkat dan nilai tingkat karbon juga ikut meningkat berdasarkan parameter suhu yang tinggi, dikarenakan peningkatan nilai karbon pada baja menggunakan karbon berupa batubara subituminus dengan pengikat berupa calsium karbonat. Fungsi dari calsium karbonat juga sebagai media untuk mempercepat proses karburasi. Pengaruh temperatur terbaik terdapat pada suhu 950°C. Pada penelitian ini didapatkan nilai kekerasan tertinggi sebesar 38,14. dan memiliki laju korosi terlambat dengan nilai 2,86 mpy dan foto struktur mikro terbaik terdapat pada suhu 850°C dikarenakan ferrit yang bewarna terang pada baja menandakan bahwa baja bersifat tidak keras, sedangkan pearlit yang bewarna gelap bersifat keras karena titik hitam lebih banyak dibandingkan titik putih maka nilai kekerasan terbaik di dapat pada suhu 850°C.
Pengaruh Temperatur PWHT Terhadap Struktur Mikro, Uji Kekerasan Dan Uji Tarik Pada Proses Pengelasan Gas Metal Arc Welding (GMAW) Aluminium 5083 Adhi Novianto; Ipick Setiawan; Agus Pramono
Jurnal Teknik Mesin Vol 13 No 2 (2020): Jurnal Teknik Mesin
Publisher : Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30630/jtm.13.2.415

Abstract

PWHT (Post Weld Heat Treatment) is one way to improve microstructure changes and can increase the tensile strength and hardness of the welding process. The purpose of this study was to determine changes in microstructure, hardness values, and tensile test values ​​with temperature variations of PWHT and without PWHT. The finished metal is then given a PWHT temperature variation on aluminum alloy 5083 with a temperature variation of 150 ° C, 250 ° C, 350 ° C with a heating rate of 100 ° C and heating of 80 ° C for 1 hour and a holding time of 1 hour according to The variation that has been set is continued with cooling 30 ° C for 8 hours of natural cooling in the chamber furnace machine. The results of this study indicate that changes in the microstructure due to the higher temperature of the PWHT process will reduce the concentration of porosity formed, which has a correlation with the resulting tensile strength. For the results of the tensile strength from the process without PWHT using temperature variations, the PWHT process has increased for that by doing this PWHT process greatly affects the tensile strength. The highest tensile strength is at the PWHT temperature variation of 350 ° C (263.65 MPa) compared to specimens without PWHT (253.52 MPa). Meanwhile, the hardness value is not very influential by using temperature variations of PWHT or without PWHT, the hardness value using temperature variations of PWHT 150 and without PWHT in the weld metal area (74.4 HV).
DESAIN MATERIAL SELECTION UNTUK FRAME SEPEDA LISTRIK HYBRID Dhimas Satria; Ipick Setiawan; Rina Lusiani; Yoga Pratama
Jurnal Teknika Vol 12, No 2 (2016): Edisi November 2016
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v12i2.6606

Abstract

Pada umumnya, sepeda tersusun atas komponen-komponen seperti frame,roda, sistem transmisi, rem, sadel, dan stang. Frame merupakan bagian yang paling penting, karena semua komponen dipasang pada frame. Frame harus mampu menopang berat pengendara, mentranslasikan usaha pedal menjadi gerakan maju, mengarahkan roda sesuai arah yang dituju dan mengabsorbsi getaran jalan. Frame adalah “jiwa” dari sebuah sepeda dan haruslah menjadi fokus utama dalam pertimbangan untuk memilih sebuah sepeda.Dari sudut pandang keamanan, bahan yang digunakan untuk frame sepeda harus memiliki sifat mekanik yang sangat stabil dan dapat diandalkan,Pemilihan bahan yang tepat dan desain yang penting dapat mempengaruhi kualitas produk dalam pembuatan komponen.Oleh karena itu, pengakuan akan pentingnya pemilihan bahan dalam desain telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penerapan metode concurrent engineering dalam desain dan manufaktur telah memperkuat fakta bahwa bahan dan manufaktur terkait erat dalam menentukan kinerja produk akhir. Semakin meningkatnya kemajuan teknologi modern ini mengakibatkan kebutuhan akan penelitian dan pengembangan dalam segala bidang semakin meningkat pesat, terutama dalam bidang material. Hal yang mendasarkan kemajuan teknologi ini adalah semakin dibutuhkannya material baru dan pemilihan material yang tepat guna menunjang bidang pembuatan frame sepeda. Pengembangan material terfokus untuk memilah material(material selection) untuk meningkatkan kualitas standar yang dibutuhkan untuk obyek yang kita rancang. Oleh sebab itu, penelitian ini lebih kearah pemilihan material yang tepat dengan material yang kuat menahan beban,ringan dan dengan harga yang relatif murah /terjangkau.
Pengaruh Post Weld Heat TreatmentTerhadap Sifat Mekanis dan Korosi Sambungan Las Spiral Saw pada Pipa Baja ASTM A252 Ipick Setiawan; Mochammad Noer Ilman
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 5 No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.156 KB)

