Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIFUNGAL EKSTRAK DAUN JOHAR (Cassia siamea Lamk) TERHADAP PERTUMBUHAN FUNGI Phytophthora palmivora yusup indra putra; Hasyim As'ari; Tristi Indah Dwi Kurnia
JURNAL BIOSENSE Vol 4 No 02 (2021): Edisi Desember 2021
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.406 KB) | DOI: 10.36526/biosense.v4i02.1448

Abstract

Phytophthora palmivora adalah fungi penyebab busuk buah pada tanaman kakao. Kerusakan yang diakibatkan oleh fungi ini adalah menurunya hasil panen hingga 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian ekstrak daun tanaman johar (Cassia Siamea Lamk) terhadap pertumbuhan fungi Phytophthora palmivora. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan metode RAL dengan 3 kali ulangan dan 7 perlakuan. Hasil analisis data menunjukan adanya pengaruh antara konsentrasi ekstrak daun tanaman johar (Cassia Siamea Lamk) terhadap pertumbuhan fungi Phytopthora palmivora dengan berbeda signifikan pada tiap-tiap konsentrasinya. Konsentrasi ekstrak daun tanaman johar (Cassia Siamea Lamk) yang paling efektif adalah 50% dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 1.34 cm.
KEANEKARAGAMAN KELAS BIVALVIA DI HUTAN MANGROVE PANTAI BAMA TAMAN NASIONAL BALURAN Syaiful Bahri; Tristi Indah Dwi Kurnia; Fuad Ardiyansyah
JURNAL BIOSENSE Vol 3 No 1 (2020): Edisi Juni 2020
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.197 KB) | DOI: 10.36526/biosense.v3i1.967

Abstract

Bivalvia (kerang-kerangan) adalah biota yang biasa hidup menetap di dalam substrat dasar perairan. Bivalvia memiliki nilai penting di dalam ekosistem air laut. Secara ekologis Bivalvia dikategorikan sebagai biota penting penyusun suatu ekosistem karena Bivalvia bersifat filter fideer sehingga Bivalvia mampu menyaring bahan-bahan organik yang ada di dalam perairan Penelitian dilakukan di Hutan Mangrove Pantai Bama Taman Nasional Baluran pada bulan Maret-September 2020 dengan metode Purposive sampling dan tehnik Pengambilan sampel dibagi menjadi 3 stasiun dengan jarak tiap stasiun 200 m dan dengan luas tiap stasiun 450 m2. Setiap stasiun dibagi menjadi 3 garis transek jarak tiap garis transek 30 m, dalam satu garis transek terdapat 10 plot berukutan 2 × 2 m2.. Dari hasil penelitian didapatkan peroleh 8 Famili 9 Genus dan 9 Spesies, diantanya yaitu: Famili Arcidae, Mactridae, Mytilidae, Veneroidae, Placunidae, Ostreidae, Tellinidae dan Pinnidae. Adapun 9 Genus yang ditemukan diantaranya: Anadara, Barbatia, Spisula, Modiolus, Periglypta, Placuna, Saccostrea, Tellina dan Pinna, sedangkan 9 Spesies yang di temukan yaitu: Anadara granosa, Barbatia Barbata, Spisula solida, Modiolus barbatus, Periglypta poerpera, Placuna Placenta, Saccostrea cucullata, Tellina timorensis, Pinna Nobilis.Total keseluruhan Bivalvia Mangrove yang diperoleh yaitu 628 individu, indek keanekaragaman di seluruh stasiun mempunyai rata-rata Hˊ= 1,66 dengan katagori sedang, sedangkan indeks dominansi di semua Stasiun mempunyai rata-rata C= 0,22. Maka indeks dominansi di katagorikan rendah,
Penerapan Teknologi Pemasaran Digital Berbasis E-Commerce Pada Kelompok Sumberwangi Sentra Fish As'ari, Hasyim; Qiram, Ikhwanul; Kurnia, Tristi Indah Dwi
TEKIBA : Jurnal Teknologi dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): TEKIBA : Jurnal Teknologi dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/tekiba.v4i2.4402

