Claim Missing Document
Check
Articles

UJI RESISTENSI BAKTERI ESCHERICHIA COLI YANG DI ISOLASI DARI PLAK GIGI MENGGUNAKAN MERKURI DAN AMPISILIN Walewangko, Gabriela V.Ch; Bodhi, Widdhi; Kepel, Billy J.
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6634

Abstract

Abstract: Bactery resistance toward antybiotic is a natural form. The danger of antybiotic resistance is one of the problem that can threaten people health. Amphicylin one of penicylin-type antybiotic was reported resistence to Escherichia coli. Besides it’s cheap price, ampicylin is very easy to found, and many are consumed by the people without paying attention to the dosage. This thing that fastened the resistance procces of the antibiotic. Resistance process was found also on mercury. One of mercury display is happen to people that has metal patch with mercury content inside the mouth. This kind of patch is called amalgam that used a lot in dentistry. This research is aiming to find out whether the Escherichia coli that has been isolated from tooth plaque resistance to mercury (HgCl2) and ampisilin. After that mercury resistance test towards Escherichia coli is made using Luria Bertani (LB) Broth media and ampisilin resistance test towards Escherichia coli using fluid Luria Bertani (LB) media. From mercury resistance test research result, on 10ppm concentrate, 20ppm and 40 ppm bacteria can still grow. While on 80ppm concentrate bacteria was done growing or was dead. On antibiotic resistance test with three times repetition, was found on each of it’s obstruct zone are 7mm it means Escherichia coli resistance to ampisilin.Keywords: mercury resistance bacteria, ampisilin resistance mercury, escherichia coli, ampisilin, mercuryAbstrak: Resistensi bakteri terhadap antibiotik merupakan suatu yang alamiah. Bahaya resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Ampisilin salah satu jenis antibiotik golongan penisilin yang dilaporkan resisten terhadap Escherichia coli. Selain harganya murah, ampisilin sangat mudah didapat, dan banyak dikonsumsi orang tanpa memperhatikan dosis. Hal inilah yang mempercepat proses resistensi antibiotik tersebut. Proses resistensi juga terjadi pada merkuri. Salah satu paparan merkuri terjadi pada orang dengan memiliki tambalan logam dengan kandungan merkuri didalam mulut. Tambalan jenis ini disebut amalgam yang banyak digunakan dalam bidang kedokteran gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Escherichia coli yang diisolasi dari plak gigi resisten terhadap merkuri (HgCl2) dan Ampisilin. Setelah itu dilakukan uji resistensi merkuri terhadap Escherichia coli menggunakan media Luria Bertani (LB) Broth dan uji resistensi ampisilin terhadap Escherichia coli menggunakan media Luria Bertani (LB) cair. Dari hasil penelitian uji resistensi merkuri, pada konsentrasi 10ρρm, 20ρρm dan 40ρρm bakteri masih bisa bertumbuh. Sedangkan pada konsentrasi 80ρρm bakteri sudah tidak bertumbuh atau sudah mati. Pada uji resistensi antibiotik dengan tiga kali ulangan, didapati masing-masing zona hambatnya adalah 7mm artinya Escherichia coli resisten terhadap ampisilin.Kata Kunci: bakteri resistensi merkuri, bakteri resistensi ampisilin, escherichia coli, ampisilin, merkuri
Seroepidemiologi toksoplasmosis pada masyarakat di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa Lestari, Bella; Kepel, Billy J.; Budiarso, Fona
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.10843

