Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL PANGAN

MANAGEMEN RISIKO RANTAI PASOK TEBU (STUDI KASUS DI PTPN X) Magfiroh, Illia Seldon
JURNAL PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1035.542 KB) | DOI: 10.33964/jp.v28i3.432

Abstract

AbstrakIndustri tebu (gula) merupakan elemen penting untuk menggerakkan ekonomi nasional, karena  melibatkan banyak komponen (petani tebu, pabrik gula, perusahaan penyedia saprodi pertanian, pedagang, industri makanan/minuman,konsumen). Oleh karena itu, Aspek pasokan tebu menjadi aspek yang sangat strategis untuk meningkatkan efisiensi dalam menghasilkan bahan baku gula dari tebu tersebut. Kekuatan rantai pasok sangat penting untuk memenangkan keunggulan bersaing. Supply chain manajemen yang baik pada rantai pasok perusahaan menjadikan perusahaan mampu menyajikan produk yang dikehendaki atau sesuai dengan kemauan konsumen akhir, serta dapat memasok barang ke pasar dengan cepat dan tepat waktu sehingga lebih unggul dari para pesaingnya, sehingga diperlukan manajemen risiko yang handal. Namun, manajemen risiko rantai pasok produk pertanian berbeda dengan manajemen risiko rantai pasok produk manufaktur.  Manajemen risiko rantai pasok produk pertanian menjadi lebih sulit, karena beberapa sumber ketidakpastian dan hubungan yang kompleks antara pelaku dalam rantai pasok tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1). mengidentifikasi resiko dalam rantai pasok tebu di PTPN X, (2) menganalisis implikasi managerial yang yang dilakukan dalam menghadapi risiko dalam rantai pasok tebu di PTPN X, (3) mensintesis upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka  meningkatkan kinerja rantai pasok tebu di wilayah kerja PTPN X. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja PT. Perkebuan Nusantara X dengan tingkat  produktivitas tebu dan gula yang terbesar di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan (1) terdapat beberapa risiko dalam rantai pasok tebu di PTPN X, (2) implikasi managerial berkaitan dengan peningkatan produktifitas tebu, kualitas tebu, ketersediaan tebu dan harga gula, (3) upaya yang harus dilakukan adalah peningkatan manajemen usaha tani petani (on-farm), mekanisasi tenaga tebang angkut, dan kebijakan integrasi manajemen industri gula.Kata Kunci: Rantai Pasok, Manajemen Risiko, Tebu
Managemen Risiko Rantai Pasok Tebu (Studi Kasus Di PTPN X) Illia Seldon Magfiroh
JURNAL PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v28i3.432

Abstract

AbstrakIndustri tebu (gula) merupakan elemen penting untuk menggerakkan ekonomi nasional, karena  melibatkan banyak komponen (petani tebu, pabrik gula, perusahaan penyedia saprodi pertanian, pedagang, industri makanan/minuman,konsumen). Oleh karena itu, Aspek pasokan tebu menjadi aspek yang sangat strategis untuk meningkatkan efisiensi dalam menghasilkan bahan baku gula dari tebu tersebut. Kekuatan rantai pasok sangat penting untuk memenangkan keunggulan bersaing. Supply chain manajemen yang baik pada rantai pasok perusahaan menjadikan perusahaan mampu menyajikan produk yang dikehendaki atau sesuai dengan kemauan konsumen akhir, serta dapat memasok barang ke pasar dengan cepat dan tepat waktu sehingga lebih unggul dari para pesaingnya, sehingga diperlukan manajemen risiko yang handal. Namun, manajemen risiko rantai pasok produk pertanian berbeda dengan manajemen risiko rantai pasok produk manufaktur.  Manajemen risiko rantai pasok produk pertanian menjadi lebih sulit, karena beberapa sumber ketidakpastian dan hubungan yang kompleks antara pelaku dalam rantai pasok tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1). mengidentifikasi resiko dalam rantai pasok tebu di PTPN X, (2) menganalisis implikasi managerial yang yang dilakukan dalam menghadapi risiko dalam rantai pasok tebu di PTPN X, (3) mensintesis upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka  meningkatkan kinerja rantai pasok tebu di wilayah kerja PTPN X. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja PT. Perkebuan Nusantara X dengan tingkat  produktivitas tebu dan gula yang terbesar di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan (1) terdapat beberapa risiko dalam rantai pasok tebu di PTPN X, (2) implikasi managerial berkaitan dengan peningkatan produktifitas tebu, kualitas tebu, ketersediaan tebu dan harga gula, (3) upaya yang harus dilakukan adalah peningkatan manajemen usaha tani petani (on-farm), mekanisasi tenaga tebang angkut, dan kebijakan integrasi manajemen industri gula.Kata Kunci: Rantai Pasok, Manajemen Risiko, Tebu
Preferensi Konsumen terhadap Pembelian Gula Pasirdi Kabupaten Jember (Consumer Preferences for Purchasing Granulated SugarIn Jember Regency) Magfiroh, Illia Seldon
JURNAL PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v34i1.854