Abstract

The community service activity conducted at the Sumberwangi Sentra Fish group in Jambewangi Sempu Banyuwangi aimed to address the marketing issues faced by the partner group. Additionally, the activity sought to measure interest and the usefulness of the developed platform to support the program's sustainability. The methods used in this community service included the development of an e-commerce platform, socialization, training, and mentoring. Evaluation of the activity was conducted using instruments in the form of questionnaires to assess interest, the usefulness of technological innovations, and the community service activities. The developed e-commerce platform effectively addressed the partner's marketing challenges. The platform is designed as a web-based application that can be easily accessed via smartphones or directly through the website https://sumberwangisentrafish.com/. The user interface (UI) of the e-commerce platform provides information about products, featuring easily understandable menus that include product displays and detailed information about each marketed item. The interface design focuses on operational ease. Results from the questionnaire indicated that out of 13 respondents, 85% expressed interest and stated that they found the technology and activities to be important, very understandable, and very easy to use, while 75% felt ready to implement digital marketing strategies. In conclusion, the community service demonstrated that the e-commerce platform can enhance the welfare of the partner group and has the potential to support business sustainability.
PENGARUH AKTIVITAS ANTROPOGENIK TERHADAP BOD (BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND) DI SUNGAI BADENG BANYUWANGI Nadila; Kurnia, Tristi Indah Dwi
JURNAL BIOSENSE Vol 8 No 3 (2025): Edisi Juli 2025
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v8i3.5255

Abstract

This research aims to study how human activities affect the biological oxygen demand (BOD) values in the Badeng River, Banyuwangi. These rivers are important resources that support household needs and economic activities in the surrounding area. The use of pesticides and agricultural fertilizers, as well as industrial and livestock waste, and the disposal of domestic waste, are suspected to contribute to the increase in BOD levels, indicating a decline in water quality. The research measures BOD values through laboratory analysis using iodometric titration. To examine the impact of human activities on water quality, water samples were taken from the upstream and downstream sections of the river. The research results show that the BOD value in the downstream section is higher (1.49 mg/L) compared to the upstream section (1.29 mg/L), but both are still below the threshold of class II water quality standards (3 mg/L). This indicates that the increase in BOD values downstream of the river is influenced by human activities. Therefore, better management of human activities is necessary to maintain the sustainability of the ecosystem and the quality of the river water.
Identifikas Morfologi Koloni Bakteri Edofit Akar Buah Naga (Hylocereus costaricensis) Kurnia, Tristi Indah Dwi; Nurmasari, Fitri; As'ari, Hasyim; Ardiyansyah, Fuad; Arini, Vhita Syukria
JURNAL BIOSENSE Vol 6 No 02 (2023): Edisi Desember 2023
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v6i02.3045

Abstract

Perakaran buah naga (Hylocereus costaricensis) memiliki peran penting dalam penyerapan nutrisi dan toleransi terhadap stres abiotik, hal tersebut menunjukkan bahwa dalam akar buah naga terdapat sistem simbiotik yang memungkinkan peran serta mikroorganisme lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah dan morfologi koloni bakteri endofit pada akar buah naga. Hasil perhitungan menunjukkan rata-rata 622±76,37 koloni/ml pada pengeceran 10-2. Pengamatan morfologi mengidentifikasi tiga jenis koloni bakteri endofit, dengan karakteristik yang berbeda: strain 1 memiliki bentuk tidak teratur, hilly, dan tidak mengkilat; strain 2 berbentuk filiform, hilly, dan tidak mengkilat; dan strain 3 berbentuk bulat, convex, dan mengkilat. Pewarnaan gram menunjukkan bakteri gram positif dengan bentuk batang.
Identifikasi Keberadaan Mikroplastik pada Insang dan Pencernaan Barbodes binotatus Di Sungai Kalilo Pengantigan Banyuwangi Ardiyansyah, Fuad; Kurnia, Tristi Indah Dwi
JURNAL BIOSENSE Vol 6 No 02 (2023): Edisi Desember 2023
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v6i02.3349