Abstract

Abstract: Toxoplasmosis is infectious disease caused by Toxoplasma gondii, which its definitive host is cat. Toxoplasmosis symptoms are asymptomatic but able to causing fatality particularly in pregnant woman which inducing miscarriage. This study aims to obtain Toxoplasmosis seroepidemiology among people of Rumengkor Dua Village Minahasa County by using Agglutination Latex Test (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan). This study method is cross-sectional descriptive . The population is people of Rumengkor Dua Village. The sample is blood serum collected from people of Rumengkor Dua Village. Data from interview questionnaire and latex agglutination test results included in the frequency distribution table and analyzed based on the results presentation. The result showed of toxoplasmosis seroepidemiology among people of Rumengkor Dua village Minahasa County by using Agglutination Latex Test (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan) is 68,2%, with majority of women, age 41-50, junior high school as the last education, housewives, income less than 1 million rupiah, consuming raw meat, not consuming raw vegetables, wash vegetables and fruits, having cat and dog as pet, and have no miscarriage history.Keywords: toxoplasmosis, catAbstrak: Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii, dimana kucing adalah hospes definitifnya. Gejala toksoplasmosis asimptomatis namun akibat yang ditimbulkan bisa fatal terutama bila mengenai ibu hamil dan bisa mengakibatkan keguguran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroepidemiologi toksoplasmosis pada masyarakat di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa dengan menggunakan uji Aglutinasi Lateks (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan). Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah semua orang yang berada di desa Rumengkor Dua dengan sampel penelitian serum darah pada masyarakat di desa Rumengkor Dua. Data yang diperoleh dari wawancara langsung dengan subjek penelitian dan data hasil pemerikasaan laboratorium toksoplasmosis dengan cara tes aglutinasi lateks dimasukkan dalam tabel distribusi frekuensi dan dianalisa berdasarkan prosentasinya. Penelitian ini menunjukkan seroepidemiologi toksoplasmosis di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa dengan menggunakan uji aglutinasi lateks (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan) adalah 68,2%, yang mayoritas adalah wanita, usia 41-50 tahun, tingkat pendidikan SLTP, ibu rumah tangga, penghasilan ≤1 juta rupiah, mengkonsumsi daging mentah atau kurang matang, tidak mengkonsumsi sayuran mentah, mencuci sayuran dan buah sebelum dikonsumsi, memelihara kucing, anjing, dan tidak ada riwayat keguguran.Kata kunci: toksoplasmosis, kucing
Standarisasi Parameter Spesifik dan Non-Spesifik Ekstrak Rimpang Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata K. Schum) sebagai Obat Antibakteri Fatimawali, .; Kepel, Billy J.; Bodhi, Widdhi
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28131

Abstract

Abstract: Red galangal rhizome (Alpinia purpurata K. Schum) has antibacterial activity categorized as very strong, therefore, it needs to be standardized. This study was aimed to standardize the ethanol extract of red galangal rhizomes obtained from plantations in North Minahasa region. Standardized extract had two parameters namely specific parameters and non-specific parameters. Determination of specific parameters includes extract identity, organoleptic test, levels of compounds that dissolve in water and that are soluble in ethanol, content test of alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. Meanwhile, non-specific parameters include drying losses, microbial contamination, total ash content, acid insoluble ash content, as well as Cd and Pb metal contamination. The results showed that red galangal rhizome extract had dark red-brown color, specific odor of galangal, slightly bitter taste, water soluble was 12.55%, and ethanol soluble was 8.25%. Its fitochemical contents were alkaloids, saponins, tannins, and flavonoids. Moreover, drying shrinkage of 19.17%, microbial contamination of 2.1 x 102 CFU /g, ash content of 0.36%, acid insoluble ash content of 0.36%, and Cd and Pb 0.062 and 0.091 ppm. In conclusion, based on standardization testing including specific and non-specific parameters, red galangal extract can meet the standardization of raw material quality.Keywords: Alpinia purpurata K. Schum, rhizome, standardization Abstrak: Lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum) memiliki aktivitas antibakteri dengan kategori yang sangat kuat dan karenanya perlu distandarisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menstandarisasi ekstrak etanol rimpang lengkuas merah yang diperoleh dari perkebunan di wilayah Minahasa Utara. Ekstrak standar dengan dua parameter yaitu parameter spesifik dan parameter non-spesifik. Penentuan parameter spesifik meliputi: identitas ekstrak, uji organoleptik, kadar senyawa yang larut dalam air dan yang larut dalam etanol, kadar uji alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Parameter non-spesifik meliputi: susut pengeringan, kontaminasi mikroba, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kontaminasi logam Cd dan Pb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rimpang lengkuas merah berwarna merah-coklat pekat, bau khas lengkuas, rasa agak pahit, larut dalam air 12,55%, dan larut dalam etanol 8,25%. Senyawa fitokimia yang terkandung ialah alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid. Susut pengeringan 19,17%, kontaminasi mikroba 2,1 x 102 CFU/g, kadar abu 0,36%, kadar abu tidak larut asam 0,36%, Cd dan Pb 0,062 dan 0,091 ppm. Simpulan penelitian ini ialah berdasarkan pengujian standardisasi termasuk parameter spesifik dan non-spesifik, ekstrak lengkuas merah memenuhi standar kualitas bahan baku.Kata kunci: Alpinia purpurata K. Schum, rimpang lengkuas merah, standarisasi
Uji anti mycobacterium ekstrak bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) sebagai tumbuhan obat anti tuberkulosis Rendeng, Eirene F.; Kepel, Billy J.; Manampiring, Aaltje E.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 12, No 1 (2020): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.12.1.2020.27006

