Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Perlindungan Hukum terhadap Anak sebagai Korban Cybersex Trafficking di Aplikasi Live Streaming HOT51 Putu Sherly Chandra Sasmitha; Ni Gusti Agung Ayu Mas Tri Wulandari; Ni Nyoman Juwita Arsawati; Putu Eva Ditayani Antari
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): Januari: JURRISH: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrish.v5i1.6925

Abstract

The advancement of information technology has brought significant changes to society but also generated new crimes, such as online child sexual exploitation (cybersex trafficking). This study examines this phenomenon by focusing on the live streaming application "HOT51," which is frequently used as a medium for child exploitation. The research employs a qualitative descriptive analysis method based on secondary data from official reports and related literature. Findings indicate that the easy access to modified APK applications facilitates sexual exploitation of children, the most vulnerable group. Indonesian regulations already address child protection, but implementation faces challenges such as low digital literacy and weak supervision of digital platforms. This study emphasizes the need for tightened monitoring, digital literacy education, and active parental roles to reduce the risk of sexual exploitation in the digital realm. The contribution lies in enhancing understanding of child protection challenges in the digital era and highlighting the importance of adaptive regulations and multi-stakeholder cooperation to safeguard child rights and safety.
Pelecehan Verbal Sebagai Kekerasan Berbasis Gender Di Ruang Siber Pelajaran Dari Perkara Baiq Nuril Trisnayanti, Ni Komang Kumala; Wulandari, Ni Gusti Agung Ayu Mas Tri
Consensus : Jurnal Ilmu Hukum Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Verbal abuse in cyberspace is a form of online gender-based violence that is increasingly experienced by women, especially in Indonesia. This is related to the development of digital technology. The case of Baiq Nuril is a clear reflection of the problems of criminal law in Indonesia, particularly in the context of protecting victims of sexual violence and the implementation of the Electronic Information and Transactions Law (ITE Law). Baiq Nuril, a victim of verbal abuse by her superior, was criminalized under Article 27 paragraph (1) of the ITE Law after she recorded obscene conversations as a form of self-protection. This study uses a normative juridical approach by analyzing relevant legal instruments and their application in the Baiq Nuril case. The results of the study show that verbal harassment in cyberspace must be understood as gender-based violence that requires special legal protection, not just online communication ethics. The Baiq Nuril case is a real example of a legal framework that is not gender-sensitive and has the potential to cause problems. This relates to the application of criminal law and the criminalization of victims. In conclusion, this case provides an important lesson about the urgency of regulatory reform and the strengthening of amicus curiae, in order to achieve more responsive justice.
Perlindungan Hukum Melalui Pendampingan Psikolog Bagi Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Kerangka Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga Nomor 23 Tahun 2004 Dan Hak Konstitusional Atas Kesehatan Putri, Putu Siska Rudiana; Wulandari, Ni Gusti Agung Ayu Mas Tri
Consensus : Jurnal Ilmu Hukum Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Domestic violence is a serious problem in Indonesia, causing not only physical injuries but also leaving deep psychological scars on victims. Domestic violence can be experienced by women, men, and children. The mental recovery of victims is an important aspect that must be guaranteed by the state as part of the constitutional right to health. This article aims to examine the role of psychological counseling as a form of legal protection for victims of domestic violence within the framework of Law No. 23 of 2004 on the Elimination of Domestic Violence, as well as its relation to the fulfillment of the right to mental health. The study used a normative legal method with a legislative and conceptual approach. The results of the analysis show that psychological assistance is an integral part of the legal protection of victims as stipulated in the Law on the Elimination of Domestic Violence. This confirms that the recovery of victims is the responsibility of the state, while the 1945 Constitution and the Health Law guarantee the right of every citizen to health, including mental health. Thus, psychological counseling services cannot be viewed as an additional option, but rather as a legal instrument that must be provided in order to fulfill the human rights of victims. In conclusion, the fulfillment of the right to mental health through psychological counseling for victims of domestic violence is a tangible form of legal protection that needs to be strengthened with more comprehensivepolicies and regulations.
Analisis Normatif Tentang Baby Blues Syndrome Sebagai Faktor Pemicu Kekerasan Ibu Terhadap Anak Dalam Perspektif Hukum Pidana Dan Hak Anak Wikantari, Ida Ayu Putu; Wulandari, Ni Gusti Agung Ayu Mas Tri
Consensus : Jurnal Ilmu Hukum Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of postpartum baby blues syndrome is often considered a psychological issue, but in reality it can have serious legal consequences, especially when it leads to violence against children and causes fatalities. This study aims to conduct a normative assessment of the relationship between baby blues syndrome and maternal violence against children, particularly from the perspective of criminal law and children's rights. The method used is normative legal research with a legislative, conceptual, and case study approach. The results of the study show that this syndrome is influenced by various factors that have the potential to encourage maternal violence against children. In criminal law, this psychological condition cannot be used as a reason to eliminate criminal responsibility, but it can be considered by the judge as a mitigating factor if it is proven that the perpetrator has a mental health disorder. Meanwhile, from the perspective of children's rights, all forms of violence are still considered serious violations that threaten children's rights to live, grow, and develop properly. Therefore, preventive measures are needed to reduce the number of mothers experiencing baby blues syndrome after childbirth while minimizing the risk of violence against children in Indonesia.
Perlindungan Inklusif Bagi Pekerja Disabilitas di Piduh Charity Café Dalam Perspektif HAM Ni Komang Tria Ayumi; I Made Wirya Darma; Ni Gusti Agung Ayu Mas Tri Wulandari; Ni Nyoman Juwita Arsawati
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 4 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i4.2194