Abstract

Mikroplastik merupakan potongan atau serpihan plastik berukuran kecil <5mm yang berpotensi mengancam kesehatan maupun lingkungan. Keberadaan dari mikroplastik ini sangat berpotensi terakumulasi pada organ ikan utamanya dari jenis Barbodes binotatus yang ditangkap dari perairan sungai Kalilo. Meningkatnya jumlah penduduk berpotensi dalam pencemaran mikroplastik yang kemudian terakumulasi pada organ insang maupun saluran pencernaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis mikroplastik yang terakumulasi pada insang dan saluran pencernaa dari ikan Barbodes binotatus yang ditangkap dari sungai Kalilo Banyuwangi. Penelitian ini dilakukan di bulan Agustus-September. Metode yang digunakan bersifat purposif sampling ditujuh titik pengamatan dengan didapatkan 14 individu untuk diambi organ insang maupun saluran pencernaannya. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini didapatkan tiga jenis mikroplastik yaitu fragment, fiber, dan film. Sedangkan pada saluran pencernaan didapatkan empat jenis mikroplastik dari jenis fragment, fiber, granul dan film. Untuk kelimpahan tertinggi didapatkan dari saluran pencernaan yaitu sebesar mikroplastik 7,34 partikel/gr, sedangkan pada organ insang hanya didapatkan kelimpahan 2,47 partikel/gr.
RESPON MORFOLOGIS DAN FISIOLOGIS BUNGA SEDAP MALAM (Polianthes tuberosa L.) DENGAN PAPARAN RETARDANT Wijayanti, Sri; Kurnia, Tristi Indah Dwi; Ardiyansyah, Fuad; As'ari, Hasyim; Malis, Eko
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3834

Abstract

Bunga sedap malam (Polianthes tuberosa L.) merupakan tanaman hias dengan aroma yang khas dan cukup populer dikalangan masyarakat. Potensi permintaan bunga sedap malam yang tinggi, membuat tanaman bunga sedap malam banyak dibudidayakan pada area lahan terbuka yang luas. Namun pada beberapa tahun terakhir permintaan bunga sedap malam tidak hanya diminati dalam bentuk bunga potong dan tabur melainkan juga dalam bentuk bunga pot. Cara mendapatkan bentuk sebagai bunga hias pot dengan pemberian zat pengatur tumbuh retardant. Penelitian ini mengunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 3 kali ulangan 5 perlakuan 0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian kosentrasi retardant pada respon morfologis hanya berpengaruh nyata pada jumlah kuntum bunga, sedangkan pada respon fisiologis hanya berpengaruh pada pigmen daun. Kosentrasi retardant diberikan hingga 400 ppm masih belum mendapatkan hasil yang optimum.
STUDI ETNOBOTANI KEANEKARAGAMAN TANAMAN PANGAN SEBAGAI REFERENSI KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT USING BANYUWANGI Susanti, Erni Duwi; Nurchayati, N.; Ardiyansyah, Fuad; Kurnia, Tristi Indah Dwi; Anam, Khoirul
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3848

Abstract

Etnobotani merupakan interaksi antara masyarakat, lingkungan, dalam pemanfaatan tumbuhan, keanekaragaman tanaman yang dimanfaatkan mampu mengatasi kondisi ketahanan pangan. Jenis penelitian deskriptif eksploratif bertujuan untuk mengetahui tanaman pangan sebagai referensi ketahanan pangan masyarakat suku Using di Banyuwangi. Adapun metode yang digunakan adalah wawancara terstruktur dan wawancara semiterstruktur dengan keterlibatan aktif peneliti dalam kegiatan masyarakat. Penelitian dilakukan di lima kecamatan yaitu kecamatan Glagah, kecamatan Giri, kecamatan Singojuruh, kecamatan Kabat, dan kecamatan Rogojampi. Hasil penelitian yaitu terdapat 40 jenis tanaman pangan yang digunakan masyarakat suku Using. Dari 40 jenis tanaman pangan terdapat 10 jenis tanaman dengan prosentase tertinggi yaitu diperoleh presentase padi 11%, bawang merah 11%, bawang putih 11%, cabai 11%, kelapa 10%, kunyit 8%, ubi jalar 10%, ubi kayu 10%, asam 10%, dan pisang 8%. Tanaman pangan terdiri dari kategori bahan pangan utama, bahan pangan tambahan, rempah-rempah, dan polong-polongan. Tanaman pangan masyarakat suku Using dapat dijadikan daya dukung ketahanan pangan karena mudah ditemukan, dan memiliki nilai gizi yang tinggi. Upaya konservasi yang dilakukan masyarakat yaitu dengan menanam tanaman pangan di lingkungan pekarangan rumah dan persawahan.
KELIMPAHAN DAN POLA DISTRIBUSI ZOOPLANKTON DI PERAIRAN PULAU SANTEN BANYUWANGI Sartika, Nanik; Kurnia, Tristi Indah Dwi; Nurmasari, Fitri; Ardiyansyah, Fuad; Meilana, Yuristya Kayumi
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3851