Abstract

Abstract: Besides as decorative flower and its benefit in hair growing, hibiscus flower (Hibiscus rosa sinensis L.) is also known for its antibacterial role. This study was aimed to obtain the inhibitory and killing potencies of hibiscus flower extract against Mycobacterium tuberculosis bacteria. This was a laboratory experimental study. Extract of hibiscus flower was obtained by using maceration technique with ethanol and then was prepared in several concentrations, as follows: 12.5%, 25%, 50%, 75%, and 100%. The extract was tested against M. tuberculosis by using spectrophotometer to obtain its maximum inhibitory and killing potencies. The results showed that concentrations of 50%, 75%, 100% of the hibiscus extract could inhibit the growth of M. Tuberculosis. Meanwhile, only concentration of 100% of the extract could kill the bacteria. In conclusion, the extract of hibiscus flower (Hibiscus rosa sinensis L.) could inhibit the growth of Mycobacterium tuberculosis and kill the bacteria.Keywords: Hibiscus rosa sinensis, inhibitory potency, killing potency, Mycobacterium tuberculosis Abstrak: Selain sebagai tanaman hias dan penyubur rambut, kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) juga dikenal berefek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas daya hambat dan daya bunuh ekstrak ekstrak bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorium. Ekstrak bunga kembang sepatu diperoleh melalui cara maserasi dengan etanol. Konsentrasi ekstrak 12,5%, 25%, 50%, 75%, dan 100% diujikan terhadap bakteri M. tuberculosis dengan menggunakan alat spektrofotometer untuk mengetahui daya hambat dan daya bunuh ekstrak terhadap M. tuberculosis. Hasil penelitian mendapatkan ekstrak bunga kembang sepatu pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% dapat menghambat pertumbuhan M. tuberculosis dan juga dapat membunuh M. tuberculosis pada konsentrasi 100%. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) dapat menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri Mycobacterium tuberculosis.Kata kunci: Hibiscus rosa sinensis, daya hambat, daya bunuh, Mycobacterium tuberculosis.
GAMBARAN ASUPAN PURIN PADA REMAJA DI KABUPATEN MINAHASA Ali, Ningsi Hadji; Kepel, Billy J.; Bodhi, Widdhi
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4594

