Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Problem-Based Flipped Learning and Students’ Moral Judgment: The Mediating Role of Moral Sensitivity in Civic Education Selly Rahmawati; Marzuki Marzuki; Victor Novianto; Sharifah Zannierah Syed Marzuki
Journal of Educational Science and Technology (EST) Volume 12 Number 1 April 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/est.v12i1.85364

Abstract

Moral reasoning has become an increasingly important issue in higher education due to the growing complexity of ethical dilemmas in digital society. However, Civic Education instruction in higher education remains predominantly normative and content-oriented, with limited emphasis on reflective moral reasoning and ethical decision-making. Previous flipped learning studies have primarily focused on academic achievement, engagement, and critical thinking, while limited empirical research has examined the integration of Problem-Based Flipped Learning (PBFL) with moral development constructs, particularly Moral Sensitivity and Moral Judgment, within a structural mediation framework. Therefore, this study aimed to examine the structural relationships among PBFL, Moral Sensitivity, and Moral Judgment in Civic Education learning. This study employed a quantitative cross-sectional survey design with construct validation and structural modeling. The study involved 330 students enrolled in Civic Education courses in the Primary School Teacher Education Program. Moral Judgment was measured using contextual moral dilemma instruments developed from Kohlberg’s moral development theory and Rest’s Neo-Kohlbergian framework. Data were analyzed using covariance-based Structural Equation Modeling (CB-SEM) with jamovi version 2.6.44. The results demonstrated that PBFL had significant positive effects on Moral Sensitivity and Moral Judgment. Moral Sensitivity also significantly influenced Moral Judgment and partially mediated the relationship between PBFL and Moral Judgment. The structural model demonstrated satisfactory validity, reliability, and model fit indices. These findings indicate that PBFL effectively enhances students’ moral awareness, reflective reasoning, and ethical decision-making through authentic problem analysis, collaborative inquiry, and reflective deliberation. This study contributes theoretically by extending flipped learning research into the domain of moral development through the integration of flipped learning, Problem-Based Learning, and moral development theory within a mediation model. Practically, PBFL offers an innovative pedagogical approach for strengthening reflective and morally responsible citizenship in Civic Education learning.
Negations of the Laweyan Batik Community during the Pajang and Mataram Period Hieronymus Purwanta; Victor Novianto
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.16683

Abstract

Abstract: This study examines the negation of the Laweyan batik community during the Pajang and Mataram periods. It addresses two questions: why the Laweyan batik industry was negated and how such negation was expressed. The research employs the historical method, including source collection, source criticism, interpretation, and historiography, and uses Ernst E. Boesch’s symbolic action approach to analyze the intentions, procedures, goals, and situational context of historical actors. The findings show that the negation of the Laweyan batik community was closely related to the inability of Laweyan batik entrepreneurs to maintain harmonious relations with political authorities after the era of Ki Ageng Henis. This negation appeared in two main forms. First, it was expressed in folklore derived from traditional historiography, which portrayed Laweyan as socially improper, unlucky, and morally suspect. Second, it was reflected in rulers’ policies, particularly the tomb politics surrounding Ki Ageng Henis in Kotagede and the promotion of Kauman batik as a palace-centered alternative. These policies symbolically distanced royal authority from the commercial batik tradition associated with Laweyan. This study argues that the negation of Laweyan was not merely cultural prejudice, but also a political and symbolic strategy to preserve aristocratic identity and authority. It contributes to the socio-cultural history of batik by showing how power, memory, and symbolism shaped the historical marginalization of a local craft community. Abstrak: Kajian ini menganalisis penegasian terhadap komunitas batik Laweyan pada masa Pajang dan Mataram. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan, yaitu mengapa industri batik Laweyan mengalami penegasian dan bagaimana bentuk-bentuk penegasian tersebut direpresentasikan. Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Analisis dilakukan dengan pendekatan tindakan simbolik Ernst E. Boesch untuk mengkaji intensi, prosedur, tujuan, dan keterlekatan situasional para aktor sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegasian terhadap komunitas batik Laweyan berkaitan erat dengan ketidakmampuan para pengusaha batik Laweyan menjalin hubungan harmonis dengan penguasa setelah masa Ki Ageng Henis. Penegasian tersebut hadir dalam dua bentuk utama. Pertama, melalui folklor yang bersumber dari historiografi tradisional dan menggambarkan Laweyan sebagai ruang sosial yang buruk, sial, dan tidak ideal. Kedua, melalui kebijakan penguasa, terutama politik makam terhadap Ki Ageng Henis di Kotagede dan pengembangan batik Kauman sebagai alternatif yang berorientasi istana. Kebijakan-kebijakan tersebut menjadi strategi simbolik untuk mengambil jarak dari tradisi batik komersial yang berkembang di Laweyan. Kajian ini menegaskan bahwa penegasian terhadap Laweyan bukan semata-mata prasangka kultural, melainkan juga strategi politik dan simbolik untuk menjaga identitas serta otoritas aristokrat. Studi ini berkontribusi pada sejarah sosial-budaya batik dengan menunjukkan bagaimana kuasa, memori, dan simbolisme membentuk marginalisasi historis terhadap komunitas perajin lokal.
JOYFUL, EXPERIENTIAL, DAN SOCIAL EMOTIONAL LEARNING: INTEGRASI STRATEGI DEEP LEARNING DALAM PRAKTIK MERDEKA BELAJAR DI MALUKU TENGGARA Inri Yani Renoat; Victor Novianto; Salamah
Jurnal Sosialita Vol. 20 No. 2 (2025): Pendidikan untuk Masa Depan Berkelanjutan (Education for a Sustainable Future)
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v20i2.8634