Abstract

Metal joint with welding system is increasingly used. i.e structure, piping or machine constuction. Some ofthe problems on welding is residual stress dan over hardness can decrease the weld toughness stresscorrosion cracking. An effort to solve this problem is PWHT. PWHT has multiple functions, those are toreduces residual stress,increases ductility of HAZ and improves toughness in weld metal and HAZregions.Heating process with various temperature is expected to make optimum PWHT temperature.Thisexperiment was carried out to know the effect of PWHT torwad the toughness an corrosion of helicalwelding pipe ASTM A252. The welding process use SAW with groove double V, electrical current 375 A ,voltage 35 V and heat input 2,8 kj/mm. Post weld heat treatment was carried out at various temperature450oC, 550oC and 650oC during 3 hours followed by cooling process in furnace after that, these specimensware tested the hardness, tensile strength, toughness and corrosion. The Result of research show thatincreasing of PWHT temperature, can increase the toughness and corrosion resistance of joint weldin, butthe tensile strength is decreasre. The optimum PWHT temperature is 550o C with toughness 81 J at 0O C.
Pengaruh Lapisan TiN (Titanium Nitrida), TiAlN (Titanium Aluminium Nitrida) dan Non Coating Pahat Karbida Terhadap Kualitas Permukaan dan Ketahanan Keausan Pada Proses Pembubutan Baja Aisi 1045 Iman Saefuloh; Ipick Setiawan; Panji Setyo Aji
FLYWHEEL : Jurnal Teknik Mesin Untirta Volume III Nomor 1, April 2017
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/fwl.v1i1.1466

Abstract

Jika berurusan dengan bahan dengan tingkat kekerasan yang tinggi, Seringkali dihadapkan pada permasalahan proses pembubutannya seperti hasil pembubutanya tidak halus pada permukaanya dan pahat cepat mengalami keausan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa kekasaran permukaan dan keausan pahat insert coated cementedcarbide TiN (Titanium Nitride), TiAlN (Titanium Aluminium Nitride), dan Non Coated dengan menggunakan baja Aisi 1045 dengan memperhatikan parameter pembubutan, dimana kecepatan mesin divariasikan menjadi 3 variabel sedangkan kondisi pemotongan lainnya tetap. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh data nilai dimensi kekasaran permukaan (Ra) terhadap pengaruh kecepatan mesin dan dimensi keausan insert terhadap pengaruh kecepatan mesin. Analisa yang digunakan dengan melakukan pengujian Roughness Tester, dan Pengujian Microscope Optic. Hasil penelitian yang diperoleh pada pahat insert coated TiN (Titanium Nitride) dengan kecepatan mesin 995 rpm nilai dimensi keausan flank wear mencapai VB=0,13mm dan creater wear mencapai K0,71 mm, untuk TiN dengan kecepatan mesin=730 rpm mencapai VB=0,22 mm dan K mencapai 0,62mm, sedangkan  untuk TiN dengan kecepatan mesin520 rpm mencapai VB =0,12 mm dan K mencapai 0,21 mm, pada pahat insert coated TiAlN (Titanium Alumunium Nitride) dengankecepatan mesin 995 rpm nilai dimensi keausan flank wear mencapai VB=0,13 mm dan creater wear mencapai K 0,65 mm, untuk TiAlN dengan kecepatan mesin=730rpm mencapai VB=0,21 mm dan K mencapai 0,39 mm, sedangkan  untuk TiAlN dengan kecepatan mesin520 rpm mencapai VB =0,11 mm dan K mencapai 0,20 mm, pada pahat insert non coated dengan kecepatan mesin 995rpm nilai dimensi keausan flank wear mencapai VB=0,15 mm dan creater wear mencapai K 0,92 mm, untuk non coated dengan kecepatan mesin=730 rpm mencapai VB=0,34 mm dan K mencapai0,85mm,sedangkan  untuknon coated dengan kecepatan mesin520 rpmmencapai VB =0,13 mmdan K mencapai 0,40 mm,  Dan dari grafik pengaruh kecepatan mesin dan lapisan pahat insert coatedcemented karbide TiN, TiAlN, dan Non Coated terhadap dimensi kekasaran permukaan untuk setiap variabel kecepatan mesin terlihat bahwa semakin tinggi kecepatan mesin yang digunakan maka akan semakin baik nilai dimensi kekasaranya.
STUDI EKSPERIMEN PENGGUNAAN LPG SEBAGAI FLUIDA PENDINGIN PENGGANTI REFRIGERANT R22 PADA MESIN PENGKONDISIAN UDARA Imron Rosyadi; Ipick Setiawan
FLYWHEEL : Jurnal Teknik Mesin Untirta Volume I Nomor 2, November 2015
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.606 KB) | DOI: 10.36055/fwl.v1i1.541