Abstract

Abstract: High purine intake can result in hyperuricemia which leads to gouthy arthritis and formation of kidney stone. High purine concentration is mainly contained in animal protein. Minahasa ethnic people have a habit of holding events where there is feast party and the majority of Minahasa signature dishes are animal product. This study aims to describe the purine intake in adolescents in Minahasa Regency. This research design is a descriptive cross-sectional study with 40 study subjects. Sample is students of SMKN 2 and SMKN 3 Tondano in Minahasa Regency. Purine intake is measured by using Food Frequency Questionnaire (FFQ). The average of purine intake among adolescents in Minahasa Regency is 91,89 to 1028,44 mg/day, 40% adolescents consume purine rich foods, that consist of 35% boys and 5% girls. There are 52,5% adolescents consume foods with moderate purine content in high frequency and 40% adolescents consume foods with high purine content in high frequency. The conclusion of this study is the average of purine intake among adolescents in Minahasa Regency is quite high. It requires dietary knowledge of purine containing foods in order to reduce purine intake to prevent the increasing of hyperuricemia incidence and its impacts. Keywords: purine intake, adolescent, Minahasa Regency     Abstrak: Asupan purin yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya hiperurisemia yang dapat berakhir dengan gout arthritis dan batu ginjal. Kadar purin yang tinggi terutama terkandung dalam protein hewani. Masyarakat etnis Minahasa memiliki kebiasaan menggelar acara syukuran yang diikuti dengan pesta makan dan makan makanan khas Minahasa yang sebagian besar berasal dari hewani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan purin pada remaja di Kabupaten Minahasa. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif cross-sectional dengan jumlah subjek 40 orang. Subjek dari penelitian ini yaitu siswa-siswi SMK Negeri 2 Tondano dan SMK Negeri 3 Tondano di Kabupaten Minahasa. Data asupan purin diukur dengan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Rata-rata asupan purin remaja di Kabupaten Minahasa sebesar 91,89-1028,44 mg/hari, dengan 40% remaja mengkonsumsi purin dalam jumlah yang tinggi, yang terdiri dari 35% remaja pria dan 5% remaja wanita. Remaja yang mengkonsumsi makanan yang mengandung purin sedang dengan frekuensi tinggi sebanyak 52,5% dan remaja yang mengkonsumsi makanan yang mengandung purin tinggi dengan frekuensi tinggi sebanyak 40%. Kesimpulan penelitian ini yaitu rata-rata asupan purin remaja di Kabupaten Minahasa cukup tinggi. Hal ini membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang kandungan purin dalam makanan sehingga dapat membatasi jumlah asupan purin untuk mencegah meningkatnya kejadian hiperurisemia dan penyakit yang ditimbulkannya. Kata kunci: asupan purin, remaja, Kabupaten Minahasa
GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DESA WIAU LAPI TENTANG STOMATITIS AFTOSA REKUREN Wololy, Jefrianto; Kepel, Billy J.; Mintjelungan, Christy N.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2637

Abstract

Abstract: Recurrent aphthous stomatitis (RAS), commonly known among Indonesian people as "sariawan", is an oral mucosal disease which most often affects people. Based on the clinical symptoms, there are three recognized types of RAS, namely: minor RAS as the most common type, major RAS, and herpetiform RAS. Knowledge about RAS is very useful in the prevention and treatment of RAS. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Samples were 75 Wiau Lapi villagers who filled in the questionnaires and were selected by using simple random sampling. This study aimed to reveal the knowledge of the villagers of Wiau Lapi about recurrent aphthous stomatitis. The results showed that the knowledge of the villagers of Wiau Lapi about RAS tested with the questionnaire consisting of 11 questions obtained a percentage of 63.8%. Conclusion: Most villagers of Wiau Lapi had good knowledge about recurrent aphthous stomatitis. Keywords: knowledge, recurrent aphtous stomatitis.     Abstrak: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau yang umum dikenal masyarakat Indonesia sebagai “sariawan”, merupakan penyakit mukosa oral yang paling sering diderita manusia. Sampai saat ini terdapat tiga jenis SAR yang dikenal, dengan gejala klinis masing-masing, yaitu: SAR minor sebagai jenis yang paling umum, SAR mayor, dan SAR herpetiformis. Pemahaman yang baik tentang SAR akan sangat bermanfaat ketika penderita berusaha menangani SAR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat Desa Wiau Lapi tentang stomatitis aftosa rekuren. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan cross-sectional design yang dilakukan selama satu bulan. Sampel ialah 75 penduduk desa Wiau Lapi yang mengisi kuesioner dan diseleksi dengan menggunakan simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat Desa Wiau Lapi tentang SAR yang diuji dengan kuesioner yang meliputi 11 pertanyaan mencapai persentase sebesar 63,8 %. Simpulan: Pengetahuan masyarakat Desa Wiau Lapi mengenai SAR sudah tergolong baik. Kata kunci: pengetahuan, stomatitis aftosa rekuren.
Molecular Docking Senyawa Gingerol dan Zingiberol pada Tanaman Jahe sebagai Penanganan COVID-19 Ratu, Belinda D. P. M.; Bodhi, Widdhi; Budiarso, Fona; Kepel, Billy J.; Fatimawali, .; Manampiring, Aaltje
eBiomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.9.1.2021.32361