Abstract

Pulau Santen yang menjadi tempat wisata merupakan salah satu bentuk kawasan mangrove yang menjadi rumah bagi banyak organisme hidup. Salah satu organisme yang ada di dalam air yaitu Zooplankton yang berfungsi sebagai konsumen bahan organik di dalam air. Kelimpahan dan pola sebaran zooplankton sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan menggambarkan kualitas suatu lingkungan perairan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan dan pola sebaran zooplankton di perairan Pulau Santen Banyuwangi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Juli 2016 di perairan Pulau Santen Banyuwangi. Identifikasi zooplankton dilakukan di Laboratorium Shrimp Club Indonesia (SCI) Karangharjo Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling yang dilakukan secara sistematis pada area yang telah ditentukan. Hasil penelitian di perairan Pulau Santen Banyuwangi, ditemukan 13 jenis zooplankton yaitu Acartia bifilosa, Tortanus Derjugini, Copepoda naplius, Echinocamptus hiemalis elongates, Polychaeta, Microstella sp., Temaro sp., Brachyura larvae, Oithana sp., Labidocera pavo, Alpheida, Lecane papuana, dan Ostrocoda. Kelimpahan zooplankton tertinggi pada stasiun 1 dimiliki Acartia bifilosa dengan nilai 1277 individu/l, pada stasiun 2 larva Bracyura dengan nilai 480 individu/l, sedangkan kelimpahan ketiga stasiun dimiliki Oithana sp. dengan nilai 797 individu/l. Kelimpahan zooplankton pada setiap stasiun berbeda-beda, diduga karena ketersediaan fitoplankton sebagai makanannya berbeda-beda pula. Pola penyebaran zooplankton di perairan Pulau Santen Banyuwangi secara keseluruhan dari 13 jenis zooplankton yaitu, hasil yang didapatkan pada penelitian relatif datar secara acak. Pola penyebaran zooplankton di perairan Pulau Santen Banyuwangi didukung oleh pH, kecerahan dan suhu.
PENGARUH WAKTU PENYERBUKAN TERHADAP KUALITAS HASIL TANAMAN MELON (Cucumis melo L) DENGAN PERKAWINAN SILANG TANAMAN SEMANGKA (Citrullus vulgaris L) Widodo, Adik Sugeng; As'ari, Hasyim; Kurnia, Tristi Indah Dwi; Novitasari, Amanda
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3855

Abstract

Decreased production of melon (Cucumis melo L) which is due to constraints in fruit quality decreases due to the ability of fruit formation is naturally low due to a failure in the process of pollination. The success of pollination it self is influenced by the maturity of the male flowers and female flowers itself. Therefore we need a suitable time to perform pollination to see the stigma receptivity and pollen viability at the same level. To overcome these problems need to develop crops melon (Cucumis melo L) through the technique of cultivation is called plant breeding to obtain the production of melon (Cucumis melo L) qualified by determining the time of pollination and crossed with a watermelon (Citrullus vulgaris L). This research is experimental research design using a randomized block design (RAK) 1 factor with 5 treatment combinations and each treatment using 10 replications. The treatment factors are as follows: PA = at 05:00 to 06:00, PB = at 07:00 to 08:00, PC = at 09:00 to 10:00, PD = at 11 : 00 to 12:00 and PE = at 13:00 to 14:00. The data were collected and presented in tables and statistical analysis of test One-Way ANOVA (Analysis Of Variance). If there is a real difference followed by testing of LSD (Least Significant Difference) (p <0.05). Statistical analysis One-Way ANOVA test and LSD show that there is the influence of pollination time on the fruit weight, average fruit diameter and weight of seed resulting from cross-breeding melon (Cucumis melo L) and watermelon (Citrullus vulgaris L). Data show that the PA treatment is the best treatment compared with other treatments. This happens Because the quality of pollen in the morning are of better quality compared to during the day so that pollen powderd in the morning better able to fertilize the pistil to the maximum.