Abstract

Setiap individu memiliki potensi untuk mengalami kondisi disabilitas. Penyandang disabilitas sering mengalami hambatan yang lebih besar dibandingkan dengan masyarakat umum, terutama dalam memperoleh kesempatan kerja. Meskipun hak-hak penyandang disabilitas telah dijamin oleh konstitusi serta berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia, penerapannya di lapangan masih banyak menemui hambatan , penyandang disabilitas masih kerap menghadapi berbagai bentuk diskriminasi, terutama terkait dengan persyaratan “sehat jasmani dan rohani” yang sering menjadi ketentuan umum yang wajib dipenuhi oleh setiap individu. Namun, terdapat praktik baik yang dapat dijadikan contoh, seperti yang dilakukan oleh Piduh Charity Café di Gianyar, Bali. Café ini menunjukan komitmen terhadap inklusi sosial dengan memberikan ruang kerja yang layak dan menghormati martabat pekerja disabilitas. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji perlindungan inklusif bagi pekerja disabilitas dalam perspektif HAM di tempat tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Perlindungan Hukum. Adapun jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian Hukum Empiris. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam merancang kebijakan yang lebih efektif dan tegas dalam upaya pencegahan serta penanggulangan tindskan diskriminatif di lingkungan kerja khususnya bagi penyandang disabilitas
Pengaturan Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Pembuat Konten Pornografi Dengan Menggunakan Teknologi Deepfake Di Indonesia Fauzi, Shellby Sabrina; I Putu Edi Rusmana; I Made Wirya Darma; Ni Gusti Agung Ayu Mas Tri Wulandari
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2661

Abstract

Penggunaan AI dalam bentuk deepfake memunculkan tantangan baru bagi penegakan hukum pidana di Indonesia karena teknologi ini memungkinkan manipulasi data pribadi seseorang menjadi konten pornografi tanpa izin. Perbuatan tersebut tidak hanya melanggar norma kesusilaan, tetapi juga menimbulkan pelanggaran terhadap hak privasi, kehormatan, serta perlindungan data pribadi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach) untuk menganalisis ketentuan dalam KUHP Kolonial (Wetboek van Strafrecht), KUHP Nasional, UU Pornografi, UU ITE, UU PDP, dan UU TPKS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan pembuatan konten pornografi dengan deepfake memenuhi unsur-unsur perbuatan pidana, yaitu adanya perbuatan manusia, pelanggaran terhadap undang-undang, serta unsur kesalahan (mens rea) dalam bentuk kesengajaan (dolus). Namun, belum terdapat regulasi yang secara khusus mengatur penggunaan deepfake dalam hukum positif di Indonesia, sehingga penerapannya masih bergantung pada perluasan makna terhadap peraturan yang ada tentang pornografi. Hal tersebut menyebabkan ketidakpastian hukum dan berpotensi melanggar asas legalitas. Oleh karena itu, diperlukan pembentukan peraturan yang secara khusus mengatur penggunaan teknologi deepfake dalam pembuatan konten pornografi untuk memberikan kepastian hukum, melindungi korban, pemberian sanksi pidana yang sesuai bagi pelaku, serta menegakkan keadilan dalam era perkembangan teknologi digital
Perbandingan Ketentuan Hukum Mengenai Tindak Pidana Pemerkosaan antara Indonesia dan Thailand I Komang Ary Dharma Putra; I Made Wirya Darma; Ni Nyoman Juwita Arsawati; Ni Gusti Agung Ayu Mas Tri Wulandari
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2692

Abstract

Pemerkosaan sebagai tindak pidana mencerminkan pelanggaran martabat manusia yang menuntut respons hukum yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan membandingkan prinsip pengaturan pemerkosaan dalam KUHP Nasional Indonesia dan Thai Penal Code untuk mengidentifikasi perkembangan konseptual serta cakupan perlindungannya. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan hukum untuk menganalisis substansi kedua sistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KUHP Nasional menghadirkan formulasi yang lebih progresif melalui perluasan definisi pemerkosaan, pengakuan pemerkosaan dalam perkawinan, penekanan pada persetujuan, dan penguatan perlindungan bagi kelompok rentan, sedangkan Thai Penal Code memberikan perlindungan setara berbasis gender namun tetap berorientasi retributif. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa reformasi KUHP Nasional menawarkan kerangka yang lebih komprehensif dalam mewujudkan keadilan berorientasi korban yang selaras dengan nilai-nilai HAM modern