Abstract

Abstract: COVID-19 is a new disease. Many people feel the impact of this disease. There is no definite cure for COVID-19, so many people use traditional medicine to ward off COVID-19, including ginger. This study aims to determine whether there is an interaction between compounds in ginger (gingerol and zingiberol) and the COVID-19’s main protease (6LU7). This study uses a molecular docking method using 4 main applications, namely Autodock Tools, Autodock Vina, Biovia Discovery Studio 2020, and Open Babel GUI. The samples used were gingerol and zingiberol compounds in ginger plants downloaded from Pubchem. The data used in this study used Mendeley, Clinical Key, and PubMed database. The study showed that almost all of the amino acid residues in the gingerol compound acted on the 6LU7 active site, whereas the zingiberol did not. The results of the binding affinity of ginger compounds, both gingerol and zingiberol, do not exceed the binding affinity of remdesivir, a drug that is widely researched as a COVID-19 handling drug. In conclusion, gingerol and zingiberol compounds in ginger can’t be considered as COVID-19’s treatment.Keywords: molecular docking, gingerol, zingiberol Abstrak: COVID-19 merupakan sebuah penyakit yang baru. Banyak masyarakat yang merasakan dampak dari penyakit ini. Belum ada pengobatan pasti untuk menyembuhkan COVID-19, sehingga banyak masyarakat yang menggunakan pengobatan tradisional untuk menangkal COVID-19, termasuk jahe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada interaksi antara senyawa pada jahe (gingerol dan zingiberol) dengan main protease COVID-19 (6LU7). Penelitian ini menggunakan metode molecular docking dengan menggunakan 4 aplikasi utama, yaitu Autodock Tools, Autodock Vina, Biovia Discovery Studio 2020, dan Open Babel GUI. Sampel yang digunakan yaitu senyawa gingerol dan zingiberol pada tanaman jahe yang diunduh di Pubchem. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan database Mendeley, Clinical Key, dan PubMed. Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua residu asam amino pada senyawa gingerol bekerja pada sisi aktif 6LU7, sedangkan tidak demikian pada zingiberol. Hasil binding affinity senyawa jahe, baik gingerol maupun zingiberol tidak  melebihi binding affinity remdesivir, obat yang banyak diteliti sebagai obat penanganan COVID-19. Sebagai simpulan, senyawa gingerol dan zingiberol pada tanaman jahe tidak dapat dipertimbangkan sebagai penanganan COVID-19Kata Kunci: molecular docking, gingerol, zingiberol
Molecular Docking terhadap Senyawa Isoeleutherin dan Isoeleutherol sebagai Penghambat Pertumbuhan SARS-CoV-2 Prasetio, Nathanael F.; Kepel, Billy J.; Bodhi, Widdhi; Fatimawali, .; Manampiring, Aaltje; Budiarso, Fona
e-Biomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i1.31809

Abstract

Abstract: Dayak onions are herbal plants used by Indonesians as an anti-inflammatory, anticancer, antimicrobial, antidiabetic, antihypertensive and antiviral. By consuming herbal plants, it can increase immunity which is the main key in preventing the virus, especially COVID-19. This study was aimed to determine the effect of dayak active compound anchoring on the growth of the corona virus. This study used molecular docking method. The results of visualization of molecular docking when compared to the binding affinity of remdesivir obtained a binding affinity of -7.3, while the binding affinity of isoeleutherin and isoeleutherol was -6.9, so the result was lower than remdesivir. isoeleutherin and isoeleutherol compounds have a lower binding affinity value than remdesivir, so isoeleutherin and isoeleutherol compounds have lower yields as inhibitors of COVID-19.Keywords: dayak onions, SARS-CoV-2, molecular docking  Abstrak: Bawang Dayak merupakan tanaman herbal yang digunakan masyarakat Indonesia sebagai antiinflamasi, antikanker, antimikroba, antidiabetes, antihipertensi dan antivirus. Dengan mengkonsumsi tanaman herbal dapat meningkatkan kekebalan tubuh yang menjadi kunci utama dalam mencegah virus terlebih COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambatan senyawa aktif bawang dayak terhadap pertumbuhan dari corona virus. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian penambatan molekul (molecular docking). Hasil visualisasi molecular docking jika dibandingkan binding affinity dari remdesivir didapatkan binding affinity yaitu -7,3 sedangkan binding affinity dari isoeleutherin dan isoeleutherol adalah -6,9, maka diperoleh hasil yang lebih rendah dari remdesivir. senyawa isoeleutherine dan isoeleutherol memiliki nilai binding affinity yang lebih rendah dari remdesivir, maka senyawa isoeleutherin dan isoeleutherol memiliki hasil yang lebih rendah sebagai penghambat COVID-19.Kata Kunci: bawang dayak, SARS-CoV-2, molecular docking
Molekuler Docking tehadap Senyawa Eugenol dan Myricetin pada Tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai Penghambat Pertumbuhan SARS-CoV-2 Gerungan, Yizreel Y.; Kepel, Billy J.; Fatimawali, .; Manampiring, Aaltje; Budiarso, Fona D.; Bodhi, Widdhi
e-Biomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i1.31748

