Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

KETINGGIAN DAN KUALITAS FISIK BIJI KOPI ARABIKA: ANALISIS HUBUNGAN DAN PRAKTIK PERTANIAN BERKELANJUTAN Izzati, Raichan; Karim, Abubakar; Adha, Nur Kharisma
Jurnal Sains Riset Vol 14, No 3 (2024): November 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47647/jsr.v14i3.2754

Abstract

Pada ketinggian tertentu, suhu dan kondisi cuaca yang mendukung dapat meningkatkan pertumbuhan biji, menghasilkan rasa yang lebih kompleks dan aroma yang lebih tajam. Lebih lanjut, penanaman kopi Arabika pada ketinggian yang sesuai tidak hanya meningkatkan kualitas dan produksi, tetapi juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan melalui konservasi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ketinggian terhadap kualitas fisik biji kopi Arabika. Studi dilakukan pada perkebunan kopi Arabika rakyat di Kabupaten Bener Meriah. Hasil menunjukkan kualitas mutu fisik biji kopi Arabika meliputi biji normal, rusak, peaberry dan longberry bervariasi. Ketinggian tempat berkorelasi positif terhadap berat greenbean dan berkorelasi negatif terhadap biji rusak
Pemetaan indeks pertanaman lahan sawah menggunakan citra satelit landsat 8 di Kabupaten Tanah Datar (studi kasus: Kecamatan Sungai Tarab) Azzahra, Nadhifa; Karim, Abubakar; Fazlina, Yulia Dewi
Agrokompleks Vol 25 No 1 (2025): Agrokompleks Edisi Januari
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v25i1.780

Abstract

Peningkatan produksi beras nasional memerlukan beberapa strategi antara lain perluasan areal tanam dengan mencetak sawah baru, peningkatan produktivitas lahan, dan perluasan areal panen melalui peningkatan indeks pertanaman (IP). Wilayah Kabupaten Tanah Datar menghasilkan padi sawah dengan produksi yang berbeda tiap kecamatan. Perbedaan hasil produksi padi ini terjadi dikarenakan perbedaan luas panen yang dipengarahui oleh indeks pertanaman padi. Salah satu cara untuk identifikasi IP padi yaitu dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui indeks vegetasi untuk melihat fase pertumbuhan padi pada citra satelit Landsat 8. Perhitungan indeks vegetasi yang andal dalam menentukan fase pertumbuhan padi adalah Enhanced Vegetation Index (EVI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks pertanaman lahan sawah di Kecamatan Sungai Tarab. Penelitian ini memanfaatkan citra satelit Landsat 8 pada tahun 2021 dan 2022. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif melalui interpretasi citra satelit Landsat 8 yang direkam pada tahun 2021 dan 2022 dan data survei lapangan. Penelitian ini menghasilkan hasil fase pertumbuhan padi di tahun 2021 dan 2022, peta sebaran indeks pertanaman tahun 2021 dan 2022, dan beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan indeks pertanaman. Berdasarkan sebaran indeks pertanaman tahun 2022 meningkat dibandingkan 2022, yaitu terdapat tiga kelas indeks pertanaman IP 100, IP 200, dan IP 300. Sedangkan jaringan irigasi merupakan faktor utama dalam mempengaruhi IP padi di Kecamatan Sungai Tarab.
Sinkronisasi Penggunaan Lahan dan Pola Ruang (Studi Kasus: Kabupaten Simeulue) Fazlina, Yulia Dewi; Rusdi, Muhammad; M, Nurul Husna.; Karim, Abubakar; Manfarizah, Manfarizah; Arabia, Teti
Rona Teknik Pertanian Vol 17, No 2 (2024): Volume No. 17, No. 2, Oktober 2024
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v17i2.34431

Abstract

Abstrak.Perubahan penggunaan lahan adalah proses perubahan dari penggunaan lahan sebelumnya menjadi penggunaan lahan lain yang bersifat permanen maupun sementara. Kabupaten Simeulue telah menetapkan Qanun Nomor 2 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Simeulue Tahun 2014-2034. Penggunaan lahan harus memperhatikan arahan pemanfaatan lahan yang tertuang dalam pola ruang. Sinkronisasi atau keselarasan penggunaan lahan dengan pola ruang yang telah ditetapkan dalam dokumen RTRW perlu dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan/ketidakselarasan pada penggunaan lahan. Analisis keselarasan penggunaan lahan menggunakan geoprocessing, dengan menggunakan data shapefile penggunaan lahan Tahun 2021, dan data shapefile pola ruang Tahun 2014-2034. Kelas keselarasan dibagi menjadi tiga kelas, yaitu selaras, tidak selaras, dan transisi/belum selaras. Luas Penggunaan lahan yang selaras dengan pola ruang seluas 152.808,65 Ha (71,91%), sedangkan luas penggunaan lahan yang tidak selaras dengan pola ruang seluas 13.054,01 Ha (6,14%), dan penggunaan lahan yang belum selaras atau transisi seluas 46.649,34 Ha (21,95%).Land Use Synchronization and Spatial Patterns (Case Study: Simeulue District)Abstract.Land use change is the process of changing from previous land uses to other land uses that are permanent or temporary. Simeulue Regency has established Qanun Number 2 of 2014 concerning the Regional Spatial Plan of Simeulue Regency for 2014-2034. Land use must pay attention to land use directions contained in spatial patterns. Synchronization or alignment of land use with spatial patterns that have been determined in the RTRW document needs to be done so that there are no deviations / misalignments in land use. Land use alignment analysis using geoprocessing, using land use shapefile data for 2021, and spatial pattern shapefile data for 2014-2034. The alignment class is divided into three classes, namely aligned, misaligned, and transitional/unaligned. Land use area that is in harmony with spatial patterns is 152,808.65 Ha (71.91%), while land use area that is not in harmony with spatial patterns is 13,054.01 Ha (6.14%), and land use that is not aligned or transitional is 46,649.34 Ha (21.95%).
Farmers’ Perception on Climate Change Impacts on Coffee Farming: A Case Study of Gayo Highlands, Aceh, Indonesia Wijaya, Laila; Karim, Abubakar; Hasyim, Wardah
HABITAT Vol. 35 No. 2 (2024): August
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.habitat.2024.035.2.12

Abstract

In Aceh, Indonesia, climate change is predicted to reduce land availability and suitability for Arabica coffee production by 90% by 2050. Arabica coffee farming is and will be more impacted by climatic events as a result of such climate change among commercial crops. This study examines how coffee farmers in Aceh Tengah and Bener Meriah (Gayo Highlands), two of Indonesia's major Arabica coffee producing areas, perceive changes in climate, their personal susceptibility to the impacts of climate change, and their coping/adaptation strategies. Focus Group Discussions were carried out with twenty-eight coffee farmers and ten local experts were interviewed to gain information on the topics. The data analysis from FGD and interviews show the multiple stresses of rainfall and temperature on Arabica coffee productivity in Gayo Highlands. Findings indicate that coffee producers have only moderate concerns about climate issues despite the harm climate change poses to the industry. The continuous and current effects of climate change may endanger coffee production and its sustainability in Gayo Highlands, thereby highlighting the potential for negative impacts on the livelihoods of local communities, which could further exacerbate the welfare challenges faced by their families.  A number of suggestions were made to help the parties involved create better adaptation plans that are tailored to the needs, interests, and capacities of the farmers.