Abstract

             Gula pasir merupakan bahan pokok yang digunakan sebagai pemanis dan pengawet dalam minuman. Bagi produsen atau pemasar, penting untuk mengetahui preferensi dan kesukaan konsumen terhadap produk yang mereka pasarkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi dan tingkat kepuasan konsumen terhadap pembelian gula pasir di Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Jember dengan jumlah sampel sebanyak 120 responden. Metode analisis data yang digunakan adalah Multiatribut Fishbein dan Customer Satisfaction Index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi konsumen terhadap gula pasir di wilayah pedesaan Kabupaten Jember, berdasarkan perhitungan sikap konsumen (A0) terhadap 12 atribut gula pasir, mencerminkan adanya atribut dengan nilai sikap positif hingga negatif. Preferensi konsumen terhadap gula pasir di wilayah pedesaan Kabupaten Jember yaitu harga, kemudahan memperoleh gula pasir, jenis gula pasir curah, kebersihan gula pasir, warna, ukuran pembelian satu kilogram, ukuran kristal, ukuran pembelian kurang dari satu kilogram, merek, iklan dan kemasan lebih dari satu kilogram. Nilai indeks kepuasan konsumen gula pasir di wilayah pedesaan Kabupaten Jember sebesar 72,25 persen. Nilai tersebut berada dalam kriteria puas yang berarti secara umum konsumen gula pasir di wilayah pedesaan merasa puas terhadap produk gula pasir yang dikonsumsi.               Granulated sugar is a staple ingredient used as a sweetener and preservative for drinks. Asproducers or marketers, it is important to understand consumers’ preferences regarding the products. This research aimed to determine consumer preferences and satisfaction with purchasing granulated sugar in Jember Regency. This research was conducted in Jember Regency. The samples used consisted of 120 respondents. The data analysis method were Fishbein Multiattribute and Customer Satisfaction Index. The research results showed that consumer preferences for granulated sugar in the rural areas of Jember Regency, based on consumer attitude calculations (A0) towards 12 sugar attributes, included attributes with both positive and negative attitude values. Consumer preferences for granulated sugar in rural areas of Jember Regency were price, ease of obtaining granulated sugar, bulk granulated sugar, cleanliness of granulated sugar, colour, purchase size of one kg, crystal size, purchase size less than one kg, brand, advertising and packaging more than one kg. The consumer satisfaction index value for granulated sugar in the rural area of Jember Regency was 72.25 percent. The value falls within the satisfied criteria, which means that granulated sugar consumers in rural areas are generally satisfied with the granulated sugar products they consume.
Preferensi Konsumen terhadap Daging Sapi di Kabupaten Jember:Suatu Analisis Konjoin (Consumer Preferences for Beef in Jember Regency: A Conjoin Analysis) Zainuddin, Ahmad; Rahman, Rena Yunita; Suciati, Luh Putu; Magfiroh, Illia Seldon; Setyawati, Intan Kartika
JURNAL PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v34i1.890

Abstract

           Kebutuhan produk ternak khususnya daging sapi di Kabupaten Jember terus mengalami peningkatan pada beberapa periode terakhir. Dalam memutuskan untuk membeli daging sapi, konsumen mempertimbangkan beberapa atribut yang merupakan ekspresi dari preferensi konsumen. Berdasarkan hal itu, penelitian mengenai preferensi konsumen terhadap daging sapi di Kabupaten Jember menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan di pasar tradisional dan pasar modern di Kabupaten Jember. Sampel diambil secara insidental dengan memilih 120 orang responden konsumen daging sapi yang berbelanja di pasar tradisional dan supermarket. Preferensi konsumen daging sapi dianalisis menggunakan analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen daging sapi di Kabupaten Jember menyukai atribut daging sapi yang bertekstur empuk, berwarna merah cerah, tidak berlemak, ukuran potongan daging sapi yang besar, aroma segar, ukuran pembelian 1-2 kg, dan harga daging sapi yang relatif murah yaitu berkisar antara Rp100.000,00 – Rp120.000,00. Atribut yang paling dipertimbangkan dalam mengonsumsi daging sapi adalah harga. Untuk mengakomodasi variasi preferensi konsumen, produsen perlu menawarkan varian produk daging sapi yang berbeda dengan harga yang berbeda. Sebagai regulator, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga daging sapi di pasar untuk mengendalikan inflasi.              The demand for livestock products, especially beef in Jember Regency has continued to increase in recent periods. In deciding to buy beef, consumers consider several attributes that are an expression of consumer preferences. Based on this, research on consumer preferences for beef in Jember Regency is important to conduct. This study was conducted in traditional and modern markets in Jember Regency. Samples were taken incidentally by selecting 120 beef consumer respondents who shopped at traditional markets and supermarkets. Beef consumer preferences were analyzed using conjoint analysis. The results showed that beef consumers in Jember Regency preferred beef attributes that were tender in texture, bright red in color, with no fat, large beef cut size, fresh aroma, purchase size of 1-2 kg, and relatively cheap beef prices ranging from Rp100,000,00 - Rp120,000,00. The most considered attribute in consuming beef was price. To accommodate variations in consumer preferences, producers need to offer different variants of beef products at different prices. As a regulator, the government needs to maintain the stability of beef prices in the market to control inflation.