Abstract

Abstract: Cloves contain many chemical compounds that can be used for health. COVID-19 is a disease that is shaking the world today. Many people feel the impact of this disease. Until now, there is no definite cure and vaccine for the handling of COVID-19.  Objective to determine the interaction between compounds in cloves (eugenol and myricetin) and the main protease COVID-19 (6LU7). This study use a molecular docking, method using 4 main applications: autodock tools, autodock vina, biovia discovery studio and open babel. This study showed that almost all amino acid residues in the eugenol and myricetin compounds worked on the 6LU7 active site. The binding affinity of eugenol compounds in clove plants does not exceed the binding affinity of remdesivir, a drug studied as a drug for handling COVID-19, while the binding affinity of myricetin compounds in cloves plant exceeds the binding affinity of remdesivir. In conclusion, myricetin compounds have better results for use as a growth inhibitor for COVID-19 than eugenol.Key words: Cloves, COVID-19, molecular docking.  Abstrak: Cengkeh memiliki banyak kandungan senyawa kimia yang dapat dimanfaatkan bagi kesehatan. COVID-19 merupakan penyakit yang mengguncang dunia saat ini. Banyak masyarakat yang merasakan dampak dari penyakit ini. Hingga saat ini belum ada obat dan vaksin yang pasti untuk penanganan COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara senyawa pada cengkeh (eugenol dan myricetin) dengan main protease COVID-19 (6LU7). Jenis penelitian ini menggunakan metode molekuler docking dengan menggunakan 4 aplikasi utama: autodock tools, autodock vina, biovia discovery studio dan open babel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hampir semua residu asam amino pada senyawa eugenol dan myricetin bekerja pada sisi aktif 6LU7. Hasil binding affinity senyawa eugenol pada tumbuhan cengkeh tidak melebihi binding affinity dari remdesivir, obat yang diteliti sebagai obat penanganan COVID-19, sedangkan hasil binding affinity senyawa myricetin pada tumbuhan cengkeh melebihi binding affinity dari remdesivir. Simpulan penelitian ini ialah senyawa myricetin memiliki hasil yang lebih baik untuk digunakan sebagai penghambat pertumbuhan COVID-19 dari pada eugenol.Kata kunci: Cengkeh, COVID-19, molekuler docking.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA MASYARAKAT DI DESA RANOWANGKO KECAMATAN TOMBARIRI Palandi, Oktavia R. Y.; Kandou, Grace D.; Kepel, Billy J.
KESMAS Vol 10, No 6 (2021): VOLUME 10, NOMOR 6, JUNI 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018, penderita hipertensi di Sulawesi Utara mencapai prevalensi 13,2%. Data yang di dapatkan dari Puskesmas Tanawangko menunjukkan bahwa hipertensi menempati urutan kedua kasus terbanyak di wilayah kerja Puskesmas setelah penyakit ISPA. Umumnya wanita yang berusia 44-55 tahun mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Dan ini terjadi secara terus menerus dan alamiah sesuai dengan bertambahnya usia. Usia yang semakin bertambah membuat aktivitas fisik semakin kurang khususnya bagi kaum wanita. Masyarakat di daerah pesisir pantai cenderung memiliki pola makan makanan yang berisiko seperi mengkonsumsi garam yang tinggi dan makanan yang dibakar yang memicu terjadinya penyakit hipertensi. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat di Desa Ranowangko Kecamatan Tombariri. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan rancangan penelitian studi potong lintang ( cross sectional) di Desa Ranowangko Kecamatan Tombariri. