Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Ushuluddin

Toleransi Beragama Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 20, No 2 (2013): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v20i2.928

Abstract

Tidak dapat ditutupi oleh siapapun bahwa fenomena modernitas yang belakangan terjadi ternyata berbarengan dengan munculnya fenomena kebangkitan agama­ agama dunia yang pada saat yang sama juga tercium aroma konflik antar pemeluk agama. Sebuah keniscayaan bahwa dalam masyarakat yang multi agama seringkali timbul pertentangan antar pemeluk agama yang berbeda. Secara umum konflik antar pemeluk agama tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain seperti:pelecehan terhadap agama dan pemimpin spiritual sebuah agama tertentu, perlakuan aparat yang tidak adil, kecemburuan ekonomi dan pertentangan kepentingan politik karena Untuk menciptakan kerukunan umat beragama di negara yang plural seperti lndonesa nilai-nilai toleransi menjadi hal yang amat penting. Karena substansi dari toleransi adalah mengajarkan kita semua untuk mempunai sifat lapang dada, berjiwa besar , luas pemahaman, pandai menahan diri, tidak memaksakan kehendak sendiri, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berpendapat sekalipun berbeda dengan pendapat kita. Kesemuanya itu dalam rangka untuk menciptakan kerukunan hidup beragama dalam masyarakat baik intern maupun ekstern
Pemikiran Fazlur Rahman Tentang Pendidikan Islam Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 22, No 2 (2014): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v22i2.739

Abstract

Hal yang menarik dari tawaran/ide Fazlur Rahman yang dapat diambil adalah model pendidikan Islam melalui kurikulumnya mengarah pada pembentukan pendidikan berkarakter Islami dan integrasi ilmu, (walaupun istilah ini tidak diungkapkan oleh Fazlur Rahman) namun dapat dilihat dari pola pikir Fazlur Rahman tentang Neomodernisme. (upaya sintesis antara pola pemikiran tradisionalisme dan modernisme.) Selanjutnya Fazlurrahman juga menyebutkan bahwa pada substansinya pendidikan Islam itu bertujuan untuk memperbaiki moral manusia, ungakapan beliau “Karena penekanan al-Qur’an terhadap hukum moral-lah hingga Allah menurunkan al-Qur’an” di samping itu metode yang ditawarkan oleh Fazlurrahman adalah model metode aktif, artinya seorang guru tidak harus memaksakan kehendak kepada muridnya untuk memiliki persepsi yang sama dengan gurunya, karena itu ia mengatakan bahwa seorang guru tafsir yang hanya memberikan syarah saja tidak dibenarkan karena ini tidak akan mendewasakan Islam.
A Philological Report Of The Theologus Autodidactus Of Ibn Al-Nafis By Max Meyerhof And Joseph Schacht Maulana Maulana; Khotimah Khotimah; Imron Rosidi
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2176

Abstract

Ibn al-Nafis is a monumental figure in Islamic scholarship. He wrote a fictional novel entitled “ Al-Risalah al-Kamiliyah fi’l sira al-Nabawiyah” which is translated as “ Theologus autodidactus”. This article does not focus on the content of this book but on the philological persepctive of how this book is edited by Joseph Schacht and Max Meyerhoff. Therefore, the question is whether this book which is edited by these two scholars is based on academic standards or not. Another question is how the editors study this text , particularly their main basis of editing this text. 
Dialog dan Kerukunan Antar Umat Beragama Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 17, No 2 (2011): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v17i2.693

Abstract

To reach religious harmony, each religious follower should understand his own religion and respect religious diversity. In a theoretical study, to appreciate religious diversity and religious differences, there are at least three approaches always used: theological, political, and socio-cultural approach. Furthermore, there are some basic principles implemented in an interreligious dialogue. These principles could be from the norms of each religion or from personal experience of the religious follower either a direct experience or an experience based on understanding the phenomena of religious practices.
RELIGIOUS HARMONY AND GOVERNMENT IN INDONESIA Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v23i1.1077

Abstract

Religious harmony, community and government is as a basic to create sustainable development in this country. Inter-religious dialogue under the program of FKUB of Indonesia can be as a modal and place of religious harmony and religious awarness where become intrinsic value of universal humanity. Furthermore, every adherent should understand their religion and also aware of religion diversity and diferencess. Theoritically, to understand the diversity and diferencess of adherent, there are three approaches are often used: theological, political and socio-cultural. Based on the basic principles and norms of theological and ethical, inter-religious dialogue is important thing, that should be done and sustainable developed
Agama dan Civil Society Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 21, No 1 (2014): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v21i1.730

Abstract

Ada tiga alasan bahwa agama memiliki hal prioritas dalam pembentukan civil society, yaitu pertama: Secara kultural, bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat religius.dimana nilai-nilai agama merupakan nilai-nilai yang substansial dari masyarakat yang beradab dapat ditanamkan melalui lembaga-lembaga keagamaan. Kedua: Nilai-nilai teologis meupakan energi yang dapat menggerakkan semangat untuk beramal soleh. Ketiga: Para Rasul sebagai figur panutan pengikut agama apapun dan menjadi model yang sangat berperan dalam mengubah perilaku masyarakat. Agama dengan fungsi integrative sebagai pemersatu dan disintegrative sebagai pengontrol kebijakan kekusaan atau pemerintah yang menyimpang, ternyata agama-agama yang ada termasuk civil religion tersebut, ikut berperan mewujudkan adanya civil society, yaitu masyarakat yang sopan dan toleran terhadap satu sama lain, yang mengatur diri sendiri melalui berbagai lembaga, tanpa campur tangan pemerintah, dan yang bebas dari pelaksanaan, ancaman dan kekerasan.