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi kebijakan Merdeka Belajar dalam meningkatkan kompetensi siswa melalui strategi pembelajaran bermakna (Deep Learning) di SMA Negeri 2 Maluku Tenggara. Latar belakang penelitian ini didasari oleh tantangan pendidikan di daerah 3T yang masih menghadapi keterbatasan sarana, variasi kompetensi guru, serta orientasi pembelajaran yang cenderung berfokus pada capaian akademik permukaan (surface learning). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan siswa, observasi partisipatif di kelas, serta studi dokumentasi terhadap perangkat ajar dan hasil belajar. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan Merdeka Belajar mulai diterapkan melalui integrasi tiga komponen utama strategi Deep Learning, yaitu Joyful Learning, Experiential Learning, dan Social Emotional Learning (SEL). Penerapan strategi ini meningkatkan keterlibatan siswa, motivasi belajar, serta pengembangan kompetensi kognitif, afektif, dan sosial-emosional. Namun, pelaksanaan belum optimal akibat keterbatasan pemahaman guru, kurangnya pelatihan, dan minimnya fasilitas pendukung. Temuan penelitian menegaskan pentingnya penguatan kapasitas guru, penyediaan sarana pembelajaran, dan dukungan kelembagaan untuk mengoptimalkan implementasi Merdeka Belajar dan memperkuat relevansi pembelajaran dalam konteks lokal maupun global. Keywords: Merdeka Belajar, Deep Learning, Kompetensi Siswa, Joyful Learning.
SISTEM STRATAFIKASI SOSIAL PADA MASYARAKAT KEI KABUPATEN MALUKU TENGGARA Carolina Feninlambir; Sunarti; Victor Novianto
Jurnal Sosialita Vol. 20 No. 2 (2025): Pendidikan untuk Masa Depan Berkelanjutan (Education for a Sustainable Future)
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v20i2.8636

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji sistem stratafikasi sosial pada masyarakat Kei di Kabupaten Maluku Tenggara yang dihapuskan pada hukum adat Larvul Ngabal . Stratafikasi sosial masyarakat tradisional Kei terbagi dalam tiga lapisan utama, yaitu Mel (bangsawan/tuan tanah), Ren (orang merdeka), dan Iri/Ata (budak/hamba). Setiap lapisan memiliki peran sosial yang berbeda-beda, khususnya dalam penyelenggaraan upacara adat seperti perkawinan, penyelesaian konflik (perdamaian), dan ritual adat keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan tiga puluh responden dari berbagai lapisan sosial masyarakat Kei. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis Skala Likert dan observasi lapangan, kemudian dianalisis dengan teknik statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stratafikasi sosial Kei masih dipahami sebagai instrumen penting pengorganisasian masyarakat sekaligus pelestarian identitas budaya. Lapisan Mel tetap diakui sebagai pemimpin adat, sementara Ren berperan dalam mendukung pelaksanaan kegiatan adat. Namun, status Iri tidak lagi diakui secara formal dalam struktur sosial modern. Posisi sosial masyarakat Kei dewasa ini lebih banyak ditentukan oleh faktor pendidikan, ekonomi, dan jabatan formal dibandingkan garis keturunan semata. Dengan demikian, sistem stratafikasi sosial Kei menampilkan dinamika antara pelestarian nilai adat dan penyesuaian terhadap perubahan sosial modern. Penelitian ini menegaskan bahwa hukum adat Larvul Ngabal masih relevan sebagai dasar kohesi sosial, meskipun mengalami transformasi dalam praktik kehidupan masyarakat kontemporer. Kata Kunci : stratafikasi sosial, masyarakat Kei, hukum adat, Larvul Ngabal, perubahan sosial
DAMPAK PARIWISATA LOKAL PADA KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI OHOI NGILNGOF, KABUPATEN MALUKU TENGGARA Murni; Esti Setiawati; Victor Novianto
Jurnal Sosialita Vol. 20 No. 2 (2025): Pendidikan untuk Masa Depan Berkelanjutan (Education for a Sustainable Future)
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v20i2.8638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pariwisata lokal terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Ohoi Ngilngof, Kabupaten Maluku Tenggara. Ohoi Ngilngof dikenal sebagai destinasi unggulan dengan Pantai Ngurbloat yang memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata memberikan kontribusi positif berupa peningkatan pendapatan, terciptanya lapangan kerja baru, dan berkembangnya usaha lokal seperti homestay, warung makan, serta kerajinan tangan. Secara sosial, interaksi dengan wisatawan memperluas jaringan sosial dan memunculkan pertukaran budaya. Namun demikian, pariwisata juga menimbulkan tantangan, di antaranya perubahan gaya hidup, potensi konflik lahan, dan meningkatnya ketergantungan ekonomi pada sektor wisata. Oleh karena itu, pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat dengan prinsip keberlanjutan sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian nilai sosial budaya.
PENINGKATAN MINAT BELAJAR, SIKAP PATRIOTISME, DAN PRESTASI BELAJAR IPAS MELALUI CERITA BERGAMBAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN PADA SISWA KELAS VI TAMAN MUDA IBU PAWIYATAN YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2024/2025 Dwi Indah Prasetyowati; Victor Novianto
Jurnal Sosialita Vol. 21 No. 1 (2026): Pendidikan IPS sebagai Instrumen Evaluasi Kebijakan dan Transformasi Sosial da
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v21i1.9387