Abstract

Mesin pendingin yang sudah umum dipakai di Indonesia selama ini menggunakan daur kompresi uap dimana dalam pengoperasiannya membutuhkan daya listrik yang cukup besar serta adanya efek buruk dari refrigeran yang digunakan terhadap lingkungan sekitar. Perlu dicari suatu refrigeran alternatif yang mampu menggantikan Freon yang aman, murah, ramah terhadap lingkungan dan tersedia di Indonesia. Salah satu refrigeran yang dapat digunakan adalah Hidrokarbon yaitu campuran butana propana yang dikenal sebagai Liquified Petrolium Gas atau LPG. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa mesin kompresi uap dengan membandingkan antara R-22 dan LPG sebagai refrigerant pada mesin pengkondisian udara skala ½ PK di Laboratorium Prestasi Mesin Teknik Mesin Untirta. Hasil Pengujian menunjukkan bahwa fluida pendingin LPG memiliki performa dengan COP tertinggi sebesar 4,53 pada kondisi tanpa beban dengan tekanan 40 Psia dan masih lebih rendah dibandingkan R22 yaitu sebesar 5,72. Penggunaan energy listrik fluida LPG lebih sedikit dibandingkan dengan R22 sehingga secara ekonomis konsumsi energy listrik dapat lebih hemat.
ANALISA THERMAL GRAVIMETRIC ANALYSIS BAHAN BAKAR EMULSI AIR Agung Sudrajad; Ipick Setiawan
FLYWHEEL : Jurnal Teknik Mesin Untirta Volume I Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.193 KB) | DOI: 10.36055/fwl.v2i1.523

Abstract

The fuel that we use in the subsistence component containing air pollutants. To overcome these problems the researchers and engineers to create a way for the fuel used was clean and friendly environment. One method used is a water emulsion. This study aims to identify the characteristics of the water emulsion fuel. This study is determine the characteristics of the water emulsion fuel through testing Thermal Gravimetric Analysis (TGA). From the test results it can be seen pure diesel fuel MDO begin to decompose at temperatures of 230°C, whereas all samples of diesel emulsion water average decomposes at a temperature of 110°C. In Thermal Gravimetric Analysis (TGA) testing sample numbers II is the best sample.
ANALISA THERMAL GRAVIMETRIC ANALYSIS BAHAN BAKAR EMULSI AIR Agung Sudrajad; Ipick Setiawan; Achmad Faisal
FLYWHEEL : Jurnal Teknik Mesin Untirta Volume I Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.193 KB) | DOI: 10.36055/fwl.v2i1.524

Abstract

The fuel that we use in the subsistence component containing air pollutants. To overcome these problems the researchers and engineers to create a way for the fuel used was clean and friendly environment. One method used is a water emulsion. This study aims to identify the characteristics of the water emulsion fuel. This study is determine the characteristics of the water emulsion fuel through testing Thermal Gravimetric Analysis (TGA). From the test results it can be seen pure diesel fuel MDO begin to decompose at temperatures of 230°C, whereas all samples of diesel emulsion water average decomposes at a temperature of 110°C. In Thermal Gravimetric Analysis (TGA) testing sample numbers II is the best sample.
ANALISA KEBISINGAN ALAT PRAKTIKUM KOMPRESOR TORAK PADA LABORATORIUM PRESTASI MESIN Ipick Setiawan; Agung Sudrajad; Mohammad Auriga
FLYWHEEL : Jurnal Teknik Mesin Untirta Volume I Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.818 KB) | DOI: 10.36055/fwl.v2i1.525

Abstract

Peralatan praktikum kompresor torak sangat diperlukan dalam proses praktikum prestasi mesin. Peralatan yang dijadikan objek penelitian adalah peralatan kompresor torak yang dirancang dan dibuat atas modifikasi peralatan sebelumnya. Pada modifikasi alat praktikum kompresor torak ini didesain memiliki rangka berukuran 1200 x 750 x 710 mm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa kebisingan yang timbul akibat operasional mesin kompresor. Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan alat sound level meter. Dari hasil pengukuran didapat tingkat kebisingan rata-rata pada alat kompresor torak berkisar 65.6 – 85.3 dB. Kebisingan yang dihasilkan dari alat praktikum kompresor torak masih jauh melebihi standar yang ditetapkan oleh keputusan menteri Negara lingkungan hidup nomor : KEP-48/MENLH/11/1996 yaitu sebesar 55 dB untuk lingkungan pendidikan.