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 90 responden (18-60 tahun) dengan pengambilan sampel secara stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan nilai probabilitas untuk hubungan perilaku konsumsi makanan dengan kejadian hipertensi sebesar 0,005 (p≤ 0,05), aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi sebesar 0,876 (p> 0,05) dan riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi sebesar 0,041(p<0,05). Terdapat hubungan antara perilaku konsumsi makanan, riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi dan tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di Desa Ranowangko Kecamatan Tombariri.Masyarakat diharapkan dapat merubah pola hidup sehat mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga serta rajin memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan terdekat.Kata Kunci: Kejadian Hipertensi, Perilaku Konsumsi Makanan, Aktivitas Fisik, Riwayat KeluargaABSTRACTBased on the 2018, in north sulawesi reach prevalence 13,2%. From the medical file on the text applying sandboxes to the medical facility after the ispa fracking. On the idea was that a 44 – 45 year old woman began to experience a slight shortage of estrogen hormones that protects the blood vessels from the damage. And this is happening over and over again in nature as with age increase. With an increasing age makes phisical activity more and less special to women in the coastel regiontend eating risky foods like high salt and the burning food that triggered the hypertensive disease. The purpose of the research is to understand the factors related to the incident of hypertension in the village of Ranowangko distric Tombariri. It is a method of suvei analitk research with a set of lintang cut study plans in the village of Ranowangko district Tombariri. The number of samples in imi’s study as many as 90 respondents (16-60) with the stratified samples taken stratified random samling the result of the study increased the probabilityvalue for relationship food comsumption with 0.005 (p<0.05) of hypertension, with a incidence of hypertension of 0.876 (p>0,05) and a complaint hystory of 0,041 (p<0,05). There is the relationship between food consumption, behavior family history as the hypertension and there was no correlation between physical activity by the hypertension in the community in the district Ranowangko Tombariri. People should can change healthy lifestyle from the family and are the smallest of visiting doctor nearest health into the service.Keywords: High blood pressure incidence, food consumption behavior, physical activities, family history
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje Manampiring Amelia Wulandari Antonius P. Rumengan Aves A. Septuaginta Bahter, Julia V.F. Bato, Donny Christian Bella Lestari, Bella Billy Senduk, Billy Budi Ratag, Budi Budiarso, Fone D.H. Christy N. Mintjelungan Deviwanti Batara, Deviwanti Dina Rombot Dinar A. Wicaksono Fatimawali . Felomina Jempormase, Felomina Fitria Angela Umar Fona Budiarso Friscasari Kundaian Gabriela V.Ch Walewangko Gerungan, Yizreel Y. Glenaldy Rondonuwu Grace Debbie Kandou Grace Korompis Heryudi J. J. Soelama, Heryudi J. J. Hidayat, Muh. I. Jefrianto Wololy Jimmy Posangi Jootje M. L. Umboh Jootje M.L Umboh, Jootje M.L Karamoy, Eunike M. Killing, Maykel Krisma Juliana Mazniati Tolombot Krista V. Siagian Mantiri, Desy M. H Monica Ruus, Monica Ningsi Hadji Ali Nova Hellen Kapantow Olii, Nindhy P. S. Anindita Palandi, Oktavia R. Y. Pantow, Natalia M. Polii, Reiner C. Prasetio, Nathanael F. Pratiwi, Ageng Ingrit Randy Lande, Randy Ratu, Belinda D. P. M. Rendeng, Eirene F. Rene C. Kepel, Rene C. Rizky, Irfan Irianto Runtunuwu, Thea Sagemba, Pascal G. Sefty S. Rompas Sekeon, Sekplin A.S. Simak, Valen Simak Siringo-Ringo, Aurian Fricilia Sompie, Intan P.R. Stevy B. Najoan Sumakul, Grivit T. Sutanto, Stella Tampi, Meiny Ledya Tandra, Hendry J.R. Ticoalu, Jolanda P. Valentino Rakasiwi, Valentino Vanessa J. T. Seran, Vanessa J. T. Wahyuni R. Ramadhani, Wahyuni R. Wico Silolonga Widdhi Bodhi Widhi Bodhi Wuisan, Teisly Monica Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulan Palilingan, Wulan Yoas P. Simangunsong, Yoas P.