Abstract

Artikel ini membahas upaya peningkatan minat belajar, sikap patriotisme, dan prestasi belajar IPAS melalui penggunaan cerita bergambar bertema Proklamasi Kemerdekaan pada siswa kelas VI SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Yogyakarta tahun pelajaran 2024/2025. Penelitian bertujuan meningkatkan minat belajar, menumbuhkan sikap patriotisme, serta memperbaiki prestasi belajar IPAS siswa. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan subjek 17 siswa kelas VI. Penelitian dilaksanakan melalui tahap pra siklus, siklus I, dan siklus II. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket, observasi, dan tes hasil belajar, sedangkan analisis data menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar mampu meningkatkan minat belajar siswa secara bertahap. Siswa dengan kategori minat belajar minimal baik meningkat dari 58,82% pada pra siklus menjadi 76,47% pada akhir siklus I, dan mencapai 88,24% pada siklus II. Peningkatan juga terjadi pada sikap patriotisme siswa. Siswa dengan sikap patriotisme minimal berkategori baik meningkat dari 58,82% pada pra siklus menjadi 64,71% pada siklus I, dan mencapai 82,35% pada siklus II. Selain itu, prestasi belajar IPAS menunjukkan peningkatan signifikan. Siswa yang mencapai nilai KKM meningkat dari 47,06% pada pra siklus menjadi 64,71% pada siklus I, dan mencapai 88,24% pada siklus II. Temuan ini menunjukkan bahwa cerita bergambar proklamasi kemerdekaan efektif digunakan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan aspek
Fenomena Klitih Utopia Sosialis dalam Perspektif Edward Bellamy Hari Suciyanto Wibowo; Victor Novianto; Kristina Warniasih
Jurnal Sosialita Vol. 21 No. 1 (2026): Pendidikan IPS sebagai Instrumen Evaluasi Kebijakan dan Transformasi Sosial da
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v21i1.9415

Abstract

Yogyakarta's reputation as a cultural city, student city, and tourist destination does not exempt it from acts of criminality. The increasingly rampant phenomenon of klitih, particularly in the Yogyakarta area, is a transformation of a local term that originally had a positive meaning but has now shifted into a form of street violence committed by youths. This article aims to examine klitih within the context of social reality and connect it to the socialist utopian perspective of Edward Bellamy. Klitih is viewed as a reflection of social failure in educating and shaping the character of adolescents, triggered by weak family control, social environment, and educational institutions. Through a descriptive-qualitative approach and literature review, this article identifies the driving factors behind klitih, including adolescent identity crises, poor parenting patterns, character-deficient education, and negative environmental influences. Within Bellamy's conceptual framework, solutions to the klitih phenomenon must be based on social transformation to eliminate inequality, build solidarity, and strengthen social institutions such as families, schools, and communities. Preventive strategies can be implemented through schools by emphasizing character education, and through active roles of families, law enforcement, and communities that support the healthy and just development of adolescents. Thus, addressing klitih requires collaborative efforts from all parties so that its occurrence can be minimized, or even eliminated.
HAK INDIVIDU, KEPENTINGAN PUBLIK, DAN REPRESI TOLERAN: STUDI KASUS JALUR TRUK SRUMBUNG MAGELANG DALAM PERSPEKTIF TEORI HERBERT MARCUSE Sudrajat; Victor Novianto; Choirun Nisaa
Jurnal Sosialita Vol. 21 No. 1 (2026): Pendidikan IPS sebagai Instrumen Evaluasi Kebijakan dan Transformasi Sosial da
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v21i1.9418

Abstract

The use of alternative routes by truck drivers in Srumbung, Magelang, raises ethical and social questions regarding the boundaries between individual freedom and collective responsibility. This study aims to analyze such actions through Herbert Marcuse’s theory of repressive tolerance and employs a critical qualitative approach grounded in four analytical principles: (1) true freedom involves awareness of social impact; (2) unreflective freedom reinforces structural domination; (3) personal actions must consider social justice; and (4) individual rights are limited by collective rights. These four principles serve as analytical tools to examine the phenomenon of logistical system domination over rural community spaces. The findings reveal that individual actions perceived as free actually operate within constructed power structures and the pressures of capitalist efficiency. Such actions tend to ignore broader social structures and reinforce existing inequalities. This article emphasizes the importance of critical reflection on personal choices to uphold social justice in shared spaces.
Improving the Motivation, Learning Engagement, and Learning Outcomes of Grade X Economics Students at MA Al Iman Magelang through the Jigsaw-Type Deep Learning Model Yusi Radita; Esti Setiawati; Victor Novianto
Literasi: Jurnal Pendidikan Guru Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to improve the learning motivation, learning engagement, and economics learning outcomes of Grade X students at MA Al Iman Magelang through the implementation of the Jigsaw-type Deep Learning instructional model. The study employed a Classroom Action Research (CAR) design consisting of three stages: the pre-cycle, Cycle I, and Cycle II. Each cycle comprised four phases: planning, action, observation, and reflection. The research participants were 20 Grade X students of MA Al Iman Magelang during the 2025/2026 academic year. Data were collected through classroom observations, documentation, and achievement tests, and were analyzed using descriptive quantitative techniques based on percentages. The findings revealed continuous improvement across all observed aspects. Students' learning motivation in the high and very high categories increased from 0% in the pre-cycle to 40% in Cycle I, and further to 85% in Cycle II. Learning engagement in the high and very high categories improved from 0% in the pre-cycle to 55% in Cycle I, reaching 90% in Cycle II. Likewise, students' learning outcomes improved substantially, with the percentage of students achieving mastery increasing from 15% in the pre-cycle to 70% in Cycle I, and finally reaching 100% in Cycle II. These findings indicate that implementing the Jigsaw-type Deep Learning model effectively enhances students' learning motivation, classroom engagement, and economics learning outcomes.
Social Value Construction in the Labuhan Parangkusumo Tradition: A Study of Cultural Meaning and Its Implications for Local Wisdom-Based Social Studies Education Andri Yunan Nugroho; Sukadari; Victor Novianto; Esti Setiawati; Yanuar Bagas Arwansyah
Literasi: Jurnal Pendidikan Guru Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/literasi.v5i2.3122

Abstract

This study analyzes the construction of social values in the Labuhan Parangkusumo tradition, a royal ceremonial ritual (hajad dalem) of Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat held annually on the 30th of Rajab at Parangkusumo Beach, Bantul Regency, Yogyakarta. The study aims to identify embedded social values, analyze the cultural meanings of ritual symbols, and formulate pedagogical implications for social studies education based on local wisdom. The research employs a qualitative approach with ethnographic design. Data were collected through participatory observation in January 2026, in-depth interviews with ritual custodians (juru kunci), royal servants (abdi dalem), cultural leaders, and document analysis. Data analysis utilized Miles and Huberman's interactive model, anchored theoretically in Geertz, Berger–Luckmann, Turner, and Durkheim. The study identified six social values: harmony, mutual cooperation-solidarity-responsibility, tolerance-pluralism, spirituality-religiosity, disaster mitigation-ecological awareness, and leadership legitimation. Harmony functions as the core value connecting the other five values. Value construction unfolds through dialectical stages: externalization, objectivation, and internalization. All six values correspond directly with the dimensions of Profil Pelajar Pancasila in the Merdeka Curriculum. Conclusively, Labuhan Parangkusumo constitutes a legitimate local epistemological system, serving as a meaningful foundation for character education, authentic multiculturalism, and ecological literacy in social studies education.